
Setelah meninggalkan rumah keluarganya, Bastian pulang ke apartemen. Niatnya ia akan menjemput istri tercinta.
Bastian melakukan tugas bersih-bersih di apartemen, beberapa hari yang lalu Rara masih wanita yang bekerja untuknya, tetapi saat ini sudah menjadi Rara Winarti Salim .
Bastian berpikir tidak akan meminta istrinya lagi untuk bersih-bersih, ia berpikir akan mencari asisten rumah tangga yang baru untuk bekerja untuk mereka.
Setelah selesai beres-beres, ia menelepon Rara.
“Ra, kamu dimana, apa yang terjadi, apa kamu baik-baik saja?”
Bastian merasa bersalah saat membiarkan Rara datang sendirian ke rumah tuanya. Tetapi ia sudah bersumpah pada dirinya kalau ia tidak akan menginjak kaki lagi di tempat yang menorehkan luka yang begitu banyak untuknya.
Tetapi saat Bastian menelepon Rara diam, menatap layar ponselnya, nama pemanggilnya saat ini sudah berganti dari bocil jadi Pak Bastian, lalu saat ini nama pemanggilnya suamiku.
Ada rasa marah bercampur benci pada lelaki yang saat ini jadi suaminya.
“Ra, Bastian mengangkat layar ponselnya ke arah cahaya lampu di kamar. Namun tetap saja gambar Rara di layar ponselnya tidak terlihat jelas.
Rara menarik napas panjang dan menutup mata. Rasa kecewa pada Bastian masih sangat terlihat sangat jelas, Sukma hanya bisa melihat Rara, ia tidak berani membuka mulut dan tidak berani mengatakan satu kata pun. Karena ia tahu, saat ini sahabatnya dalam keadaan marah dan ia sangat berbahaya jika sedang marah.
“Aku baik-baik saja,” ucap Rara. Wajahnya datar tidak begitu bersemangat.
“Kamu lagi di mana?” Aku masih di rumah di lingkungan yang kumuh dan kotor ini Bastian, memangnya kamu pikir kemana lagi”
Dug … dug
Bunyi jantung Bastian, mendengar nada suara Rara yang ketus.
“Ra apa kamu masih marah?”
“Tidak ada artinya marah Bastian, nasih sudah menjadi bubur,” ucap Rara menyesali dirinya karena membuat keputusan yang buru-buru menikah dengan Bastian.
“Aku hanya ingin mengabari mu, aku sudah memberitahukan keluarga tentang pernikahan kita, saat ini aku di apartemen kita, apa aku perlu menjemputmu?”
“Tidak usah Bastian, nanti kalau keadaan sudah tenang aku akan mengabari mu”
“Apa terjadi sesuatu Ra?”
“Iya, ada badai besar di keluargaku gara-gara perlakuanku,” ucap Rara.
__ADS_1
Bastian berpikir badai yang di maksud karena mereka menikah diam-diam . Ia merasa bersalah karena ia membiarkan Rara menghadapi keluarganya.
‘Harusnya aku menemani Rara tadi, harusnya aku melawan rasa traumaku’ ucap Bastian dalam hati.
“Maaf iya Ra”
“Tidak apa-apa, sepertinya aku yang harus minta maaf padamu karena memaksamu menikahiku. Tidak seharusnya aku melakukan itu, maaf”
“Rara … Rara, jangan seperti . Baiklah aku akan datang berikan saja alamat rumahmu”
“Bastian … “
“Iya Ra”
“Maaf iya”
Mendengar suara Bastian
“Ra,” Katakan apa yang terjadi, maaf jika karena aku menolakmu hari itu. Apa karena itu?” tolong jangan marah, aku menjemputmu, Ya.”
“Tidak, bukan karena itu, tidak apa-apa lupakan saja”
“Aku berhak tau juga Rara tolong katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak marah?’Dadanya benar-benar terasa sesak. Ia sangat takut, bila harus berakhir seperti ini.
“ Bastian, Ibumu sangat menyayangimu"
“Apa kamu akan meninggalkanku Ra, apa segampang itu? Jangan lakukan itu,”
Suaranya Bastian meninggi, ia merasakan lidahnya terasa keluh.
“Tolong Ra, Jangan seperti ini, aku minta maaf untuk hari ini. Sungguh, aku menyesal meninggalkanmu hari itu,” suara Bastian terdengar memelas.
“Ini bukan tentang aku Bastian, ini tentang keluargaku, Malam itu bukan kesalahanmu, itu kesalahanku, tidak seharusnya aku menyeretmu kepernikahan , kamu tidak perlu bertanggung jawab untukku”
“Aku yang meminta Ra, A-aKu sangat mencintaimu Rara, tolong jangan melakukan ini padaku.”
Bastian memohon. Ia sangat menyesal karena tidak ikut mengantar Rara hari itu ke rumah keluarganya.
Bastian berpikir Rara marah karena itu, tetapi ia tidak tahu kalau ada masalah yang jauh lebih besar yang tidak ia tahu.
__ADS_1
“Aku akan menutupnya Bastian, selamat malam.”
“Rara, tolong jangan seperti ini … Aku berjanji aku memperbaiki sikapku mulai saat ini, berikan aku kesempatan.” Bastian
Tetapi Rara sudah membuang kartunya. Nomor yang di gunakan untuk menghubungi Bastian.
Bastian terus saja menekan nomor yang memangil tadi tapi sudah tidak aktif lagi, bahkan sebelum memangil Rara juga mematikan GPSnya maka tempat pemanggil juga tidak ditemukan Bastian.
“Haaa” begini saja dulu,” ia menarik nafas panjang ia melakukannya beberapa kali sebagi ritual kecil untuk menenangkan hatinya. Ia punya juga punya hati bukan karena ia bukan robot. Saat mendengar Bastian terisak menangis ia sebenarnya ia terusik, tapi ia menahannya dan Fokus pada tujuannya.
Ia bisa menahan segala perasaan yang kadang tidak bisa di lakukan wanita pada umumnya. Jika kebanyakan wanita akan menangis atau depresi mengalami masalah serumit itu, tapi tidak untuknya, hatinya sepertinya terbuat dari lempengan baja kuat.
Mungkin perlakuan kasar dari Ibunya selama ini yang ia rasakan dengan kata-kata memaki menyumpahinya, membuat ia menjadi wanita yang keras pada diri sendiri.
Bastian menerima pukulan yang sangat berat, ia tidak pernah merasakan sakitnya di tinggal dan mungkin ini juga tangisan kesedihan pertama yang di rasakan lelaki tampan itu,
“Begini ternyata rasanya, begini ternyata di putus sepihak oleh seseorang, tapi didalam dadaku rasanya sangat sakit." Ia masih terduduk tengelam dalam kesedihannya
“Aku tidak akan semudah itu kamu lepaskan seperti itu Rara." Bastian bermonolog dalam hatinya
“Sudah? Habis itu bagaimana?” ternyata Sukma dan mendengar semuanya.
“Terus aku akan membawa bokap gue kerumah sakit"
Suasana menjadi hening,
“Maaf Ra, loe pasti berat menghadapi semua ini, maaf kalau aku membuatmu makin kesal,” Rara mengusap tangan Rara. “ gue akan selalu mendukung"
“ Loe pasti berpikir gue kejam, gue keras kepala atau gue sok jual mahal."Rara menatap Sahabat
“Gue pilih nomor dua, loe keras kepala,” ucap Sukma sahabatnya.
“Gue juga pengen bahagia Mey seperti orang-orang, tapi lihat dari posisiku, ibunya yang tidak menyetujui pernikahan kami, gue juga belum tau Bastian menyukai gue apa tidak, yang gue tau ia jijik ke rumah gue, waktu tidak bisa diputar Mey, gue memilih yang pasti-pasti aja dulu hidup babeh jauh lebih penting.
“Baiklah Ra, gue mengerti mungkin jika gue di posisimu lu justru tidak tau membuat keputusan dan tidak berani memutuskan yang benar seperti yang lu lakukan, gue salut"
Rara memilih melepaskan Bastian, ia berpikir tidak akan bisa menghadapi banyak masalah sekaligus, mungkin jika saat itu Bastian mau ia ajak menemui kelurganya , ia akan mempercayainya dan ia mungkin menjadikan bahu lelaki itu tempat kepalanya bersandar di saat diterpa masalah seperti saat ini.
Bersambung
__ADS_1