
Saeful, Broni, dan Novi plus pak Handoko dan Mbok Juriah ada sisi jurang dekat dengan tempat berdirinya Trimo, Sokran, dan Supardi. Sementara itu ketiga orang yang tadinya sedang terkena gatal-gatal sekitar biji sudah meninggalkan mereka bertiga dengan sesosok mayat yang mengalami retak tengkorak bagian belakang.
“KASWADIIIIIIII, BRODEEEEEEN, SARMIDIIIII. KALIAN SEMUA PENGHIANAT!” teriak Trimo
“Kamu!...., kamu yang mengaku sebagai Supardi. Kenapa kamu mengaku sebagi Supardi!” teriak Trimo yang masih terpengaruh oleh omongan Saeful
“Saya Supardi yang asli, saya tidak membunuh tiga orang yang sekarang mayatnya sudah kami buang ke jurang di daerah pct!” balas Supardi dengan nada keras juga
“Lalu kenapa anak itu tidak mengenalmu, dan siapa anak itu, kenapa dia begitu sakti hingga ketiga temanku itu bisa sembuh, dan sekarang lari ke pos polisi untuk melaporkan salah satu dari kita!” balas Trimo yang tidak mau kalah juga
“SAYA TIDAK TAU DIA ITU SIAPAAA, YANG SAYA TAU DIA TELAH MEMBUNUH KETIGA TEMAN FATHONI, YANG MEMBUNUH BUKAN SAYA, TETAPI DIA! ….. huuuuffppp saya hanya menyarankan untuk membuang mayat itu ke jurang saja, saya bukan pembunuh hiiiiikkks” kata Supardi yang ndase sudah mumet karena kelakuan Saeful
“Saya tau dia telah melaporkan ke polisi atas kematian tiga teman Fathoni, dan Fathoni yang sudah cacat tangannya akibat ulah dia juga!”
“Goblok kamu ini. benar anak itu… kamu ini goblok apa tolol…! mana bisa satu orang anak desa melawan kamu, Fathoni, dan anak buah Fathoni yang saya yakin mereka berbadan besar semua!. Kamu kira saya percaya dengan omonganmu!. SAYA LEBIH PERCAYA DENGAN ANAK DESA ITU!” teriak Trimo sambil menujuk tunjuk wajah Supardi
“Trimo, saya mau tanya, apa yang kamu lakukan dengan dukun itu disini? Dan kamu siapa” kata Supardi sambil menunjuk ke arah Sokran yang masih berdiri di sebelah Trimo
“Ok saya akan jelaskan terperinci!. Saya sebelumnya memang tidak percaya sama kamu. Saya kesini atas laporan dari orang saya yang kesini terlebih dahulu, dan dia adalah yang mati di sebelahmu itu hahahah, dia pantas mati karena berkhianat dari saya” kata Trimo
“Dan kamu Supardi, saya tidak peduli lagi dengan kamu, karena saya punya rencana sendiri, dan saya punya perjanjian dengan penguasa disini. Jadi kamu lebih baik segera angkat kaki dari sini saja sebelum saya melaporkan kamu sebagai pembunuh hahaha. Ingat… Broden, Kaswadi, dan Sarmidi saat ini sudah ada di Gebang untuk melporkan adanya tindak pembunuhan”
“Kamu punya perjanjian dengan siapa Trimo, karena bisa saja kita sedang berkerja sama dengan satu orang yang sama” kata Supardi mencari celah kelemahan Trimo
“Tidak, dia tidak mau kerja sama dengan kamu, penguasa disini sudah terikat perjanjian dengan saya untuk menemukan air suci….air kehidupan. Jadi tidak ada hubunganya dengan kamu, dan lebih baik kamu pergi saja dari sini!” hardik Trimo
“Entah siapa namamu, entah kamu ini Supardi atau bukan, pokoknya saya beri kamu kesempatan untuk pergi dari sini sebelum banyak aparat polisi yang akan datang dan memburumu”
“Dan mayat itu saya biarkan disini agar pihak kepolisian memeriksanya, dan ditubuh mayat itu banyak sidik jarimu hahahah” kata Trimo yang kemudian pergi dari sana dan menuju ke mobilnya yang terparkir di depan rumah Supardi
*****
“Huffgg… jahat sekali Trimo itu, saya sudah curiga dari awal sejak dia mau kerjasama dengan Supardi, aneh sekali dia mau kerjasama dengan orang yang tidak memahami apa yang ada di bawah Vila itu” kata Saeful
“Tapi jangan lengah mas, Harus diingat Supardi bekerja sama dengan Totok. Dia masih punya kesempatan untuk menghancurkan Trimo dengan bantuan Totok. Totok yang dulu pernah terikat jual beli dokumen dengan Trimo, sebelum Trimo menyerahkan dokumen itu kepada saya hihihihi” kata pak Han
“Pasti Totok akan dendam sekali dengan Trimo kan pak Han, dan yang pasti Supardi akan dibantu secara penuh oleh Totok untuk memusnahkan Trimo. Hanya saja Novi belum tau Trimo bekerja sama dengan siapa, apakah dengan Mak Nyat Mani atau dengan Soebroto” kata Novi
“Iya betul itu apa yang dikatakan Novi, jadi kita sekarang mempunyai dua musuh hahahah. Dan ingat kita hanya punya mbok Ju sebagai teman tak kasat mata yang bisa membantu kalian, tapi itu sangat kurang sekali, kita perlu bantun orang lain” kata pak Han
“Hmmm saya kok kepingin hubungi anak-anak Sutopo ya pak, mereka mempunyai beberapa sosok yang begitu kuat dan bisa melawan yang ghaib” kata Broni
“Sudahlah, ayo kita kembali saja ke ruangan biru anak-anak, karena sudah tidak ada lagi yang bisa kita perbuat disini. Sekarang Supardi sendirian, sedangkan Trimo pergi dengan dukun yang tadi itu” kata pak Han
__ADS_1
“Tidak pak, Supardi masih bersama satu orang disana, dia berdua disana pak, jadi yang kita tunggu itu perkembangan antara Supardi dan Trimo. Hanya saja kita memang memerlukan dua pengintai pak, jelas tidak mungkin kalau mbok Ju yang harus bolak-balik mengintai mereka” kata Saeful
“Jugaan kita kan belum tau dimana Trimo akan bertempat tinggal, bisa saja dia nanti ada di dalam vila putih mas” sahut Novi
“Tapi untuk beberapa kasus memang ada baiknya kita meminta bantuan kepada teman kita. Tapi nanti sajalah, kita pikirkan nanti setelah kita ada di ruangan biru, dan untuk sementara kita cukup sampai disini saja dulu hingga keadaan berubah lagi” kata mbok Ju
Akhirnya mereka kembali ke ruangan biru, dan untuk saat ini mereka tidak mengurusi orang yang ada disana, apalagi Kaswadi, Broden dan temanya itu. yang pasti mereka hari ini akan beristirahat, mereka harus tidur karena sudah beberapa hari mereka tidak tidur sama sekali.
*****
“Jadi disini selain Supardi juga ada Trimo, dan kita sekarang juga kan berhadapan dengan bos masing masing orang. Supardi kemungkinan bersama Totok atau Rochman, sedangkan Trimo kemungkinan kalau tidak dengan Mak Nyat Mani bisa dengan Soebroto. Begitu ta rek?” tanya Ali
Keempat orang plus mbok Ju sekarang sudah ada di ruangan rahasia setelah mereka melakukan perlawanan kepada Trimo dan Supardi yang berakhir masing-masing membuka aibnya hihihihi. Gara-gara Saeful ini yang tadi berhasil membuat kebingungan diantara mereka.
“Iya mas Ali, Novi cuma dengar mereka bicara begitu setelah kedua kubu diporak-porandakan oleh mas Saeful dengan permainan kata-katanya yang aduhai mas hihihihi” kata Novi yang masih bergelayutan di bahu Saeful
“Ternyata marbot Masjid ini lihai juga ya dan selalu single fighter hehehe” kata pak Han
“Ndak juga pak, kan ada mbok Ju, kalau tidak ada mbok Ju saya ya jelas tidak berani, kalau yang kemarin kemarin kan karena ada mbak Novi dan mas Broni juga, jadi saya berani pak hehehe” jawab pak Saeful
“Ya sudah lah, kalian lebih baik istilahat dulu saja, tidul dan jangan ulusi yang ada di lual sana. Gentian dengan yang lainya macam Ali, Wildan, Tifano, dan itu siapa yang aneh itu haiyaaaaa!” kata pak Pho
Gilank pak Phoooo kikikikikik” jawab Novi cekikikan karena Gilank semakin gak karuan bentukanya
“Ses aja cyin… akutuh lebih suka dianggil ses dari pada sis. Ses itu perempuan yang dewasak, kalok Sis kan artinya Sister atau saudarak, jadi gimanaaa gitu dengernya ih” jawab Gilang yang semakin endel
Gilank makin mengerikan, pakaian jadul yang dia kenakan sekarang makin dibuat aneh-aneh. Hem yang diberikan oleh Dogel dia ikat sisi bagian bawahnya hingga diatas pusar, sehingga dari pinggang ke pusar terlihat mengerikan hihihii.
“Eh ses Novik, tuh ciapa sih yang kamu lendotin ituh” kata Gilank menunjuk ke Saeful
“Ini kan mas Saeful… calonya Novi ses. Awas eaaa kamu ga boleh deketin mas Saeful eeaaa. ses Gila.. eeeh ses Gilank cari aja cowok lainya. Disini kan ada mas Wildan tuh yang tinggi besar, apa ses Gilank gak pingin dipeyuk dia hihihih” kata Novi
“Ih kok Gilank sih ses.. nama akutu G i n n a….. GINNA. Bukan Gilank ses” jawab Gilank yang semakin mengerikan
“Iya deeeh ses Gina. Eh Novi mau bantuin mbak-mbak itu masak dulu yaach, ses Gina ama mas-mas yang disini aja yach, tapi inget, jangan deketin mas Saeful, dia bukan selera ses Gina kan hihihi”
Pagi ini tidak terjadi apa-apa hingga malam hari tiba. Mbok Ju dan pak Handoko bergantian mengontrol keadaan di luar vila, tetapi tidak ada siapapun yang disana baik itu Trimo atau Supardi, bahkan mayat Fathoni sudah tidak ada disana.
Jadi hari ini mereka full istrirahat, karena energi mereka jelas banyak terkuras karena kegiatan mereka yang tidak kenal waktu.
“Mbak-mbak masak apa nih” tanya Novi kepada ketiga perempuan yang sibuk di dapur ruang bawah tanah.
“Heheheeh adanya cuma itu Nov, dari tadi kita lihatin terus masa kadaluarsa tiap makanan kaleng yang ada disini. Ternyata banyak juga yang belum kadaluarsa lho Nov, entah siapa yang memasok makanan kaleng ini” kata mbak Winna
__ADS_1
“Iya mbak, Novi juga ndak tau mbak hehehe, tapi yang penting kita bisa tinggal disini sementara waktu selama keadaan diluar sana masih gak karuan mbak, hanya saja kita ndak tau lagi, siapa yang akan melakukan penyerangan untuk berikutnya heheheh” kata Novi
“Yuk sini Novi bantuin masak mbak” Kata novi yang kemudian mengambil beberapa makanan kaleng dan memasaknya bersama tiga perempuan asli itu
Jelas asli lah kan yang satu cantik tapi ndak asli, apalagi yang satunya palsu kw 3 dan gak karu karuan, yang saat ini lagi berusaha mendekati Wildan atas saran dari Novi hihihih.
Hari sudah malam, mbok Ju tetap melakukan pengamatan di luar tiap beberapa jam sekali. Mereka yang ada di dalam ruangan biru hanya leyeh-leyeh lekek-lekek leha-leha saja, tidak ada sesuatu yang berarti disekitar vila, hingga hari berikutnya juga sama saja. Tidak ada apa-apa yang mencurigakan.
Hari ketiga dari ketika Saeful berhasil membuat porak poranda dua kubu, Novi dan beberapa orang berniat memeriksa keadaan di vila putih dan rumah Supardi yang beberapa hari ini kata mbok Ju tetap tertutup rapat.
“Novi pingin ke luar pak Pho, Novi pingin liat rumah Supardi dan vila putih, sekalian kalau bisa kita hancurkan saja terowongan yang sudah dibikin Supardi itu pak”
“ya sudahlah, kalian kesana saja dan hati-hati, ingat kalian hanya mengamati saja aaaa, jangan belbuat yang tidak tidak disana, kalau ada apa-apa segela kalian balik ke luangan bilu lagi aaa” kata pak Pho
“Ayo saya temani mbak Novi” kata mbok Ju yang sekarang sudah berubah dari sifatnya yang dulu mengerikan itu.
“Novi kan cewek yang lemah mas, kalau mas Ipul gak keberatan boleh dong Novi diantar mas Ipul hihihihi” kata Novi yang memang dari awal kepingin berduaan saja dengan Saeful
“Oh iya mbak Nov, bawa Ponsel juga, dan jangan lupa dinyalakan, siapa tau ada pesan singkat dari anak-anak Bluekuthuq mbak” kata pak Handoko
*****
Mereka bertiga, Saeful, Novi, dan mbok Ju saat itu sudah ada diluar, kemudian Novi menyalakan ponselnya yang selama ada di dalam ruangan biru selalu dalam keadaan mati
“Sik bentar mas, ada sms masuk ini mas dari mas Petro…(Mbak Novi, setelah subuh kami akan menuju ke vila putih bersama pak Tembol, Dogel, Blewah dan Mirah, dan kucing mbak Bashi. Kemudian yang tak kasat mata itu Ngot, Indah, Mas nang, dan anjing baru kami yang bernama Semprul)” kata Novi sambil membaca sms yang ada di ponselnya
“Ternya subuh tadi mereka sms ke Novi mas, dan sekarang mereka dalam perjalanan kesini mas Ipul, sekarang sudah jam berapa mas Ipul?” tanya Novi
“Jam 08.35 mbak Nov, bilang saja ke mereka kalau kita tunggu jam 09.00 mbak Novi. Oh iya, tolong bilang ke mereka agar memarkir mobil di masjid saja, suruh cari marbot disana dan bilang kalau saya yang suruh parkir disana mbak” jawab Ipul
“Ok mas, Novi balas smsnya dulu mas…. (siap mas, akan kami tunggu sekitar jam 09.00 an di sisi jurang biasanya. Pak Tembol tau tempat itu mas. Tapi nanti mobilnya tolong parkirkan di masjid sebelum perempatan menuju ke vila. Di sebelah kanan ada masjid, dan bilang ke marbotnya kalau disuruh Saeful untuk parkir disitu)” ketik Novi membalas sms Petro
“Dah selesai, yuk mbok Ju kita ke rumah sebelah vila ini dulu saja, Novi penasaran dengan keadaan yang ada di belakang itu, apakah terowongan yang menuju ke vila putih masih terbuka atau sudah mereka tutup untuk menghapus jejak apabila ada polisi yang kesini atas laporan tiga orang yang sembuh dari gatal-gatalnya itu heheheh” kata Novi
Mereka bertiga berjalan menuju ke rumah sebelah vila putih yang ditempati oleh Supardi, tapi sebelum mereka masuk, mbok Ju akan memeriksa keadaan rumah itu dahulu.
“Kalian tunggu saja disini dulu, biar saya masuk ke dalam rumah itu dulu nak, siapa tau di dalam sana ada yang mengerikan dan kalian bisa terjebak disana” kata mbok Ju yang kemudian melayang menuju ke rumah Supardi.
“Lama juga mbok Ju di dalam sana mas, sudah ada lima menit kok belum kembali juga mas” tanya Novi kepada Saeful
“Sabar mbak Novi, siapa tau mbok Ju sedang memeriksa terowongan yang sudah dibuat oleh Supardi mbak, dan siapa tau juga mbok Ju sedang menelusuri terowongan itu mbak” jawab Saeful
“Iya mas, benar juga apa yang mas Saeful ini katakan” jawab Novi sambil memeluk Saeful dari belakang dengan dagu Novi yang ada di bahu kanan Saeful
__ADS_1
“Ehmm mbak…eh mbak Novi..eh maaf ya, kalau bisa jangan gini dong mbak.,. eh anu mbak.. eh saya tidak terbiasa kalau kayak gini mbak” kata saeful sambil blingsatan karena tubuh Novi yang memeluk dari belakang dengan eratnya hihihihi