MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 175 (PAK KADES SLAMET)


__ADS_3

“Oh gitu, wah kalian hebat ya bisa berteman dengan mbah Woto, penduduk sini mana ada yang berani ajak dia bicara duluan kecuali mbah Woto yang mengajak beliau bicara” kata mbok Nah


“Eh mbok Nah, kalau boleh tau mbah Woto dimakamkan dimana ya, kami ingin nyekar ke makamnya”


“Di sebelah makam istrinya pak, apa njenengan tau dimana makam istrinya itu?”


“Kalau makam mbak Suparmi kami tau mbok, nanti kami akan kesanalah. Oh oya mbok, kalau boleh tau nama istri Suharto itu siapa dan dimana dia tinggal” kata pak Tembol lagi


“Namanya Saritem, dia sekarang ada bersama orang tuanya pak, di desa ini juga. Rumahnya tidak jauh dari sini kok.  sampean balik saja ke sana, terus belok kiri … lurusss saja sampai hampir masuk hutan nah sebelah kanan rumah yang ada pohon jambunya itu”


“Oh berarti arah rumah mbah Painah dulu itu nya”


Seketika raut wajah mbok Nah berubah, dia kaget dengan mata terbelalak ketika mendengar pak Tembol menyebut nama  Yu Painah.


“B…bagaimana bapak tau Yu Painah ibu mbah Marwoto? saya saja penduduk sini hanya dengar dari bapak dan ibu saya tentang kehebatan yu Painah. Lha kok sampeyan bisa santai menyebut nama Yu Painah dan tau rumah ujung hutan itu”


“Yah kebetulan saya pernah bermimpi bertemu dengan beliau saja mbok hehehe, oh iya mbok, kepala dusun disini rumahnya yang mana dan namanya siapa ya?”


“Namanya pak Slamet, dia tinggal di sebelah mushola yang ke arah rumah Suharto,  kalau dari sini sebelum mushola, di depan rumahnya banyak tanaman melatinya” jawab mbok Nah


Setelah membayar  makanan dan semuanya, kini yang pertama mereka lakukan adalah nyekar ke makan mbah Woto, makan mbah Woto dan Suparmi ada di pemakaman umum yang letaknya tidak jauh dari desa, dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki saja.


“Apa tidak lebih baik kita ke rumah kepala desanya dulu saja pak?” tanya Saeful


“Nanti saja nak, kita lebih baik nyekar dulu ke makam mbah Marwoto, saya masih ingat kok tempat makam Suparmi, dan pasti disebelahnya adalah makam Mbah Woto.


“Iya pak Novi juga masih ingat ketika nyekar Suparmi, makam nya agak masuk ke dalam hutan dan harus ditempuh dengan berjalan kaki, jadi mobil kita taruh di depan mushola saja”


“Karena gang masuknya itu ada di seberang mushola pak, jadi setelah dari makam kita bisa langsung ke rumah kepala desanya”


Saat ini belum tengah hari, baru sekitar pukul sepuluh, tetapi keadaan desa di sini memang sepi sehingga menimbulkan kesan gimana gitu.


Mobil Novi diparkir di depan mushola, tetapi ketika mereka sedang memarkir mobil Novi, tiba-tiba dari dalam rumah yang di depannya banyak bunga melatinya muncul orang yang sudah agak tua, laki-laki itu hendak pergi, karena dia mengenakan pakaian rapi.


“Pak, kayaknya itu pak Slamet, dia akan keluar rumah pak, ada baiknya kita sapa dulu dan kita ajak bicara, karena takutnya dia akan lama perginya lho pak” kata Petro


Pak Tembol  segera menyusul laki- laki yang sudah mulai berjalan di depan rumahnya,


“Assalamualaikum… pak Slamet” panggil pak Tembol yang sudah ada di belakangnya


“Waalaikumsalam.. bapak siapa dan apa ada yang saya bisa bantu?”


“Iya pak Slamet, nama saya Tembol. Maaf saya mengganggu, eeh apakah pak Slamet ada waktu sebentar pak?”


“Waduh maaf, saya sedang buru-buru ini pak, mungkin nanti setelah dhuhur saya sudah ada di rumah lagi. Maaf ya pak eh pak Tembol ya”


“Iya pak, eh baik kalau begitu, eh saya mau nyekar ke makam mas Woto dan mbak Suparmi dulu saja, eh saya tunggu disini saja tidak apa-apa kan pak” kata pak tembol


“Kalian apanya mbah Marwoto, kenapa cara manggilnya mas Woto dan mbak Suparmi?” tanya pak Slamet dengan wajah curiga


“Nanti saja akan saya jelaskan pak, silahkan bapak pergi dulu saja, nanti setelah dari makam akan saya tunggu di sini pak. kebetulan kami dari kota S pak, jadi yah hehehe ndak mungkin harus balik, karena kejauhan heheheh”


“Ya sudah kalau begitu, setelah lohor saya sudah ada di rumah.. Mari pak” kata pak Kades itu kemudian berjalan


“Kalau begitu kita langsung ke makam saja anak-anak, nanti setelah dari makam kita tunggu saja di depan rumahnya”


Mobil diparkir dengan rapi di depan rumah pak Kades, kini mereka berjalan menuju ke arah jalan setapak yang menuju ke makam umum  desa. perjalanan dari ujung gang ini mungkin ada sekitar dua puluh menitan


“Nanti kita lewat pematang sawah hehehe, suasananya enak sekali disini” kata Novi yang berjalan paling depan.

__ADS_1


“Mas Saeful, gimana kalau setelah menikah kita tinggal di pedesaan  kayak gini, kita bikin anak yang banyak mas hehehe” celoteh Novi


“Wah bagus juga rencana nak Novi, tapi heheheh apa bisa nak Novi?” kata pak Tembol tidak meneruskan kata-katanya


“Ih  apa sih pak Tembol ini!” jerit Novi


Mereka sudah berjalan sekitar lima belas menit, kemudian mereka masuk ke area hutan yang tidak terlalu rimbun, hanya beberapa puluh meter kemudian sudah terlihat sebuah area pemakaman yang luas.


“Nah sekarang kita cari makam Suparmi dulu ingat jangan lupa ucapkan salam ketika masuk ke sana  anak-anak”


Area pemakaman yang luas dengan beberapa pohon kamboja yang saat ini sedang berbunga, hingga area pemakaman ini berbau wangi.


“Nah yang disana itu kayaknya makam mereka berdua, tapi kok kotor sekali dan banyak rumputnya? apa ndak salah itu makamnya nak Novi?” tanya pak Tembol yang kemudian mendekati sepasang makam yang banyak ditumbuhi rumput liar


Pak tembol menyibakkan rumput yang menutupi batu nisan agar terbaca nama yang tertulis di batu nisan.


“Banar ini makam Mbah To dan Suparmi, duuuh kok ndak terawat sama sekali sih, ayo anak-anak, kita bersihkan makam dua orang yang sudah merubah sejarah desa ini” kata pak Tembol


Berempat mereka membersihkan makam mbah To dan Suparmi hingga semua rumput liar tidak ada sama sekali di makam mereka berdua, batu kerikil yang berantakan terkena air hujan pun mereka tata kembali, hingga satu jam kemudian makam itu sudah bersih dan rapi.


“Aneh ya anak-anak, kenapa makam sepasang orang penting ini tidak terurus apa anak mereka yang bernama Suharto tidak pernah mengurusi makam bapak dan ibunya?”


Setelah berdoa sejenak, mereka pun kembali ke mobil yang mereka parkir di depan rumah pak Kades.


“Kita tunggu saja disini nak, sebentar lagi kan sudah adzan dzuhur, sekalian sholat berjamaah juga disini”


“Eh pak, apa kita ndak ke rumah istri Suharto saja pak, sambil menunggu waktu dzuhur tiba?” tanya Petro


“Ada baiknya kita ijin dulu dengan kepada desa itu, dan bertanya sedikit kepada dia apa yang terjadi dengan keluarga Suharto, siapa tau pak Kades paham bagaimana kejadian aslinya. Jadi kita tidak melancangi petugas desa ini anak-anak


“Iya pak, lebih baik kita permisi dulu saja dengan penjaga desa ini, baru nanti kita lakukan apa yang harus kita lakukan, karena mungkin kita akan dibantu oleh pak Slamet untuk proses perlindungan anak dan cucu mbah Woto”


“Perhatikan anak-anak, apakah Suharto juga ikut berjamaah disini atau tidak, karena Marwoto sendiri tiap sholat fardhu selalu berjamaah disini”


Semua orang sudah pada shafnya masing-masing, tetapi tidak terdapat Suharto sama sekali.


“Tidak ada pak” bisik Petro sebelum sholat dimulai


Selesai dzuhur berjamaah, mereka kembali lagi ke mobil, mereka menunggu hingga pak kades datang.


“Tadi ada yang tanya saya pak, dia tanya kita dari mana dan cari siapa. Ya saya jawab dari kota S dan mau ke rumah Suharto. kemudian dia bilang gini pak, dicoba aja mas, karena Suharto tidak mau menerima tamu” kata Saeful


“Hmm aneh juga ya, apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan orang itu, hmm nanti sajalah kita tanya ke pak Slamet kades disini” kata pak Tembol


Ternyata benar juga setelah Dhuhur dari kejauhan nampak pak Slamet sedang berjalan menuju ke rumahnya, cara berjalan yang lumayan cepat untuk orang yang seumuran dia.


“Assalamualaikum…” sapanya setelah ada di samping mobil mereka


“Waalaikumsalam.…” balas mereka


“Ayo masuk.. ayo mari masuk” kata pak Kades sambil mencopot sepatunya


Mereka kini ada di ruang tamu rumah pak Kades yang tidak terlalu besar


“Tunggu sebentar ya saya mau panggil istri saya dulu, agar dibuatkan kopi untuk kalian” dia masuk ke bagian dalam rumah dan berbicara kepada istrinya


“Nah ..hehehe bagaimana… apa yang bisa saya bantu, kok kelihatannya penting sekali ini heheh” kata pak Kades itu lagi


“Begini pak, sebelumnya saya mau minta maaf dulu karena datang kesini dengan tujuan yang mungkin bagi pak Kades ini agak aneh dan tidak masuk akal sama sekali. Jadi saya akan ceritakan apa yang membawa kami kesini” kata pak Tembol

__ADS_1


Pak Tembol bercerita kepada pak Kades apabila dia bertemu dengan teman lamanya yang bernama Marwot atau yang biasa dipanggil dengan sebutan mbah Woto, hingga mbah Woto menyuruh untuk melindungi anak cucunya. tanpa bercerita tentang  kejadian di vila.


“Saya tau sedikit tentang apa yang terjadi di desa ini sebelumnya dan berkat adanya mbah Woto dan istrinya maka keadaan desa disini dan disebelah bisa berubah, dan itu merupakan cerita penduduk disini secara turun temurun” kata pak Kades


“Saya dulunya juga dekat dengan mbah To, dan sempat almarhum bercerita tentang bagaimana dan apa yang terjadi serta perjuangan dia bersama orang -orang di masa lalu untuk menyatukan wilayah ghaib disini. Dan saya percaya sekali dengan ceritanya itu!” kata pak Kades dengan tegas


“Tetapi semuanya berubah ketika mbah To meninggal. Anak semata wayang yang harusnya bisa meneruskan perpanjangan tangan dari bapaknya ternyata tidak bisa meneruskan, karena suatu sebab yang saya tidak tau”


“Dia berubah menjadi aneh setelah dia suka menyendiri di hutan antara desa ini dan desa sebelah, dia kelihatannya benar-benar kehilangan bapaknya hingga stress dan suka menyendiri di hutan sana”


“Saya tau hutan itu pak, dan saya juga tau apa yang ada disana itu” jawab pak Tembol


“Nah Istrinya pun sering mendapat kekerasan dari Suharto kalau dia sedang kumat, hingga akhirnya istrinya yang bernama Saritem pulang ke orang tuanya. Yang saya dengar Suharto selalu memaksa istrinya untuk ke hutan itu”


“Disini ini yang bahaya, karena anak satu-satunya ada di tangan Suharto!” kata pak Kades dengan wajah serius


“Penduduk disini tidak ada yang berani melawan dia, karena dia selalu mengancam akan membunuh siapa saja yang mencampuri urusannya, termasuk siapa saja yang berusaha merebut anaknya dari dia juga akan dibunuhnya”


“Jadi penduduk sini hanya membiarkan orang yang aneh itu bersama anaknya, dan untungnya anaknya yang bernama Sarinah tidak apa-apa”


“Nah sekarang apa yang akan kalian lakukan setelah tau keadaan dari Suharto itu?”


“Tetap sesuai dengan amanah mbah Woto pak, kami harus selamatkan keluarga mereka pak, hanya saja kami belum tahu apa yang harus kami lakukan setelah mengetahui keadaan dia seperti itu”


“Tadi kami juga sempat nyekar ke makam suami istri itu pak, tapi keadaan makam itu sangat memprihatinkan untuk sepasang suami istri yang sudah sangat berjasa bagi dua desa ini” kata Novi


“Tapi tadi makam itu sudah kami bersihkan pak, kami tata lagi batu kerikilnya hingga rapi”


Pak kades terlihat kaget dengan omongan Novi, dia diam sejenak dan kemudian berkata lagi…


“Waduh itu yang saya takutkan mbak, penduduk sini tidak ada yang boleh membersihkan makam itu, itu perintah dari Suharto”


“Memang selama ini banyak penduduk sini yang berdoa di makam mbah Woto. Tetapi semenjak diaitu berubah, sekarang tidak ada yang boleh nyekar atau merapikan makam orang tuanya”


“Dia akan marah besar apabila ada penduduk sini yang nekat membersihkan dan mendoakan kedua orang tuanya” lanjut pak Slamet


“Begini saja pak, kami tetap harus menyelamatkan keluarga itu dari serangan musuh masa lalunya mbah Woto, dan hal ini terserah bapak mau percaya omongan kami atau tidak” kata pak Tembol


“Jadi kami juga ingin bertamu dulu ke rumah Saritem. mungkin ada sedikit informasi dari Saritem tentang keadaan suaminya yang aneh itu”  kata pak Tembol


“Saya percaya dengan omongan kalian, dan saya percaya dengan adanya serangan musuh masa lalunya mbah Woto, karena hal ini sudah pernah dia ceritakan kepada saya sebelumnya” kata pak Kades


“Atau begini saja, kita bersama-sama menuju ke rumah orang tua Saritem, dan nanti biar saya dulu saja yang menjelaskan kepada keluarga itu, bagaimana?” kata pak Slamet


“Ok baik pak, kami setuju pak”


Kemudian pak Slamet masuk ke dalam rumah dan berbicara sejenak kepada istrinya bahwa dia akan mengantar mereka menuju ke rumah Saritem istri Suharto.


*****


Mobil berjalan pelan menuju ke rumah Saritem yang letaknya agak dekat dengan rumah kedua mbah Painah ibu dari pak Woto, mbahnya Suharto, buyutnya Sarinah.


“Saya pernah ada disana, di pinggir hutan itu, disana ada rumah mbah Painah ibu dari Marwoto kan pak” kata Novi


“Nah kalian malah lebih tau tentang sejarah desa ini dari pada saya, memang disana itu ada sebuah rumah yang dulu kilik mbah Painah, dan sampai sekarang rumah itu masih ada dan masih utuh” jawab pak Slamet


“Nah itu mas rumahnya, yang ada pohon jambunya itu, mobilnya parkirkan di depan rumahnya saja mas” kata pak Slamet


“Eh biar saya dulu saya yang memanggilnya, karena keluarga ini sangat malu dengan keadaan Suharto yang seperti orang gila, akibatnya keluarga ini menutup diri dari masyarakat disini”

__ADS_1


__ADS_2