
“Apakah yang ada di pikiran kalian sama dengan yang ada di pikiran saya anak-anak?”
“Saya berpikir kamar yang dingin itu adalah sebuah lemari pendingin pak, lemari pendingin yang bisa dimasuki dan ditutup dari dalam juga” kata Dogel
“Tetapi apa gunanya? kenapa ada tujuh lemari pendingin disini?” kata Blewah
“Sebesar ini tentu saja digunakan untuk sesuatu yang besar dan dalam jumlah yang banyak anak-anak”
“Tapi mudah-mudahan pikiran saya itu tadi salah anak-anak”
“Eh lebih baik mas Dogel coba buka yang handle pintunya tidak dingin mas. Yang sebelah kiri dulu saja mas” kata pak Han
Dogel mendatangi pintu ketiga dan keempat yang ada di sebelah kiri selasar.
“Tidak dingin pak hehehe, apa perlu saya buka pak?” tanya Dogel dengan wajah tidak yakin
Dogel ragu untuk membuka pintu yang gagang pintunya tidak dingin itu, karena dia merasa yang didalam sana itu mengerikan, padahal kan mereka saat ini sedang ada di sebuah ruangan yang mirip selasar hotel kan hehehe.
“Biar saya saja yang buka mas, mungkin mas Agus agak gimana gitu ya mas” kata pak Han yang kemudian mengambil alih yang sedang dilakukan Dogel
Pak Han memegang gagang pintu itu dan memang tidak terasa dingin, berbeda dengan pintu kamar yang pertama tadi yang rasanya dingin sekali.
Raut wajah pak Han sepertinya biasa saja ketika dia memegang handle pintu kamar, dia kemudian menekan handle pintu itu ke bawah, setelah yakin bahwa pintu itu tidak terkunci, dia lalu mendorong pintu itu ke dalam.
“Hmmm ruangan yang gelap anak-anak, bagaimana apa kita masuk ke dalam sekarang?”
“Sebentar pak Han, jangan keshushu masuk ke sana pak, siapa tau ada sesuatu di dalam ruangan itu pak” kata Dogel
“Bagaimana menurut mbak Mirah, apa kita bisa masuki ruangan ini sekarang?”
“Mirah tidak yakin pak, karena yang Mirah rasakan sekarang adalah adanya energi yang aneh di dalam ruangan itu pak, takutnya di dalam sana ada sesuatu yang bikin susah kita pak”
“Gimana menurut mbok Ju, apakah yang ada di dalam ruangan itu cukup berbahaya?”
“Kosong Handoko!”
“Kosong gimana sih mbok Ju, di lantai itu banyak belatungnya kok bisa dibilang kosong gitu” kata Mirah
Aneh antara Mirah dan mbok Ju ada ketidaksesuaian penglihatan, hal ini terjadi sedari tadi ketika mereka sudah ada di hotel itu.
“Sebentar.. kalian berdua jangan bicara dulu karena ada keanehan disini yang mengakibatkan kalian berdua mempunyai perbedaan sudut pandang” kata pak Han
“Ada yang berusaha merusak apa yang dilihat oleh mbok Ju dan mbak Mirah, jadi ada baiknya kalian jangan bertindak dulu” kata pak Handoko
“Begini saja anak-anak, ada baiknya kita lihat dari kamar pertama, sebenarnya apa yang ada di dalam sana, karena kita tidak tau dengan pasti kan”
“Jadi kita harus buka dan masuk ke dalamnya pak?” tanya Dogel
“Iya mas, tidak ada jalan lain yang bisa kita lakukan saat ini kecuali melihat ke dalam kamar”
“Apapun yang nanti akan terjadi paling tidak kita sudah tau bahwa oooh gini to,... itu bahaya.. atau kita harus lewat pintu itu”
“Ya sudah pak, kita mulai dari kamar yang paling dekat dengan pintu masuk itu, yang pegangan pintunya rasanya dingin itu pak”
“Iya mas, dan ingat kita harus selalu berpikiran bahwa yang ada di dalam itu tidak begitu berbahaya, jangan berpikiran kalau yang ada di dalam itu sangat menakutkan”
“Heheheh kalau begitu ya pak Handoko saja yang melakukan pak, saya belum bisa berpikiran positif atas apa yang ada disini pak” kata Dogel
Mereka akhirnya kembali ke kamar yang paling dekat dengan pintu kaca.
Dogel memegang handle pintu yang katanya sangat dingin. BIsa saja dingin karena pendingin udara yang ada di kamar itu tidak dimatikan sama sekali.
Dogel menekan handle pintu perlahan lahan, ternyata pintu itu tidak terkunci sama sekali, persis seperti pintu yang tadi dibuka oleh pak Han.
cahaya atau sinar yang lumayan terang keluar dari celah pintu ketika Dogel membuka pintu itu, bau tidak sedap mulai berhamburan di sela sela celah pintu.
“Jangan dibuka mas, bau busuk ini berasal dari mayat yang sudah lama membusuk” kata pak Han
__ADS_1
“Sini biar saya intip dulu mas Dogel, siapa tau yang ada disana itu memang benar-benar mayat yang sudah membusuk”
Pak Handoko mengintip di sela sela pintu yang sama sekali tidak dibuka lebar oleh Dogel.
“Hmmm benar perkiraan saya nak, kamar pertama ini mungkin berisi banyak organ makhluk hidup yang sudah dibelah dan dipotong potong menjadi kecil” kata pak Handoko
“Kebiasaan jaman dulu belum bisa dihilangkan, meskipun yang ada di luar itu indah tetapi di dalamnya begitu mengerikan” kata pak Han lagi
“Jadi gimana pak, apakah kita tidak perlu masuk ke dalam sana pak?”
“Ndak perlu mas Dogel, karena dengan mengintip begini saja saya bisa pastikan di dalam itu hanya ada potongan- potongan tubuh manusia yang mungkin berasal dari orang-orang yang diculik”
“Tapi mas, kita harus tetap memeriksa satu persatu pintu yang ada di lorong ini, kita tidak tau yang mana pintu yang bisa kita masuki untuk menuju ke tempat penampungan air”
“Iya pak, tapi saya kok agak merinding ya pak, atau begini saja pak, kita periksa yang gagang pintunya tidak dingin dulu saja bagaimana pak?”
“Terserah mas Agus bagaimana enaknya, tetapi saya ragu apabila jalur ke tempat penampungan air itu ada di dalam kamar-kamar ini”
“Bisa jadi ada di luar lorog ini mas, karena menurut saya pintu-pintu yang ada disini semua ini adalah tempat penyimpanan koleksi-koleksi Rochman”
“Lebih baik kita kembali ke awal saja anak-anak, kita coba ambil pintu yang kanan dulu saja. karena bukanya air yang nggerojok itu terdengar ada di bawah kamar kita kan?”
“Bahkan kemungkinan besar ada di bawah kamar 6+, jadi saya lebih tertarik ke pintu yang mengarah ke kanan saja mas”
“Ayo kita keluar dari sini secepatnya pak” ajak Dogel
“Oh iya mbok Ju dan mbak Mirah bagaimana kabarnya, apa yang kalian berdua ketahui tentang pintu kanan?”
“Saya tidak bisa lihat pak, sepertinya disini ada pengacak hantu heheheh” kata mbok Ju
“Iya betul pak, Mirah juga tidak bisa lihat apa-apa, semua serba berkabut dan tidak terlihat apapun” kata Mirah
Benar-benar kemajuan Rochman ini sekarang, dia bisa membuat pengacak penglihatan hantu, sehingga hantu-hantu yang ada di sana tidak bisa menggunakan penglihatan mereka untuk menerawang yang ada di sana.
Dengan tergesa gesa mereka berjalan menuju ke awal mereka bertemu dengan tiga buah pintu. Dan nanti mereka akan memilih pintu yang sebelah kanan.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai juga di tiga pintu. keadaan disana tetap sama dengan tidak adanya penjaga sama sekali…..
“Kita pilih pintu yang sebelah kanan, biar saya yang buka pintu itu”
Ketika pintu dibuka ternyata di dalam keadaanya berbeda dengan yang ada di pintu tengah. Kalau yang sekarang akan mereka masuki ini keadaanya temaram.
Keadaan temaram karena lampu penerangan disini sangat minim, hanya ada di dekat pintu, kemudian ada lagi yang jauh di depan mereka.
Kebersihan Pun jauh apabila dibandingkan dengan pintu tengah, disini lantainya hanya berupa acian semen yang kasar, tidak ada bau karbol sama sekali.
Bau tanah dan pengab memasuki hidung mereka bertiga.
“Saya rasa kita ada di tempat yang benar ini anak-anak. bau tanah basah dan lembab ini menandakan ada air di sekitar sini”
Mereka terus berjalan lurus mengikuti lorong temaram dan pengab.
Hingga sekitar sepuluh meter lebih mereka sampai pada sebuah ruangan yang tidak lumayan luas dan tengahnya ada semacam bangunan kotak persegi empat.
Saya yakin di depan kita ini adalah semacam penampungan air anak-anak, karena disini keadaanya basah dan dingin.
“Bangunan di depan kita itu harusnya berisi air, ayo kita cari jalur yang dari pompa air itu anak-anak”
“Selain ada jalur pengisian, harusnya disini juga ada jalur keluaran, harusnya ada lagi pompa air yang disalurkan ke tempat kamar-kamar yang ada diatas”
“Karena ini kan bukan tandon air atas, jadi memerlukan pompa air untuk menyedot air yang disalurkan menuju ke kamar masing masing”
“Iya pak, benar juga, kita juga harus rusak pompa air yang mengalirkan air ini ke tiap kamar yang ada disini pak”
Setelah berkeliling mereka tidak menemukan apa-apa selain dua pipa, satu pipa ada di atas bangunan kotak itu dan satu lagi ada disamping atau di lantai bangunan.
“Itu yang diatas pasti pipa yang berasal dari pompa yang kita rusak anak-anak. kita harus cari pompa air yang menyalurkan air ini ke tiap kamar yang ada di atas
__ADS_1
“Apa mungkin pompa air itu ada diatas sana pak, bia jadi disini kan hanya ada pipa-pipa saja, tidak ada mesin pompanya pak” kata Dogel
“Hmmm iya mas, bisa jadi seperti itu, tapi kita buntu untuk mencari posisi pompa air yang kedua, karena teman ghaib kita saat ini tidak bisa melihat apapun”
“Satu Satunya jalan hanya merusak pipa ini pak, kita pecahkan sehingga air tidak bisa didistribusikan ke atas”
“Nanti seumpamanya ada komplain dari penyewa kamar bahwa air yang ke atas mati, pasti mereka akan memeriksa pompa air pak”
“Nah setelah kita tau dimana pompa air itu, besoknya kita bisa bikin rusak juga pak” kata Blewah tiba-tiba
“Bisa juga itu mas, tetapi kita kan tidak punya gergaji untuk memutus pipa itu mas”
Pipa yang mereka lihat itu jenis paralon yang kuat, penulis tidak tau ukuran dan jenis pipa apa yang ada disana itu.
“Sepertinya untuk masalah pipa itu saya tidak bisa memutuskan mas, karena kita tidak punya peralatanya sama sekali”
“Kecuali kalau kita temukan pompa airnya dan kita bikin rusak secara permanen sehingga pompa itu tidak bisa menyalurkan air ke orang yang menginap disini” kata pak Han
“Tapi kan kita tidak tau pompa itu ada dimana pak” kata Dogel
“Yang pasti kita sekarang ada di bawah tanah antara kamar 5+ dan 6+, dan harusnya pompa itu ada disini atau disekitar sini”
“Atau gini saja pak biar saya yang menyusuri pipa ini, kalau untuk menyusuri dan masuk ke dalam tanah mungkin saya masih berani Handoko” kata mbok Ju
“Naaah gitu dong mbok Ju, akhirnya mbok Ju pun beraksi anak-anak heheheh”
“Kalian tunggu saja disini, saya akan telusuri dulu dimana pompa air yang mengalirkan air itu ke seluruh kamar yang ada disini”
Mbok Ju pergi meninggalkan mereka bertiga, dia akan menyusuri pipa besar yang masuk ke dalam tanah untuk melihat dimana letak pompa air itu berada.
Mereka harus berkejaran dengan waktu, karena pagi hari akan segera datang, dan pagi hari adalah waktu penyewa kamar untuk mandi pagi.
“Pompa itu harus bisa ketemu mas, semoga mbok Ju cepat menemukan dimana pompa air itu berada. Dan harusnya pompa itu ada di permukaan tanah, jadi kalau ada kerusakan akan mudah penangananya”
“Iya pak Han, kemungkinan besar saat ini sudah antara pukul dua sampai pukul tiga pagi pak, kita harus gerak cepat pak” kata Dogel
Mereka masih menunggu mbok Ju yang sudah sekitar sepuluh menit belum juga muncul diantara mereka.
“Sudah sepuluh menitan pak, tetapi mbok Ju belum juga muncul disini” kata Dogel
“Sabar mas, saya juga khawatir dengan mbok Ju, semoga dia tidak ditangkap oleh penjaga disini’ kata pak Han
Dalam keadaan hening tiba-tiba mbok Ju datang menembus dinding tempat pipa paralon itu berada.
“Huufff hampir saja tadi saya ketahuan sama penjaga yang ada disana, penjaga itu mondar mandir karena saya dan Bawok sudah tidak ada di depan pagar hotel”
“Ya udah mbok Ju, nanti saja ceritanya, sekarang dimana letak pompa air itu?” tanya pak Han
“Pompa air itu tidak ada di bawah tanah tapi ada di dekat bukit kecil, disana ada semacam bangunan mirip gudang yang tertutup”
“Ya sudah anak-anak, ayo kita pergi ke atas lagi” kata pak Han
“Kalau kalian mau keluar dari sini kalian harus cepat, mumpung penjaga itu masih sibuk dengan pompa air yang ada di dekat kolam renang”
“Tapi kalian tidak bisa ke arah pompa air tanpa ketahuan oleh penjaga gaibnya, karena dia masih penasaran dengan keberadaan saya dan Bawok”
“Kita keluar saja dulu dari lorong ini dulu saja, karena penjaga masih sibuk dengan pompa air yang kita rusak tadi” kata pak Han”
Mereka perlahan-lahan berjalan keluar dari ruangan yang berpintu besi, selasar hotel mereka lewati tanpa ada satupun orang yang berjaga sama sekali.
Hingga mereka akhirnya adai di area kantor hotel. mereka masih berjalan mengendap endap, begitu pula dengan mbok Ju yang tidak berani jauh-jauh dari mereka bertiga.
“Ayo kita keluar dari kantor hotel ini anak-anak”
“Mbok Ju apa sampean ndak berani keluar dulu untuk lihat apa yang ada disana sebelum kita keluar kesana mbok?” kata Blewah tiba-tiba
“Eh lebih baik saya tidak jauh-jauh dari kalian bertiga saja, sangat bahaya ada di sini bagi demit macam saya ini anak-anak”
__ADS_1