MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 97 (RENCANA NOVI)


__ADS_3

Pagi hari pukul 06.00, matahari mulai masuk melalui celah celah batu dan lubang yang memang sengaja dibikin agar s uasana didalam ruangan biru ini tidakterlalu gelap dan tetap terkena cahaya matahari


Mereka semua sedang berkumpul d ruang tamu ruangan biru yang lumayan luas. Mereka membicarakan tentang kejadian semalam dan rencana hari ini, dan rencana pak Handoko untuk pulang ke rumahnya


Untuk sementara ini mungkin tidak ada yang terjadi lagi di ruang bawah tanah, karena saat ini Supardi ketiban sampur untuk merawat dua orang dukun yang tadi sempat pingsan setelah mendapat serangan batu dari Novi.


“Novi belum puas sebelum membuat Supardi itu juga pingsan pak, karena dia sudah bohong dengan kita, dan ternyata sifatnya persis dengan bapaknya yang mudah sekali berpaling apabila ada yang lebih menguntungkan”Kata Novi


“Anak-anak, karena saat ini belum ada yang berbahaya, ada baiknya kita balik dulu ke rumah saya. Karena sudah beberapa hari ini kita jauh dari benda yang kalian simpan di rumah saya itu” kata pak Han


“Tapi harus ada yang disini pak, karena masih banyak yang berminat untuk mencari benda yang ada di dalam vila ini pak” kata Ali


“Ok baik, kita bagi saja yang akan ke rumah bersama saya dan yang ada disini bersama pak Pho”


“Novi saja yang disini pak, bersama mas Broni, karena tadi kan kita sudah tau seluk beluk rumah Supardi, jadi nanti apabila ada sesuatu maka Novi dan mas Broni tidak susah-susah lagi untuk mendatangi Supardi pak” kata Novi


“Baiklah, kalau begitu mbak Novi dan mas Broni, mas Saeful bersama mas Dani dan mas Ukik disini bersama pak Pho disini , sisanya ikut saya ke rumah saya, siapa tau saya butuh bantuan kalian” kata pak Han


Akhirnya dibagi tugas. Dani, Ukik, Broni, Novi, dan Saeful tinggal di vila putih. Sisanya Wildan, Ali, Tifano, dan Gilank yang masih ngatjeng, bersama pak handoko menuju ke rumah pak Han.


“Siapa yang masih bawa ponsel?” tanya pak Handoko


“Punya Novi pak, masih hidup kok, tapi kalau mau teleppon harus keluar dulu pak, disini tidak ada sinyal sama sekali “ sahut Novi


“Ndak papa mbak Novi, pokoknya kita tiap dua jam sekali harus kasih kabar pakai sms atau pake Wa, agar kita bisa update keadaan masing masing”


“Emh mas Saeful, nanti kalau saya ambil mobil harus ketemu siapa mas?” tanya pak Handoko


“Nanti bisa cari Mustopha pak, dia yang saya serahin untuk jaga mobil bapak, saya juga udah minta ijin anak-anak masjid untuk kesini pak heheheh” jawab Saeful


“Oh iya pak, nanti tolong masukan uang ke kotak infak sekedarnya ya pak, yah sekedar untuk biaya parkir di sana pak hehehe” lanjut Saeful


Setelah masing masing paham dengan tugasnya, kemudian pak Han dan rombongan pagi itu pun balik ke tempat tinggal pak Handoko.


*****


“Kita tidak bisa hanya diam disini saja mas, karena kita harus tetap menyetop kegiatan Supardi kan, kalau bisa melenyapkan dia juga, dia itu bahaya, bisa berpaling ke siapa saja yang dia anggap menguntungkan” kata Novi


“Mas Dani dan mas Ukik kalau tinggal berdua dengan pak Pho ndak papa kan, karena Novi dan mas-mas ini akan bikin ulah dengan Supardi mas” tanya Novi


“Ndak papa Nov, pokoknya kalian harus hati-hati, karena pastinya Supardi akan lebih fokus kepada hal-hal yang mungkin bagi dia itu aneh” kata Dani


“Kapan kalian akan ke lumah Supaldi lagi anak-anak?” tanya pak Pho yang ada di dalam tubuh Dani

__ADS_1


“Malam ini pak, malam ini Saeful akan bikin ulah lagi, tapi siang ini dia akan jalan ke arah atas dan melalui rumah Supardi untuk lihat keadaan disana pak” jelas Novi yang sekarang nampaknya mulai menunjukan kuntil.. eh taringnya


“Ok ai setuju dengan ide kalian anak-anak, dan ada baiknya kalian lebih hati-hati lagi dengan itu olang, bisa bahaya kalau telowongan meleka bisa tembus ke luang bawah tanah ini anak-anak” kata pak Pho


“Eh Nov,  gak kepingin cari Kaswadi ta Nov” tanya Ukik


“Iya ya, kita kok ndak ke gubuk reyot itu ya, tapi nanti sajalah nunggu  pak Han datang, nanti kita malah bingung mau dikemakanan Kaswadi kalu udah ketemu mas, apalagi dia kan udah lama ndak ketemu istrinya, bisa-bisa dia ngatjeng liat Novi mas hihihihi”


“Tambah gendeng ae pikiranmu Nov, kuntilamu lhooo kondisikan biar gak bikin ngatjeng terhambat, dan akhirnya yang terjadi adalah ngatjeng gembuk Nov heheheh” tukas Ukik


“Siang ini Saeful akan jalan ke atas pak, dan tentu saja Novi dan mas Broni akan mengawal Saeful pak, agar tidak terjadi apa-apa dengan dia pak” kata Novi kepada pak Pho


Siang hari tepat pukul 13.00 siang, Saeful ditemani Novi dan Broni mulai keluar dari ruangan biru, pertama Saeful akan ke tempat mobil dukun itu diparkir, untuk melihat apakah orang yang bernama Matdra’I itu masih ada disana


atau sudah dievakuasi.


Kemudian setelah itu menuju ke rumah Supardi untuk mencari masalah dengan kedua dukun palsu yang sok metal itu hihihih. Rencana mereka siang ini pokoknya cari masalah saja, dan untuk eksekusinya jelas nanti malam mereka akan lakukan.


Siang hari yang panas di sekitar jalan itu, tetapi untungnya rimbunnya pohon sanggup membuat suasana disekitar situ cukup rindang dengan angin semilir yang mampu membuat suasana semkin sejuk.


Seperti biasa Novi dan Broni tidak langsung menuju jalan depan vila dulu, mereka masih ada di sekitar jurang untuk mengamati suasana daerah itu dulu, siapa tau kedua dukun dan Supardi siang ini ada disana.


Sedangkan Saeaful sudah dari tadi ada di jalan, dia sedang menuju ke tempat mobil itu diparkirkan. Dengan kesepakatan setelah melihat apa yang ada disana, Saeaful akan menuju jurang untuk memberi tahu kepada Novi dan Broni apa yang terjadi di parkiran mobil.


“Jangan dulu Nov, siang hari sebenarnya bukan cara yang tepat untuk keluar dari lorong, siang hari gini semua nampak jelas terlihat” jawab Broni


“Pokoknya kita harus bisa lihat keadaan Saeful meskipun sulit, karena keadaan dan posisi dia sekarang berbahaya, dia ada di tempat terbuka dan bisa jadi sasaran empuk bagi orang-orang yang semalem itu” kata Broni lagi


Akhirnya Broni dan Novi tidak jadi keluar dari sisi jurang, mereka menunggu Saeful untuk datang ke sisi jurang untuk melaporkan apa yang terjadi disana.


Saeful berjalan santai menuju ke mobil dukun itu diparkir, tapi sesantai-santainya dia ya tetap saja Saeful waspada dengan keadaan sekelilingnya, karena yang namanya orang jahat bisa saja ada di mana mana.


“Hmmm tubuh preman yang dilempar Novi itu sudah tidak ada disini. Dan mobil mereka juga tidak bergerak sama sekali dari kemarin mereka ada disini” gumam Saeful


Kemudian Saeful memperhatikan tanah di sekitar mobil tersebut siapa tau dia mendapatkan sesuatu apakah itu jejak kaki atau apalah.


“Disini tubuh itu kemarin berada, bahkan ada sedikit darah kering disini, dan hhhmmm ternyata di tanah yang agak berpasir ini ada bekas benda besar ditarik. Apakah itu berarti dukun yang dilumpuhkan Novi  sedang ditarik atau mungkin diseret  ya. Lalu dibawa kemana tubuh orang yang agak gemuk itu?” batin Saeful


Saeful mengitari mobil yang diparkir disitu untuk melihat apakah ada kejanggalan disekitar situ. Tapi tidak ada apa-apa, bahkan di dalam mobil pun tidak ada siapapun.


“Aku harus berpura pura untuk tidak tau apapun yang terjadi disini saja lah, atau aku ke rumah Supardi saja?, ah lebih baik bilang sama Novi dan Broni saja lah dulu” gumam Saeful kemudian


Saeful berjalan santai ke arah atas lagi untuk menemuai kedua temanya yang sedang menunggu dia di lereng jurang, tapi kemudian dia urungkan untuk menuju ke jurang karena dia merasa ada yang sedang memperhatikanya.

__ADS_1


“Hmmm sepertinya ada yang sedang melihat aku, tapi aku belum tau dan belum bisa merasakan di sekitar mana orang yang sedang melihatku dan memperhatikan aku ini. Lalu apakah aku harus memberi kode kepada kedua teman ku yang sedang di jurang itu” gumam Saeful


“Lebih baik aku berjalan menuju ke arah bawah saja agar kedua temanku mengikutiku ke arah bawah juga” kata Saeful dalam hati


*****


“Apa yang dilakukan Saeful, kenapa dia berjalan ke arah bawah sana ya?” bisik Broni


“Pasti ada apa-apa mas, dan mas Saeful ingin memberitahu kita agar kita menjauhi daerah ini. Dia berjalan ke bawah berarti dia menjauhi mobil dan vila itu kan. Bisa jadi juga agar kita mengikuti kemana Saeful berjalan mas” kata Novi berlogika


“Tapi kita jangan terlalu dekat dengan Saeful dulu mas, yang penting sosok Saeful masih bisa terlihat oleh kita” lanjut Novi


 Ketika Novi dan Broni hendak bergerak di tebing jurang untuk mengikuti kemana Saeful berjalan, tiba-tiba dari arah semak belukar yang ada di depan pagar vila muncul dua dukun yang bernama Fathoni dan Tompel. Mereka berdua mengikuti Saeful yang sedang turun ke arah Gebang.


“Liaten itu mas, untung kita tidak kesusu kesana mas” kata Novi


“Hehehe kalau ke susumu itu asli apa nggak Nov hihihihi” tanya Bronni sambil melihat dada Novi yang memang lumayan besar hihihi


“Iiiih tanyanya kok malah susu sih. Lha mas Broni liatnya gimana lhooo, ini palsu apa asli lho mas” kata Novi sambil menggoyang goyangkan dadanya di depan Broni


“Ini asli mas, bukan buatan manusia, tapi buatan Tuhan mas. Jadi Novi ini sebenarnya perempuan mas, hanya saja berkuntila hihihi…tapi itu duluuu, sekarang udah berubah mas heheheh, kuntilanya udah Novi sumbangkan ke koceng koceng mas hihihi” jawab Novi lagi.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengikuti kedua dukun palsu yang keliatanya akan berbuat yang tidak baik kepada Saeful.


Mereka berdua menjaga jarak agar tidak terdengar dan terlihat oleh kedua dukun yang mungkin sudah berjarak sekitar tujuh meter dari mereka.


Sementara itu Saeaful yang merasa dirinya sedang ada yang mengikuti mulai waspada, dia tidak menengok ke belakang agar orang yang mengikutinya tenang dan tidak mengambil tindakan yang berbahaya kepadanya.


Tapi pada Intinya Saeful merasakan adanya orang yang makin dekat dengan dia hingga pada suatu keadaan jalan yang menurun….


“HEYYYY STOP MAS….KAMI MAU BICARA MAS!” teriak salah satu dari dua orang yang mengikutinya


“HEYYYY STOP… SAYA TIDAK AKAN MENYAKITIMU. KAMI HANYA MAU BERTANYA KEPADAMU!” teriak suara yang tadi sambil berlari kecil ke arah Saaeful yang sedang diam dan menunggu mereka


Saeful menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, Saeful yakin apabila kedua temanya ada di sekitar sini untuk melindunginya apabila kedua orang ini akan berbuat jahat dengannya.


“Ada apa pak, ada yang bisa saya bantu pak” jawab Saeful dengan santai dan wajah yang nyengir


Pokoknya Saeful berlagak ndak ada apa-apa. Ndak ada yang terjadi dan ndak ada yang tersungkur pingsan.


Sementara itu Novi sudah siap dengan dua buah batu yang dia temukan di sisi jurang, dia siap melemparkan batu itu apabila keadaan tiba-tiba berbahaya.


*****

__ADS_1


Sementara itu pak Han dan beberapa teman Sutopo yang ikut bersamanya menuju ke rumah sudah ada di masjid tempat seharusnya Saeful berada. Rombongan pak Han mencari teman Saeful yang bernama Musthopa untuk meminta ijin mengeluarkan mobil dari halaman masjid.


__ADS_2