MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 180 (DI MAKAM MBAH WOTO DAN SUPARMI )


__ADS_3

Meskipun sudah beberapa jam tapi suara teriakan, tangisan, suara tertawa itu masih saja ada, tentu saja hal ini sangat mengganggu penduduk yang ada disana.


“Bagaimana ini pak Tembol. bagaimana cara mendatangkan mbah Woto dan Suparmi, kita sudah mendengar suara itu hampir tiga jam pak” kata Saeful


“Nah itu mas Saeful, sesuai dengan omongan mbok Ju yang tadi dipanggil oleh adik Mak Nyat Mani, hanya mbah Woto yang bisa menyadarkan Suharto” lanjut Novi


“Mbok Ju, bagaimana ceritanya kok sampai Sekar bisa tau apa yang sedang terjadi disini?” tanya pak Tembol


“Karena Sekar ternyata juga mengikuti apa yang masuk ke dalam tubuh Suharto dan ternyata yang masuk ke tubuh Suharto itu adalah setan yang sudah terbiasa minta tumbal kepada manusia yang butuh apa saja”


“Dan demit itu asalnya adalah prajurit Sekar yang diusir dari masyarakat ghaib yang tinggal di telaga itu. Makanya Sekar tau persis apa yang sedang diminta oleh demit itu” jelas mbok Ju


“Begini saja, gimana kalau kita pancing dia untuk menuju ke makam, dari pada bikin keributan disini” usul Petro


“Bagaimana caranya memancing dia agar mau ke makam orang tuanya?” tanya pak Tembol


“Kita coba dengan Semprul saja dulu pak, eh tapi sebagian dari kita harus ada di makam sana, untuk jaga-jaga akan apa yang akan terjadi disana”


“Saya dan mas Saeful saja yang kesana duluan pak” kata Novi


“Ya sudah nak Novi kesana saja bersama nak Saeful, saya dan nak Blewah  ada disini , sendangkan nak Petro memancing keluar Suharto yang masih teriak-teriak itu


“Nanti kami akan ikuti dari belakang apabila Suharto sudah bisa dipancing untuk keluar dari dalam  rumah, pokoknya dia harus segera  pergi dari rumah itu, terserah nanti di makam apa yang akan terjadi dengan dia” kata  pak Tembol


Novi dan Saeful segera pergi ke makam.. mereka jelas akan  mempersiapkan tempat persembunyian disana, mereka berdua bersama dengan mbok Ju.


Petro berjalan masuk ke halaman rumah Suharto, hingga di depan pintu rumah tiba-tiba Suharto berteriak keras.


“STOOOP!!! SEKALI KAMU BUKA PINTU, MAKA AJALMU AKAN DATANG SEGERA. PERGI DARI RUMAH INI!”  teriak Suharto dari dalam rumah


“Hehehe saya kesini karena teriakanmu yang bikin bising telinga, kayak banci sih kamu itu. AYO KELUAR KALAU BERANI, KITA TANDING DI LUAR SAJA!” teriak Petro  yang sudah ada di depan rumah


“SAYA PALING BENCI SAMA LAKI-LAKI YANG SOK JAGOAN TAPI TIDAK BERANI MENGHADAPI KEMATIAN!” teriak Petro makin keras


“GRRRHHH  HAHAHAH  KAMU BUKAN LAWANKU, TUNGGU AKU DILUAR  HAHAHAH” teriak Suharto dari dalam rumah


“Siap-siap nak petro, mundur keluar rumah sekarang nak!” teriak pak Tembol yang ada di pagar luar rumah Suharto.


Dalam hitungan detik pintu rumah Suharto terbuka lebar, dia ada di ambang pintu dengan wajah yang berbeda, wajah dia sekarang sudah tidak menyerupai Suharto, karena wajah dia sudah berubah menjadi wajah iblis.


“Gila, wajah dia sudah berubah jadi hitam legam, dia sudah bukan Suharto lagi dia sudah berubah jadi iblis” kata pak Slamet


“SIAPA TADI YANG MENANTANGKU!” bentaknya


“Hmm gerakannya lambat sekali!”


“Dia besar dan kuat, tapi gerakannya lambat, Semprul bisa saja buat dia marah dengan cara menggigitnya perlahan lahan, dan  membiarkan Suharto mengejar Semprul ke makam” kata pak Tembol kepada Petro


“Sekarang suruh Semprul untuk membuat dia emosi dan mengikutinya ke makam nak Petro” suruh pak Tembol


Petro yang tadinya hanya melihat saja apa yang sedang terjadi kemudian mulai memerintahkan Semprul untuk membuat emosi Suharto yang  sudah berubah menjadi iblis.


Semprul perlahan lahan menggigil bagian tengkuk Suharto hingga dia kebingungan. Tengkuk atau punggung itu bagian paling enak untuk dibuat iseng iseng.


Setelah beberapa kali gigitan Semprul dan Suharto mulai emosi, sekarang semprul berlari kecil menuju ke arah makam kedua orang tua dari Suharto.


Suharto tidak berkata apa-apa, dia hanya menggeram dan berputar putar saja ketika Semprul menggigit tengkuk dan punggungnya, dia hanya berputar dan berusaha menangkap Semprul.


Sebetulnya bisa saja saat itu juga Semprul memusnahkan apa yang ada di dalam diri Suharto, tetapi akibatnya akan fatal, Suharto bisa mati.


Tapi apakah dengan membawa Suharto ke makam kedua orang tuanya itu bisa menyadarkan Suharto dari demit yang ada di dalam tubuhnya? nah itu yang masih menjadi tanda tanya.


Suharto mengikuti Semprul yang berjalan terus menuju ke arah makam desa, sesekali Semprul mendekati Suharto dan menggigit lagi bagian belakang orang itu.


“Pak Slamet dan pak Ribot guru tari, ayo kita kesana, agar kalian bisa menyaksikan apa yang terjadi dengan Suharto, sehingga kalian bisa cerita kepada masyarakat disini” ajak pak Tembol

__ADS_1


Pak Tembol, Blewah, pak Slamet dan guru sekolah merangkap guru tari yang bernama Rebot mengikuti dari kejauhan Suharto yang sudah berbelok ke arah persawahan.


“Pancingan Semprul berhasil,  tetapi apa yang akan kita lakukan di makam itu pak, percuma juga kita ke makam apabila tidak melakukan apapun terhadap Suharto” kata Blewah


“Saya juga belum tau, apa yang akan kita lakukan disana”


“Hanya saja masalah ini lebih baik diselesaikan di makam kedua orang tuanya dengan alasan siapa tau arwah mbah Wo dan Suparmi akan melihat anaknya yang sudah berubah menjadi iblis  itu” kata pak Tembol


“Ada benarnya juga pak, kita hanya berharap apabila mbah Wo bisa bantu kita, sesuai yang mbok Ju omongkan tadi itu pak”


“Eh pak Tembol, apakah nanti Soeharto ditahan di makam itu?” tanya Rebot


“Eh ditahan bagaimana ya maksud dari pak Rebot ini?” pak Tembol bingung dengan pertanyaan pak Rebot yang agak aneh


“Yah mungkin ada kerangkeng ghaib yang ada di makam itu, sehingga dia tidak bisa kemana mana” lanjutnya


“Hehehe jelas tidak ada kerangkeng macam itu pak, kami hanya membawa dia kesana agar bertemu dengan makam kedua orang tuanya, atau bahkan mungkin arwah kedua orang tuanya akan menyadarkan anaknya”


“Ya sudah kalau begitu pak, kita ikuti saja apa yang akan terjadi selanjutnya dengan Suharto”


Suharto sudah mulai memasuki persawahan dan sekarang  menuju ke hutan kecil, dimana disana ada pemakaman umum desa.


Semprul terus menggigit Suharto apabila dia mulai berhenti berjalan, begitu terus menerus hingga mereka sekarang ada di makam.


“HEIIII SUHARTO, LIHAT MAKAM ORANG TUAMU, SUDAH KAMI BERSIHKAN” teriak Petro dengan keras


“KURANG AJAAAAR GGRHHMM APA YANG KALIAN LAKUKAAAAN!” teriak Suharto mendadak mendatangi makam kedua orang tuanya dan kemudian membongkarnya lagi


Dia membuang batu yang  sudah disusun rapi, dia juga berusaha untuk mencabut patok atau batu nisan yang sudah mereka pasang sebelumnya, pokoknya keadaan makam ini mulai berantakan lagi.


Dan bagian yang paling mengerikan adalah ketika Suharto membuka celananya, kelihatannya dia akan mengencingi makam itu.


Ketika dia sedang berusaha mengeluarkan kuntilanya, mendadak ada sebongkah batu yang melayang dan mengenai kepalanya.


“AARGGGGHH SIAPA YANG MELEMPARKU!” teriaknya dengan marah


“TOLOOOL. DIA BUKAN ORANG TUAKU!” teriaknya dengan nada marah


Tiba-tiba Suharto yang masih mengeluarkan kuntilanya itu menyerang pak Tembol. tapi untungnya pak Tembol segera menepi dan terhindar dari cabikan kuku Suharto yang sekarang amat panjang.


“HAHAHAH KAMU BISA MENGHINDARI KU SEKARANG, TAPI SELANJUTNYA KAMU AKAN JADI TUMBALKU HAHAH” teriak Suharto yang kembali menyerang pak Tembol


Tepat ketika mulut Suharto yang sudah bergigi taring itu akan mengenai pak Tembol, tiba-tiba Semprul menerjang Suharto. Suharto pun berguling guling di makam desa.


Ketika Suharto dalam keadaan tertelungkup dan mulai berdiri, Saeful yang membawa batu nisan mbah Wo kemudian memukul punggung Suharto. dia terjatuh lagi.


“Ingat anak-anak, ini saatnya kita bermain fisik, dan ingat jangan sampai membunuhnya, cukup kita lumpuhkan saja, nanti apabila yang ada di dalam tubuh Suharto mulai ngamuk itu adalah jatah semprul dan mbok Ju!”


Selama Suharto wujudnya nyata, dia menjadi mainan mereka yang ada disana, tiap dia akan berdiri, selalu ada saja yang membuatnya tersungkur,  dan itu terjadi berulang-ulang.


“Sekarang jatahnya Novi ya rek, hihihih”


Novi mengambil batu yang tidak seberapa besar, kemudian batu itu dilemparkan ke arah kuntilanya yang masih berada di luar celananya.


Suharto tersungkur lagi, dia sudah tidak mengerang atau mengancam lagi dia hanya berusaha untuk bisa berdiri, tetapi anak-anak selalu berhasil membuatnya tersungkur.


“Awas, demit yang ada di dalam tubuh Suharto  akan keluar dan akan menyerang kalian” kata mbok Ju


“Kalau demit itu sampai keluar maka tamatlah Suharto, dia akan mati!” lanjut mbok Ju


“Prul… Semprul, buat dia tidak bisa keluar dari raga Suharto, tiap dia keluar masukan lagi ke dalam tubuh itu” teriak Petro kepada anjeng kesayanganya


“Enak aja, sudah dapat Tumbal kok malah mau minggat dari tubuh yang ditumbalkan” teriak mbok Ju


Ternyata benar kata mbok Ju, suatu ketika Suharto tiba-tiba mengerang kesakitan , apa mungkin itu pertanda bahwa Demit yang ada di dalam tubuhnya akan keluar?

__ADS_1


Semprul menerjang tubuh Suharto, dia menggigit demit yang berusaha keluar dari arah manapun, sehingga tubuh Suharto terlihat berguling guling di area pemakaman.


Hingga akhirnya Suharto terdiam dan Semprul menyudahi menggigit demit yang tadi akan keluar, sekarang demit murahan yang sudah menguasai tubuh Suharto itu terkurung dia dalam tubuhnya.


“Jangan coba-coba melarikan diri dari kami, atau kamu akan kami bakar!” teriak mbok Ju kepada demit usil itu


Suharto berusaha berdiri lagi tetapi tiba-tiba Blewah menendang kakinya, dia pun kembali tersungkur, begitu seterusnya hingga Suharto benar-benar hanya duduk diam di tengah makam.


“Nek kayak gini  Suharto koyok maling yang kena hajar masa hihihihi” kata Blewah


“Kamu tidak akan bisa lolos begitu saja demit yang ada di dalam Suharto, kalau kamu coba-coba keluar dari sana, maka kamu akan binasa selamanya”


“Kamu tidak akan bisa mendapat mangsa tumbal lagi hahahah” kata mbok Ju


Meskipun malam hari ini keadaanya gelap, tetapi sosok wajah Suharto masih bisa mereka lihat. Sekarang wajah Suharto perlahan lahan berubah normal, meskipun demit usil itu masih ada di dalam tubuhnya.


“Saya berharap mbak Woto dan Suparmi ada disini, dan melihat anaknya yang menyedihkan ini, anak yang durhaka, tidak tau terimakasih, anak yang mengandalkan emosinya saja” kata pak Tembol


“Mereka berdua pasti tau keadaan anaknya yang parah ini pak” kata pak Slamet


“Hanya saja kemungkinan besar mereka ingin agar anaknya diberi pelajaran dulu sebelum mereka datang menemui anaknya” lanjutnya


“Saya yakin setelah anaknya merasa bersalah dan mulai menyadari apa yang dilakukannya selama ini salah, bisa saja orang tuanya akan datang menemuinya”


Suasana seperti ini yang membuat mereka lengah, karena sedetik kemudian Suharto yang sudah cukup lama istirahat dengan duduk diam itu tiba-tiba bangun dan kemudian lari menuju ke area hutan bagian dalam.


“Waduh dia lari…. ayo kejar anak-anak, nak Petro lepaskan Semprul, suruh dia kejar Suharto”


Mbok ju, Semprul mengejar Suharti eh Suhaeto yang lari menuju ke arah hutan, tetapi karena cara lari Suharto yang cepat itu mengakibatkan mereka tidak bisa mengejarnya.


Soeharto ternyata bisa lari dengan cepat, dalam hitungan detik dia hilang dari pandangan mereka, bahkan langkah kakinya pun tidak terdengar lagi.


Mbok Ju dan Semprul kembali dengan tanpa hasil, mereka tidak berhasil mengejar Suharto yang dirasuki oleh lelembut mungkin bekas pelari cepat hehehe,


“Ya sudah lah, dia lari ke arah yang kita tidak tau, dan kemungkinan besar dia kini mencari anak istrinya. Lebih baik kita balik ke vila putih dan mencari keterangan kepada Saritem dan Sumarti ibunya” kata pak Tembol


“DIa tidak akan kembali ke rumahnya,karena orang yang seharusnya menjadi tumbalnya sudah tidak ada di sini” lanjut pak Tembol


*****


Kini mereka ada di rumah pak Slamet, dan sesuai dengan perkiraan Slamet tidak ada disini, rumah itu kosong,.


“Gimana pak Tembol, apakah kita balik ke vila dan minta pak Pho untuk mendatangkan mbak Woto?. Sebenarnya aneh juga, hal seperti tadi itu harusnya arwah mbah To dan Suparmi muncul” kata Saeful


“Iya benar nak Saeful, harusnya mereka itu muncul, tetapi entah apa alasannya mereka kok tidak mau muncul dan menemui anaknya yang sudah berubah itu”


“Ada yang aneh dengan kasus anak durhaka itu nak, tapi saya belum bisa menebaknya”


Mereka bersiap pergi dari desa itu menuju ke vila putih, mereka yakin kalau Suharto tidak akan datang ke desa itu karena anak dan istrinya sudah tidak ada disana.


“Yah… musuh kita sekarang bertambah lagi anak-anak heheheh, ya sudahlah, mungkin ini memang sudah takdir kita untuk menolong keluarga ini”


“Ayo anak-anak kita pulang, nanti kita minta pak Pho untuk mendatangkan mbah To untuk menjelaskan sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan anaknya itu”


“Eh pak Slamet dan pak Rebot, kalian jangan khawatir, nanti akan saya kirim orang samar kesini untuk  melihat apa yang terjadi di desa ini. Tapi saya rasa Suharto sudah tidak akan datang ke sini lagi”


“Ya sudah pak Tembol, saya ucapkan terima kasih sudah menyelamatkan Sarinah dari bapaknya yang sekarang  entah sedang sembunyi di mana”


Mereka naik ke dalam mobil Novi dan mulai pergi dari desa itu menuju ke vila putih. mereka yang ada di dalam mobil hanya diam tanpa berbicara sama sekali, karena musuh mereka sekarang bertambah satu lagi.


*****


“Eh mbok Ju, apakah mbok Ju masih bisa mendatangi Sekar, kalau masih bisa saya kepingin ketemu dengan Sekar mbok” kata pak Tembol


“Lho kenapa kok pak Tembol pengen ketemu Sekar pak?”

__ADS_1


“Ndak papa mbok Ju, dia kan penguasa disini dan dia tadi sudah menyuruh anak buahnya untuk mengawal kalian waktu tadi membawa Saritem dan keluarga kan”


__ADS_2