
“Ah maaf,” katanya dan menoleh “Rara!?” Apa yang kamu lakukan di sini?”
Ternyata orang yang ingin ia hindari yang menabraknya. Bastian suaminya, ia masih suaminya karena mereka berdua belum ketuk palu untuk berpisah.
“Iya, ada di rumah sakit pasti karena sakitlah, masa mau belanja,” kata Rara terlihat sangat jutek.
“Aku duluan, Rara meninggalkannya,”
“Ra, kamu mau kemana?”
“Cari makan,”
“Oh gitu, sama dong, aku juga ingin cari makan aku lapar, makanan rumah sakit tidak enak, disana, ada restoran yang masih buka, ayo kita kesitu,” Bastian mengajaknya.
“Kamu saja Bastian , aku makan nasi goreng yang di depan sini saja,” Kata Rara berjalan menuju gerobak di depan pintu Rumah sakit.
“Ra, tapi orang sakit tidak boleh, makan yang berminyak.”
“Aku tidak sakit, aku hanya numpang tidur di rumah sakit,” kata Rara, wajahnya tanpa ekspresi.
Mendengar Rara, bilang hanya numpang tidur di rumah sakit, Bastian tertawa lucu, tapi ia mengikuti Rara.
“Mang, nasi goreng satu, porsi banyak, jangan pedas iya mang!,” ia duduk di kursi. Bastian juga duduk
“Tumben, tidak pedas Ra, biasanya ektra pedas,” kata Bastian, berusaha mengobrol terus dengan Rara, ia terlihat bersemangat melihat Rara, Ia merasa rasa rindu beberapa minggu ini, bahkan hampir satu bulan , tapi berbeda dengan Rara seolah tidak ada minat ingin bicara pada Bastian, Ia hanya akan menjawab bila ditanya.
“Tidak bisa pedas lagi, sudah beda seperti yang dulu,” kata Rara, ia tidak bilang karena ia hamil.
Hingga nasi gorengnya sudah tiba dengan porsi banyak ,sesuai pesanannya.
“Gila, banyak benar habis itu!? Bastian duduk di sampingnya, matanya terus menatap wajah Rara.
“Habislah yang makan dua orang,” kata Rara tanpa sadar, Bastian terdiam sebentar, menyimak kata untuk dua orang
"Siapa dua orang?”
Rara baru engah “kamu enggak makan?.” Rara mengalihkan.
“Tidak, aku melihat kamu saja, aku sudah kenyang,” katanya terdengar seperti bernada gombal.
Ini orang ngapain sih, bagaimana bisa saling melupakan, kalau sifatnya menggombal seperti itu kata Rara dalam hati.
“Ra, kok kamu diam sih?.”
__ADS_1
“Aku lagi menikmati makanannya, malas bicara.”
“Ra, kamu sakit apa?.”
Mata itu benar-benar melihat dengan sendu.
“Hanya kelelahan, kebanyakan pekerjaan, banyak pikiran,” kata Rara tanpa menoleh hanya fokus pada sendoknya.
“Ra, kamu sangat membenciku, iya?” Tanya Bastian matanya menatap rindu pada Rara.
“Tidak, aku hanya bersikap sesuai alurnya saja,”
“Buktinya, setiap kali aku telepon, kamu tidak pernah mau angkat, padahal aku hanya ingin menanyakan kabar kamu, apa tidak boleh? Saat ini saja kamu tidak menanyakan kabarku, padahal aku sakit ? padahal dari tadi, aku menunggu kamu menanyakan tentang keadaanku,” kata Bastian terlihat apa adaya
Tapi bukanya Rara tidak mau, tapi ia menahan diri, ia tidak ingin terikat perasaan pada lelaki itu, karena ia berpikir hubungan mereka sudah berakhir.
“Oh, kamu sakit apa?,” tanya Rara tanpa menolah. Itu juga yang membuat Bastian sedih, saat Rara bersikap acuh padanya, seolah ia itu orang asing yang tidak di kenal.
Padahal Bastian berakhir di rumah sakit karena ia memikirkan Rara dan depresi .ia banyak minum , minuman yang memabukkan itu dengan perut kosong hingga keracunan, hampir saja ia kehilangan nyawa.
Ini hari ketiga ia di rumah sakit, kerena merasa bosan dan lapar makanya, ia keluar ternyata bertemu Rara.
Obat yang paling ia butuhkan saat ini, bertemu dengan Rara, karena Ia rindu, sangat merindukan Rara, sampai-sampai ia mau gila Rasanya , maka ia minum banyak sebagai pelarian, agar ia bisa melupakan masalahnya
“Aku sakit, karena kamu Ra,”kata Bastian jujur
Tapi Rara tertawa nyegir kuda, ia berpikir hanya menggombal.
“Ra, bisa gak kamu kalau ngomong menatap kerah aku?” Kata Bastian tidak suka dengan sikap Rara yang selalu mengacuhkan.
“Ah aku sudah selesai,” kata Rara ia berdiri. Tidak memperdulikan pertanyaan Bastian.
“Gila porsi besar begitu bisa habis?” Kata Bastian heran.
Saat ia berdiri, ingin membayar Sukma datang dengan wajah panik dengan kemarahan menatap tajam kearah Rara tapi, tidak Rara tidak menduga sukma semarah itu padanya.
~Paak~
Satu tamparan tidak terduga melayang ke pipi cantik Rara.
“Gila loe iya! gue hampir gila mencari loe di atas Ra ! gue pikir loe sudah melompat dari gedung, loe kenapa main pergi gak bilang -bilang sih, loe gak mikirin perasaan gue, loe gak mikirin bayi loe sendiri,” ia menunjuk perut Rara.
Sukma ngos-ngosan dengan wajah panik dada naik turun.
__ADS_1
Rara hanya diam bercampur kaget, sedangkan Bastian hanya bisa mematung mencerna omongan sukma.
“Tadi, kamu bilang bayi?.” Tanya Bastian dengan menatap mereka berdua bergantian
“Oh, itu anu, anu,” kata Rara gelagapan, karena mulut Sukma keceplosan ia jadi ikut gagap
Tinggal bersama Rara hampir satu tahun, mengerti banyak sikap Rara, saat ia panik dan saat ia berbohong. Saat ini Rara panik Bastian langsung tau.
“Bastian pasien di sini juga?” Sukma mencoba mengalihkan
“Iya, tadi kamu bilang apa?.” Mata Bastian menatapnya dengan tatapan memburu
“Tadi aku bilang badan, iya badan, badannya sakit.” Sukma juga terlihat gelagapan seperti menyembunyikan sesuatu.
Sukma menarik tangan Rara membawanya lagi masuk kedalam rumah sakit.
“Pak tadi ia bilang bayi kan iya? terus iya menunjuk perut wanita yang di tampar itukan? Tanya Bastian pada penjual nasi goreng. Bastian ingin memastikan kalau apa yang ia dengar dan apa yang ia lihat tidak salah.
“Wah, bapak juga mendengarnya seperti itu sih ,mas, tapi tidak tau, apa bapak salah dengar ,” kata Memang penjual nasi goreng itu.
“Apa yang kamu lakukan? pipiku sakit dodol kata Rara menatap Sukma dengan tawa kecil. Ia tidak marah, ia tau Sukma melakukan itu karena ketakutan.
“Aaaaa pipiku sakit cipit,” Kata Rara memeluk manja sahabatnya.
“Kamu tidak tau, bagaimana paniknya aku Ra,” Ia terisak-isak.
“Aku minta maaf, aku lapar bangat, aku tidak ingin mengganggumu tadinya, karena aku melihatmu kelelahan dan tidurnya pulas, aku tidak tega membangunkan mu, Mey, aaah.aaa, kamu malah menamparku,” kata Rara merengek manja di pelukan sahabatnya.
Seperti seorang ibu yang menyesal telah menampar anak perempuannya seperti itulah gaya Sukma memperlakukan Rara, Sukma mengusap-usap pipi Rara dengan lembut,
“Maaf, aku panik,” Katanya mencium pipi bekas tamparan tangannya, terlihat seperti seorang ibu dan anak.
“Oh, iya ampun Mey, Bastian tadi mendengar kamu menyebut bayimu, ini tidak boleh terjadi,” Kata Rara melepaskan pelukannya
“Oh, iya mulutku tadi keceplosan, maaf, Ra, nanti aku akan menjelaskan padanya,”
“Jelaskan apa ,Mey? Kamu mau bilang aku hamil? Jangan! ia tidak boleh tau,Mey, semuanya akan tambah berantakan, jika ia sampai tau aku mengandung anaknya, nanti ibunya tau,bisa-bisa ia meleyapkankanku seperti yang ingin ia lakukan pada Yolanda dulu,” Kata Rara, terlihat panik
“Tapi Mey, kadang aku berpikir tidak adil bagi Bastian kalau kamu menyembunyikan kehamilanmu darinya, karena bagaimana pun ia berhak tau, ia masih suamimu, dan-“
“Cukup !” potong Rara tegas “Mey , ia tidak perlu tau, situasinya berbeda saat ini,” kata Rara.
Rara menyembunyikan kehamilannya dari suaminya, akankah Bastian akan mengetahuinya? Biar waktu yang menjawabnya.
__ADS_1
Bersambung