MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 169 (TRIMO YANG LICIK )


__ADS_3

“Ya sudah mas, ayo antar kami ke atas mas, keburu tempat ini ramai” kata pak Tembol


Tiga motor berlalu dari keramaian yang ada di depan kantor pihak yang berwajib, tidak ada rasa curiga atau rasa ingin tau untuk bertanya lebih lanjut tentang mayat yang ada di depan kantor penegak hukum  diantara ketiga orang yang sedang dibonceng oleh driver gojek.


Seperti biasanya mereka turun sebelum sampai di villa putih dengan alasan yang masuk akal kepada tukang ojeknya.


*****


“Tidak ada yang aneh ketika kita pergi ke Gebang kecuali adanya mayat yang tiba-tiba muncul di depan kantor polisi tadi” kata pak Tembol


Mereka semua sarapan pecel termasuk yang tidak kasat mata juga, tapi mereka hanya menghirup aroma atau sari dari nasi pecel yang ada di depan mereka masing masing.


“Mayat siapa Mbul?” tanya pak Handoko


“Ndak tau Han, suasananya rame sekali, ojek kami sampai kesulitan untuk menembus keramaian yang ada di sana tadi” jawab pak Tembol


“Hmm ya sudah bukan urusan kita urusan kita lebih sulit dan lebih banyak heheheh” jawab Dimas


“Tapi saya merasa ada yang ganjal Dim, hanya saja saya tidak tau apa yang yang mengganjal itu” kata pak Tembol


“Kalau kata mbak Novi yang mengganjal itu adalah Kuntila Mbul hahahah” sahut pak Handoko


Pagi menjelang siang hari yang tampaknya tidak terjadi apa-apa, yang ada di dalam vila pun juga sedang berjalan-jalan disekitar halaman samping dan depan untuk sekedar meregangkan otot dan menghirup udara segar.


Bahkan beberapa saat ketiga perempuan juga diperbolehkan keluar dari vila untuk sekedar jogging di halaman samping dan belakang yang sebagian besar masih ditumbuhi oleh ilalang yang sebagian ketinggianya mencapai ukuran orang dewasa.


Tidak lupa juga pak Pho yang ada di dalam tubuh Dani dan Uki juga ada di sekitaran vila untuk menikmati udara segar setelah sarapan pecel yang tadi dibeli oleh pak Tembol dan dua orang teman mereka.


“Saya kok penasaran ya pak, tadi itu mayat siapa ya yang ada di depan kantor polisi” kata Dogel


“Kalau nak Dogel penasaran ayo kita cari informasi siapa tadi yang mati di depan kantor polisi itu” Jawab pak Tembol


“Ayo pak, setelah ini saja kita ke sana, saya kepingin jalan santai ke bawah dan naik lagi keatas sini hihihi” jawab Dogel


“Nanti saja agak sorean nak, karena kalau sore kan matahari agak serong sehingga sinarnya terkena rerimbunan daun dan pohon, jadi agak lebih dingin daripada kalau siang hari nak”


“Ya wis pak tembol sorean saja nanti kita ke bawah pak sekalian beli cemilan kacang godog atau apa gitu untuk dimakan di sini heheheh” jawab Dogel


*****


Sore hari sesuai dengan rencana mereka hanya pak Tembol dan Dogel saja yang pergi ke Gebang, selain pak Tembol penasaran dengan perempuan yang mati di depan kantor polisi juga Dogel ingin membeli cemilan untuk yang biasa melekan di ruang tengah vila.


Mereka berdua jalan di sisi vila putih tanpa ditemani oleh mbok Ju atau Sinank nang. Mereka berjalan dengan santai seolah tidak ada beban sama sekali.


“Nanti kita tanya ke siapa pak, mosok kita mau tanya ke petugas jaga  yang ada di kantor sana itu  pak?”


“Hahahaha berita pasti sudah menyebar di mana-mana nak, disini itu masih seperti di desa dan di kampung ada berita sekecil apapun pasti sudah banyak yang tau”


Mereka berdua berjalan terus hingga mereka hampir sampai di pertigaan, dan yang aneh di pertigaan itu sepertinya sedang dijaga beberapa pihak yang berwajib, mereka berdiri di pinggir jalan.


“Aneh nak, Kenapa jalan vila ini sampai diblokade pihak yang berwajib, pasti ada sesuatu yang sedang terjadi disini nak”


“Sebentar pak, lebih baik kita tanyakan saja apa yang sedang terjadi disini, apakah akan ada orang penting atau pejabat yang akan datang sehingga semua tempat harus steril pak”

__ADS_1


Akhirnya untuk menjawab rasa penasaran, mereka berdua menghampiri salah satu petugas yang sedang jaga di pojok jalan.


“Permisi pak, eh ada apa ya pak, kok jalan yang keatas ini di blokade seperti ini pak?” tanya pak Tembol


“Lho kalian berdua dari mana, dan mau ke mana?” tanya petugas


“Kami dari hutan pak, kami dari desa Bs dan saya adalah pencari madu hutan yang biasa saya jual di pasar Gebang” kata pak Tembol dengan polosnya


“Dilarang naik ke atas sana pak, karena akan ada penyelidikan di sana, tepatnya di lokasi vila putih” kata petugas yang sedang berbicara dengan pak Tembol


“Karena perempuan yang kemarin akan menjadi korban pembunuhan di sana itu itu ternyata meninggal, dan mayatnya dibuang di depan kantor polisi”


“Masak kalian berdua belum mendengar kejadian di depan vila putih, dan ditemukanya mayat di depan kantor kami pak?” tanya petugas itu heran


“Saya tau pak, saya sudah dengar, tapi kalau mayat itu adalah korban percobaan pembunuhan itu yang saya tidak tau pak” jawab pak Tembol


“Kalau kami dilarang ke hutan dan balik ke desa, lalu bagaimana kami bisa pulang, kalau harus memutar lewat sana kan bisa berjam jam baru sampai rumah pak” kata Dogel lagi


“Ya sudah untuk kalian berdua saya ijinkan lewat sini, lalu sekarang kalian mau kemana ini?”


“Kami akan ke pasar, ada yang perlu kami datangi di pasar pak sekalian kami mau beli kacang dan lainya, sampeyan mau titip apa pak?”


“Ya sudah sana cepat ke pasar dan segera balik, takutnya nanti apabila ada penyelidikan di via putih kalian tidak bisa kembali ke desa” jawab petugas itu


*****


“Kita cepat beli apa yang kita perlukan nak, dan cepat kembali ke vila, keadaan makin bahaya karena pacar Trimo sudah mati sebagai tumbal kerjasama Trimo dengan Mak Myat Mani”


Mereka secepatnya membeli kacang tanah mentah dan beberapa ubi, jagung serta singkong, setelah itu mereka kembali lagi menuju ke vila putih yang jalan menuju ke sana sedang di blokade pihak berwajib akibat dari adanya mayat Muryati.


“Tapi aneh juga pak, kenapa justru yang diselidiki itu vila putih, bukanya memanggil Trimo dan pak Handoko sebagai saksi mata?” tanya Dogel


“Nah itu nanti bisa kita bicarakan dengan teman-teman yang ada di dalam vila nak. Keadaan disini semakin kacau dengan adanya mayat Muryati. Eh coba nanti saya akan tanya lagi kepada petugas yang jaga di jalan nak, ayo kita lebih cepat jalannya”


Tangan kiri dan kanan pak Tembol penuh dengan kacang dan singkong, sementar itu Dogel sama saja. Memang mereka sengaja seperti itu agar terlihat susah payah membawa barang akibatnya mereka akan diperbolehkan lewat jalan yang tadi diblokade oleh polisi.


*****


“Permisi pak, kami akan lewat sini” kata pak Tembol kepada petugas yang sedang berjaga di jalan yang menuju ke vila putih


“Stop dulu pak. Kalian ini bawa apa kok berat sekali kelihatannya?” tanya salah satu petugas itu


“Biasa pak, kacang mentah, telo, pohong atau singkong, lalu ini ada jagung juga pak, yah pokoknya cukup untuk melekan pak” kata pak Tembol


“Kok melekan, memangnya ada yang punya kerja ya di desa sana?” sebuah pertanyaan yang menjebak dari petugas. Sebuah pertanyaan yang penuh tanda tanya


Semoga pak Tembol tidak terjebak lagi dengan perkataan sendiri sehingga tidak membuat curiga petugas polisi itu.


“Hehehe ndak ada yang punya gawe pak, ini kan bukan bulan bulan punya gawe pak hehehe, kebetulan dua saudara saya ini datang dari kota S, dan pastinya malam-malam akan kami gunakan untuk melekan sambil ngobrol kan pak”


“Oh Kalian berdua ini dari kota S, Kota S mana mas” tanya polisi itu lagi. Saya heran dengan polisi itu, kenapa semua pertanyaan selalu menjurus ke investigasi.


“Kami tinggal di bagian timur pak, tepatnya di jalan Mj pak” jawab Dogel

__ADS_1


“Lho mertua saya juga ada di daerah Mj, sampeyan di MJ mana mas?” tanya nya lagi


“Oh kami di blok E nomor 31 pak, rumah pojokan itu lho pak” jawab Dogel dengan santai. Untungnya Dogel bisa jawab pertanyaan polisi itu, untungnya dia juga hafal rumah Glewo yang waktu itu ada di kota S sebelum dia pindah ke jawa Tengah


“Ya sudah cepat kalian pergi ke desa kalian , karena sebentar lagi komandan kami akan melakukan penyelidikan di dalam vila, dan kalian jangan sampai ada disekitar sana, karena  untuk saat ini vila itu harus steril’ jawabnya lagi


Tidak menunggu lama mereka berdua dengan membawa barang belanjaan yang berat menuju ke vila putih, keadaan aneh in memaksa mereka untuk berpikir keras bagaimana agar para petugas itu tidak sampai masuk ke dalam wilayah vila.


*****


“Situasinya tidak bagus ini karena sebentar lagi akan banyak pihak yang berwajib yang berada di sekitar sini, dan apabila mereka masuk ke dalam vila maka kita yang akan tamat, kita akan terusir dari sini, dan akhirnya baik Totok atau pun Mak Nyat Mani bisa bebas melakukan apa saja disini” kata Dimas


“Tapi ada yang aneh disini Dimas, kenapa petugas itu tidak memanggil Trimo sebagai tersangkanya, kenapa mereka malah fokus penyelidikan di dalam vila ini?” kata pak Tembol


“Eh gini saja, coba mas Nang kesana, mas Nang perhatikan apa yang mereka bicarakan, kita perlu tau kenapa kok vila ini yang harus mereka selidiki, kenapa tidak memanggil Trimo” kata pak Handoko


“Ok pak, saya akan kesana sekarang, kalian tunggu kabar dari saya saja” kata Sinank Nang


“Jangan-jangan ada pesan tertulis yang mengharuskan untuk melihat keadaan vila ini, kemungkinan surat itu ada bersamaan dengan mayat yang siang ini ada disana” kata Tifano


“Nah itu dia nak Tif, kemungkinan besar ada yang menyuruh atau memberikan informasi tentang keberadaan manusia disini, sehingga mereka akan datang kesini untuk melakukan penyelidikan” jawab pak Tembol


“Bagaimana kalau seandainya kita sembunyi dulu di ruang bawah tanah?” WIldan memberikan ide


“Tidak perlu, tidak perlu hingga kalian masuk ke ruang bawah tanah, cukup kalian ada disini saja, kita masuk ke kamarku  maka para petugas itu tidak akan bisa mencari kalian , hanya saja keadaan di dalam vila ini yang sudah bersih dari debu itu yang akan membuat mereka curiga”


“Satu-satunya jalan ya tetap ada disini dan sembunyi seperlunya saja hingga mereka pergi dari sini karena jelas tidak mungkin bagi kita untuk pergi dari sini sementara itu bagian dalam vila in bersih dan rapi” kata Dimas lagi


Ketika mereka sedang membicarakan segala kemungkinan yang akan terjadi apabila polisi itu akan datang kesini, tiba-tiba Sinank nang datang.


“Satu jam lagi mereka akan kesini, karena untuk saat ini mereka sedang menunggu kedatangan Trimo, dan ternyata sekarang tersangkanya berubah bukan Trimo lagi, tersangka utama sekarang adalah mas Wildan. Saya yakin semua menjadi terbalik karena Muryati sudah mati!” kata Sinank nang


“Trimo mempunyai alibi sedang ada di rumah sakit jiwa untuk pengobatan dirinya waktu Muryati semalam dibunuh. Sementara itu saat ini pihak polisi sedang mengembangkan kasus ini dengan mencari keberadaan mas Wildan”


“Tadi komandanya juga cerita kalau mulai awal kasus sudah diyakinkan oleh Muryati dan saksi mata pak Handoko bahwa mas Wildan yang menolong Muryati dari percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Trimo, Nah disini kurang ajarnya Trimo, dia bilang kalau mas WIldan itu perampok!”


“Dan tadi juga dia bilang sedang mencari dua orang desa yang mengantar muryati ke kantor pihak yang berwajib ketika Trimo akan membunuhnya. hanya saja kata mereka, sampai detik ini belum berhasil menemukan orang desa yang mengantar Muryati itu”


“Mas Nang tadi mendapat info dari mana mas?” tanya pak Handoko


“Tadi komandan mereka sedang bicara kepada salah satu yang jaga di pertigaan, karena penjaga jalan yang menuju ke vila ini  tanya sebenarnya menunggu apa kok tidak langsung mengadakan penyelidikan saja”


“Nah komandanya cerita bahwa sedang menunggu Trimo yang saat itu ada di salah satu rumah sakit pemulihan kesehatan jiwa. Trimo yang akan menunjukan dan memberitahu bagaimana wajah dan ciri mas Wildan, dan dari mana mas Wildan muncul pada saat itu”


“Semua serba diputar balikan, karena Muryati sudah mati, dan kebetulan waktu Muryati mati Trimo punya alibi sedang ada di rumah sakit pemulihan kesehatan”


“Dia juga bilang Trimo sama sekali tidak melakukan rencana pembunuhan ketika kemarin Trimo diinterogasi tersendiri. Dia malah menuduh mas Wildan yang berusaha merampok dan memperkosa Muryati, dan Trimo juga menuduh pak Handoko adalah kaki tangan mas Wildan yang akan merampoknya”


“Nah menurut saya dengan kematian Muryati dan alibi kuat dari Trimo yang didukung kesaksian dokter yang sedang menangani trimo, maka Trimo dinyatakan tidak bersalah, dan sekarang yang dicari adalah mas Wildan sesuai dengan tuduhan Trimo itu” kata Nang selesai dengan ceritanya


Tidak ada yang komentar, tidak ada yang bicara, semua berpikir keras. Akal licik Trimo ditambah dengan ide-ide gila dari Mak Nyat Mani makin menyudutkan Wildan dan pak Handoko, apalagi pihak berwajib akan mengadakan pemeriksaan di dalam vila.


“Hmm bagaimana kalau seumpamanya saya keluar kesana dan saya akan jelaskan lagi keadaannya?” tanya pak Handoko

__ADS_1


“Tidak bisa Han, karena tidak ada saksi mata lagi selain kamu, kalau seandainya ada saksi mata selain kamu, maka kamu akan aman, dan Wildan pun akan aman, termasuk vila ini juga aman” kata Dimas


__ADS_2