MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 123 (KAWASAN VILA JADI RAMAI)


__ADS_3

“Jadi sudah jelas ya anak-anak, apa yang ada disini, atau keadaan disini harus segera dinetralisir, dan benda yang ada disini untuk sementara waktu kalian bawa dulu ke tempat kalian hingga keadaan disini sudah aman kembali” kata mbah Warsidi


“Dan kamu Handoko dan Juriah, ikutlah dengan mereka, lihat keadaan disana, apabila mereka memerlukan bantuan kalian, maka bantulah mereka. Apalagi kamu Handoko, katanya kamu ingin membalas kematian keluargamu” kata mbah Warsidi


Setelah selesai dengan pembahasan masalah yang ada disini, akhirnya dengan cara yang tidak masuk akal kotak besi yang berisi benda kami keluar dari dalam tanah yang ada di makam itu.


Ambilah dan kalian periksa dulu mas mbak” kata pak Handoko


Novi, Tifano, dan Wilndan memeriksa isi dari kotak besi itu, kemudian setelah semua sesuai, mereka semua berangkat menuju ke vila putih. Termasuk pak Handoko dan mbok Ju, mereka berdua juga ikut dengan anak-anak juga.


“Apa yang akan kalian lakukan dengan para pendatang itu anak-anak” tanya pak Han


“Kami belum tau pak, karena yang datang kesana semakin hari semakin bertambah banyak, tadi saja waktu kami menuju ke sini ada dua buah mobil berbahan bakar solar yang menuju ke arah sana pak”


“Kita ke sana saja secepatnya mas, nanti sebelum sampai sana, biar saya dan mbok Ju yang lihat keadaan disana dulu, karena kalian saat ini membawa benda yang menjadi incaran semua mahluk ghaib disini” kata pak Han


Mobil mereka meluncur terus menuju ke arah Gebang tanpa ada kendala sama sekali, kecuali kemacetan yang terjadi di tiap kota yang mereka lewati.  Ketika mobil memasuki Gebang dan hampir melewati masjid tempat mobil ini diparkirkan, pak Handoko menyuruh kami untuk jalan terus ke atas.


“Jalan terus saja mas, tapi pelan-pelan saja, karena kalian jelas tidak akan bisa jalan kaki dari masjid menuju ke vila putih dengan membawa benda ini” kata pak Handoko


Ada benarnya juga yang dikatakan pak Han itu, jelas bahaya apabila kami membawa barang ini menuju ke sana dengan berjalan kaki saja.


“Hentikan mobilnya, biarkan saya dan mbok Ju check keadaan disana mas” kata pak Han yang kemudian keluar dari dalam mobil bersama mbok Ju menuju ke arah atas untuk melihat apa yang terjadi disana


Siang hari ini harusnya tidak ada apa-apalah, kecuali mungkin kegiatan yang dilakukan oleh Supardi dan teman-temanya, tapi karena mereka membawa barang yang sedang dicari oleh siapa saja yang berminat dengan yang ada di vila itu maka lebih baik berhati-hati saja dulu.


Setelah sekitar lima menit pak Han dan mbok Ju ada di luar untuk melihat apa yang sedang terjadi disana, akhirnya mereka pun kembali ke mobil.


“Jalankan mobil ini satu km saja dari sini mas, kemudian kalian harus jalan kaki di lereng jurang, karena di sekitar vila sedang banyak yang akan melakukan kegiatan malam hari nanti. Saat ini mereka sedang mempersiapkan segala sesuatunya” kata pak Handoko


“Tdjuiih… sebegitu banyaknya orang pak Han, sebenarnya mereka ini mendapat info dari mana ya, dan kenapa sampai sebegitu banyak orang yang penasaran dan ingin mengadu nasib disana?” kata mbok Ju


“Saya curiga ini ulah Trimo, dia dengan sengaja mengerahkan dukun-dukun yang ada di mana saja untuk mencari brang yang dia inginkan” kata pak Han


“Tapi menurut Novi sebaliknya pak, mereka yang ada disana itu untuk pengalihan saja, karena Trimo saat ini kan kerja bersama Supardi, Kaswadi, Fathoni dan orang-orang suruhannya. Mereka pasti sudah menemukan jalan menuju ke lorong bawah tanah pak” kata Novi


“Yah kemungkinan itu juga bisa mbak Novi…. Stop… stop sini saja mas, sekarang kalian lanjutkan dengan jalan kaki saja, dan salah satu kembalikan mobil ke masjid” kata pak Handoko


Tifano, Novi, pak Han yang sudah berubah menjadi manusia jadi-jadian menuju ke lorong rahasia. Sementara itu Wildan ditemani  mbok Ju membawa mobil ke masjid untuk dititipkan seperti biasanya.


Tifano membawa kotak berisi dokumen mereka, di depan pak Han, dan bagian belakang adalah Novi, mereka bertiga berjalan dengan penuh kehati-hatian di lereng jurang yang biasanya mereka lewati.


“Di depan di jalan atas kita setelah ini ada beberapa kendaraan motor yang terparkir mas mbak, dan pemiliknya sedang duduk-duduk di sekitar sana juga, berarti para pemilik motor itu kemungkinan besar sudah masuk ke vila putih” kata pak Han dengan suara yang nyaris pelan.


“Lalu apakah aman pak kita sampai ke lorong sana pak?” tanya Novi


“Ya kita harus tetap waspada mbak, karena kita tidak tau apa yang akan ada di depan kita ini, pokoknya harus kita selamatkan dulu dokumen itu, dan untuk selanjutnya kita kan pikirkan lagi apa yang akan kita lakukan mbak” kata pak Han

__ADS_1


Perjalanan mereka sudah tidak begitu jauh lagi dari lorong yang tembus dengan ruangan biru, tiba-tiba pak Han menyuruh mereka untuk berhenti jalan.


“Ada apa pak Han. Kenapa kita berhenti disini” tanya Novi dengan suara berbisik


“Coba kalian dengar di atas kita mbak, dan jangan bergerak atau menimbulkan suara sama sekali” bisik pak Han


Apa yang dikatakan Pak Han memang benar, tepat di atas mereka ada suara orang yang sedang ngobrol, dua orang yang mungkin posisinya ada di bibir jurang, bisa berdiri atau bisa juga sedang duduk-duduk di tepi jurang.


“Kalau mereka sedang duduk di sana berarti bisa lama mereka disana pak, lebih baik kita jalan pelan-pelan saja pak, bukannya pintu lorong sudah ada di depan kita pak” bisik Novi


Akhirnya mereka menuruti cara Novi untuk jalan pelan-pelan pokoknya bisa sampai ke ruangan biru dengan selamat.  Selama mereka berjalan kembali ke pintu lorong tidak ada gangguan yang menghambat mereka bertiga, dan akhirnya mereka bertiga bisa mencapai lorong dengan selamat.


Bagaimana dengan Wildan dan mbok Ju, Wildan sekarang dalam perjalanan ke arah atas. Dia tidak menggunakan jasa ojek untuk menuju ke atas, karena atas info dari mbok Ju, tidak aman kalau menggunakan ojek untuk menuju ke atas.


“Mbok Ju, kok mbok Ju keluar dari tubuh Kaswadi, kan lebih baik ada didalam tubuh dia agar mbok Ju bisa awasi apa yang akan mereka lakukan mbok?” tanya Wildan


“Mbok Ju ndak mau lagi ada di tubuh Kaswadi setelah tau dokumen itu ada di tangan yang tepat nak tdjuiiih…., sebelumnya kan mbok selalu ikuti Kaswadi agar dia mencari, mbok selalu bikin dia ketakutan terus tiap hari agar dia ada niatan untuk mencari nak” kata mbok Ju


“Apalagi ada pacar Kaswadi yang bernama Kurni itu nak, mbok jadi jijik lihat Kaswadi, dia berani meningalkan anak istrinya yang ada di desa dengan keadaan kesusahan, sementara Kaswadi saat ini sedang banyak harta yang diberi oleh Trimo”


“Gila Kaswadi itu, dia harus diberi pelajaran mbok Ju, harus itu!. Tapi dia sekarang ada di sekitar vila putih mbok, dia bersama dengan Trimo disana. Tapi apakah dia sudah balik ke hotel atau belum saya juga tidak tau mbok” kata Wildan yang sudah mulai akrab dengan mbok Ju


“Oh setuju nak, nanti mau mbok kasih pelajaran nak, tapi ketika dia sudah ada di hotel dan bersama dengan jeng Kurni saja. Enaknya diapakan dia nak?” tanya mbok Ju


“Bikin kuntila dia mengkeret mbok, atau kalau dia sedang skidipap swadikap fu fu fu bikin dia gak bisa lepas hihihihi gantet gitu mbok hihihihi” kata Wildan


“Hahahaha bikin kayak Gilank dulu itu lho mbok, kuntilanya ndangak terus mbok, jadi kuntila dia itu ndangak dan gak bisa pakek celana, kalau pakek celana rasanya panas dan gatal mbok hihihihi” kata Wildan sambil jalan bersama mbok Ju yang berupa hantu.


“Lha ini baru ide bagun nak WIldan, jadi agar supaya menghindarkan dia berbuat zinah dengan Kurni  hehehe, kalau ide ini mbok setuju saja nak, tapi harus ada pemulanya dulu nak, misalkan dia di vila putih kemudian jatuh, atau tersengt lebah atau apalah” kata mbok Ju


“Jadi agar mereka tidak ada pikiran kalau itu akiba dari terkena guna-guna gitu ya mbok” sahut Wildan


“Iya bener nak, jadi seolah olah karena ulah dia sendiri, akibatnya itunya gak bisa tidur sama sekali, dan selalu gatal apabila dia memakai celana heheheh” kata mbok Ju


Ndak terasa karena sambil ngobrol mereka berdua sekarang sudah dekat dengan area vila putih yang saat ini menjadi ramai.


“Nak Wildan, tolong jangan bersuara nak, di atas kita ada beberapa orang yang sedang duduk-duduk, kalau mbok lihat mereka ini semuanya paranormal nak. Mereka kesini mungkin karena ajakan dari Trimo nak” kata mbok Ju


Mereka berjalan di sisi jurang tanpa bersuara sama sekali hingga mbok Ju memberikan tanda kalau keadaanya sudah aman.


“Hmmm bisa jadi mbok, Trimo mengundang mereka juga mungkin untuk membuyarkan konsentrasi kita mbok. Jadi konsentrasi kita akan terpecah menjadi beberapa. Satu pihak mengatasi Trimo dan kawanya, di lain pihak banyak orang yang kesini yang juga harus kita hentikan mbok”


“Nah perkiraan mbok tadi juga begitu nak, kerja kalian akan semakin sibuk nak, tapi coba nanti kalian diskusikan dulu tentang pembagian tugas ini nak, agar semua bisa diatasi bersama.  Disana nanti kan ada mbok Ju, dan Handoko juga nak, selain dari grup kalian juga”


“Oh iya nak Wildan, pak Tembol sekarang ada dimana, dan sedang berurusan dengan siapa, dan urusan apa kalau boleh mbok Ju boleh tau nak”


‘Hufff…. Dia sekarang mungkin ada di Mjkt mbok, dia juga bermasalah dengan Rochman juga mbok, sama dengan kita, hanya saja kalau kita kan selain dengan Rochman juga dengan manusia-manusia yang gila harta mbok”

__ADS_1


Setelah hampir satu jam lebih mereka menyusuri jurang, akhirnya mereka berdua sampai di pintu masuk lorong yang menuju ke ruangan.


“Nah, kalian datang juga akhirnya. Tadi kita sampai akan nyusul kalian berdua lho” kata pak Han


“Aman pak, karena ada mbok Ju heheheh.  Bagaimana dengan yang ada di atas sana pak, keliatanya sudah banyak orang yang siap menggempur vila putih pak. Kalau tidak dilaporkan ke aparat yang berwenang, takutnya akan semakin banyak yang datang kesini pak” kata Wildan


“Nah ini, sama dengan ide nak Ali dan nak Saeful tadi, memang sudah waktunya penegak hukum turun tangan, karena sekarang masalah ini sudah menimbulkan keramaian nak” kata pak Han


“Saya kenal dengan polisi Gebang yang sering sholat di masjid pak, mungkin saya bisa laporkan keadaan disini kepada mereka pak” Kata Saeful


“Eh begini saja, bagaimana kalau nak Saeful keluar dari sini dan berjalan dari atas menuju ke bawah, akan saya kawal mas Saeful selama berjalan itu, nah dari situ nak Saeful kan tau ada berapa mobil dan motor yang ada di atas sana, sekalian tanyakan sedang ada acara apa disini”


“Pokoknya mas Saeful jadi orang daerah sinilah yang tidak sengaja jalan dari hutan atas menuju ke bawah” kata pak Han memberikan ide nya


“Kemudian mas Saeful turun ke Gebang dan laporkan kepada pihak yang berwajib tentang adanya keramaian yang mencurigakan di vila ini mas, kalau bisa secepatnya saja mas, agar tidak makin banyak yang datang ke sini” tambah pak Han


“Ih kak Ipul mau kemana sih, akunya kan gak ada temen bicara kak” sahut Gilank tiba-tiba


“Ipul mau cari istri lagi, karena kamu gak bisa bikinin dia anak, kamu cumam bisa bikin dia enak” sahut Broni yang kesal dengan kelakuan Gilank


“Hehehehe ya sudah mas Ipul ayo kita berangkat saja” kata pak Handoko


“Apa ndak lebih baik nak Ipul sama saya saja Han, kamu jaga disini saja, siapa tau mereka butuh ide karena yang ada diatas itu mulai mnyerang vila” kata mbok Ju menawarkan diri


“Oh kalau gitu ya ndak papa. Jadi mbok Ju nanti yang kawal Ipul ya mbok, jangan sampai ada yang bikin masalah dengan Ipul mbok” kata pak Handoko


“Yang lainya terutama mas Wildan, mas Tifano, dan mbak Novi lebih baik istirahat, buatlah tidur kalian yang nyaman, karena perkiraan saya nanti malam akan banyak tugas dan kerjaan yang harus kita lakukan”


“Nak Wildan, heheheh akan mbok Ju lakukan kalau ada kesempatan nak hehehehe” kata mbok Ju


Akhirnya Saeful dan mbok Ju sudah ada di lereng jurang, mereka berdua harus ke arah naik lagi agar seakan-akan Saeful berasal dari hutan yang ada di atas sana.


Setelah berjalan cukup jauh, kemudian Saeful keluar dari jurang menuju ke jalan besar depan vila, Saeful yang memakai sarung dan kopiah yang agak kusam itu berjalan dari atas menuju ke Gebang. Sedangkan mbok Ju memperhatian dari kejauhan agar tidak bisa dideteksi oleh paranormal yang ada di sana.


Saeful berjalan dengan santai seperti biasanya dia jalan ketika sedang membuat onar kepada dukun palsu itu, dia berjalan pelan sambil memperhatikan kiri dan kanannnya, siapa tau ada yang sedang sembunyi.


Semakin dekat Saeful dengan rumah Supardi yang sekarang sedang ramai dengan satu dua tiga mobil, ada tiga mobil yang terparkir di depan rumah Supardi.


Saeful menoleh ke arah kanan, dia lihat di ruang tamu rumah itu ada beberapa orang yang sedang duduk bersila dan sedang ngobrol, kelihantanya mereka sedang merencanakan sesuatu.


Saeful melewati rumah Supardi tanpa ada halangan, kemudian dia berjalan lagi ke arah bawah, dia berjalan dengan santainya hingga di depan gerbang vila ada beberapa orang yang sedang duduk-duduk di rumput, perawakan mereka memang sudah mirip dengan dukun.


Mereka menggunakan mobil dan sepeda motor, dan disana ada ehhmm tujuh orang yang entah sedang apa duduk-dduduk di depan pintu gerbang vila.


“HEIIII SINI ANAK MUDA!” teriak salah satu dari mereka yang memakai udeng dan tanganya penuh dengan gelang akar bahar


“Saya pak” tanya Saeful yang diam di tengah jalan

__ADS_1


“IYAAA KAMUUU SINI KAMU!” bentak orang itu lagi, sedangkan yang lainya tertawa tawa melihat tingkah orang yang memanggil Saeful tadi


__ADS_2