
Apa yang akan dilakukan oleh Ali dan Tifano manakala mayat Supardi yang mengejar mereka tiba di tempat persembunyian mereka. Dan apa yang terjadi apabila Gilank berada di dalam halaman depan vila putih. dua kelompok ini keliatanya punya masalah sendiri-sendiri.
Tetapi yang paling utama adalah kelompok pak Tembol, karena mereka harus melarikan diri dari mayat Supardi yang semakin dekat dengan tempat mereka sembunyi, tapi kan masih beberapa meter lagi, jadi bisa kita anggap aman lah karena jalan mayat Supardi itu konstan.
*****
Pintu dua mobil yang terparkir disana pun kemudian terbuka, tetapi yang terbuka hanya pintu depan saja, sedangkan pintu bagian penumpang belakang tidak terbuka sama sakali.
“Saya akan melihat ke sana lebih dekat pak, saya penasaran dengan yang keluar dari dalam mobil” kata Wildan
“Jangan dulu mas, tunggu hingga mereka masuk ke dalam vila, nanti kan kita akan tau juga kalau mereka masuk ke dalam area vila mas” kata pak Han
“Masalahnya itu pak, mereka tidak akan masuk ke dalam vila karena ada GIlank yang hadang di depan pak, jadi ada baiknya kalau kita lebih mendekati area pintu vila agar kita tau siapa yang sedang masuk kesini pak” kata WIldan yang ngotot
“Waduh benar juga mas, disana kan ada mas Gilank yang kata mbok Ju siap menghadang orang yang akan masuk ke dalam vila ini mas. Kalau gitu ayo kita lebih dekat lagi mas, kita bantu semampu kita mas Gilanknya” kata pak Han yang kemudian bergerak maju lebih dekat dengan pintu pagar vila
Ketika mereka sudah ada di dekat area pintu masuk, ternyata benar!... kira-kira dua meter dari pintu masuk ada Gilank, dia bertelanjang dada dengan rambut yang dibiarkan kemebyar dengan kedua tangan sedekap di dadanya. Gilank sudah nampak sebagai superhero pembasmi kejahatan.
Penulis ndak tau apakah dengan hanya kepalanya terpukul bisa terjadi hal seperti itu, apakah dengan pemukulan di kepala bisa menyebabkan seseorang berubah karakternya?. Mungkin ini hanya khayalan penulis saja, yah tapi yang terjadi kadang seperti itu, bingung kan….
“Pak Han, lihat itu Gilank pak, dia seolah ingin melindungi vila ini, dia seolah berani menghadapi siapa saja yang berani masuk ke vila ini pak” kata Wildan
“Hihihihi patut di apresiasi mas GIlank itu mas, nanti selesai acara malam ini heheheh, kalau dia dalam keadaan selamat, dan memang harus selamat, kita harus rayakan mas heheheh” jawab pak Han
“Sssst pak, itu ada yang datang ke arah vila, ada seseorang yang membuka lebar pintu pagar vila ini pak, coba perhatikan pak karena saya kurang jelas lihatnya ,maklum gelap sekali disini” kata Saeful
Satu…dua ….tiga…empat orang masuk ke dalam vila putih. tetapi wajah mereka yang masuk masih belum jelas. tapi ketika mereka berjalan sejengkal tiba-tiba.
“Stooopp!... Siapa kalian!.. kalian dilarang masuk ke markas partai peremPuan Maha beRani. kalian keluar semua sekarang!” teriak Gilank yang menunjuk ke arah mereka berempat yang baru sejengkal masuk ke area vila
“K…kamu bukanya sudah mati ketika saya pukul berkali kali pakek kayu!” teriak seseoarang
*****
“Hmmm itu suara Kaswadi pak” kata Saeful di tempat persembunyianya sambil melihat empat bayangan orang yang sedang berhadapan dengan Gilank
“Iya mas, saya tau, kita ikuti saja jalan ceritanya, eh mbak Novi sudah siap sesuatu untuk mengalihkan perhatian mbak?” bisik pak Han
“Sudah pak, Novi akan targetkan Kaswadi dan pacarnya pak” kata Novi
“Ya sudah, ehm yang ada di depan kita itu ada dua orang yang bukan manusia biasa, mereka berdua jadi-jadian seperti saya ini nak, jadi harus lebih hati-hati” bisik pak Han
*****
“Minggir kamu, jangan halangi kami, kami mau masuk ke sana” kata Kaswadi yang kemudian melangkah maju di depan ketiga orang yang datang bersama dia
“Tidak ada yang boleh masuk kesini kecuali sudah ijin dengan ketua partai ibu besar Mega merpati!” teriak Gilank yang makin berani
“Saya tidak takut dengan kalian berempat, kalian empat orang maju hadapai saya! sampai mati akan saya pertahankan markas besar partai peremPuan Maha beRani” kata Gilank yang kemudian maju dan membusungkan dan mendorongkan dadanya yang penuh tato ke dada Kaswadi
“Sudah diam kalian berdua. Perkenalkan nama saya Nabil Alsay Toni Rojim, dan ini anak saya yang bernama Arafiq Alsay Toni Rojim, kami kesini ingin bertemu dengan ketua partai yang bernama ibu besar Mega merpati mas. Tolong disampaikan kepada beliau” kata orang salah satu dari orang itu.
__ADS_1
“Baik…tunggu, akan saya hubungi ibu besar Mega Merpati dulu, kalian duduk-duduk dulu di ruangan ber AC ini” bentak Gilank yang kemudian berjalan ke sisi pinggir pagar vila
Gilank melakukan sesuatu di sisi pagar yang terbuat dari beton, disana dia seolah sedang menelepon seseorang..
“Baik ibu besar… baik ibu besar, akan saya sampaikan kepada mereka ibu besar” teriak Gilank seolah olah sedang melakukan panggilan dengan yang dia sebut ibu besar Mega Merpati
“Maaf, ibu besar sedang sibuk dengan suaminya, dia sedang melayani suaminya, jadi kalian bermpat disuruh tunggu hingga suami beliau ejakulashi!” kata Gilank dengan wajah mendongak yang masih saja tidak waras
“Aaaaaah kelamaan kamu pak Nabil, biar saya saja yang atasi orang gila ini pak” Kata Kaswadi yang kemudian mengambil sebilah besar kayu yang dia temukan di sekitar luar vila putih
“Stoooop Kaswadi!, jangan pukul dan jangan ganggu orang seperiti ini atau kamu yang akan celaka sendiri!” cegah Nabil yang memegang tangan Kaswadi
“Kalau pak Nabil hanya diam saja, lalu kapan kita masuk ke dalam vila ini!” teriak Kaswadi kemudian kembali lagi ke posisi di belakang anak Nabil yang bernama Arafiq Alsay Toni Rojim
“Diam kamu Kaswadi!, tugasmu disini hanya mengamankan tempat ini dan membawakanku tumbal untuk malam ini sebelum pukul 03.00, dan jangan sampai ada gangguan sekecil apapu
n, semua yang ada disini harus merasa tidak terganggu dengan kehadiran dan aktivitas kita!” bentak Nabil
“Jangan-jangan kamu dari perguruan sapi moncong hitam ya?!” tunjuk Gilank kepada Nabil
“YNTKTS…. ya ndak tau kok tanya saya” jawab orang yang ada di sebelah Nabil yang mungkin bisa saja yang bernama Arafiq itu”
“Kalau kamu ndak tau, dan agar kamu bisa masuk ke sini…. eehmm sebutkan nama-nama ikan! kalau betul maka kamu boleh ambil sepeda, eh salah kamu boleh masuk ke sana” bentak Gilank
Kenapa Nabil tidak marah atau tidak mengambil tindakan sama sekali dengan kelakuan Gilank, pasti ada sesuatu yang menyebabkan seperti ini kan, nah ini yang masih menjadi misteri.
Dengan berbagai omongan Gilank yang semakin tidak karuan itu, mereka berdua tidak merasa marah atau merasa terhina, atau mereasa harus melakukan serangan kepada Gilank. Ini yang aneh dan mungkin akan dibahas oleh pak Handoko bersama dengan anak-anak.
*****
“Kita bergerak ke arah rumah Supardi saja dulu pak, nanti dari sana kita pikirkan lagi apa yang bisa kita lakukan dengan mayat Supardi ini, apakah bisa kita gunakan untuk melawan orang yang sekarang ada di depan pagar vila itu pak” kata Ali
“Ya sudah ayo kita bergerak kesana dulu anak-anak” kata pak Tembol. akhirnya mereka bertiga plus Sinank nang mulai menuju ke arah rumah Supardi yang ada di depan mereka bertiga
“Ayo cepat, mayat Supardi sedang mulai merambat ke arah kita” kata Sinank nang yang sekarang malah tidak fokus pada orang yang ada di depan pintu vila
Sinank Nang malah fokus kepada mayat Supardi, karena memang mayat itu terus mengejar kedua orang itu tanpa henti. Dimana ada Tifano dan Ali, maka mayat Supardi akan ada disana .
“Pak, kita harus bisa gunakan mayat Supardi untuk membuat kekacauan dengan orang yang ada disana pak” kata Ali sambil berjalan menuju ke arah rumah Supardi
“Itu bisa kita pikirkan nak, yang penting sekarang kita harus bisa sampai di rumah Supardi dulu untuk menghindari mayat yang sedang mengejar kalian” kata pak Tembol
Di sekitar halaman Supardi mamang sepi sekali sehingga pak Tembol, Ali, dan Tifano tidak bingung untuk mencari tempat untuk sembunyi, tapi bagaimana apabila ada mayat Supardi yang masih mengikuti kemanapun mereka bergerak?
“Nak Nank, tau tidak apa yang menyebabkan mayat itu terus menerus mengejar nak Tifano dan nak Ali, apakah dari bau mereka atau dari energi yang dipancarkan oleh mereka?” tanya pak Tembol
“Saya masih belum tau pak, tapi kalau dari film yang pernah saya tonton, film tentang zombie kungfu yang suka mengejar orang dengan cara melompat lompat, itu ya dari bau nafas mereka pak hehehe” kata SInank Nang
“Memangnya mas Nang pernah liat film kungfu mas?” tanya Tifano
“Bapaknya dik Chynta yang suka lihat film kungfu mas heheheh, saya kan suka nongkrong di ruang tamu ketika mereka sedang nonton film heheheh” jawab Nang
__ADS_1
*****
Sementara itu di bagian tempat persembunyian pak Handoko dan lainya….
“Apa yang mereka takutkan dengan mas Gilank, kenapa mereka seolah olah menuruti apa yang mas Gilank katakan?” gumam pak Handoko
“Iya pak, kenapa kok mereka tidak menghajar Gilank saja, daripada nuruti omongane wong gendneg gitu. Betul itu si Kaswadi yang mau ngepruk Kaswadi lagi pak” jawab Wildan
“Kalian perhatian sama yang ada di belakangnya Gilank tidak anak-anak?” kata mbok Ju yang ada diantara mereka sambil memperhatikan apa yang sedang Gilank lakukan
“Nggak mbok, memang ada apa disana mbok?” tanya Wildan
“Kalian perhatikan dengan teliti nak, sepertinya saya tau kenapa mereka kesini dan tujuan mereka kesini sudah jelas!” kata mbok Ju
“Tetapi kami tidak bisa melihat yang ada di belakang Gilank mbok, karena kami hanya bisa lihat Gilank saja mbok” kata Saeful
“Di belakang mas Gilank ada musuh kalian yang harusnya ada di kamar depan itu mas, musuh kalian yang sudah tidak berdaya sama sekali, dan sekarang sedang bersama dengan mas Gilank” bisik pak Handoko dengan suara lemas
“Dimas maksud bapak, bukanya dia ada di kamar depan dan kondisinya sudah lemah pak?. Lalu kenapa lagi dia ada luar sini, apakah Nabil akan memnbangunakan Dimas untuk melakukan sesuatu lagi pak?” tanya Novi
“Itulah mbak Novi, saya cuma bisa menebak tujuan Nabil atau Totok disini, keliatanya dia akan memberikan sesuatu atau mengajak Dimas untuk melakukan sesuatu mbak. Dan sesuatu itu Nabil atau Totok atau Rochman tidak mampu melakukanya sendirian mbak” jawab pak Handoko
“Waduuuh itu kalau sampek DImas mau diajak Rochman untuk berbuat kejahatan jelas dua kekuatan yang tidak ada tandingnya itu duuuuh, semoga Dimas gak mau semoga Dimas sadar kalau dia sudah nyaman tinggal di kamar depan sendirian” gumam Wildan
*****
Keempat orang yang di dekat pintu masuk halaman vila putih itu belum mendapat peretujuan Gilank untuk masuk ke dalam area vila putih, meskipun kata mbok Ju dan kata pak Handoko di belakang Gilank ada Dimas yang sedang berdiri menenmpel pada tubuh Gilank
“Sekarang bagaimana penjaga pintu, apakah kami bellum boleh masuk?” tanya Nabil dengan suara yang sopan
“Kalau saya perbolehkan masuk, apa yang kamu persembahkan untuk saya?, Pokoknya jangan minyak Goreng. saya ndak mau minyak goreng meskipun sedang diburu ibu-ibu jaman sekarang” kata GIlank yang makin aneh saja
Atau apakah Gilank saat ini sedang dirasuki oleh Dimas ya? kenapa dia bisa seperti itu kelakuanya, hingga dia meminta sesuatu kepada rombongan Nabil.
“Saya akan bawakan sesuatu yang mirip dengan yang kamu miliki jaman itu, sesuatu yang bisa kamu gunakan untuk eksperimenmu, dan tentunya kamu akan memperoleh kekuatanmu lagi” kata Totok atau Nabil
“Yang mana…. siapa yang kamu katakan mirip seperti miliku pada jaman itu, dan kalau tujuanmu untuk membuat aku terbangun lagi dan melakukan seperti dulu itu, aku mungkin tidak akan lakukan kalau alasanmu tidak begitu kuat” jawab Gilank yang sedang dirasuki oleh Dimas
*****
Sementara itu di rumah Supardi yang dalam keadaan kosong karena pemiliknya sekarang sudah menjadi mayat yang selalu mengejar Ali dan Tifano. Ketiga manusia plus satu tak kasat mata itu sedang ada di dalam halaman rumah Supardi, mereka juga menutup pintu pagar Supardi agar mayat Supardi tidak masuk ke sana.
“Apakah yang sedang kita lakukan ini aman anak-anak, apakah tidak lebih baik kita menuju ke arah vila putih dan membuat kerusuhan disana?”
“Jangan dulu pak, kita kan belum tau siapa yang ada disana, lagipula mas Nang lagi sibuk dengan mengamati mayat Supardi yang sedang mengejar kami pak” jawab Ali
“Begini saja mas, saya akan keluar sana dulu, sementara kalian kan disini sudah aman. Saya akan lihat dulu siapa yang turun dari mobil itu dan apa yang mereka lakukan disana. bagamana?” tanya mas Nang
“Lebih baik begitu nak Nank, kamu ke sana dulu dan lihat siapa yang sedang berada di depan vila itu, agar kita bisa perkirakan apa yang harus kita lakukan dengan mayat itu nak Nang” kata pak Tembol
Sebenarnya apa yang dikatakan pak Tembol ini ada benarnya, SInank nang yang tak kasat mata ini harusnya bisa memantau keadaan disana sehingga team pak Tembol bisa memikirkan apa yang akan mereka lakukan.
__ADS_1