MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 111 (GILANK MANEEEEEH)


__ADS_3

“Eh iya pak, tadi kan saya hanya ingin agar pocong itu tunduk pada saya dan menunjukan jalan keluar dari sini pak”


“Eh ini pak talinya, eh tapi kan pocongnya ndak ada disini pak, bagaimana cara masang ke pocongnya pak?” Kata Wildan sambil memberikan tali pocong itu kepada pak Handoko yang sudah berubah menjadi nyata


“Pak Han, Novi ada satu pertanyaan untuk bapak. Waktu kita ada di Waji, waktu pak handoko membakar bayi nya Totok itu. kenapa  kemudian pak Han menyerap atau menghisap energinya pak” tanya Novi


“Pertanyaan yang bagus mbak Novi, pertama.. saya ini kan bukan manusia mbak, saya adalah bangsa lelembut mbak, sehingga apabila ada energi besar dari sesuatu yang kita habisi dan untuk menghindari agar energi itu tidak dihisap oleh yang jahat juga, maka lebih baik saya yang serap mbak” jawab pak Han


“Itu saya lakukan agar energi yang terbuang tidak bisa digunakan dan disalah gunakan oleh demit-demit disana mbak. Mungkin begitu penjelasan saya mbak” kata pak handoko


“Oh jadi gitu to pak ceritanya, jadi bapak tidak mengambil energi jahat mereka untuk bapak simpan sendiri sebagai penambah kekuatan bapak?”


“Bisa juga seperti itu nak Novi, tapi semua itu kan tergantung kepada yang menggunakanya, kalau dia niantnya untuk kejahatan ya pasti akan dia gunakan untuk hal yang jahat kan” jawab pak Handoko atas pertanyaan Novi


“Oh iya, tentang pocong yang banyak berkeliaran di kuburan ini mbah, apakah tidak ada penduduk desa ini yang terganggu mbah?” tanya Wildan


“Mahluk ghaib yang ada disini semua tidak ada yang usil nak, malah mereka semua yang sering diusili oleh demit dari luar sini dan juga manusia yang suka menyombongkan kekuatanya” kata mbah War


“Banyak manusia yang merasa sudah hebat dengan kekuatan ilmu ghaibnya, dan dia berusaha membinasakan mahluk ghaib yang ada disini” jawab mbah Warsidi


“Intinya ginilah nak, kalau tidak mau diganggu ya jangan ganggu atau isengi mereka. Mereka disini juga punya kehidupan seperti kalian juga lah, mereka juga kepingin hidup damai juga lah nak”


“Eh mas in ada balasan dari mas Petro, dia tanya kita ada dimana ini. Masak kita jawab kalau kita sedang ada di kuburan mas, kan ya gak mungkin mas, dijawab apa ini mas agar pak Tembol dan yang lainya tidak kesini mas” Tiba-tiba Novi menyela pembicaraan mereka


“Jawab saja kita ada di kota Mjng saja Nov, jangan kamu jelaskan detail karena ini kan kuburan heheheh, kasih tau juga kalau kita sedang bersama pak Handoko dan juru kunci makam, biar mereka bingung dengan keadaan kita hihihihi” kata Wildan


“Ok mas Wil hehehe, akan Novi jawab seperti itu mas” kata Novi yang kemudian mengetikan jawaban atas pertanyaan dari sms Petro


“Nah sekarang sudah hampir sore ini, lebih baik kalian segera pergi dari sini saja, karena tidak enak dengan warga desa ini apabila kalian tetap ada disini. Bawa sini tali Pocongya Handoko, nanti biar saya pasangkan ke Tukimin, ini milik Tukimin kan heheheh?”


“Lho mbah War kok bisa tau kalau tali itu milik Tukimin mbak?” tanya Wildan


“Lha ini ada namanya nak hihihih, mbah yang kasih nama tiap tali dan kain pocongnya, agar kalau ada yang sengaja melepaskan macam nak Wildan gini bisa langsung saya pasangkan  hihihii” jawab mbah War


“Wah ada-ada saja sih mbah War ini, mana ada tulisan di tali pocong itu mbah hahahah”


“Guyon nak, mbah tau karena ada yang lapor kepada mbah nak. Ya sudah kalian segera saja pergi dari sini nak. Dan jangan masuk ke pesarean sini lagi, ndak enak sama penduduk desa ini soalnya” kata mbah War lagi


“Kemudian untuk Handoko, bagaimana Han, apakah kamu siap untuk hadapi yang telah membunuh keluargamu itu?” tanya mbah War


“Saya siap mbah, saya bersama teman-teman ini yang akan binasakan setan itu mbah” jawab pak Handoko


“Novi dari semalam belum tidur sama sekali mas, Novi perlu istirahat dulu, kita jangan terlalu menforsir tubuh kita. Lebih baik cari sarapan dan istirahat dulu untuk hari ini mas” kata Novi tiba-tiba


Memang mereka semua belum ada yang sempat tidur sama sekali dari semalaman, namanya juga tubuh manusia itu bukan mesin dan butuh istirahat, jadi memang benar apa kata Novi tadi untuk mengistirahatkan tubuh mereka.


“Tapi disini kan kuburan Nov, memangnya kita mau istirahat dimana?” tanya Gilank yang sudah waras dengan penyakit kengatjengannya karena tadi sempat diberi pengobatan oleh mbah War


“Kita ke Mjkt saja mas, ke rumah mas Dogel saja, tapi Novi ndak tau dimana rumah mereka mas”


“Aku tau Nov kita ke sana saja, kan harusnya tidak jauh dari sini rumahnya” ujar Tifano


“Lalu bagaimana dengan barang kita yang ada disini pak Han, apakah aman ada disini pak Han?” tanya Ali

__ADS_1


“Aman mas, untuk sementara waktu ini biar saya ada disini dulu saja. Akan saya jaga sendiri barang itu hingga benar-benar tidak ada yang berusaha mencarinya disini”


“Lalu nanti bagaimana pak Han mencari kami?” tanya Tifano


“Mudah mas, saya kan juga ada suruhan di sana, dia yang akan membantu kalian apabila ada sesuatu yang terjadi dan kalian tidak sanggup untuk mengatasinya” jawab pak Handoko


“Ya sudah kalau gitu, kami ke rumah mas Dogel dulu pak untuk istirahat barang satu hari saja pak, lagi pula untuk di vila putih kan  sudah ada suruhan bapak yang jaga disana kan pak” kata Novi


Akhirnya disepakati mereka berangkat menuju ke rumah mbah putri Dogel, sementara itu pak Handoko yang ternyata hantu itu tetap menjaga barang milik pak Tembol di pemakaman itu.


“Eh Nov, apa ndak sebaiknya kamu telepon dulu mas Petronya, bilangin kalau kita dalam perjalanan kesana Nov” kata ALi


“Heheheh kita buat kejutan mereka saja mas, mereka pasti tidak akan kemana-man karena mereka sedang menunggu sms atau telepon dari Novi mas. Ini dari tadi mas Petro telpon Novi, tapi ndak Novi angkat mas heheheh, pasti dia akan menanyakan alamat kita mas” kata Novi


Akhirnya mereka berangkat menuju ke tempat Dogel, dan untuk saat ini karena hari sudah panas, maka yang naik motor bersama Saeful adalah Gilank, sedangkan sisanya naik Mobil Novi yang nyaman dan sejuk karena ada acnya heheheh.


Dan untuk merayakan kesembuhan kuntila Gilank, Gilank menawarkan Saeful untuk dibonceng, jadi sekarang Gilank yang sedang membonceng Saeful. Tentu saja Saeful harusnya senang.


“Mas Gilaaankkk mgghhoeeek…ngghoooeeekk, biar saya saja yang setir maaasss!” teriak saeful sambil muntah muntah mulai berangkat hingga pertengahan jalan


*****


“Kita harus berpikir lagi ini rek, kenapa Totok hingga sekarang belum juga datang ke vila putih, apakah karena akibat yang kita bakar waktu di Waji itu?” Ali membuka pembicaraan di dalam mobil


“Koyoke bukan itu masalahe Li, buktinya dia masih bisa marah dengan kita kan keliatanya ada hal lain yang menyebabkan untuk sementara waktu menyetop kegiatanya melakukan penyerangan terhadap vila putih itu” jawab Wildan yang ada di balik kemudi mobil Novi


“Apakah ini kerjaan dari anak-anak Bluekuthuq dan pak Tembol?” celetuk Tifano


“Bisa jadi Tif, coba nanti kita tanyakan ke mereka, apa saja yang sudah mereka lakukan dengan yang aneh aneh ini, karena sebenarnya masalah kita ini berbeda dengan mereka, tapi musuh kita sama” kata Ali


“Onok opo Lank! Kenapa kamu suruh kita berhenti?” teriak Wildan


“Stoop sik rek, ini Saeful keliatanya masuk angin, dia muntah-mintah semenjak berangkat dari kuburan itu rek, biar dia di mobil sama kalian saja ya, aku sendirian naik motor gak masalah kok” kta Gilank setelah memindah Saefuil ke mobil Novi


“Mas Saeful kenapa mas, kok tiba-tiba muntah-muntah” tanya Novi yang memijat mijat tengkuk Saeful


Mobil kemudian dijalankan kembali setelah Saeful ada di dalam mobil Novi, perjalanan dilanjutkan dengan Gilank yang sendirian naik motor Saeful yang sekarang ada di depan mobil.


“Gilank sangar, dengan rambut gondrong keriting lembab dan basah karena keringat bisa percaya diri dengan membiarkan rambutnya berkibar kibar terkena angin rek” kata Tifano


“Saya ndak papa kok sudah sembuh sekarang mbak…mas , huuuf untung saya pindah ke mobil ini” kata Saeful yang nampaknya mulai sehat dengan cepat


“Lho memangnya kenapa Pul, kamu alergi naik motor ta? Tanya Tifano sambil tertawa


“Ndak lah mas, itu kan motor saya, kenapa saya harus alergi naik motor saya mas, yang penting saya sudah sembuh lah” kata Saeful tanpa mau menyebutkan masalahnya apa


“Hihihi, liaten rek Gilank di depan kita itu hahaha, tiap onok motor yang tepat di belakang motor yang dikendarai Gilank, motor itu selalu menghindar rek. Liaten itu rek ada ibu-ibu yang sekarang ada di belakang motor Saeful, dalam lima detik pasti ibu-ibu itu akan nyalip atau memelankan motornya rek” kata Wildan


Mereka semua yang ada di dalam mobil mengamati yang tadi dikatakan wildan…


“WAKAKAKAKAKAK bener cangkemu Wil hahahah ibu-ibu itu minggir sambil ngida ngidu dan hoek hoek wahahahah, yancok memangnya ada apa di belakang motor Saeful iku” kata Tifano


“Sik rek, kita lihat lagi yang akan datang lagi ini rek hihihihi” kata Ali yang melihat seorang bapak-bapak yang menyalip mobil kami dari kiri dan sekarang posisi bapak-bapak dengan motor Supra itu ada diantara Gilank dan mobil yang kami tumpangi ini

__ADS_1


“JANCHOOOOK WAHAHAHAHAH…memangnya ada apa dengan motornya Ipul, liaten ta bapak-bapak itu langsung nyalip motor yang dibawa Gilank sambil noleh ngamuk-ngamuk ke arah gilank” kata Ali


“Motere Saeful gak ada masalah, yang bermasalah iku ambune Gilank yang luar biasa bosok yahanam Chok! HAHAHAHA” Kata Wildan


“Ya itu mas, yang tadi mas bilang itu yang bikin saya muntah-muntah sepanjang perjalanan mas. Bayangakan wajah saya terkena kepakkan sayap eh kepakan rambut gimbal mas Gilank yang luar biasa baunya mas” jawab Saeful dengan lugu.


“Huiikk, berarti helm yang dipakai Gilank itu harus di cuci dan di suci hama Pul, atau kamu bakar saja sekalian wahahahah” kata Wildan


“Bentar mas, Novi bingung sama kalian, waktu kalian satu mobil dengan mas Gilank dari vila menuju ke tempat pak Handoko, apa kalian juga terkena limbah bau dari rambut mas Gilank?” tanya Novi dengan wajah serius


“Nggak lah Nov, kan pak Handoko suruh Gilang tutupin kepalanya pakek itu… tas kresek yang ada di bagasi belakang mobilmu hihihihi, kemudian dia kami suruh duduk belakang, dan selama perjalanan tidak pakai AC sama sekali karena keempat jendela kami buka lebar-lebar hihihihi” jawab WIldan


“Aduuuh mas kan jadi kotor mobil Novi kalau kayak gini mas”


Menjelang sore hari mereka sudah masuk ke kota Mjkt, sekarang mereka akan mencari gang yang menuju ke rumah mbah nya Dogel, dan dalam hal ini yang tau persis alamatnya adalah Tifano, karena Tifano pernah kesana  beberapa waktu lalu.


“Tif rumahnya yang mana gangnya, kan kamu yang tau Tif” kat Wildan yang sedang memelankan mobil Novi


“Lurus ae  Wil. Pokoknya kita ke jalan pahlawan dulu, nanti setelah rel kereta api kit aputar balik dan gang pertama itu kita belok kiri” kata Tifano.


Mereka sudah masuk jalan pahlawan setelah melewati rel kereta api mereka mencari jalan untuk putar balik, ketika kami sedang akan putar balik terdengar suara bel  sepeda motor yang dibunyikan berulang ulang dari arah belakang.


“Rek sik rek, keliatanya ada apa-apa dengan Gilank rek” kata Ali


“Coba minggirkan dulu mobilnya mas Wildan, kita berhenti dulu saja, karena dari tadi Mas Gilank membunyikan klakson motor yang dia gunakan mas” kata Novi


Setelah mobil minggir, kemudian Ali dan Wildan turun dari mobil untuk mencari tau apa yang sedang terjadi hingga tadi Gilank sampai membunyikan klakson motornya sekeras kerasnya.


Ternyata di pinggir jalan dekat dengan rel kerata api sudah banyak oraang yang berkerumun, mereka mengerumuni seseorang yang mungkin sebagai korban tabrakan.


Sedangkan Gilank saat ini sedang dikepung oleh beberapa orang agar dia tidak lari dari situ. Apakah Gilank melakukan tabrak lari sehingga banyak orang yang mengepung dia dan tidak membolehkan Gilank untuk pergi?


“Ada apa ini  kok teman saya dikepung?” tanya Wildan yang berpostur tinggi besar


“Tabrak lari mas, itu korbannya” kata seseorang yang sedang menutup hidungnya


Ada sekitar lima orang yang mengerumuni, dan semuanya rata-rata menutup hidung mereka.


“Benar kamu nabrak orang itu Lank?” tanya Ali


“Gak Li, wong dia jatuh sendiri kok, aku lho jalan pelan dan gak merasa nabrak siapapun kok “ jawab Gilank santai


“Wil kita kesana saja Wil, kita juga harus tau apa yang terjadi dengan yang jatuh itu, jangan sampai Gilank jadi korban atas kesalahan pengendara yang jatuh itu” kata Ali  yang kemudian menyeberang jalan untuk menuju ke arah kerumunan orang


“Apa yang terjadi tadi mbak?” tanya Wildan setelah mereka berdua ada di kerumungan orang yang ada di dekat rel kereta api


“Tadi saya tiba-tiba jatuh waktu ada di belakang orang gondrong yang naik motor matik itu pak” kata mbak-mbak berjilbab yang sedang kesakitan memegang kakinya yang memar


“Tadi yang mbak rasakan apa, apakah teman saya tadi sempat menyenggol motor mbak?” tanya Wildan


“Ndak mas, dia tidak menyenggol saya sama sekali kok” jawab mbak-mbak itu lagi


"Kalau ndak nyenggol kenapa mbak nya bisa jatuh? sudah mbak jangan takut, kami akan bantu mbaknya pokoknya.Jangan mentang-mentang preman gondrong bisa seenaknya dengan perempuan" kata salah satu dari orang yang mengerumuni

__ADS_1


“Gini saja mbak, orang yang gondrong itu saya panggil saja kesini agar dia ngomong apa yang dia lakukan kepada mbaknya ini. Gimana bapak-bapak...ibu-ibu” teriak Wildan kepada orang-orang yang mengerumuni mbak mbak yang jatuh itu.


BAWA SINI SAJA, AGAR YANG NABRAK MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERBUATANYA” kata salah seorang dari mereka yang ada di kerumunan korban


__ADS_2