MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 42 (NOVI NEKAT)


__ADS_3

“Eh Novi, apa kamu yakin kalau barang itu ada di sana?” Tanya Ukik dengan tiba-tiba


“kita kan tidak tau dimana Trimo menyimpannya. Karena di kosan saja tidak ada, malah Wildan nemu dompet Trimo dan dua hp itu” kata Ukik lagi.


“Eh mana dompet itu mas, coba kita periksa lagi mas” kata Novi


“Memang benar mas, kalau mas tanya apakah di sana ada kotak itu jelas Novi bilang tidak tau. Tapi peluang itu ada, karena di sana itu tidak semua orang bisa masuk. Keamanannya lumayan, sehingga kemungkinan 50% barang itu ada di sana”


“Kalau di kosan lebih gampang untuk dibobol orang, makanya kesimpulan Novi, Trimo sewa penthouse itu karena mempunyai tujuan tertentu”


“kenapa dia tidak sewa safetybox saja di bank ,kan lebih murah Novi” kata Ukik


“Hehehe novi ya jelas ndak tau alasannya mas hihihi”


“Iki Nov dompetnya” Tifano menyerahkan dompet itu kepada Novi


“Apa yang kamu cari Nov?” tanya Dani


Novi hanya diam dan membongkar isi dompet ke lantai salon, uang ratusan ribu, lima puluh ribuan, beberapa kartu kredit dan kartu lainya, atm, sim, dan ktp. Serta ada selembar tanda terima penjualan uang gulden.


“Novi cari semacam tanda terima pembayaran sewa penthouse dan kartu master atau kartu keanggotan. Setahu Novi pemilik mempunyai kartu master semacam key card untuk akses masuk apabila kartu tambahan yang biasanya diberikan kepada keluarga itu tidak berfungsi”


“Novi takut kalau keycard yang kita tukar ke Muryati itu tidak berfungsi, dengan membawa kartu itu berarti kita mempunyai akses penuh untuk menikmati segala service yang disediakan pihak pengelola”


“Naaah ini dia heheheh” akhirnya Novi menemukan kartu master yang berwarna gold dan hanya bertuliskan nama tempat itu.


“Nanti kita bawa ini juga mas Dan, kita tunjukan ke reception kalau kita akan masuk ke sana, dan nanti pasti mereka akan konfirmasi ke Trimo. Mas Ali siap-siap saja untuk menerima telepon konfirmasi mas, jangan lupa Ktp Trimo dipegang mas, siapa tau yang telepon itu minta info nomor apa saja yang ada di ktp”


“Mas Wildan dompet Trimo dibawa aja mas, siapa tau berguna hehehe. Duitnya kan lumayan itu mas, bisa untuk sangu mas Ukik, mas Tifano dan mas Broni beli makanan dan minuman di kedai kopi mahal itu”


Ukik, Tifano, dan Broni sedang dalam perawatan kapster ternama yang bernama Warso dan bambang eh Warsih dan Bimbi.


Sore ini mereka sudah siap untuk melaksanakan rencana tahap kedua, yaitu masuk ke kamar Trimo dan memeriksa tiap jengkal ruangan yang ada di sana.


“Semua sudah siap, ayo kita berangkat mas, dan jangan lupa dompet Trimo serta nyalakan hp Trimo kalau ada yang telepon mas”


Ketegangan menyelimuti orang-orang yang ada di dalam mobil. Wajarlah, karena mereka sedang akan melakukan tindakan yang melawan hukum.


Tapi dengan perencanaan yang matang semoga rencana mereka bisa berjalan dengan lancar, hanya saja semua ini butuh ketenangan, ketelitian, kesabaran, dan tidak grusa grusu, serta adanya kerjasama antar team yang baik.


Mobil sudah diparkir di halaman depan mall terbesar di sby brt. Seperti rencana, yang ada di dalam mobil adalah Wildan, Ali dan Gilank. Sedangkan Ukik, Tiffano, dan Broni ada di kedai Kopi sebelah lobby hotel.

__ADS_1


Wuiiih yang asik ini dandanan Ukik, Tifano, dan Broni yang korea style abis wakakakak, rambut mereka di warna dengan warna yang lagi ngetren dengan potongan ala opa opa wahahahah. Ndak lupa dengan pakaian yang mereka gunakan juga sudah ala anak-anak muda hihihihi.


Ketiga orang itu dengan percaya diri masuk dan mencari posisi yang tepat menghadap ke lobby hotel. Tidak lama kemudian datang pelayan kedai kopi dengan memberikan daftar menu.


“Taruh dulu aja mbak daftar menunya” kata Broni sok borjuis


“Rek, deloken ta harganya c*k, regane satu gelas kopi kok podo karo sepuluh gelas kopi nang warkop c*k, mana aku gak paham jenis jenise c*k” bisik Ukik


“Wis awakmu ae sing pesen Tif, aku ikut kamu aja, untung kita sangu duit lumayan c*k hihihi” bisik Broni kepada Tifano


Sementara itu Novi yang berdandan mewah dengan rok span yang bercenti-centi meter di atas dengkulnya eh lututnya dengan percaya diri mendatangi bagian meja penerima tamu.


Keliatanya mereka tidak menggunakan card yang ditukar dengan milik Muryati, tapi Novi nekat menggunakan master card milik Trimo.


“Selamat malam ibu, ada yang bisa kami bantu” kata petugas yang ada di belakang meja


“Selamat malam juga bapak, saya akan ke ruangan milik mas Trimo” kata Novi sambil menunjukan kartu master berwana emas itu kepada petugas yang ada di meja reception itu.


Petugas itu melihat Novi dari atas kebawah, keliatanya dia sedang menilai Novi, apakah pantas dia masuk ke penthouse milik Trimo.


“Hmmm maaf ibu, kalau boleh tau ibu ini siapannya pak Trimo” tanya petugas itu curiga


Untungnya petugas yang ini berbeda dengan petugas waktu kemarin malam Novi kesana bersama Muryati.


“Baik bu, akan saya konfirmasi dahulu dengan bapak Sutrimo dahulu” kata petugas itu, kemudian dia menelpon nomor hp yang sekarang dipegang oleh Ali


Berarti sekarang adalah tugas dari Ali untuk memberikan konfirmasi agar Novi bisa masuk ke lantai 52.


Beberapa kali nada panggil terdengar oleh Novi, petugas itu melihat ke arah Novi ketika nada panggil ke ponsel Trimo sedang dalam nada Sambung.


Novi pun tidak kalau dengan petugas itu, ketika petugas itu menatap mata Novi, dengan galaknya Novi juga menatap mata petugas  itu hihihihi. Ternyata petugas itu kalah mental dengan Novi heheheh.


“Selamat malam bapak Trimo, kami dari ******* **** ingin mengkonfirmasikan tentang ibu Novi yang membawa kartu master bapak”


“Oh baik pak…. siaap pak….., maaf pak…maaf pak…., baik pak…. Siap….siap pak, tidak akan pak….tidak akan pak. Nanti akan kami tahan pak….baik pak, ….selamat malam dan maafkan kami mengganggu meeting bapak” kemudian telepon itu ditutup


Wajah petugas itu pucat, dan bulir keringat menetes dari ujung dahinya hhihihi, mungkin petugas itu habis dimarahi Trimo eh Ali  hahahah.


“Bagaimana, apa jawaban mas Trimo tadi pak Wempi?” tanya Novi dengan wajah yang tidak kalah jahat kepada petugas yang ber papan nama Wempi itu


“Ma..maaf bu Trimo, saya tidak tau kalau ibu adalah istri dari pak Trimo. M..mari silahkan bu” kata petugas itu dengan mengantar Novi menuju ke lift pribadi.

__ADS_1


“Ayo Dani, kita ke atas” ajak Novi kepada Dani yang sekarang berpakaian celana ketat berwana hitam mengkilat dipadukan dengan kaos ketat pula. Tidak lupa alis lencir koyok celurit dan rambut cepaknya yang tersisir licin dan rapi ke arah belakang


Dan yang Yancukan adalah petugas itu melirik dan tersenyum ke arah Dani, kemudian tangan dia mengkode meminta nomor telepon ke Dani.


Step pertama sudah bisa dijalankan, mereka berdua di dalam lift sedang dalam perjalanan ke lantai 52. Mereka berdua tidak tau kalau tadi Ali dengan nada sombong angkuh memarahi petugas yang mengkonfirmasi masalah Novi.


Bahkan Ali sempat mengancam akan melaporkan petugas itu kepada atasanya karena pelayanannya yang tidak fleksibel. Ali juga wanti-wanti agar tidak ada orang yang naik ke atas dan mengganggu Novi yang diakui sebagai istri dari Trimo.


Pokoknya tidak ada yang boleh ke atas selama istrinya ada di sana siapapun itu. Begitu kata Ali kepada petugas yang menelponnya heheheh. Untuk sementara ini mereka masih aman dan semoga tetap aman saja hehehe.


Novi dan Dani tidak berbicara sama sekali sebelum mereka masuk ke penthouse Trimo, karena baik di lift atau di depan pintu ruangan bertebaran kamera pengamat.


Novi menempelkan gold cardnya pada kotak sensor yang sudah disediakan, kemudian dia membuka pintu dan masuk ke dalam bersama Dani.


“Nah sekarang kita sudah ada didalam, disini ada empat atau lima kamar mas Dan, dalam memeriksa kamar kita tidak usah berpisah, kita lakukan bersama sama saja mas” kata Novi


“Kita periksa kamar yang dekat dengan dekorasi kita dulu saja Novi, karena kata Muryati di sana adalah kamar Trimo”


Mereka berdua masuk ke dalam kamar Trimo yang memang tidak dikunci, Novi memutar handle pintu kamar yang dekat dekan dekorasi untuk pameran dan penjualan tas itu.


“Ayo mas kita masuk ke dalam, kita harus teliti melihat sesuatu yang nampak ganjil mas, atau nampak tidak biasa”


Di dalam kamar itu hanya ada satu buah tempat tidur berukuran queen size, ukuran itu lebih besar dari double bed dan lebih kecil dari king size. Biasanya digunakan pada kamar utama. Di sebelah tempat tidur  itu ada sebuah lamari pakaian yang menempel pada tembok.


Selain itu ada satu set meja rias yang masih kosong, tidak ada apapun di atasnya.


“Coba mas di dalam lemari atau dimana saja, ruangan ini kan tidak terlalu besar, jadi kita bisa cepat memeriksanya lah” kata Novi


Tidak ada yang aneh di dalam kamar ini, baik itu di dalam lemari atau pun di bawah tempat tidur, bahkan lantai yang dilapisi karpet pun  tidak luput dari pencarian mereka berdua.


Mereka berdua memerlukan waktu tidak lebih dari sepuluh menit untuk memeriksa setiap sudut ruangan yang  ada di kamar Trimo


“Di sini kosong, ndak ada yang mencurigakan Nov, gimana kita pindah ke kamar sebelah atau gimana?” tanya Dani


“Iya mas ayo kita ke kamar berikutnya saja mas”


Ketika mereka akan pindah ke kamar selanjutnya, tiba-tiba ponsel Novi berbunyi, lagu dangdut koplo senenganya Novi bergema di ruangan kamar yang tidak terlalu besar ini.


“Novi, Muryati dan kedua orang laki-laki yang kemarin itu sekarang ada di kedai kopi tempat kita nongkrong ini, mereka memesan kopi dan beberapa camilan. Kelihatanya mereka akan sedikit lama ada disini” bisik Ukik


“Ok mas Ukik, kabari cepat apabila ada perkembangan selanjutnya” kata Novi

__ADS_1


Sementara itu di kedai kopi tempat ketiga manusia yang berdandan ala opa-opa, Muryati dan kedua temannya kelihatannya sedang menyusun rencana sendiri.


Untungnya posisi Muryati dan kedua temanya itu ada di depan ketiga opa-opa yang sedang menikmati sajian kopi mahal hihihihi.


__ADS_2