MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 108 (KE RUMAH PAK HAN)


__ADS_3

“Hmmm jadi seperti itu ya nak Novi, yang disana itu bukan Haris seperti yang saya tau selama ini, yang tinggal disana adalah anak Kamidi?” tanya pak Tembol tidak percaya dengan yang dikatakan oleh Novi


“Kemudian yang sekarang siuman itu Supardi anak Kamidi ya nak Ngot?” tanya pak Tembol


“Iya pak, yang disana, yang tadi Novi lempar batu kepalanya itu Supardi anak Kamidi pak, nanti kapan-kapan bapak liat saja di rumahnya, di bagian belakang ada galian yang akan tembus ke vila putih pak” kata Novi


“Kedua kasus ini menarik, karena di lain pihak Totok sedang mencari kekuatan dengan rencananya mambunuh tiga anak perempuan itu, sedangkan di masa ini Totok ingin mencari harta yang paling berharga yang ada di rumah putih. Yaitu air keabadian sesuai dengan omongan pak Pho” gumam pak Tembol


“Pak Tembooool tolong perhatikan saya pak. Orang yang disana itu sudah mulai siuman pak, ada baiknya kita segera pergi dari sini pak” kata Ngot lagi


“Heheheh tenang aja mas, akan Novi buat tidur lagi orang itu, kita kan belum selesai ngobrol dengan pak Tembol mas” kata Novi sambil berlari dengan cepat kearah rumah Supardi


“Hehehe sudah tidur lagi mas, sudah aman, kita bisa lanjutkan bicara pak Tembol” kata Novi yang barusan membuat tidur kembali dua orang yang tadinya sempat siuman itu dengan sekali pukul saja.


Kedua anak Bluekuthuq Petro dan Dogel hanya memperhatikan pak Tembol dan Novi bicara, karena mereka berdua jelas tidak paham apa yang sedang dibicarakan oleh Novi dan pak Tembol. Sesekali mereka berbisik satu sama lain.


“Nah begini nak Novi, permasalahan kita ini berbeda, tetapi tujuan kita sama, yaitu membunuh Rochman agar dia tidak melakukan tindak kejahatan lagi. Namun kita harus kerjakan masalah ini masing-masing. Karena apabila misi ini kita gabungkan maka akan menambah beban salah satu dari kita nak” kata pak Tembol


“Iya pak… Novi paham pak, permasalahan bapak dan kalian itu adalah melindungi mbak Winna, Chandra dan Chinta  agar Totok tidak bisa ambil energi yang ada di dalam tubuh mereka bertiga”


“Sedangkan misi Novi dan anak-anak Sutopo ini melindungi vila putih dari mereka yang akan mengambil sesuatu di dalamya pak, dan untuk saat ini yang baru ketahuan muncul adalah Totok atau Rochman, Supardi, dan Dukun suruhan Trimo” kata Novi


“Jadi kita berpisah gitu ta pak Tembol?” tanya Novi dengan kecewa


“Iya nak Novi, kita lebih baik kerjakan misi masing-masing dulu saja, meskipun tujuan kita sama, karena pr kami masih harus membangunkan nak Blewah yang masih tertidur, dimana arwah dia sedang tidak ada di raganya” kata pak Tembol


“Berarti koyok Wildan dulu itu ya pak. Waktu nyelamatkan Ibor?” tanya Broni


“Betul mas Broni, tapi kan waktu itu bukan saya yang bertindak, melainkan Tembol yang palsu heheheh” kata pak Tembol dengan ramah


“Oh iya tolong rahasiakan pertemuan kita ini dengan temanmu lainya, takutnya nanti Handoko dengar kalau kalian baru bertemu dengan saya. Pokoknya saya, nak Novi, dan nak Broni suatu saat nanti bisa bersama-sama dengan teman yang lainnya lagi, apabila misi ini sudah bisa kita selesaikan” kata pak Tembol


“Ehh sebetulnya bapak curiga dengan pak Handoko itu kenapa pak, apa bapak pernah ketemu dengan yang namanya Handoko” tanya Novi


“Ehhmm saya akan ingat-ingat dulu nak, pokonya saya pernah ketemu dengan dia, tapi bukan di misi kita yang sebelumnya, tapi hanya saya sendiri waktu itu nak”


“Oh iya, nak Petro tadi sudah bertukar nomor telepon dengan nak Novi kan, dan ingat nak Novi, ada kejadian apapun, nak Novi bisa langsung hubungi nak Petro, agar semua bisa diselesaikan dengan baik” kata pak Tembol


Setelah itu mereka pergi ke tujuan mereka masing masing, pak Tembol pulang ke Mjkt sedangkan Novi dan ganknya harusnya kembali ke ruangan biru. Tapi ndak tau lagi nanti, apakah mereka akan pulang atau ke rumah Supardi lagi.


Mobil dan motor yang dikendarai pak Tembol dan teman temanya berjalan menuruni kaki gunung menuju ke arah Gebang, saat itu sudah pukul 02.01 pagi. Begitu pula dengan Novi, Broni, dan Saeful, mereka harusnya kembali ke ruangan biru tetap keliatanya mereka tidak ke sana.


“Yah pertemuan dengan pak Tembol yang singkat mas Bron heheheh. Dan sayangnya ketiga mahasiswa itu tidak ingat kepada kita mas” kata Novi


“Iya Nov, apalagi mereka minta kita rahasiakan pertemuan ini kepda teman-teman kita dengan alasan hanya karena ada pak Handoko. Eh sebenarnya kamu sempat curiga dengan dia apa tidak Nov?” tanya Broni


“Nggak mas, Novi sama sekali tidak curiga dengan pak Han mas” jawab Novi


“Saya yang juga curiga dengan pak Handoko mas..mbak” kata Saaeful tiba-tiba

__ADS_1


“Bagaimana kamu bisa curiga dengan pak Handoko mas Pul, padahal kan kamu juga barusan kenal dengan dia mas” kata Novi kepada Saeful yang berpenampilan gagah memakai sarung dan peci itu


“Waktu kita bertemu dengan Bawok, dia sempat tanya saya. Apakah saya adalah anggota dari kalian. Saya jawab bukan, saya adalah penjaga masjid di daerah Gebang, kemudian dia tanya lagi kepada saya mbak”


“Apakah saya tau kalau orang tua yang bersama kita itu sempat menyerap energi dari embrio totok yang meledak dan Terbakar itu, ya saya jawab tidak tau. gitu mbak yang ditanyakan oleh Bawok” kata Saeful


“Jadi pak Handoko mengambil energi yang terbakar ketika dia membakar milik Totok yang berharga itu. lalu apa tujuannya, kenapa dia ambil energi yang ada disana?” gumam Broni


“Eh Nov, coba kamu hubungi teman kita yang ada di rumah pak Han, aku kok jadi khawatir dengan mereka yang ada disana Nov” kata Broni


Novi mengambil ponselnya dari pakaian dalamnya, eh lebih tepatnya ponsel Novi di kalungkan dan dia taruh diantara sepasang miliknya yang mungkin tidak asli hihihihi


“Waaah Nov, ponselmu mbok taruh situ thoo, tau gitu biar aku aja yang ambil Nov heheheh” kata Broni


“Gak boleh gitu mas Broni, ndak baik berkata kata kasar seperti itu di hadapan perempuan yang cantik iki” kata Saeful yang mendadak menyela omongan Broni


“Hihihi iya mas Bron, benar apa kata mas Saeful ini. kalau mas Broni merasa menghormati wanita seperti menghormati ibunya mas Broni, seharusnya mas Broni tidak berkata begitu kepada Novi mas hihihihi” kata Novi


“Hufff, gara-gara kamu pull pull Ipul” kata Broni


Ponsel milik Novi ini tidak pernah dinyalakan, karena dia gunakan apabila keadaan benar-benar darurat, sehingga batreinya tidak pernah habis. ponsel itu hanya dia gantungkan dilehernya dan dia selipkan di balik Branya heheheh.


Beberapa kali Novi mencoba menghubungi ponsel Ali yang sekarang ada di tempat tinggal pak handoko, tapi ponsel Ali dalam keadaan mati. Kemudian Novi menghubungi ponsel lainya, tapi sama saja mati juga.


“Ponsel mereka mati semua mas, apa mas Broni tau nomor teleponya pak Handoko?”


“Aku jelas ndak tau Nov, yang tau kan Ali atau Wildan, mereka kan nyimpen nomor telepon pak handoko waktu itu” jawab Broni


“Atau gini saja Nov, kamu sms saja, jangan Wa karena kalau Wa bisa saja tidak sampai. Mending sms mereka saja, katakan segera balas dan penting, jangan panjang lebar, nnati malah bikin pak Handoko curiga” kata Broni


“Ok mas, Novi bilang aja segera hubungi kita dan penting gitu aja ya mas?” kata Novi sambil mengetik  kata-kata untuk segera dikirim ke ponsel milik Ali yang sekarang ada di rumah pak Handoko.


“Nah sekarang apa yang akan kita kerjalan disini, apakah kita ke ruangan biru atau gimana ini Nov?” tanya Broni


“Mas Bron, perasaan Novi kok gak enak ya terhadap teman-teman yang bersama pak handoko, harusnya mereka kan jam segini udah balik mas, kenapa sudah hampir pagi gini mereka belum juga datang kesini mas?”


“Saya juga merasakan yang sama mbak Novi, saya juga merasa ada yang tidak beres dengan mereka mbak. Pertama mereka tidak datang juga hingga jam segini, kedua ponsel yang mereka bawa mati. Dan yang namanya pak Handoko kan sebenarnya bukan tipe orang yang suka mengulur waktu” kata Saeful


“Maksudnya mengulur waktu itu bagimana pul ipul” tanya Broni


“Buwegini mas, meskipun saya baru kenal dengan beliau, tapi saya bisa menilai pak Handoko itu orang yang selalu ingin segala sesuatunya itu tepat dan sempurna, dia tidak akan mengulur waktu hanya untuk melihat dokumen milik kalian itu” kata Ipul


“Tapi saat ini harusnya untuk melihat dokumen hanya memerlukan waktu tidak lebih dari satu jam disana, dan katakanlah perjalanan pulang pergi memerlukan waktu enam jam paling lama, harusnya jam segini mereka sudah ada disini mas” sambung Saeful lagi


“Hmm benar juga jaremu iku Pul. Nov gimana ini apa kita cari mereka atau gimana, karena kemungkinan besar mereka ada di rumah pak Handoko” kata Broni


“Gimana mas Broni bisa yakin mereka kini ada di rumah pak Handoko mas?” tanya Novi


“Pertama mereka harus sampai disana untuk melihat dokumen milik kita kan, jadi mereka harus bisa sampai disana apapun yang terjadi kan. Kedua mereka tidak akan kembali apabila ada sesuatu yang terjadi disana Nov”

__ADS_1


“Ada lagi alasan yang membuat aku yakin mereka ada disana Nov, mobil kamu termasuk keluaran terbaru, driver adalah Wildan yang tidak suka ngebut sama sekali, jadi kemungkian ada masalah dengam mobilmu jelas tidak mungkin Nov. jadi harusnya jam segini  harusnya mereka ada di sini” jelas Broni


“Iya mas, benar juga apa yang mas Broni katakan itu mas. Kalau kita kesana lalu kita naik apa mas. Sedangkan mobil Novi kan dibawa sama mereka mas?” kata Novi


“Eh bagaimana kalau naik motor saja mas mbak. Saya ada motor di masjid” kata Saeful


“Eh memangnya itu motor siapa mas Ipul?” tanya Novi


“Milik Saya sendiri mbak, saya punya motor matik yang saya simpan di masjid, kalau-kalau suatu saat saya pakai untuk keadaan yang mendesak mbak”


“Gini saja Nov, aku ke ruangan biru, siapa tahu didalam sana butuh bantunku, kemudian kamu dibonceng Saeful menuju ke kediaman pak Handoko, kamu masih hapal kan jalannya Nov?”


“Masih sih mas,  giman mas Ipul, mau gak bonceng Novi mas hihihi” kata Novi dengan senyum menggoda


“Ehm..m..mau mbak… mau mbak.” Jawab Saeful gerogi


“Lho jangan gerogi gitu dong mas Ipul bisa bahaya nanti di jalan mas, anggap aja mas Ipul sedang bonceng teman cowok mas Ipul aja heheheh” kata Novi lagi


“I…Iya m…mbak. Saya soalnya belum pernah bonceng cewek cantik macam mbak Novi gini” kata Saeful lagi


“Ya udah di pernahin aja dengan bonceng Novi mas, gimana, pokoknya kita harus ada disana secepatnya mas, karena Novi harus peringatkan teman Novi secepatnya mas”


“I..iya udah mbak, t,,tunggu disini ya, saya mau ambil motor di masjid” kata Saeful yang akan menuju masjid


“Jangan mas, kita bareng-bareng aja, kelamaan kalau harus wira wiri mas, lagi pula habis ini mas Broni akan kembali ke ruangan biru”


“Yuk sekarang ajak ita ke Gebangnya, mas Bron Novi tinggal dulu ya mas, tolong nanti sampaikan ke mas Dani dan mas Ukik ya” kata Novi yang kemudian berlalu menuju ke Gebang bersama Saeful.


Sampai disini mereka berpisah dengan Broni yang menuju ke ruangan biru. Apakah yang dilakukan oleh Novi itu merupakan keputusan yang tepat?


Apakah tidak ada jalan lain untuk mengetahui keadaan teman mereka tanpa harus Novi menempuh jarak yang tidak bisa dikatakan dekat itu. Sebenarnya mereka bisa lebih cepat dengan melewati jalur Pct, dari sana nanti ke arah Mjkt, dari mjkt kemudian ambil jalur ke Jmbng dan seterusnya…


Tapi apabila lewat jalur Pct malam-malam gini ya jelas mengerikan lah heheheh, mereka akan melewati hutan dengan jalan yang naik turun, tapi nanti ya terserah mereka berdua mau lewat jalur normal yang pasti lebih jauh atau lewat jalur Pct yang bisa memotong hingga beberapa belas km sendiri.


*****


“Mbak Nov mau lewat jalur mana mbak, lewat Pct yang bisa lebih cepat setengah jam atau lewat jalur umum?” tanya Saeful yang memegang kemudi motor matiknya


“Kalau lewat jalur Pct tentunya akan lewat hutan yang mengerikan mbak. Saya sih ndak takut mbak, gimana?” tawar Saeful


“lewat Pct saja mas Ipul, kita hadapi semua yang aneh-aneh di jalan nanti” jawab Novi


Akhirnya mereka lewat prgn dan kemudian mereka akan bertemu dengan hutan yang tidak main-main sepi dan angkernya heheheh, tapi kan Novi sudah biasa menghadapi hal-hal yang mengerikan, jadi perjalanan itu mungkin tidak seberapa menakutkan lah.


Yang bahaya malah cara mengemudi Saeful yang agak ragu-ragu, keliatanya dia agak gerah kalau terkena payudhara Novi, sehingga beberapa kali Saeful harus maju dari posisi duduknya ketika punggungnya terkena benda lunak palsu milik Novi itu hihihihi.


“Mas Ipul kenapa sih kok cara bawa motornya kayaknya kagok gitu, terus ngapain kok duduknya sekarang ada di ujung sadel motor mas hihihi” tanya Novi


“Nganu mbak, saya tidak biasa membonceng perempuan mbak, nganu… eh duduk saya maju karena mbak Novi terlalu mempet dengan punggung saya, eh ada baiknya mbak novi agak mundur dulu mbak” jawab Saeful

__ADS_1


“Iiiiiih mas Ipul ini deh, masak kena dikit aja gak boleh mas, Novi kan kedinginan mas. Gimana kalau mas Ipul Novi rangkul di pinggang” tanya Novi


“Eh kalau mbak Novi kedinginan ya ndak papa wis mbak, Saya nurut mbak Novi saja lah” kata Saeful yang mengemudikan motor ke arah Pct.


__ADS_2