
Mereka sekarang memasuki kawasan Gebang, kawasan yang sudah mereka tinggalkan beberapa waktu silam, suasana di dalam mobil makin hening, pikiran mereka pasti sedang melayang ke waktu lampau ketika mereka harus bolak balik dari vila ke Gebang.
Tidak lama kemudian nampak sebuah gedung kosong tidak terawat, gedung bekas rumah sakit yang waktu itu sempat memberikan beberapa memori mengerikan bagi Broni dan Novi bersama pak Ponidi disana.
Mobil terus melaju naik ke atas, beberapa menit kemudian nampak di sebelah kanan ada pasar Gebang, pasar Gebang yang banyak memberikan pengalaman, tetapi di jaman ini pasar itu tentu sudah berubah sama sekali , sudah menjadi pasar modern dengan banyaknya kios ruko dan penataan yang baik.
Jalan terus menanjak, jalan yang sama dengan ketika mereka ada di masa lampau, tetapi jalan yang sekarang mereka lewati ini sudah tidak separah dulu yang hanya berupa tanah yang dipadatkan tetapi halus, kalau jaman ini jalan itu sudah berubah menjadi aspal meskipun ada lubang disana sininya.
Pikiran mereka pasti sedang melayang ke masa ketika mereka sedang bola-balik dari vila menuju ke gebang dengan jalan kaki dan kadang menggunakan jasa dokar pak Ponidi.
Mobil terus menanjak hingga mereka melihat di sebelah kanan ada sebuah warung reot, warung yang cukup mengerikan karena disana adalah awal mula Broni dan Tifano bertemu nenek tua yang ngakunya bernama Kara. Dan juga tempat Agus Dogel bersama Totok menemui nenek tua yang mengerikan disana.
“Eh warung itu sik ada ae rek, tak pikir wis ajur , ternyata masih ada meskipun reyot gak karuan” tunjuk Broni ke warung aneh itu
“Iyo Bron, medeni yo, wonge kan wis matek c*k” timpal Tifano
Mobil berjalan pelan karena jalan disini meskipun sudah beraspal tetapi tetap saja tidak mulus untuk dilalui mobil yang cukup mewah ini.
Di depan mereka sudah ada tikungan yang akan mengarah ke vila putih, mobil bebelok ke arah tikungan itu dengan sedikit ngoyo... ngoyo itu ngotot, artinya mungkin susah payah gitu ya.
“Eh rek, situasinya kok agak mendung ya rek, padahal tadi kan panas rek” kata Gilank yang mulai agak curiga
“Lha kenapa nek mendung Lank, awakmu kan wis pernah mati, pernah jadi setan, mosok mendung giniae takut rek” jawab Ukik
“Matamu Kik, ojok sampek jadi setan maneh lah, aku kan yo kepingin ihik ihik sama cah kae yang duduk didepan”
“Dani ta Lank, awakmu arep ihik ihik sama Dani ta hahahah” potong Broni
__ADS_1
“Ndasmus c*k hahahah” teriak Dani
Mendung semakin gelap, jalan semakin rusak, tetapi niat mereka untuk ke vila putih tidak terbendung, suasana disana cukup mencekam karena mendung dan sepinya keadaan disekitar sana.
Mobil terus merambat ke atas, dan akhirnya pelan-pelan terlihat dari dalam mobil sebuah vila yang keadaanya gak karuan, pohon yang ada dipinggir taman semakin besar karena tidak ada yang merawatnya.
Ujung atap vila sudah penuh dengan tanaman merambat, mobil pun akhirnya berhenti tepat di depan pagar vila yang sudah tidak berupa pagar, karena sudah penuh dengan tanaman merambat yang sudah menjalar di pagar dan gerbang vila.
“Wiiih vila ini sudah tidak berbentuk, tanaman menjalar sudah menguasai separuh vila rek” kata Wildan yang sekarang berdiri di depan pagar vila
“Tapi keliatanya vila ini masih kokoh berdiri, hanya saja dindingnya sudah banyak tanaman merambatnya, itu yang bikin suasana mengerikan ya?” tukas Ali
“Kalau dibersihkan ya akan bagus lagi lah mas” sahut Novi
“Jadi keliatanya semenjak kita kembali ke mas depan, di vila ini sudah tidak ada kehidupan. Berarti Marwoto dan Suparmi sudah berhasil menyatukan dua wilayah menjadi satu” lanjut Dani yang sekarang berada di pinggir jurang depan vila.
“Eh apa disana masih ada pintu rahasia ya rek?” teriak Dani
Tifano dan Broni menghampir Dani yang sedang melihat ke bawah jurang, keadaan di bawah jurang tetap sama dengan waktu mereka dulu kesana, hanya saja beberapa pohon terlihat jauh lebih besar dari pada ketika mereka ada disana sebelumnya.
Ketika mereka asik mengamati vila yang dimana tempat mereka pernah melakukan perubahan sejarah, tiba –tiba dari arah atas berjalan seorang kakek tua menuntun sepeda yang penuh dengan rumput gajah untuk pakan ternaknya.
Orang tua yang keliatanya berasal dari desa sekitar sini itupun melewati kami yang sedang sibuk memperhatikan vila yang ada di depan kami.
“Mbaaah , nuwun sewu, yang punya vila ini siapa ya mbah” tanya Broni
“Maaf dik, saya tidak tau, tapi vila ini angker dik, sudah lama kosong semenjak saya masih remaja vila ini sudah kosong, tidak ada yang menempatinya” kata orang tua itu yang kemudian melanjutkan perjalananya.
__ADS_1
“Mbah sebentar, apa mbah kenal sama orang yang bernama pak Tembol?” tanya Tifano tiba-tiba
“Maaf dik, saya tidak kenal dengan nama itu, tapi coba adik-adik tanya ke orang yang tinggal diatas itu, disebelah vila itu ada rumah, mungkin dia tau yang kalian cari”
“Ya sudah pak, terima kasih atas informasinya, coba kami kesana pak” kata Tifano dengan sopan, dan pak tua itu pin melanjutkan perjalananya
“Ayo kita ke sana mas” kata Novi yang sekarang memakai kaca mata hitam dan nampak tambah cantik dari pada sebelumnya
Tadi itu mereka pasti berharap orang tua itu adalah pak Tembol yang pernah mereka kenal, ternyata bukan. Semua sudah banyak berubah setelah para pengubah sejarah menyelesaikan tugasnya dan kembali ke masa depan.
Harapan mereka untuk bertemu dengan pak Tembol semakin tinggi ketika pak tua itu menginformasikan bahwa ada sebuah rumah yang letaknya di sebelah vila ini, akhirnya mereka berjalan kaki menuju ke atas sana.
“Apakah pak Tembol tinggal di sana rek” tanya Gilank sambil berjalan ke atas
“Ndak tau Lank, bisa saja itu orang lain yang menjaga vila ini, pokoke kita kesana sajalah” jawab Dani
“Nov, mobilnya tak bawa kesana ya, dari pada parkir terlalu jauh disini” teriak Dani kepada Novi yang sudah berjalan dahulu
“Halah Dan, ngomong ae nek males jalan hihihihi”celetuk Ukik
“Iya mas Dan, bawa aja ke sana” teriak Novi dari depan
Ternyata benar apa kata bapak tua itu, disebelah vila putih yang sudah tidak terawat sama sekali karena berbagai tanaman mulai tumbuh liar hingga merambati sebagian besar dinding ada sebuah rumah mungil , rumah yang terbuat dari susuan kayu yang terpotong rapi.
Rumah mungil yang disampingnya ada sebuah dokar atau andong tanpa kuda, dokar yang nampak tua dan mungkin sudah cukup lama mangkrak disana karena sebagian kayunya sudah banyak yang terkelupas rusak dan pecah.
Rumah mungil itu di depanya banyak ditumbuhi tanaman hias di dalam pot-pot kecil, dan sebagian besar sudah berbunga indah, sehingga menambah kesan adem dan nyaman rumah mungil itu.
__ADS_1
Kedelapan remaja itu sedang memperhatikan dokar yang ada disamping rumah mungil, mereka sepertinya mengenal dokar tua dan rusak yang tanpa kuda itu.