
“Ada apa pak” Jawab Saeful sambil berjalan mendatangi orang yang memanggilnya tadi
“Sini kamu le hahahaha. Heh kamu tau ndak pemilk vila ini?!” kata orang yang wajahnya penuh brewok dan memakai bandana di kepalanya, serta bau mulutnya busuk sekali mirip bangkai tikus
“Waduuh saya ndak tau pak. Vila ini sudah lama kosong, bahkan sejak saya lahir sudah kosong pak” jawab Saeful seadanya
“Ah kamu bohong!” teriaknya yang disertai dengan muncratnya ludah dari mulutnya
“Kamu orang mana Le!” tanyanya lagi dengan senyum yang dipaksakan
“Saya dari desa bs pak, disana di seberang hutan sana” jawab Saeful tanpa ada rasa takut sama sekali
“Kamu asli orang sini masak ndak tau siapa pemilik vila itu” tanya nya lagi
“Mending bapak tanya aja sama yang disebelah vila itu, dia keliatanya tau soal vila ini, saya sering lihat dia masuk ke dalam sana waktu saya perjalanan dari desa ke Gebang” jawab Saeful lagi
“Ah masak sih. Dia bilang dia tidak tau siapa pemilik vila ini. Hmmm mulai main-main dia bro” kata orang itu sambil menoleh ke teman-temanya yang berwajah bengis
“Kran….Sokran, awakmu kan wis tak tugasi untuk tanya ke orang yang tinggal di sebelah iku Kran, kok jaremu dia ndak tau apa-apa soal vila iki Kran!. Lha jare arek iki orang sebelah iku sering nang vila iki!” teriak orang itu kepada temanya yang bernama Sokran
“Ndeh… aku lak wis takok cak, wonge iku gak eroh masalah vila iki!” jawab orang yang kemungkinan besar bernama Sokran itu
“Boleh saya pergi pak, sampeyan kan sedang ngobrol sama teman sampeyan pak” kata Saeful
“Sopo sing suruh awakmu pergi. Sik! sini dulu!, kamu jawab dulu pertanyaanku!” kata orang yang masih memegang lengan Saeful
“Le awakmu iki penduduk asli kene opo pendatang? Nek asli kene awakmu punya bapak ibu to!” tanya orang yang memakai bandana itu lagi
“Punya pak, tapiiiiii..tapi mereka ada di kota pak, saya disini tinggal sama adiknya paman dari kakak bapaknya saudara saya, saudara saya itu adalah adik bungsunya dari kakaknya adiknya bapak saya pak” jawab Saeful makin menjadi jadi
“ARRRGGHHH jangan main main sama aku cah cilik!... Tak santet modiar koe!” teriak orang itu makin emosi sambil memegang lengan Saeful makin erat
“Sampeyan mau nyantet saya pak. Terus ngirim santetnya pakek pos kilat atau regular pak. Saran saya agar cepat sampek, pakek jasa paket yang sehari sampek saja pak” jawab Saeful semakin gendeng
“HAHAHAHAHAH BRODEN DIKERJAI AREK CILIK REK HAHAHAH!” teriak temanya yang sedang merokok di dekat pagar vila
“Mhhh kamu mulai main-main karo aku yo bocah, nek tak pites nanges-nanges kamu bangsad!” kata orang yang memakai bandana yang ternyata bernama Broden itu
“Sampeyan iki lak biduane NEW PALAPA ya pak… aku suka lagune sampeyan yang judulnya TABIR KEPALSUAN pak sing lirike
‘Ku tahu kau terjerat dan terbenam Dalam kepalsuan, Cinta tak dapat lagi membedakanSiapa dan yang mana
“JANCHOOOK! Kakehen cangkem arek ini. tak bunuh kamu disini chok!” teriak orang yang bernama Broden itu
“Deeeen sabar rek, arek cilik kok mbok lawan, lawanmu itu nanti malam, demit yang ada di vila iki Den” kata orang satunya yang berusaha menenangkan Broden.
“Dik, sana kamu pergi sana dik, dari pada Broden ngamuk lagi gara-gara omonganmu itu” kata orang yang tadi menenangkan Broden
“Eh kalian ini sebenarnya mau ngapain sih bapak-bapak?” tanya Saeful
“Kami kesini karena mau masuk ke vila itu dik. Kamu tau ndak siapa pemilik vila ini dik?” kata orang yang tadi menenangkan Broden itu
“Wah saya tidak tau pak, tapi orang yang di rumah sebelah itu selalu ada di dalam vila ini pak, saya kan sering lewat jalan ini siang dan malam pak” jawab Saeful
__ADS_1
“Hmmm ternyata dia membohongi kita Bro” kata orang itu kepada teman-temanya.
“Maaf pak, lho bukanya sampeyan ini satu grup sama yang ada di rumah itu, karena disana keliatanya sedang ada rapat pak, coba saja sampeyan ke sana pak” kata Saeful lagi
“ya nanti kami akan kesana dik, kalau adik ini kenapa lewat sini dik, kok ndak lewat jalan yang disana itu kalau memang desanya adi ada di balik hutan ini?” tanya dia lagi
“Kalau lewat sana kan memutar pak, kejauhan, saya capek jadinya pak, kalau lewat hutan kan lebih dekat pak”
“Sebenarnya ada apa sih pak di vila ini, kok minggu-minggu ini banyak orang yang datang kesini, tapi setahu saya orang yang datang kesini selalu diusir sama yang punya rumah disana itu pak” Saeful mulai mengadu domba
“Apa bisa dipercaya omonganmu dik?” tanyanya lagi
“Tapi ada benarnya mereka yang masuk ke kesana itu diusir pak, karena katanya kalau ada orang yang masuk ke sana selalu mati, dan kadang mayatnya hilang begitu saja pak” kata Saeful
“katanya lagi, di dalam vila itu banyak demit jahatnya pak, jadi kalau kalian cuma istirahat disana ya lebih baik urungkan saja pak, cari tempat istirahat lainya saja pak” sambung Saeful
“Kalau bapak ndak percaya coba saja bapak nanti masuk ke sana, tapi ketika yang punya rumah itu ada di dalam itu juga, pasti nanti sampeyan disuruh keluar dari sana pak” kata Saeful tanpa merasa bersalah sama sekali
“Hmm ya sudah le, sana kamu pergi sana. Nanti saya akan coba untuk mendatangi pemilik rumah yang ada di sebelah vila itu le” kata orang itu lagi.
“Iya pak. Pokoknya kalau kalian mau masuk ke vila ini jangan lupa untuk minta ijin kepada pemilik rumah yang ada di sebelah vila ini pak” kata Saeful yang dengan santai melanjutkan perjalanan menuju ke gebang dan mencari polisi yang sering datang ke masjid
Ternyata Saeful tidak langsung turun ke Gebang, di beberapa belas meter ke depan dia turun ke jurang, dan kembali ke tempat orang-orang itu untuk mendengarkan apa saja yang mereka sedang bicarakan
Perlahan-lahan Saeful berjalan hingga dia dekat dengan tempat orang-orang yang tadi sempat bicara dengan Saeful tadi.
“Broden…. Sebenarnya yang order kita ini siapa, dan kenapa kita disuruh menunggu di depan pintu vila?”
“Ngene lho Sokraaaaan, aku waktu itu kan lagi ada pasien yang minta pengobatan, tiba-tiba pasien perempuan itu ndak jadi minta penyembuhan untuk suaminya yang kena santent, dia malah kasih aku uang sebanyak satu dos mie instan, dan minta empat orang yang paling jago untuk datang ke vila putih siang ini” jawab Broden
“NGAWOR AE COCOTMU DIIII SARMIDI!.. kita ini punya kode etik, tidak akan pergi sebelum pekerjaam rampung, nek awakmu pancen mau balik yo sini uangnya kembalikan, tak cari teman yang niat lainya lagi ae” kata suara yang merupakan pemilik nama Broden itu
“Ngene ae lho Den… coba kamu ke rumah yang ada diselahnya itu, tanyakan lagi ae siapa pemilik vila iki, dan bilang kalau kita disuruh kesini dan ada yang membiayai kita kesini, tapi dari pagi hingga siang ini kita belum tau siapa yang suruh kita ada disini” kata orang yang bernama Sokran
“Nak Saeful, mbok Ju rasa mereka ini suruhanya Trimo, padahal Trimo ada di rumah sebelah, tapi kenapa dia tidak menemui empat orang ini ya nak?” bisik Mbok Ju
“Nah itu yang aneh mbok, benar juga kata anak-anak Sutopo, orang-orang ini mungkin hanya pengalihan saja, agar kita ramai-ramai melawan empat orang ini, sedangkan mereka yang ada di rumah Supardi itu yang akan melakukan aksi yang sebenarnya”
“Lebih baik sekarang nak Ipul segera lapor polisi saja nak, nanti setelah lapor polisi kita kesini lagi untuk mengetahui apa yang akan mereka kerjakan nak” kata mbok Ju
Akhirnya Saeful menuruti kemauan mbok Ju untuk turun ke Gebang guna lapor ke aparat penegak hukum yang ada di Gebang. Setelah melakukan pelaporan dan setelah didata oleh pihak kepolisian, Saeful kembali ke tempat dia tadi memantau.
“Mbok Ju, di depan pagar vila ini sudah sepi, kemana semua mereka mbok?” tanya Saeful kepada mbok Ju
“Sebentara nak, mbok lihat dulu kemana mereka semua nak. Mbok curiga mereka semua sudah masuk ke dalam vila itu” kata mbok Ju yang kemudian hilang dari samping Saeful dan mencari orang-orang yang tadi ada disini.
Saeful sedang berpikir keras apa yang harus dilakukan disini, sementara dia ada di luar ruangan biru. Seharusnya mumpung dia ada disana dia harus melakukan sebuah tindakan yang asik asik.
“Mereka semua ada di dalam halaman vila nak, dan mereka sekarang sedang menyebar di sekitar vila, hanya saja mereka belum masuk ke dalam vila. Keliatanya mereka sedang mengamati keadaan disana sebelum aksinya nanti malam” kata Mbok Ju yang tiba-tiba datang
“Saya ada pikiran untuk berbuat sesuatu mbok, berbuat sesuatu kepada orang-orang yang ada di sebelah itu mbok, terutama kepada Trimo dan Kaswadi” gumam Saeful
“Ayo nak, saya dendam sekali dengan Kaswadi yang telah menelantarkan anak Istrinya hanya demi perempuan yang bernama Kurni itu nak” kata mbok Ju
__ADS_1
“Gini saja mbok Ju, saya akan naik ke atas dan jalan menuju ke arah rumah yang ada di sebelah itu, kemudian saya akan cari perkara disana, nanti setelah semua pada keluar dari rumah itu, mbok Ju datangi yang bernama kaswadi”
“Kemudian kasih tanda kepada saya mana yang bernama Kaswadi, akan saya buat dia marah hingga dia akan berbuat sesuatu kepada saya. Setelah itu terserah mbok Ju mau apakan dia mbok heheheh” kata Saeful
“Lho bukanya nak Saeful sudah pernah ketemu dengan Kaswadi nak, ketika saya rasuki tubuh itu dan kemudian nak Saeful, nak Broni, dan nak Novi ada di parkiran mobil, dan saya yang merasuki Kaswadi minta makan dan minta minum itu, masak nak Saeful sudah lupa” kata mbok Ju
“Oh iya hahahahah waktu kita serang dukun palsu itu ya mbok. Iya ding, kemudian mbok Ju yang bersama tubuh Kaswadi pergi setelah mbak Novi memamerkan yang ada di dalam tubuhnya itu” kata Saeful
“Hehehe iya nak, tapi kan setelah itu mbok Ju sadar, tapi waktu itu mbok Ju masih ada di dalam tubuh Kaswadi nak heheheh tdjuiih...” kata mbok Ju
“Ya sudah, sekarang kita lanjutkan misi kita mbok. Eh tapi apakah Kaswadi nanti tau dengan saya mbok, kan dia sudah liat saya waktu itu Mbok?”
“Tenang saja nak, Dia tidak akan ingat, karena waktu itu yang control tubuh Kaswadi adalah mbok Ju sendiri, jadi dia tidak akan ingat apa yang telah dia lakukan nak heheheh” jawab Mbok Ju
“Sore ini harus bisa bikin dia susah lho nak, karena kalau malam Trimo dan Kaswadi akan balik ke hotel tempat mereka menginap, yang bikin mbok jengkel itu kenapa bisa mereka ketemu dengan Supardi dan melakukan kerjasama disana” kata mbok Ju
“Wah kalau bagaiman mereka bisa bekerja sama itu yang saya tidak paham mbok, tetapi apakah mereka bekerja sama atas perintah Totok atau tidak, itu yang paling penting mbok. Karena apabila Totok tidak tau apa yang mereka lakukan, maka bisa-bisa Totok marah besar mbok” kata Saeful
“Heheheh itu bisa kita jadikan senjata nak, nanti kita bicarakan di ruangan biru saja nak, yang penting sekarang kita lakukan dulu bagian senang-senangnya nak hehehehe” kata mbok Ju
Saeful begerak naik ke jalan diikuti oleh mbok Ju yang hanya melayang saja, mereka kemudian menuju ke arah rumah Supardi yang ternyata di sana masih terdapat beberapa mobil yang terparkir. Saeful kemudian berjalan dengan santainya ke arah rumah Supardi.
Pasti nanti dia akan bertemu dengan dukun palsu yang sempat dia temui sebelumnya bersama tiga temanya yang mati karena terkena lemparan batu dari novi itu.
Dia berjalan santai hingga dia sampai di depan pagar rumah Supardi, kebetulan pintu rumah itu masih terbuka dan terdengar dari luar suara-suara ketawa dari dalam rumah.
“Apa yang harus aku lakukan hingga mereka yang ada disana akan keluar dari rumah itu? atau aku akan melaporkan bahwa di vila ada beberapa orang aneh yang masuk ke area dalam vila…. Gitu aja kayaknya lebih enak dan tidak bikin orang curiga” gumam Saeful
Saeful berdiri di depan pintu pagar rumah Supardi, dia kemudian mengetuk-ketuk pintu pagar dengan menggunakan batu, agar yang ada di dalam rumah tau bahwa ada orang di depan pagar.
“PERMISIIIIIIIII” teriak Saeful dari luar sambil dia mengetuk-ketuk pagar rumah Supardi. Setelah beberapa kali panggilan, ternyata bukan pemilik rumah yang keluar, tapi Kaswadi bersama dengan orang yang agak gemuk dan berpenampilan norak keluar dari rumah itu
“Ya ada apa mas, cari siapa” tanya orang yang bernama Kaswadi
“Saya cari pemilik rumah ini mas, karena saya mau melaporkan sesuatu” kata Saeful dengan santainya
“Pemilik rumahnya sedang ke Gebang, ada yang bisa saya bantu mas, saya adik Supardi” kata Kaswadi yang mengaku adik supardi sambil jalan menuju ke pagar
“Saya mau melaporkan kalau di sebelah itu, di vila itu ada beberapa orang yang aneh dan mengerikan pak, dan kemungkinan mereka akan melakukan sesuatu disana” kata Saeful lagi
“Masak sih mas, di mana mereka itu” tanya Kaswadi sedikit berbohong agar terjadi alibi kalau Kaswadi tidak tahu menahu masalah yang ada di vila putih
“Ayo kesini pak, lebih baik bapak lihat dulu saja. Kalau tidak, saya akan ke Gebang dan lapor kepada Polisi kalau ada orang aneh yang ada di vila putih kosong itu” kata Saeful yang cerdas otaknya
“Gak usah bikin repot polisi mas, mending kita lihat dan kita usir mereka saja mas. Kaswadi, sana kamu dan mas itu, lihat apa yang terjadi di vila putih!” suruh orang yang agak gemuk
“Lha kok aku sih Trim. Kamu apa ndak ikut lihat juga?” tanya Kaswadi
“Ndak usah Kas, aku jaga rumah ini saja, soalnya kan saudaramu Supardi lagi ke Gebang Kas” jawab orang yang dipanggl Trim oleh Kaswadi
Akhirnya Saeful dan Kaswadi berjalan menuju ke arah vila putih, tepat di jalan perbatasan antara vila putih dan rumah Supardi ada lubang yang kucup dalam. Tiba-tiba mbok Ju yang dari tadi ada di belakang Kaswadi mendorong orang kurus itu hingga terjerembab di tengah jalan.
Dengan secepat kilat mbok Ju melakukan sesuatu pada daerah selangkhangan Kaswadi yang saat ini sedang teriak kesakitan.
__ADS_1
saya kok jadi malas nulis ya... kok ada orang yang membodoh bodohkan saya seperti ini...