Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Merasa jijik melihat sang suami


__ADS_3

Bastian benar-benar merasa seperti ingin dihabisi oleh Rara, melihat  tatapan mata istrinya yang berubah lebih tajam dari samurai dan lebih menakutkan dari percikan petir, saat itulah, hasrat ingin bercinta langsung buyar.


‘Ternyata dia sangat menakutkan kalau sedang marah’ ucap Bastian dalam hati, ia masih berdiri saat Rara memintanya untuk duduk.


 Ia terlihat  menyeramkan padahal harusnya dengan pakaian setengah terbuka seperti itu, harusnya ia SEKSI.


 Tapi  tidak, tatapan mata menyeramkan itu membuat Bastian ingin kabur lagi kekamar mandi mengunci diri seharian di kamar mandi sampai kelaparan, itu lebih baik dari  pada menyaksikan kemarahan   istrinya.


“Katakan apa yang ingin kamu jelaskan,”  suara itu tidak meninggi, tapi nada tegas.


“Begini, Ra” Suaranya lembut, tatapan.matanya memelas. Ia terlihat seperti seorang suami  yang meminta ijin pada istrinya, kalau ia ingin  mencari istri lagi  alias ingin poligami. Jadi ....


“Malam itu aku memang marah padamu Ra, tapi bukan karena tidak mendapatkan itu ... aku hanya merindukan kamu, aku ingin kita disini bertiga sama Alvin,  layaknya pengantin baru, hanya itu, aku tidak hanya sekedar menginginkan malam pertama semata Ra, walau sesungguhnya jujur, aku menginginkan hal itu juga, secara aku kan lelaki normal," ucap Bastian masih dengan tutur kata yang lembut.


Bastian masih membuat jarak dengan Rara,  mereka berdua duduk di sisi ranjang, dengan posisi berbeda, Rara sebelah kanan Bastian sebelah kiri. Tetapi dengan mata mengawasi dan ketika badan Rara bergerak Bastian ikut membuat ancang-ancang ingin lari lagi.


“Terus, kenapa tadi malam kamu berakhir di pelukan tiga wanita itu sekaligus?”


“Apa? tiga perempuan?” Wajah Bastian Benar-benar memerah bagai udang rebus, ia merasa malu, panik bercampur  jadi satu.


“Katakan apa tujuan kamu kesana? kalau bukan untuk mendapatkan itu .”


Rara menuduh Bastian, sorot matanya tidak lagi setajam  tadi, tapi kali ini lebih menyakitkan, ia menatap Bastian seolah merasa jijik karena telah bersama wanita  dua sekaligus.


Ia berpikir ia saja belum melakukan apa-apa pada suaminya, tetapi sudah di dului wanita lain yang bukan istrinya pula.


Hal itu wajar jika Rara marah sebagai seorang istri, apa lagi Rara yang masi dangkal mengenai hal percintaan, makanya saat ia memergoki suaminya di kamar dengan wanita lain ia marah.


Untuk saat ini,  ada perasaan jijik yang ia rasakan pada Bastian suami brondong tampannya, walau sebenarnya itu semua bukan kemauan dari Bastian itu sendiri. Ia di jebak, tapi  Rara menilai dari sudut pandangnya, kenapa Bastian mencari pelarian saat marah.


Merasa di pandang hina oleh istrinya saat itulah jiwa kejantanan Bastian langsung merosot,


“Aku tidak ingat siapa perempuan yang  kamu maksud Ra, sungguh,” wajahnya terlihat sendu dan ia menunduk merasa malu pada Rara.

__ADS_1


“Lelaki memang selalu punya  alasan di setiap kesalahannya, mendadak pikunlah, mendadak lupa ingatan lah”m,"ucap Rara.


Rara terlihat kesal, ia diam dan memungut pakaiannya lalu ia memakai pakaiannya lagi.


“Apa kamu, kamu tidak percaya padaku, Ra?”


Saat mendengar hal itu, Rara kembali emosinya tersulut, ia ingin meneriaki suami brondongnya, ingin mempitas kupingnya dan menyentil bodongnya dan terakhir ia ingin menendang kedua loncengnya biar gak berfungsi sekalian.


“Lo nyuruh gue percaya, setelah melakukan hal menjijikkan itu,” mata besarnya kembali mengeluarkan sinar lesernya.


“Aku sudah bilang  aku tidak ingat,Ra.” Baru kali ini ia merasa rendah, karena kesalahan sendiri, ia bahkan tidak berani menatap mata Rara karena rasa bersalahnya.


“Baiklah, aku  mau jelaskan semuanya , sejelas-jelasnya”


Ia memakai  pakaiannya  kembali  dan  mengambil posisi duduk yang enak.


“Tadi malam setelah kamu memintaku datang,  aku  bilang tidak bisa, apa yang kamu pikirkan? Mencari pelarian diluarkan?”


“ Jangan memotong,” dengan  membentangkan telapak tangan,  tanda stop. Rara dengan nada tegasnya membuatnya tidak bisa berkutik.


“Kamu minum dengan teman-temanmu dan berakhir di ranjang, bersama tiga orang wanita murahan yang memegangi tubuhmu dan menyentuh bergantian, itu menjijikkan ,Bastian”


Emosinya naik turun, dan sesekali ia menghembuskan napas panjang menahan gejolak  kemarahannya,


Bastian hanya bisa menunduk, sesekali matanya melirik Rara yang masih seperti dewi api yang lagi marah.


“Kalau saja, Mario tidak melihatmu di sana, habis sudah kamu,  kamu akan menghiasi seluruh berita hari ini, dan adegan ranjang mu akan di tonton  jutaan orang di Negara ini, Apa kamu pikirkan itu?”


“Baiklah, biarkan aku bicara, malam itu aku memang marah, dan aku ingin membuang kejenuhan saja , tidak ada niat sekalipun mencari pelarian, apalagi mencari kepuasan  dengan wanita lain.


Aku yakin pasti ada kesalahpahaman di sini, mari kita tanya sama orang membawaku ke sana ,mungkin ia hanya menuduhku,”kata Bastian membela diri.


Rara menarik napas panjang lagi membuang dari hidung, dengan ritual itulah  Bastian bisa selamat dari teriakannya dan selamat dari bogem mentah darinya.

__ADS_1


“Kamu tau gak, siapa yang menyelamatkanmu dari sana, kamu tau gak siapa  yang menarikmu dari pelukan wanita itu?” Itu aku Bastian, aku  yang menyelamatkanmu membawaku kesini, aku yang memakaikan bajumu saat kamu bertelanjang di sana. Ia menarik napas panjang lagi untuk  kesekian kalinya  “Itu, aku, aku, aku dan aku, sudah tau!” ujar  Rara marah dengan suara yang naik turun.


“Apa? …. Benarkah aku tidak mengingatnya, sepertinya ada orang yang mengerjai ku, Ra, ada orang yang mengerjai ku percaya padaku,” kata Bastian membela diri dengan wajah putus asa.


“Aku tidak tau,  ada orang yang mengerjai mu atau bukan, Bastian! Tapi akulah yang menarik rambut ketiga perempuan itu ketika mereka  mencumbui mu, itu menjijikkan, sebagai istrimu aku merasa rendah” kata Rara dengan wajah lesu dan lelah.


Bastian masih duduk, mendengar kemarahan Rara, mendengar kalimat demi kalimat yang kadang membuat kupingnya panas.


Tetapi Bastian membiarkan Rara meluapkan semua yang ada dalam hatinya. Karena ia juga tidak mengingat dia bersama wanita-wanita seperti yang di katakan Rara.


"Maaf Ra, sungguh aku tidak ingat," ucap Bastian.


"Bastian ...! kalau kamu sudah tahu kamu akan lupa ingatan saat mabuk, seharusnya kamu bisa mencegah sebelum terjadi! Tidak ingat itu bukanlah alasan yang logis"


"Ra aku sudah bilang aku datang ke-"


"Karena dipaksa? Atau kamu diculik?"


Rara mencerca Bastian dengan berbagai pertanyaan.


”Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolonng tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Bintang Kecil untuk Faila


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2