MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 107 (DIMANA MEREKA BERADA)


__ADS_3

“Biar kami saja pak yang keluar untuk menyalakan lampu taman pak” kata Wildan setelah mendapat ajakan dari Ali


“Lebih baik kalian jangan sendiran atau berdua kalau kesana mas, siapa tahu ada orang sedang sembunyi disana mas. Bisa bahaya bagi kalian nanti. Lebih baik kalian berempat kesana saja mas”


“Lagi pula kalian kan belum mengenal halaman depan rumah saya ini mas, jadi ada baiknya bersama sama saja ke sananya mas” kata pak Han yang sedang duduk di ruang tamu


Akhirnya mereka memutuskan mereka berempat yang menuju ke arah pendopo untuk menyalakan lampu taman.


Taman di luar sana benar-benar gelap gulita dan menyeramkan, memang ada baiknya tidak hanya berdua, tapi lebih baik mereka berempat yang kesana. Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah rumah sebesar ini dengan halaman yang luas tidak mempunyai saklar di dalam rumah untuk menyalakan lampu taman?


“kalian kalau kesana lebih baik bawa senter mas. Ini senter kalian bawa saja kesana, dan ingat jangan berpaling apapun yang memanggil kalian, karena disana tidak seperti di rumah ini mas heheheh” kata pak Handoko


“Dan satu lagi, jangan mengarahkan cahaya senter ke arah taman mas, cukup ke depan saja, ke arah jalan yang kalian lalui mas, karena mungkin saja disana, diantara pohon-pohon itu ada demit yang merasa terganggu dengan cahaya senter yang kalian bawa mas” kata pak Handoko lagi


“Waduh, kenapa pak Handoko berkata begitu itu, seolah olah di halaman rumahnya ini benar-benar mengerikan, dan ini merupakan perjalanan kita terakhir rek hihihihi” bisik Gilank


“Aneh-aneh ae pikiranmu Lank, yo gak lah, dia berkata seperti itu kan memperingatkan kita agar selalu berhati hati, siapa tau ada kunti jail yang selalu memanggil siapapun yang sedang kesana kan” kata Ali


“Letak saklar itu ada di dekat pendopo mas, nanti disana ada semacam rumah saklar yang terbuat dari logam, kalian buka saja rumah saklar itu, dan nanti kalian nyalakan semua mas” pak Han memberi kami instruksi


“Ya sudah pak, kami berempat kesana pak, eh kalau pak Han kami tinggal sendiri ndak papa kan pak” tanya Tifano


“Hehehe tentu saja tidak apa-apa mas, ini kan rumah saya, tempat saya tinggal selama ini mas, jadi lebih baik kalian yang jaga diri mas” jawab pak Handoko dengan tersenyum penuh arti


“kalok dilihat-lihat senyum dia Ini kok lebih menakutkan dari biasanya ya rek?” bisik Gilank lagi


Sebenarnya ada apa dengan Gilang, kenapa dia kok merasa ketakutan seperti ini, bahkan bisa dikatakan dia dari tadi selalu berburuk sangka kepada pak Handoko.


Pukul 07.45 mereka berempat menuju ke arah halaman rumah pak Handoko yang gelap gulita, tidak ada cahaya sama sekali, bahkan untuk saat ini sama sekali tidak ada angin yang berhembus, sehingga suasana disini sedikit gerah diandingkan dengan waktu pertama kali mereka kesana.


Meskipun baru pukul delapan kurang seperempat, tapi keadaan di luar sini sudah mirip dengan tengah malam, karena saking sepinya, tidak ada suara apapun disini, yang ada hanya gelap dan pohon-pohon yang besar-besar.


“Suasana di halaman rumah ini benar-benar menyeramkan rek, aku ndak ngira kalau sekarang kita ini ada di halaman sebuah rumah, bukan di suatu hutan yang mengerikan” kata Tifano


“Eh apa kalian ndak penasaran untuk melihat kebelakang rek?” tanya Gilank


“Gak usah aneh-aneh Lank, dari pada awakmu kena semacam teluh dari penduduk ghaib yang ada disini” kata Tifano


Mereka berjalan di sisi yang tidak ada pohonnya yaitu sisi jalan taman, jalan yang terbuat dari cor-coran semen kasar, sebelah kiri adalah pohon yang besar-besar, sedangkan sebelah kanan adalah tembok yang memisahkan antara area rumah pak Han dengan llingkungan luar.


Hingga lima menit mereka berjalan tetapi masih belum terlihat juga pendopo tempat mereka beberapa hari lalu nongkrong disana bersama pak Handoko.


“Sudah lima menit rek, tapi kok belum terlihat juga ya pendoponya. Apa masih jauh dari sini ya, coba kamu arahkan ke sana senternya Li, siapa tau kelewatan pendoponya” kata Tifano


“Gak usah Tif, pendopo itu kan besar, pasti akan kelihatan juga lah, meskipun tempatnya agak masuk ke dalam sana” balas Wildan


Mereka masih jalan dengan pelan namun cukup cemas juga karena yang mereka tuju belum juga kelihatan, malah yang mereka rasakan jalan di sini semakin jelek. Semen yang di ada di jalan ini semakin banyak lubangnya.

__ADS_1


“Eh apa kalian merasa mencium bunga kamboja rek?” tanya Gilank


“Nggak Lank, gak ada bau bunga kamboja, itu cuma halusinasimu aja karena kamu merasa ketakutan disini” jawab Wildan


“Tapi bener rek, aku juga cium bunga kamboja di sekitar sini, eh apakah selama ini aku tidak perhatikan kalau pak Handoko juga nanam pohon kamboja ya rek?” kata Tifano


“Selama disini yang kulihat cuma pohon besar macam mangga dan jambu, dan pohon lainya yang aku tidak paham sama sekali” jawab Ali


“Sik berhenti rek, jangan jalan terus, kita sudah jalan lebih dari sepuluh menit, tapi belum juga kelihatan pendopo yang dimaksud” kata Wildan


“Eh aku merasa ada yang mengikuti kita dari tadi di dibelakang rek” bisik Ali


“Sssst iya Li, aku juga merasa ada yang mengikuti kita, dan jumlahnya banyak. Tiap aku melangkah selalu ada yang mengikuti langkahku, seolah olah kakiku ini menimbulkan suara gema” bisik Tifano


Di depan mereka yang terlihat hanya gelap, bahkan cahaya bulanpun tidak nampak diantara mereka.


“Eh apa ndak sebaliknya kita balik saja ke rumah pak Han rek” tanya Tifano


“Tanggung Tif, paling juga sebentar lagi kita sampai ke tempat yang kita tuju, di depan sana aku bisa lihat bayangan bangunan, mungkin itu pendoponya rek” kata Wildan


Semakin kesini keadaan disini memang semakin aneh, jalanan yang terbuat dari cor-coran semen pun sudah banyak yang berlubang, bahkan mereka bisa lihat bayangan pohon yang rantingnya mulai berbentuk aneh, tidak selayaknya ranting pohon mangga atau pohon jambu.


Mereka juga sekarang bisa mencium bau wangi khas bunga kamboja, bunga yang wangi yang disukai oleh penulis. Kebetulan penulis berasal dari Bali, sehingga bau bunga seperti ini sudah penulis anggap biasa. Tapi bagi sebagian orang, bau ini tidak lebih dari pohon yang biasa di tanam diperkuburan.


“Eh bayangan pohon itu kok semakin aneh ya rek, sudah bukan pohon mangga dan jambu lagi kelihatanya, dahannya bengkok bengkok dan agak mengerikan” kata Gilank yang dari tadi sudah merasa aneh.


“Eh iya ya…. Aku juga merasa mencium bau bunga kamboja disini, eh Li coba kamu arahkan cahaya sentermu ke taman yang ada di samping kita ini Li” kata Wildan


“Eh banyak berdoa rek, yang didepan kita kemungkinan adalah Pocong. Setelah asap tebal yang muncul dari dalam tanah, sebentar lagi akan muncul penampakan pocong rek” kata Ali yang sudah siaga


“Apa kubilang tadi, aku sudah merasa aneh dengan keadaah disini, sejak mula kita ada di rumah pak Han itu, aku merasa bukan ada di sebuah rumah, tapi aku merasa ada di sebuah…” kata Gilank


“Kuburan!” potong Tifano


“Iyo Tif, bener awakmu chok!” kata Gilank lagi


Lambat laun asap putih yang ada di depan mereka itu berubah warna menjadi abu-abu dan kemudian asap itu berubah wujud menjadi sebuah setan permen atau yang disebut pocong, penampakanya tinggi besar dengan wajah yang tidak terlihat Karena gelap.


“Aku gak takut sama pocong, apa kalian takut dengan dia?” tanya Ali sambil menatap tajam ke arah wajah pocong yang sedang bergerak gerak aneh itu


“Disini gak ada Novi Liiiii, kalau ada Novi pasti semua akan aman lah” kata Tifano


“Ayo kita berdzikir, aku yakin kita bisa lewati pocong itu dengan santai rek, ingat kata pak Handoko agar kita tidak menoleh, maksudnya ya bisa jadi ini. kita tidak terpengaruh dengan segala sesuatu yang muncul di hadapan kita ” sahut Ali lagi


Akhirnya mereka lalui pocong yang nampak kebingungan karena mereka ndak ngereken benda putih kusam yang tadi menghalangi jalan mereka.


“Heheheh pocong itu kita prang rek, dipikir kita takut sama mereka heheh, hantu jaman sekarang ini sudah tidak ada harga dirinya wok wok wok” kata Gilank

__ADS_1


“Heheheh yok kita bikin gara gara rek. Kita Tarik kain yang membungkus tubuh pocong itu, aku penasaran dibalik kain putih kusam itu ada apa ya?”  kata Gilank lagi yang kemudian pergi ke arah pocong yang ada di belakang kami


Ketika Gilank menuju ke arah pocong otomatis mereka semua membalikan tubuh mereka untuk melihat ada siapa di belakang tubuh mereka yang mengikuti mereka semua.


“YA ALLAAAAAH….. banyak sekali penampakan yang ikut dengan kita rek!” kata Tifano


“Enaknya apa yang harus kita lakukan dengan mereka ini rek hihihihi, aku dulu kan pernah jadi hantu, kata mereka jadi hantu itu tidak enak kalau berhadapan dengan ornag yang pemberani, mereka akan jadi bulan bulanan orang yang tidak punya rasa takut” kata Wildan


“Hehehe yang ada di belalang kita ini nampaknya hanya ada dua jenis ya rek, cuman Pocong dan Kunti saja hahaha, kita kan pernah dihadang yang lebih mengerikan dari pada pocong dan kunti rek, kalau cuman mereka gini aja ya keciiil” sahut Wildan


Tapi yang nampaknya berani hanya Wildan saja, karena sejurus kemudian Tifano, Gilank dan Ali sudah gemetar ketakutan, mereka bertiga tidak berani melakukan apapun selain terdiam di gelap malam.


Senter yang dipegang oleh Ali pun terjatuh dan secara kebetulan sinar atau cahaya senter itu menyinari  area pohon yang ada di sebelah kiri mereka, kini mereka sadar mereka tidak berada di taman milik pak Handoko. Karena sinar senter yang jatuh itu sekarang menyinari batu nisan yang berjejer berantakan dengan aneka bentuk dan warna yang kusam!


“Kita ada di k..kuburan rek, kita bukan ada di halaman rumah pak Handoko” kata Tifano yang masih terpaku dengan keadaan yang makin menjadi tidak karuan ini.


“Wil, sudah gak usah main-main dengan pocong itu, kita sekarang tidak ada di dalam halaman rumah pak Han, kita ada di perkuburan yang luas” kata Gilank yang mulai bisa mengatasi rasa takutnya meskipun kuntila dia tetap ndangak ndak karuan


Gilank mengambil senter yang terjatuh, dan mulai menerangi area yang sekarang merupakan sebuah kuburan yang sangat luas. Sejauh sinar senter itu menerangi, yang ada cuman batu nisan dan pohon kamboja saja!


Kemudian Gilank mengarahkan cahaya senternya ke arah rumah pak Hamdoko, dan jelas sekali yang ada hanya gelap saja, cahaya sinar senter itu tidak bisa menerangi hingga ke rumah pak Handoko.


“Tidak ada apa-apa disini rek, yang ada hanya gelap, batu nisan, pohon kamboja yang baunya semakin menyengat dan setan-setan yang mulai berdatangan ke arah kita” kata Gilank yang mulai makin berani menyorotkan sinar senter itu kesegala arah


“Ayo kita harus segera pergi dari sini, kita harus mencari selamat rek, kita harus mencapai pintu gerbang yang harusnya ada di depan kita itu” kata Gilank lagi


Sementara itu wildan masih saja melihat ke arah pocong yang ada di depan mereka semua, pocong itu begerak gerak aneh, macam tremor gitu, tapi hal itu tidak membuat Wildan merasa takut, dia malah semakin berani untuk menyentuh dan membuka kain putih kusam yang menutupi bagian dalam dari pocong itu.


“Janchok pocong guatel asyuuu! Awas koen, gak usah nakut-nakuti aku chok!, aku juga pernah jadi setan juga chok” kata Wildan yang kemudian menendang pocong yang sudah berubah wujud menjadi nyata itu


Kemudian dengan kasar Wildan menendang lagi pocong itu hingga terjatuh, sebelum terjatuh pocong itu sempat meludah. Ludah pocong itu terkenal berbahaya karena mengandung suatu bahan yang bisa membuat korosi dan luka yang mengerikan, untungya ludah itu tidak mengenai Wildan.


Penulis hanya menulis berdasarkan cerita dari mereka ini, mereka bercerita kalau pocong yang ada di depan mereka itu berubah menjadi nyata, dan kemudian Wildan menendang pocong itu hingga terjatuh dan sekarang dia berhasil memegng tali pocong yang ada di kepalanya.


“KUTARIK TALIMU INI, DAN KAMU AKAN JADI BUDAKKU POCONG ANJHEEEENG!” Teriak Wildan kemudian menarik dengan keras tali kutang, eh tali pocong yang sedang terjatuh itu. seketika tali itu terlepas dari bagian kain yang ada di atas kepalanya.


“Sekarang kamu adalah budakku setan gobhloook!” teriak Wildan sambil mengantungi di saku celananya ikat tali pocong yang tadi ada di genggamanya


“Apa yang kamu lakukan Wil, setan itu kan mengikutimu kemana kamu pergi, dia akan menghantuimu terus Chok!” teriak Gilank yang juga sudah punya pengalaman menjadi setan


“Tenang Lank, aku gini kan juga karena diajari sama setan-setan yang ada di sekitar vila putih, kata mereka kita bisa kuasai mereka dengan mengambil talinya saja” kata WIldan


“Lha terus taline arep mbok pakek untuk apa Wil, buat ikat tali sepatu mu ta?” tanya Gilang yang agak marah dengan Wildan karena kenekatannya


“Tak simpen chok, suatu saat pocong itu pasti akan berguna buat aku Lank hihihi”


“Asyu koen iku Wil, wis sekarang pikirkan bagaimana kita bisa keluar dari area makam ini, ketoke iki makam yang luas chok” kata Gilank dengan emosi

__ADS_1


“Gimana kalu kita ikuti jalan iki ae Lank, pasti ujung jalan ini menuju ke jalan yang ada di depan rumah ini” kata Wildan dengan yakin


Sementara itu pocong yang tadi sempat diambil talinya sekarang sudah hilang, tapi sesuai dengan omongan Gilank, pocong itu akan ikut kemanapun Wildan pergi.


__ADS_2