
“Kamu ini pasti suka liat film horror ya mas?” tanya pak Tembol
“Lha iya pak hehehehe, tapi tiap ada zombie yang ada di film itu cara bunuhnya memang kayak gitu pak, jadi harus dipecahkan kepalanya baru bisa mati pak” jawab Tifano
“Terus sopo sing gelem mecahno ndase Supardi Tif, awakmu gelem ta c*k” kata Ali
“Hehehe aku yo giloo Li, koen ae lho!, awakmu lak tego mentolo nek karo sing ngono iku c*k” jawab Tifano
Ketika mereka sedang saling bicara untuk membahas bagaimana dan apa yang akan mereka lakukan dengan mayat Supardi, tiba-tiba mayat Supardi bergerak, dia yang tadinya telentang kemudian berusaha untuk bisa duduk.
“Hooooaaa hahahah liaten ta rek, itu lho wis mulai bangun mayatnya. Tapi kita kan dulu pernah liat yang lebih mengerikan dari ini kan rek heheheh, keliatanya ilmunya Totok ini warisan dari Dimas rek heheheh” kata Ali
“Lha itu kan dulu nak, dulu kalian masih punya ilmu yang diberi oleh Mak Nyat Mani, lha sekarang kan sudah beda jamannya nak” kata pak Tembol
“Coba lihat itu pak, kalau kita tidak segera membunuhnya, maka dia akan semakin kuat pak, dia akan semakin beringas menularkan virusnya kepada orang lain pak”
“Benar nak Tifano pak, saya bisa rasakan energi mahluk ini semakin meningkat pak, yang saya takutkan dia akan menjadi suruhan Totok untuk membunuh siapapun pak” kata mbok Ju yang masih menggunakan kata saya agar sopan kepada pak tembol
“Makanya tadi waktu Totok selesai dengan aksi nggilaninya dia kemudian tersenyum kepada kita dan kemudian pergi begitu aja ke arah Gebang, tanpa mau melanjutkan membunuh kita. Ternyata dia punya maksud tersembunyi ini to” kata Dogel
“Kalau gitu kita pecahkan sekarang saja nak, tapi bagaimana caranya?” ujar pak Tembol yang masih saja ragu
Tiba-tiba waktu mereka masih bingung dengan cara memecahkan kepala mahluk aneh itu, Ali datang entah dari mana dan kemudian dia siap melempar kepala Mahluk aneh itu dengan sebuah batu yang sangat besar yang dia temukan di sekitar sana.
Sebuah batu sebesar bola basket yang berat dia hantamkan ke kepala Supardi yang tadinya mulai menggeliat untuk berdiri.
…BRAAAK!.... , kepala itu pecah, bau yang sangat busuk seperti bau bangkai yang sangat menyengat keluar dari otak Supardi yang sudah berubah menjadi cairan putih kental macam susu kental manis.
“Wis..beres! ndak usah mikir tentang bagaimana memecahkan kepala mahluk aneh ini, sekarang yang kita pikirkan adalah menguburnya” kata Ali yang perutnya sedang mual-mual akibat bau cairan kental itu
“Janc******k ambune nggateli c*k” teriak Tifano
“Tapi apakah kalau kita sentuh mayat ini tidak akan terjadi apa-apa dengan kita mbok Ju?” tanya Ali yang mungkin agak curiga dengan yang ada di depanya itu
“Mbok Ju ragu nak Ali, mbok Ju rasa ini ada semacam perangkap yang dilakukan oleh Totok dengan mayat ini, sehingga siapa saja yang berusaha mengurusi mayat ini akan terkena sesuatu yang mbok ndak bisa jelaskan”
“Sekarang yang mbok rasakan, cairan yang meleleh ini sangat berbahaya apabila ada mahluk hidup yang menyentuhnya. Eehmm gimana ya, mbok Ju bingung juga nak” kata Juriah
“Trus gimana dengan mayat ini rek, masak kita biarkan gini saja?” tanya Dogel
“Apa kita bakar aja rek. Tapi gimana cara bakarnya hehehe, nanti malah mengundang penduduk sini dan pak pulisi datang ke sini rek” kata Tifano
“Sebentar nak, mbok kok merasa ada yang mulai berubah dengan mayat itu nak, coba kalian perhatikan lagi nak” kata mbok Ju yang berdiri melayang di sebelah Dogel
“Benar juga katamu Juriah, mayat ini pelan-pelan berubah menjadi cairan, dia meleleh dan menimbulkan bau menyengat yang luar biasa busuk. Apa ndak sebaiknya kita kasih tanah saja anak-anak, agar cairanya tidak meleber ke mana mana” kata pak Tembol
“Iya pak, lebih baik dikubur saja pak, ayo kita ambil tanah yang ada di bagian belakang vila rek, tanah bekas galian yang dilakukan oleh Supardi ” kata Ali
Akhirnya mereka semua berlari menuju ke dalam vila putih, mereka tidak menghiraukan rumput dan ilalang yang tumbuh subur disana. Mereka tidak menghiraukan apabila ada hewan melata penghuni semak belukar yang ada di sana.
“Itu disana ada gerobak dorong rek, ayo kita isi tanah rek” kata Ali yang mengmbil gerobak dorong milik Supardi yang tergeletak di sisi vila.
__ADS_1
Selain gerobak dorong, ternyata disana juga ada alat-alat pertukangan seperti cangkul dan linggis dan lainya yang digunakan Supardi untuk menggali taman samping vila.
Mereka bekerja dengan tenaga penuh dan tanpa berhenti, peluh mereka menetes dan berjatuhan di baju dan sekitar mereka kerja.
Mereka mengisi penuh gerobak itu dengan tanah galian halaman kemudian segera mereka bawa keluar gerobak itu, ada sekitar lima kali mereka riwa-riwi untuk mengambil tanah galian yang digunakan untuk menutup mayat Supardi yang berubah menjadi cairan.
“Fuuuuuhhh butuh lima gerobak penuh rek untuk menutupi cairan nggilani yang baunya gak karu-karuan iki, tapi nek misale ada penduduk di sini curiga ini gundukan tanah ini gimana pak?” tanya Ali
“Sudah biarkan saja nak Ali, lagian siapa juga yang akan mencari orang yang sudah membuat gundukan tanah ini nak, kalau sudah selesai kita amati lagi rumah Supardi dan kemudian kita balik ke vila putih” kata pak Tembol
Pak Tembol, Ali, Dogel, dan Tifano beserta mbok Ju menuju ke rumah Supardi yang ada di sebelah Vila putih. Rumah itu tentu saja sekarang keadaanya sudah kosong, karena Supardi sudah mati. Tapi tetap saja bagian belakang rumah itu harus dihancurkanlah.
“Kita kesana tujuannya untuk menutup lubang yang menuju ke ruangan hijau, karena Totok sudah bisa masuk ke sana melalui lubang yang dibuat Supardi itu anak-anak” kata pak Tembol
“biarkan saya ke sana dulu pak, saya lihat dulu apakah disana sudah aman” kata mbok Ju yang kemudian pergi meninggalkan keempat orang itu menuju ke rumah Supardi
Sementara itu keempat orang itu tetap berjalan menuju ke rumah Supardi sembari mbok Ju sedang mengamati di dalam rumah itu.
“Kalian lihat pintu depan rumah itu sudah bobol nak, mungkin itu kerjaan nak Wildan dan nak Broni waktu mereka kesini sebelumnya” kata pak Tembol
“benar pak, ayo kita masuk ke dalam pak, selak nanti Totok datang ke sini pak” kata Dogel
“Tunggu nak, kita tunggu mbok Ju dulu, dia kan sedang melihat sekeliling rumah itu, kalau memang aman baru kita bisa masuk ke dalamnya nak”
“Di dalam aman pak, kalian bisa masuk ke dalam. Saya lihat penjaga yang ditaruh Totok disini sudah tidak ada lagi, bahkan ada satu yang binasa pak, mungkin karena anjing nak Petro itu” kata mbok Ju
Atas info mbok Ju, mereka berempat masuk ke dalam rumah Supardi yang memang sudah kosong, mereka langsung menuju ke arah belakangl, dimana arah belakang itu adalah tempat galian terowongan yang menuju ke ruangan hijau.
Keempat orang itu secara bergantian menguruk terowongan yang dibuat Supardi hingga tanah yang menggunung di ruang belakang itu tinggal separuhnya, yang penting terowongan yang menuju ke bawah itu sudah buntu.
“Cukup anak-anak, yang penting sudah tidak bisa dimasuki lagi dari sini, ayo kita balik ke ruangan biru dan kita suruh pak Pho untuk merubah semua jalur yang menuju ke ruang biru” ajak pak Tembol
“Sssstttt sebentar pak, saya kok dengar ada suara langkah kaki pak, tapi samar pak” kata Dogel
Keempat orang itu terdiam dan membisu, mereka berusaha mendengarkan dengan telinga masing-masing apa yang dikatakan Dogel tadi.
Tap….tap….tap…..tap….
Suara langkah kaki yang berjalan dengan sangat pelan, tetapi konstan. Langkah kaki itu tidak diam atau tidak lari, hanya berjalan dengan ritme yang sama dan sangat lamban.
“Diaaaaam. Kalian coba dengar, itu suara dari mana asalnya” bisik pak Tembol
Semua terdiam, semua berusaha mendengarkan suara langkah kaki yang dikatakan pak Tembol itu, suara langkah kaki yang tenang tidak grusa grusu dan pelan.
“Ada disamping rumah pak, suara itu ada disamping rumah ini pak” bisik Ali sambil menunjuk ke dinding kayu rumah Supardi
“Sebentar pak, biar saya lihat dulu ada siapa di samping rumah” kata mbok Ju
Tapi suara langkah kaki itu tetap terdengar, dan suara itu makin dekat saja dengan kempat orang itu. Sementara mereka sedang menunggu mbok Ju untuk melihat siapa yang ada di luar itu.
“Lebih baik kita keluar dari sini secara pelan-pelan nak, jangan sampai yang ada di sebelah rumah ini tau kalau kita akan keluar dari rumah ini”
__ADS_1
Mereka berjalan dengan pelan menuju ke arah luar, sebisa mungkin langkah mereka tidak berbunyi sama sekali hingga sekarang mereka ada diruang tamu rumah Supardi dan tinggal selangkah lagi mereka sudah ada di luar.
“Stoooop… itu ada mbok Ju yang sedang kemari anak-anak” bisik pak Tembol yang posisinya ada di depan ketiga anak-anak itu
Mbok Ju diam saja di depan mereka berempat, dia terlihat bingung mau menjelaskan apa yang sedang terjadi di samping rumah.
“Bagaimana mbok Ju, siapa yang ada di samping rumah ini mbok?” tanya pak Tembol
“Kalain tidak akan percaya, karena yang ada di samping rumah itu adalah Supardi, dia hidup kembali dengan tubuh yang sempurna, tidak seperti mayat yang tadi kalian lihat di jalan depan vila itu
“Tapi ada yang aneh dengan Supardi pak. tatapan mata dia kosong, dia hanya berjalan dengan pelan dan membaui tiap dinding yang ada di rumah ini…. Keliatanya dia sedang mengejar kalian, karena dia menciumi dinding yang dibaliknya ada kalian semua!” kata mbok Ju
Tidak ada yang menjawab informasi yang diberikan oleh mbok Ju, keempat orang itu terdiam, mereka tidak menyangka akan mendapat lawan yang tidak umum!
“Bagaimana mereka bisa membaui kami mbok Ju?” tanya Ali
“Mungkin dari tanah yang kalian pegang, atau bisa saja keringat kalian yang bercampur dengan tanah, dan tanah yang tadi kalian gunakan untuk menutupi cairan yang keluar dari tubuh Supardi”
“Hmmm kejadian ini mirip dengan arwah Kamidi yang mengikuti Broni dan Novi di masa lalu. Kamidi yang pada saat itu dibunuh oleh Broni dan Novi, kemudian arwah dia mengikuti kemana Broni dan Novi pergi”
“Tapi akhirnya arwah Kamidi bisa diatasi oleh teman pacar Gilank yang saat itu masih menjadi hantu” kata pak Tembol sambil mengingat ingat masa itu
“Mbok Ju, sekarang dimana Supardi jadi-jadian itu mbok, apakah dia masih ada di belakang rumah ini?” tanya Ali
“Tidak nak Ali, dia ada di samping depan, kalian lebih baik segera lari dari sini dan sembunyi, karena dia akan terus mengikuti kalian dimanapun kalian berada!” kata mbok Ju
“Sekarang cepat kalian lari, karena dia masih ada di samping tepat di dinding sebelah kalian ini”
Tidak menunggu waktu lama, keempat orang itu semburat lari menuju ke arah vila putih, mereka tidak berani menoleh kebelakang, mereka tidak berani melihat bagaimana Supardi mengejar mereka, yang mereka tau hanya saat ini mereka harus segera pergi dari sana.
Akhirnya mereka sampai di tempat mayat Supardi yang tadinya mereka kubur dengan tanah galian yang mereka ambil dari halaman vila.
“Tanah itu hilang, mayat itu tidak ada, cairah tubuh yang bau itu juga tidak ada. Semua terhisap di tanah yang tadi kita gunakan untuk mengubur Supardi, dan sekarang dia hidup kembali dari tanah yang menyerap cairan bau itu” kata Dogel
“Betul nak Dogel suatu kesalahan apabila kita tidak membakar mayat itu dari tadi saja, sekarang dia hidup dari tanah. Manusia tercipta dari tanah, dan pada akhirnya kembali ke tanah juga. Tapi apakah apa yang saya sebutkan tadi benar nak? Saya tidak yakin dengan Supardi ini” kata pak Tembol
“Kalian jangan diam saja disitu, cepat kembali ke ruang biru, Supardi sedang menuju ke sini dengan langkah yang lebih cepat dari pada tadi” kata mbok Ju yang tiba-tiba datang
Mereka kembali berlari menuju ke sisi jurang untuk masuk ke ruangan biru, pintu batu itu mereka dorong, satu persatu mereka masuk dan lari menuju ke ruangan biru secepatnya setelah pintu batu tebal itu mereka tutup kembali.
Tidak lebih dari sepuluh menit mereka sudah tiba di ruangan biru dengna nafas yang tersenggal senggal.
“Pak pho…..hhhffff cepat rubah posisi jalur dan terowongan yang ada disini semuanya pak” kata pak Tembol setelah duduk di salah satu sofa yang ada disana.
Ali yang masih bisa kontrol diri kemudian menceritakan apa saja yang mereka alami di luar sana. Tidak ada yang menyela cerita Ali sama sekali, karena mereka jelas takut dengan mayat Supardi yang menjadi hidup kembali.
“Haduuh makin kesini makin mengerikan, kita tidak bisa bunuh mereka dengan cara biasa, karena dia akan hidup lagi dan akan memburu kita. Lalu bagaimana dan apa yang akan kita lakukan?” tanya pak Han
“Saya curiga dengan rumah bos saya yang ada di sby barat pak, karena disana ada sesuatu yang ganjil pak, apakah kita harus ke sana atau bagaimana pak” kata Petro
“Tapi yang penting disini harus diamankan dulu pak, yang penting disini harus diubah semua jalur dan ruangannya agar disini aman, baru kita bisa ke rumah bos saya pak” sambung Petro
__ADS_1