
“Anda terlalu berani, apakah kamu berniat menggoda cucu saya?”
“Tidak, saya tidak tertarik dengan cucu anda baik harta anda, saya hanya akan menikmati apa yang saya punya.”
“Haaa!” Ny. Marisa sampai-sampai harus membenarkan posisi duduknya, untuk menenangkan jantungnya yang terasa ikut berdendang, melihat sikap berani Rara.
“Tapi tadi saya lihat kalian di kamar berbuat tindakan yang tidak terpuji,” ujar Marisa menatapnya dengan tatapan tajam berharap Rara takut dengan tatapannya.
Tetapi bukanya takut ia malah mengajak berdebat;
“Terkadang apa yang dilihat oleh mata, belum tentu itu bisa menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Jadi, alangkah lebih bijak , bertanya lebih dulu, dari pada menyimpulkan sendiri dan menuduh yang jatuhnya jadi fitnah,” ujar Rara dengan sikap tenang, memberi petuah sama orang tua, ia bersikap sok-sok orang tua.
Mendengar itu, Oma Bastian seolah kehabisan kata-kata dan sepertinya dapat musuh yang seimbang sama-sama berwatak keras dengannya.
Bastian hanya diam membiarkan kedua wanita itu berdebat sengit, ia membiarkan omanya mendapat lawan yang seimbang, ia hanya perlu jadi penonton, ia hanya akan menunggu siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang dalam perdebatan ini.
Karena ia sadar omanya yang tegas itu mendapatkan lawan sepadan. Seorang wanita yang punya sikap cuek, keras, tidak mengenal rasa takut untuk hal apapun.
“Berapa usia kamu?” tanya Ny Marisa menatap Rara.
“Kalau Nyonya mengukur kedewasaan lewat umur. Saya pikir anda salah Nyonya, kedewasaan seseorang jangan dilihat dari usia, tetapi cara dia berpikir dan cara dia bersikap.”
“Hadeeeh, saya hanya bertanya berapa usia kamu apa itu salah?” tanya Ny. Marisa dengan menghela nafas panjang, energi nya terkuras setengah, menghadapi Rara.
Bastian menahan tawa melihat omanya yang hampir KO menghadapi Rara, ia Menggosok hidungnya dengan telapak tangannya untuk menutup mulutnya yang menahan tawa melihat kekalahan omanya. Ia tidak memihak siapapun,
__ADS_1
‘Aneh, baru kali ini aku senang melihat perdebatan’ ujar Bastian dalam hati. Ia sampai ke dapur menyeduh teh sendiri dan duduk kembali untuk menikmati pertunjukan ke dua wanita itu.
Kedua alis Ny. Marisa menyengit semakin bingung, melihat keanehan yang terjadi. Ia heran saat Bastian menyeduh teh sendiri saat ada pembantu bersamanya. Baru kali ini, ia melihat lelaki berwajah tampan itu menyeduh the sendiri. Karena sejak ia lahir ia sudah memegang sendok mas di tangannya,
Yang selalu di layani dan perlakukan bak seorang pangeran saat di rumah besar mereka. Tetapi saat ini, ia menyeduh sendiri bukannya hanya untuk dia sendiri, teh madu hangat untuk omahnya dan kopi pahit untuk Rara dan teh hangat untuk ia sendiri.
Bastian melakukannya tanpa sadar, karena ia sudah terbiasa melakukannya, saat ia kalah dalam satu permainan dengan Rara, maka ia akan mendapat hukuman, melakukan pekerjaan rumah selama seminggu, bahkan pernah sampai sebulan, menyeduh kopi untuk Hara bukanlah hal pertama ia lakukan sudah berkali-kali apalagi kalau Rara sudah menonton Drakor. Jangan Harap ia bisa disuruh melakukan pekerjaan kecil, ia bahkan meminta tolong pada majikannya untuk membuatkan dan mereka duduk menonton berdua.
‘Apa ini, apa sebenarnya yang telah terjadi?’ tanya Ny. Marisa dalam benaknya saat Leon meletakkan gelas kopi Rara.
“Makasi Bos,” ujar Rara santai.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Ny. Marisa menatap Bastian dengan tatapan tajam.
“Membuatkan Omah teh jahe madu, tidak suka?” tanya Bastian.
“Oh Nyonya marah karena ia menyeduh kopi untuk saya? Apa satu kesalahan ?” Hara menatapnya santai.
“Hei, kamu pembantu di sini, tidak seharusnya cucuku yang menyeduh kopi mu, harusnya kamu! Kamu tidak tahu dia siapa?”
“Saya tahu dia Bastian Salim anak dari pemilik perusahaan besar Salim Group, memangnya ada apa dengan itu.”
“Haaa!” Ny. Marisa di buat terpelongo lagi.
“Bukanya hanya seorang anak pengusaha konglomerat, dia juga aktor bukan? hanya dia bukan aktor kesukaan saya, semua orang juga mengenal dia terus apa hebatnya dengan itu, apa maksud Nyonya kalau ia anak pengusaha kaya, aku harus tunduk dan menjilat dia begitu?”
__ADS_1
“Setidaknya kamu menghormati dialah,” ujar Ny. Marisa.
“Peraturan dari mana kalau dia kaya terus jadi hormat?” tanya Hara dengan kedua alis menyengit.
“Aiiih … kamu!” Marisa menatap Hara dan berpindah ke Bastian, bukannya bantuin atau belain omanya Bastian malah tertawa. “Dasar cucu tidak punya akhlak, bukannya bantuin oma dan belain oma di depan pembantu, kamu malah hanya nyengir seperti kuda,” ujar Ny. Marisa.
Bastian semakin tertawa lebar saat mendengar omah menyebut ia tidak punya akhlak, karena tidak membela omanya, secara tidak langsung Ny. Marisa hampir kalah, meminta bantuan pada Bastian.
‘Apa oma minta bantuan padaku? Ia bukan lawan mu oma kekuatanku dan oma digabung dan adu debat dengan Rara kita akan tetap kalah’ ujar Bastian dalam hati.
“Begini Nyonya …! kalau anda bilang hormat pada orang tua dan hormat pada yang lebih tua, itu baru tepat, tetapi kalau anda bilang saya harus menghormatinya kalau dia kaya, saya pikir itu pemikiran yang dangkal dan pemikiran primitif, jangan-jangan Nyonya juga memintaku menghormati anda karena anda kaya bukan karena tua?”
“Haaa, tua? Pemikiran primitif? Aduh leherku jadi sakit, wanita ini benar-benar membuat kepalaku sakit,” ujar Ny. Marisa memegang kepalanya dan sesekali mengurut batang leher belakangnya.
Bastian lagi-lagi tertawa dan ia menutup mulutnya dengan bantal agar tidak dilihat omanya.
“Kenapa juga kamu mempekerjakan wanita ini di sini jelas-jelas sudah tahu tujuannya,” ujar Ny. Marisa seakan-akan menuduh Rara.
“Tidak baik menuduh Nyonya, jangan menilai orang dari penampilannya,” ujar Hara masih membela diri.
“Baiklah itu artinya kamu mengakui kamu tidak menyukai cucu saya dan tidak ada niat merayu bukan?”
“Tentu, saya wanita yang dewasa Nyonya dan saya sudah punya anak dan sementara cucu anda menurut saya, dia masih seorang BOCAH.” Rara sengaja menekan kata bocah membuat kuping Bastian panas,
“Ckkk … berhenti memanggilku bocah, aku sudah kubilang aku bukan bocah!” Bastian marah.
__ADS_1
Bersambung...
Terima kasih kakak kakak sudah membaca karya saya,bantu like dan komen ya kak tiap bab nya, mudah mudahan kaka suka dan terhibur dengan karya saya,baca juga karya saya yang lain ya kak,salam sehat...