
“Harusnya bisa dibuka pak, karena kami tinggalkan kamar ini tidak dalam keadaan terkunci, tetapi ndak tau lagi kalau anak-anak Blukuthuq kembali kesini lagi pak” jawab Tifano
Pak Handoko menyentuh handle pintu kamar 6+, kemudian dia menekan hadle pintu kamar agar pintu itu terbuka. Ternyata pintu itu bisa dibuka dari luar. Kemudian dia mendorong pintu itu agar terbuka lebar.
“Uh bau lembab dan bau busuk di dalam sana mas, tapi saya tidak mendeteksi adanya mahluk ghaib yang jahat disini mas, memang sih di dalam sana ada beberapa ghaib yang sedang berdiri kaget ketika saya buka pintu ini” kata pak Handoko
“Tapi mereka hanya melihat saja dan tidak bertindak apapun mas” lanjut pak Han
“Berarti aman untuk dimasuki pak, saya masuk dulu saja kalau gitu pak” kata Tifano yang merasa aman di dalam sana
“Jangan mas Tifano, meskipun mas Tifano mempunyai kelebihan melihat hal ghaib, tapi lebih baik saya dulu yang masuk mas, mas Tifano ikuti langkah saya saja” kta pak Handoko
Mereka berdua masuk ke dalam kamar 6+, di dalam kamar memang berdebu, tapi debu itu tidak tebal, mungkin karena kamar ini selalu tertutup rapat. Mereka sekarang ada di dalam ruang tamu kecil kamar dengan nomor 6+ itu.
Agar suasana tidak gelap, akan saya buka saja gorden tebal ini mas, dan jendelanya akan saya buka juga agar ruangan ini lebih segar dan tidak bau busuk serta bau pengab” kata pak Handoko yang kemudian menyibakan gorden dan kemudian membuka jendela yang ada di ruang tamu mini itu.
Setelah terlihat agak terang karena jendela terbuka, mereka melanjutkan ke arah kamar tidur, antara kamar tidur dan ruang tamu kecil hanya dibatasi oleh sekat tembok saja. Dibalik ruang tamu ada kamar tidur dengan dua tempat tidur yang masih tertata rapi.
“Eh mas Tifano, ketika kalian meninggalkan kamar Ini, apakah tempat tidur itu serapi itu mas?”
“Waduh ini yang mengerikan pak, karena kami waktu itu kan juga sempat tiduran pak, dan pastinya sprei dan selimutnya agak berantakan pak, tidak serapi itu” tunjuk Tifano yang sekarang agak ketakutan
“Tenang mas Tifano, berpikir jernih saja mas, mungkin setelah beberapa masa mas Tifao dan teman-teman meninggalkan kamar ini, mungkin hotel ini sempat beroperasi lagi mas, jadi sprei dan selimut itu dibenahi lagi mas” kata pak Handoko berusaha berlogika di tempat yang hehehe ini.
Keadaan tempat tidur dan prei ini sama dengan keadaan di ruang tamu, hanya ada sedikit debu halus yang melapisinya, jadi kemungkinan besar hotel ini sempat beroperasi setelah sepeninggal Tifano dad dan anak Bluekuthuq disini…, mungkin lho yoooo.
“Debu yang ada di sprei ini juga juga tipis mas, jadi kemungkinan besar, tempat ini pernah dibersihkan mas. Tapi ndak papa sih, kita jadi ndak usah bersih-bersih lagi mas. Ayo sekarang kita ke arah kamar mandi mas” kata pak Handoko
Pintu kamar mandi dalam keadaan tertutup, jadi pak Handoko melakukan screening dulu sebelum membuka pintu kamar mandi itu, takutnyaaa tiba-tiba ada yang baaaaaa gitu dari dalam kamar mandi kan heheheh.
“Dalam kamar mandi ini juga aman mas, memang ada beberapa peghuninya di dalam sana, tetapi masih di batas wajar mas” kata pak Handoko yang kemudian membuka pintu kamar mandi yang ada di sebelah kamar tidur
Bau pengab dan busuk langsung berhembus keluar taktala pintu kamar mandi itu dibuka, wajarlah , karena tidak ada ventilasi sama sekali di bagian kamar mandi itu.
“Lebih baik jendela kamar itu kita buka dulu saja mas, agar ruangan kamar dan kamar mandi itu tidak gelap kayak gini mas” kata pak Han yang kemudian menyibakan gorden tebal yang ada di kamar, kemudian dia membuka jendela lebar yang ada di kamar itu juga
__ADS_1
“Nah kayak gini kan enak mas, semua terang dan udara di luar bisa masuk ke dalam, sehingga tidak pengab dan tidak berbau busuk lagi. Ayo ajak teman lainnya untuk istirahat sementara di sini mas, saya mau check keadaan air disini, apakah masih mengalir atau tidak mas” kata pak Handoko lagi
Mereka semua sudah ada di dalam kamar 6+, dan ternyata air masih bisa mengalir dengan jernihnya setelah tadi dicheck keadaanya dan kwalitas airnya oleh pak Handoko.
“Yang mau mandi atau buang air silahkan, setelah itu gunakan waktu kalian untuk istirahat, karena kita tidak tau nanti malam apa yang akan kita alami disini anak-anak”
“Pak Han, air disini apa aman untuk kegiatan wawik-wawik pak, mengingat Novi kan perempuan pak, dan harus jongkok wawiknya pak hihihihi” kata Novi
“Aman mbak Noviiii, pokoknya aman untuk kita, sudah bapak lihat sampai ke tempat penampungan airnya mbak” jawab pak Han
“Hallhaahh prrrttssss, bhiasyanhee khenchying bherdhiri ahee kkhok ryehhphoot prrrtttssss” sahut Gilank tiba-tiba
Tidak lama kemudian ada asbak plastic melayang dan mendarat di kepala Gilank dengan nikmatnya.
“ATHOOOOHHHT prrrtttsss shoophoo sih ihkii sing lhemphyar akhuuu” teriak Gilank
“Itu akibat ngomong gak jelas mas Gilank, makanya kalau ngomong yang jelas biar yang mampir ke kepala mas Gilank makin asoyy hehehehe” kata Novi
“Biasa Gilank ini, nanti nek tiba-tiba kuntilane ndelesep lak bingung deke heheheh” kata Tifano
Setelah semalaman mereka berjalan kini saatnya mereka istirahat, sebelum malam tiba, sebelum kengerian akan mendatangi mereka, sebelum mereka bisa menghentikan Totok.
Mereka duduk-duduk dan tiduran di lantai dan di atas tempat tidur, hanya pak Handoko, Novi, Tifano saja yang sedang ada di ruang tamu. Mereka sedang membicarakan apa yang akan mereka lakukan berikutnya.
“Gimana mas Tifano, kemana kita harus mencari yang bernama Totok itu disini? Apa kita harus masuk ke ruangan yang ada di taman belakang itu?” tanya pak Handoko
“Saya rasa kita siang ini coba jalan-jalan ke bangunan utama dulu saja pak, kita lihat-lihat disana, mungkin ada yang mencurigakan pak” kata Tifano
“Tapi bangunan yang ada di belakang itu benar-benar membuat saya penasaran mas, rasanya banyak sekali energi asing yang ada disana mas” kata pak Handoko
“Iya pak, tapi menurut teman-teman Bluekuthuq, di dalam bangunan utama itu banyak yang ganjil pak, kita bisa periksa tiap kamar dan ruangan yang ada disana pak, sebelum kita beranjak ke bangunan yang ada di taman belakang itu” kata Tifano
“Kalau menurut Novi, kita periksa sekarang saja yang ada di bangunan utama hotel pak, kita periksa tiap ruangan dan kamar yang ada disana pak, siapa tau kita mendapat sesuatu disana pak” kata Novi
“Ya sudah, ayo kita ke sana sekarang saja anak-anak” ajak pak Handoko
__ADS_1
Akhirnya mereka bertiga berjalan-jalan menuju ke arah bangunan utama, mereka berjalan ke arah depan untuk masuk ke bangunan utama melalui pintu kaca yang ada di depan.
Broni, Ali, Wildan, Gilank, dan Saeful tetap tinggal di kamar 6+, sementara tifano, pak Han, dan Novi menuju ke pintu kaca yang ada di depan.
“Kita masuk lewat pintu ini saja pak, di dalam situ kan ada meja resepsionnya pak, kita lihat saja apakah akhir-akhir ini masih ada tamu yang kesini pak” usul Tifano
Mereka sudah ada di depan pintu kaca, pintu kaca yang memisahkan antara halaman depan dengan bagian dalam hotel yang ada di bangunan utama.
“Kita buka pintu ini anak-anak. Saya sudah lihat di dalam sana tidak ada apapun, kosong, hanya ada beberapa mahluk halus yang tidak berbahaya bagi kita” kata pak Handoko
Pintu kaca itu di dorong ke dalam oleh pak Handoko, dan terbuka tanpa bunyi berderit sama sekali
“Aneh anak-anak, pintu ini sama sekali tidak berderit, harusnya setelah sekian lama, pintu ini harusnya berderit, tetapi ini tidak bunyi sama sekali” kata pak Handoko
Pintu terbuka, udara panas yang terkurung di dalam keluar tiba-tiba, udara panas, bau pengab, dan juga tidak lupa bau busuk persis dengan yang ada di kamar 6+ keluar dari dalam ruangan itu.
“Huufff baunya sama kayak yang ada di kamar 6+ pak, selalu ada bau busuknya selain bau pengab pak, sebenarnya apa bapak bisa mendeteksi bau apa ini pak?” tanya Tifano
“Saya belum bisa mendeteksi bau busuk apa ini mas, tetapi yang pasti ada sesuatu yang mencurigakan disini mas, hanya saja sekarang ini kan masih pagi menjelang siang, mungkin yang aneh-aneh belum pada keluar mas hehehe” jawab pak Han
“Novi rasa di balik ujung ruangan itu ada sesuatu yang mengerikan pak, tetapi Novi belum merasakan adanya energi jahat disini pak, disini sekarang ini masih normal-normal saja pak, tidak ada apapun yang mencurigakan” kata Novi
Setelah di rasa bau dan udara panas sudah mulai berkurang yang keluar dari pintu depan, mereka mulai memasuki ruangan yang merupakan ruang tunggu dan tempat reservasi kamar, karena di sebelah kiri ada meja resepsionis dan sebelah kanan ada sofa tempat orang duduk menunggu.
“Kita buka saja pak pintu itu lebar-lebar pak, agar udara panas yang terperangkap disini bisa keluar semua pak, uuggh rasanya panas sekali disini pak” kata Tifano sambil membuka lebar-lebar pintu kaca itu
“Kita periksa meja resepsionis dulu saja mas, tiap laci, tiap apapun yang ada disana kita harus cari, kalau perlu kita jungkir balikan meja itu, pokoknya kita cari apapun yang menurut kita mencurigakan” kata pak Han
“Hmm meja ini juga tidak berdebu seperti sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan, hanya debu halus saja yang ada di meja ini, sebenarnya hotel ini apa masih berfungsi kah?” gumam pak Han
“Iya pak, harusnya sebuah bangunan kalu sudah kosong bertahun-tahun debunya pasti ndak karuan tebalnya, tapi yang kita lihat ini hanya sebuah debu tipis yang bisa kita hilangkan dengan ditiup saja” kata Tifano
Mereka mencari apapun di sekitar meja penerima tamu itu, sampai ke laci-laci meja juga, tetapi mereka tidak menemukan apapun, hingga Tifano menemukan sesuatu di bagian paling dalam kolong meja.
“Pak ini ada sebuah buku pak, sebentar saya ambilnya dulu pak” kata Tifano yang sekarang ada di balik meja penerima tamu itu
__ADS_1