MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 127 (SYARAT DARI SAEFUL)


__ADS_3

“Gimana mas, apa kalian bisa buktikan sedikit saja, pokoknya teman saya ini sembuh dari sakitnya, meskipun hanya sedikit dan sebentar. Kalau memang bisa, meskipun tidak sembuh total, kalian akan mendapat tugas lagi yang lebih ringan dengan uang dua kali lipat dari yang kalian terima sebelumnya” kata Trimo


“Heheheh masalah penyembuhan  itu masalah gampang pak, bahkan sekarang akan saya sembuhkan juga mas ini, kalau perlu ukuran alat pital tetap gede, tapi tidak akan sakit dan gatal-gatal lagi hahahaha” kata Broden


“Heh.., kalian berdua siap back up aku sekarang kan, kalau sudah siap ayo segera kita sembuhkan sampai tidak ada bekas gatal dan sakitnya” teriak Broden kepada Sarmidi dan Sokran yang ternyata tingkatanya dibawah Broden


“Tapi siapkan dulu uang yang tadi kamu tawarkan kepada kami, kalau tidak ya maaf sayakan pak. Lebih baik kami bersantai di dalam vila itu” lanjut Broden


“Ini sudah menjelang maghrib, semoga kalian bisa sembuhkan teman saya, karena kalau tidak, ada sangsi untuk kalian, karena kalian telah mmbodohi saya, dan saya anggap kalian dukun palsu” jawab Trimo


“Hahahaha…, untuk masalah pembayaran kalian tidak usah khawatir, pokoknya buktikan sedikit saja hingga teman saya merasakan ada perubahan  di sakitnya itu, baru kalian akan saya suruh untuk menyembuhkan secara total" la”jut Trimo


*****


“Akan mbok kerjain mereka nak, akan mbok buat mereka juga terkena penyakit yang sama dengan Kaswadi, karena mereka berani ikut campur dengan urusan ini hihihihi” kata mbok Ju


“Nanti kalau sesuai rencana, kamu bisa ke sana nak, dan kamu berlagak seperti biasanya saja, tapi kamu juga harus tawarkan pengobatan untuk mereka juga” lanjut mbok Juriah


“Hehehe, perewangan Broden saat ini sudah tidak ada di sekitar sana, karena sudah mbok Ju suruh pergi, tapi dia tidak lama perginya karena dia takut dimarahi oleh Broden yang kejam” kata mbok Ju


*****


Proses penyembuhan yang dilakukan oleh Broden melibatkan kedua temanya yang bernama Sarmidi dan Sokran. Mereka bertiga duduk brsila mengelilingi Kaswadi yang tidak berhenti menggaruk garuk.


“Sarmidi, Sokran.., kalian siap untuk membuang apa yang ada di dalam tubuh orang ini, tapi ingat… kita sekarang hanya cuma menangkap saja dan jangan dibuang, karena kita belum dibayar”


“Kalau pembayaran itu sudah ada. Baru kita buang setan kiriman yang ada di tubuh orang ini” kata Broden sambil melirik Trimo yang tersenyum


Mereka bertiga duduk bersila sambil saling bergandengan tangan dan memejamkan mata, mereka juga merapalkan sesuatu yang tidak jelas sama sekali, sementara itu Trimo memperhatikan mereka bertiga dengan serius. Sedangkan Kaswadi yang masih menggaruk area yang gatal itu semakin menjadi-jadi.


Dalam keadaan tiga orang itu sedang serius dengan kalimat tidak jelasnya, mbok Ju menyuruh Saeful untuk menghampiri mereka, tapi sebelumnya mbok Ju wanti-wanti agar tidak menyentuh Kaswadi, karena Kaswadi telah ditambahkan semacam penular, yang dapat menular kepada siapa yang menyentuhnya.


“Sekarang nak, kesanalah dan lecehkan apa yang mereka lakukan, dan tantang mereka untuk menyembuhkan Kaswadi dengan cara- cara yang tidak masuk akal, pokoknya terserah nak Ipul, karang saja bagaimana syaratnya hihihi” kata mbok Ju


“Siap mbok, saya berangkat sekarang mbok” kata Saeful kemudian beranjak dari tempat dia sembunyi menuju ke tempat ketiga orang yang sedang melakukan ritual jitunya, tapi  itu menurut mereka bertiga.


Saeful berjalan dengan santai menuju ke tempat Kaswadi yang sedang disembuhkan. Tempatnya tidak jauh dari tempat Saeful sembunyi tadi.


“Halo pak Trimo…, halo semuanya, apa yang sedang kalian lakukan disini bapak-bapak?” tanya Saeful dengan santainya


“Gimana, apa yang kalian dapatkan disana bapak-bapak?” Saeful berusaha mangganggu konsentrasi tiga orang yang sedang luar biasa sibuk itu


“Apa yang kamu lakukan disini lagi, apa kamu belum puas dengan keadaan temanku yang tersiksa itu?” kata Trimo yang masih serius mengikuti apa yang sedang dilakukan tiga dukun itu.


“Yakin mereka bertiga bisa sembuhkan temanmu pak?. Kamu bayar berapa mereka bertiga ini pak?” tanya Saeful yang kemudian berjalan mengelilingi mereka yang sedang duduk bergandengan tangan mengelilingi Kaswadi yang masih garuk-garuk enak.


“Diamlah dulu kamu mas, jangan ganggu mereka, mereka akan sebuhkan Kaswadi secepatnya” kata Trimo


“Ok, saya akan diam dan perhatikan dari sini apa yang sedang dikerjakan oleh tiga badut lucu yang sedang bermain-main dengan mimik wajahnya hihihihi” kata Saeful sambil mendekati ke arah Broden yang wajahnya merah menahan amarah karena kedatangan Saeful.

__ADS_1


Mbok Ginten dari jauh memperhatikan apa yang dilakukan Saeful, dia siap dengan aksi berikutnya setelah tiga orang itu menyentuh tubuh Kaswadi.


“Saya yakin mereka tidak akan berani menyentuh tubuh pak Kaswadi, karena mereka itu takut dengan penyakit yang diderita pak kaswadi, penyakit yang belum ada obatnya sampai saat ini, kecuali kematian” kata Saeful  berbicara dengan setengah  berbisik agar tiga orang itu mendengar


“Tapi kalau mereka tidak bisa sembuhkan, saya yakin dengan ijin Allah dan pertaubatan pak Kaswadi, pak Kaswadi pasti bisa sembuh dengan cepat, tanpa perlu ada mimik wajah yang kayak gitu, tapi tetap ada syarat yang harus dilakukan pak, bukan syarat mahal yang diminta tiga orang itu pak” tunjuk Saeful kepada wajah Broden,  Sokran, dan Sarmidi


Tiga orang itu sekarang mulai berkeringat, mungkin mereka terganggu juga dengan omongan Saeful tentang penyakit yang mematikan, tapi mereka bertiga kan seorang dukun, harusnya mereka kan tidak akan menyerah dan takut dengan segala penyakit.


“Heh Dukun… dokter aja kalu mau sembuhin penyakit orang, kadang dia harus pegang pasienya entah mengukur tekanan darah, mengukur suhu badan, atau dengan stetoskop dia mendengarkan suara-suara yang ada di dalam tubuh”


“Lha kok kalian bertiga malah mainan pegang pegangan tangan kayak anak-anak TK yang sedang bermain bersama gurunya” Saeful mulai meracuni otak tiga orang itu


“Tapi apakah cara kerja dukun itu dengan percaya diri mengobati tanpa menyentuh pasien?, mbok ya pegang kepala pasien atau tangan pasien gitu. Jangan hanya diem komat-kamit, pegangan tangan, wajah merah keringetan, mata lirak-lirik gak karuan gitu” kata Saeful semakin berani, sesuai dengan perintah mbok Ju untuk meremehkan mereka


“Sudah mas, biarkan mereka bekerja, hari semakin sore dan hampir menjelang maghrib ini mas, teman saya harus sembuh mas” kata Trimo


“Temanmu jelas gak akan bisa sembuh kalau mereka bertiga cuman seperti itu, paling tidak pegang anggota badan yang sakit atau giamana gitu” kata Saeful


“Apa kalian bertiga tidak berani pegang kuntilanya pak Kaswadi yang sebesar botol sirop marjan itu. apa kalian iri dengan ukuran kuntila pak Kaswadi hahahaha” lanjut Saeful


Suara dukun itu meninggi dan semakin kerasa dengan lafal-lafal yang aneh, hingga tiba-tiba kemudian berhenti, dan kemudian tangan Broden memegang bagian kepala Kaswadi.


Inilah saatnya ilmu mbok Ju mulai bekerja dengan aksinya menularkan penyakit yang diderita Kaswadi kepada ketiga dukun yang dari tadi tidak ada hasilnya itu.


“Nah gitu dong, pegang pasienya, jangan cuman bisanya pengobatan jarak jauh, padahal yang sebenarnya kalian jijik dengan keadaan pak Kaswadi hehehe” Saeful tetap mengejek ketiga orang yang dalam usaha mengobati Kaswadi


Tepat ketika Broden memegang kepala Kaswadi, dia merasa ada sesuatu yang menjalar di dalam tubuhnya. Sesuatu yang menjalar di dalam tubuh Broden itu kemudian berjalan mengikuti pembuluh darahnya hingga hinggap di sekitar gedang godok milik Broden.


Tangan kirinya perlahan-lahan melepas gandenganya dengan Sokran, dan sekarang mulai mengarah ke arah selempitanya, selempitan yang terdapat sepasang ndog (telur) dan sebuah gedang godog.


Dia mulai menggaruk perlahan-lahan sambil menikmati dan meringis keenakan, pelan-pelan semakin kencang dan satu menit kemudian kedua tanganya sudah dia gunakan untuk menggaruk  bagian tubuhnya yang selalu tertutup celana itu.


“AAaarggghhh…. Sokraaan, Sarmidiiiii, tolong akuuuuu!!!” suara ngedumel Broden yang sedang menggaruk tubuhnya menyebabkan kedua temanya ketakuan


“Nah kan, sekarang malah bos dukun itu yang gatal-gatal, kalian berdua apa ndak mau gatal-gatal juga hihihihi. Coba lihat itu, punya teman kamu makin besar dan makin panjang saja hahahah” kata Saeful


Kedua orang teman Broden itu hanya bisa diam dan tidak bergerak sama sekali, mereka takut apabila bergerak bisa tertular penyakit yang awalnya diderita Kaswadi, tetapi sekarang teman mereka Broden mengalaminya juga.


“Pak Trimo coba kamu lihat itu tiga dukun palsu yang sudah bapak bayar mahal. Ternyata mereka hanya orang biasa yang berlagak jadi dukun pak hahahah” kata saeful


“Hmmm sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan disini, kenapa Broden sekarang juga gatal-gatal. Apakah saya dan yang lainya juga bisa tertular gatal gatal juga?” tanya Trimo


“Hehehehe tentu saja bisa pak, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, tegantung dari amalan kamu saja pak, selama kamu berbuat baik, maka tidak akan ada hal  buruk yang  akan menimpa bapak, kecuali bapak dengan sengaja berbuat yang merugikan orang lain, pasti akan terjadi sesuatu” kata Saeful


“Mereka bisa saja sembuh asalkan mereka mengakui perbuatan buruknya dan meminta maaf kepada siapapun yang sudah disakitinya, pasti akan sembuh dengan sedirinya, saya yakin itu pak, tapi tetap ada syaratnya pak” kata Saeful


“Kamu berdua, kenapa diam saja, bantu itu temanmu yang namanya Broden, bantu garukin telor sama botol cuka nya hihihi, masak kalian berdua diam saja gitu sih” kata Saeful kepada Sokran dan Sarmidi.


Mereka berdua hanya diam dan mundur pelan-pelan ketika melihat Broden makin kencang dan makin keras menggaruknya, mereka berdua keliatnya jijik melihat Broden dan Kaswadi yang sedang giat-giatnya menggaruk bagian di dalamnya.

__ADS_1


“Siapa kamu sebenarnya, kamu datang dan pergi sesukamu dan selalu mengolok olok kami” kata Sokran


“Heheheh saya hanya anak desa pak, saya juga orang yang harus melapporkan ke polisi tentang kegiatan yang ada di vila ini, tadi sih saya sudah laporkan kalian pak hihihi”


“Sekarang maumu apa mas, dan sejujurnya saya curiga dengan gaya bicaramu dan caramu menghadapi kami tanpa rasa takut sama sekali, saya yakin kamu bukan orang biasa mas. Lalu apakah sakitnya temansaya ini bisa disembuhkan?” tanya Trimo yang wajahnya nampak pasrah


“Sebelumnya kamu berdua cari syarat untuk penyembuhan kedua orang ini, carilah teletong sapi atau bisa juga tai kuda, juga carilah air satu ember untuk masing-masing orang. Kalian paham kenapa saya suruh cari benda itu?” tanya Saeful


“Pasti tidak kan. Benda itu gunanya untuk memandikan kedua orang ini, sebagai simbolis atas dosa-dosa mereka, dosa yang menempel pada tubuh mereka. setelah itu guyur tubuh mereka dengan air, sebagai simbolis dosa-dosa mereka yang sudah terhapuskan” kata Saeful dengan wajah yang agak ndangak


“Tapi ingat, tata cara memandikanya tidak sembarangan, agar yang memanbalurkan tidak tertular gatal-gatal, maka yang membalurkan juga harus membalurkan dirinya dulu hingga tidak ada celah sedikitpun yang bisa dimasuki penyakit itu hihihihi”


“Apa kamu yakin dengan syarat itu, tapi apa buktinya, kalau seandainya teman saya belum sembuh gimana?” tanya Trimo


“Kalau bapak tidak yakin dengan kesembuhan ini, ya tidak akan berhasil pak, kalian semua harus yakin dan harus percaya bahwa kalaian berdua bisa disembuhkan” kata Saeful dengan wajah yang disangar sangarkan


“Saya saja yakin dengan kesembuhan ini, masak kalian sebagai pasien dan teman pasien tidak yakin!. Ayo cepat cari syarat pertama yang harus dilakukan, atau mereka akan mati, dan kalian semua yang bertanggung jawab kepada keluarganya atas kematian mereka berdua!”


“Sekarang terserah kalian, kalau kalian tidak percaya atas bantuan saya, ya saya akan pergi dari sini, ndak masalah kok kalau tidak percaya hehehe, semua tergantung pada kalian sendiri hehehehe” kata Saeful yang akan beranjak pergi”


“Stop, jangan pergi dulu, biar mereka cari syarata yang kamu butuhkan mas” tunjuk Trimo kepada Sokran dan Sarmidi


“Ndak pak, saya akan pergi dari sini saja!, kamu sendiri yang akan cari benda itu, dan silahkan urus sendiri, hihihihi” kata Sarmidi yang kemudian melangkah pergi.


Semua ini memang sudah diatur oleh Mbok, Ju, ketika Sarmidi akan melangkah Pergi, dia tidak llihat ada batu sebesar kepalan tangan di dekat kakinya,  akibatnya dia tersandung batu itu dan dia harusnya jatuh ke depan, tetapi untung ada Broden hihihihih…..


“ASYUUUU!...Adtooooohhh, kenapa tiba-tiba ada batu di sisini” kata Sarmidi yang otomatis memegang Broden agar dia tidak jatuh ke aspal


“Heheheeh maap saya akan pergi dari sini, kalian saja yang mencari syarat gila dari orang tidak jelas yang kelakuanya aneh itu hahahaha” Kata Sarmidi yang kemudia berdiri dan melangkah pergi dari sana. Tetpi beberapa langkah kemudian dia berhenti


Sarmidi menghentikan langkahnya, dia kemudian duduk di aspal dan mulai dengan kegiatan asiknya yang merupakan hobby barunya hihihihi


“Aduuuuh, gatal ini memang enak kalok dikukur…” ujar Sarmidi yang kemudian tiduran di aspal sambil menggaruk telor dan pisang susunya


“Wahhh sekarang sudah tiga orang yang punya hobby yang mematikan, mereka akan menggaruk sampai kulitnya terkelupas dan hingga berarah darah hihihihi, sekarang tinggal kalian berdua saja,  kalau begitu saya tinggal dulu saja kalian berdua disini  hihihii”  kata Saeful yang melangkah pergi dari situ


“Tungguuuu mas, jangan pergi dulu, kamu harus bantu kami. Apa yang harus aku lakukan dengan tiga orang ini?” kata Trimo


“Lho kok sampeyan tanya lagi, kan sudah saya jelaskan tadi, carilah teletong sapi, dan balurkan ke seluruh tubuh mereka. Tapi ingat, agar kalian tidak tertular, maka yang membalurkan juga harus membalurkan dirinya juga” kata Saeful


“Sekarang cepat cari benda yang saya suruh itu, sementara kalian mencari benda itu, saya akan jalan-jalan dulu cari demit untuk peliharaan. Mumpung mau pergantian sore menuju malam hari  hihiihi” kata Saeful lagi kepad Trimo dan Sokran


**********


Saya Dewa Ayu Yudhari alias mbak Bashi mengucapkan Minal Aidzin Wal Faidzin. mohon maaf lahir batin.


Selamat hari raya Idul Fitri. mohon maaf atas semua kata-kata yang tidak baik di novel saya, dan juga mungkin ada juga kata-kata yang membuat pembaca tersinggung. karena yang namanya manusia itu tidak pernah luput dari salah dan dosa.


Terima kasih dan salam hormat

__ADS_1


Mbak Bashi


__ADS_2