MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 234 (ADA APA DENGAN MARWOTO)


__ADS_3

Marwoto yang saat ini sudah bisa mewujudkan dirinya menjadi bayangan yang lebih sempurna mendekati menyerupai sosok manusia itu masih berdiri di depan Dimas.


“Maksudmu bagaimana Marwoto, maumu apa kamu kesini, harusnya kamu ke sana, ke hotel Waji bersama dengan pak Tembol dan yang lainya”


“Kenapa kamu tidak menolong Suharto saja disana, apa kamu tau bagaimana keadaan Suharto?”


“Iya aku tau Dimas, dia sekarang dalam keadaan sekarat, tetapi dia masih bisa hidup”


“Lhoo kok Suharto malah sekarat, lalu tujuanmu ke sini apa Marwoto?”


“Saya mau ketemu dengan Kie pho, saya mau minta ijin untuk mengambil air kehidupan bagi anak saya Suharto”


Wuihhh ternyata kedatangan Marwoto ini tidak beda dengan yang lainya, dia tetap menginginkan air yang katanya ada di suatu tempat di bawah tanah  vila putih.


“Wah kalau urusan tentang apa yang ada di dalam vila ini jangan berurusan dengan saya, cari anak-anak yang dulu membantu kamu  dan melindungi kamu dan istrimu dari saya….. cari saja mereka, jangan tanya saya!”


“Ingat kamu bisa hidup hingga punya anak bernama Suharto karena kegigihan anak-anak yang melawanku, tanpa ada mereka saya sudah berkuasa dan juga menguasai istrimu!” bentak Dimas


“Dimas… tolong saya, temukan saya dengan Kie Pho!”


“Asal kamu tau, saya tidak tau dimana dia berada, kok kamu malah tanya saya… sudahlah daripada buang-buang waktu, lebih baik kamu ke Waji dan urus anakmu itu”


“Tolonglah Demi masa lalu Dimas, tolong saya untuk selamatkan Suharto”


“Hahahah masa lalu apanya, di masa lalu kamu adalah musuh saya! kamu yang dilindungi anak-anak itu hingga keadaan mereka susah payah!”


“Sekarang cepat pergi dari sini, dan cepat selamatkan anakmu dari Ginten!” suruh Dimas, kemudian DImas masuk ke dalam  vila.


Ada apa dengan Marwoto, jelas ada yang disembunyikan oleh dia.


Alasan pertama dia tidak menyelamatkan anaknya dan cucunya adalah agar tidak diperas oleh mbok Ginten. Tetapi sama saja kan, sekarang dia pun mencari air itu untuk menyelamatkan anaknya yang katanya sedang sekarat.


“Ada apa Marwoto datang ke sini DImas?” tanya WIldan ketika Dimas sudah ada di dalam vila


“Sebentar WIldan, saya masih bingung dengan yang dikatakan Marwoto itu. Nank tolong ceritakan kepada Wildan, Tifano,dan Petro, apa yang tadi dikatakan Marwoto”


“Saya mau berpikir sejenak….”


“Eh Tifano… tolong telponkan Tembol atau siapapun yang dekat dengan Tembol, ada yang akan saya bicarakan tentang Marwoto”

__ADS_1


Sementara Sinank nang bercerita tentang apa yang terjadi dengan Marwot tadi, Tifano sedang berusaha menghubungi Broni yang ada di hotel Waji.


“Wah kenapa sampai begitu Marwotonya?” kata Wildan agak  keras


“Sssttt diam WIl, saya sedang bicara dengan Tembol ini” kata Dimas


*****


“Masalah kita bertambah lagi pak Han” kata pak Tembol kepada pak Han setelah Broni kembali ke kamar 2+ untuk membicarakan masalah Marwoto ini bersama teman-temanya


Pak Tembol menceritakan kepada pak Han apa yang dia bicarakan dengan Dimas barusan.


“Bagaimana bisa Marwoto seperti itu, sebenarnya apa yang terjadi dengan Marwoto?” kata pak Han dengan heran


“Sudahlah saya juga bingung pak, apakah ini semua permainan dari Marwoto sendiri atau gimana… saya juga kurang paham pak” kata pak Tembol


“Kenapa pak Tembol bisa berkesimpulan seperti itu?” tanya pak Han


“Ingat apa yang dicari Suharto selama ini setelah kematian mbah Woto? jawab pak Tembol


“Tentang harta karun itu kan pak Tembol?” tanya pak Han


“Memang yang diceritakan mengenai harta karun, tetapi dibalik harta karun itu ada sesuatu yang paling dicari oleh Marwoto, tetapi anaknya yang disuruh untuk mencarinya” jawab pak Tembol


Suharto saat ini dalam keadaan belum mati, tetapi keadaannya mengkhawatirkan.


“lebih baik kita bawa ke rumah sakit dulu saja pak Han, tentu saja dengan pengawalan dari anak buah pak Bowo” kata  Blewah


“Kita harus sembunyikan dia dari siapapun selain kita yang tau pak, dan lebih baik di rumah sakit saja agar kesehatanya bisa dipulihkan juga” kata Blewah lagi


“Benar kata nak Blewah, kita sembunyikan Suharto di suatu tempat rumah sakit, sehingga kesehatanya bisa dikontrol, kita perlu dia dalam keadaan sadar, agar kita bisa tau apa yang selama ini ada di dalam pikirannya” kata pak Tembol


“Pak Tembol, saya kok curiga dengan Marwoto dan Ginten ya… eh maaf.. apakah mereka pada jaman dulu itu pernah ada hubungan?”


“Saya rasa tidak ada pak Han…Marwoto itu yang perlu dilindungi, sedangkan Ginten dan kami semua ini yang melindunginya”


“Ya sudahlah pak Tembol, saya mau hubungi pak Bowo dulu melalui ponsel mbak Novi”


Pak Han berjalan menuju ke kamar 2+ dimana disana ada anak-anak yang sedang menunggu perintah selanjutnya.

__ADS_1


Sedangkan Suharto anak Marwoto tergeletak di tempat tidur dengan keadaan yang lemas.


“Saya sedang berpikir keras ini  nak Blewah, sebenarnya apa yang dimaui Suharto, permainan apa yang sedang dimainkan bersama kita, dan apakah ini ada hubunganya dengan Rochman”


“Menurut pikiran saya, kita sedang dalam permainan yang diciptakan oleh Marwoto dengan mengorbankan anak dan cucunya pak”


“Hanya saja saja belum tau apakah ini ada hubunganya dengan mbok Ginten, atau apakah mereka berdua  adalah team yang bermain dengan cantik hingga kita percaya dengan mereka” kata Blewah


“Itu juga yang tadi ada di dalam pikiran saya nak Blewah”


“Ehhm lebih baik kita rawat dulu saja Suharto, karena bisa saja dalam keadaan dia sadar dia bisa menjelaskan apa saja yang terjadi dengan dirinya nak”


Tidak lama kemudian pak Han datang dari kamar 2+....


“Saya sudah bicara dengan pak Bowo, dia sedang usahakan penjemputan Suharto dengan menggunakan Ambulan dan pengawalan dari mereka, agar tidak terjadi sesuatu” kata pak Han


“Tadi saya juga bilang ke Bowo agar secepatnya Suharto diamankan, keburu Marwoto atau Rochman datang kesini”


“Bagaimana keadaan Suharto pak” tanya pak Han


“Ya masih seperti tadi pak Han, dia masih tergolek lemas di atas tempat tidurnya” jawab pak Tembol


“Oh iya pak Han, untuk yang ikut dengan Suharto ke rumah sakit, nanti siapa saja?”


“Saya pikir harus yang bisa mengatasi hal-hal ghaib pak Tembol, mungkin mbok Ju bersama Novi lebih baik itu”


“Sekarang mungkin sudah hampir tengah malam, ambulan dan pengawalan itu belum datang juga. Eh lebih baik saya tunggu di luar saja bagaimana pak?” tanya pak Tembol


“Atau apa tidak sebaiknya kita bawa juga suharto ke warkop yang ada di depan sana, jadi tidak mencolok apabila nanti ada ambulan dan pengawalan datang”jawab pak Han


“Tapi bagaimana cara membawa Suharto ke depan sana. eh pak Han.. tadi waktu pak Han ke kamar 2+ apa tidak lihat keadaan kebakaran yang ada di depan sana?”


“Hehehe apinya masih menyala pak, eh lebih baik sekarang saya membawa Suharto ke warkop depang, mumpung orang-orang sedang fokus pada pemadaman api pos penjagaan hotel hehehe”


“Mas Blewah..tolong panggilkan yang lainya untuk membantu membawa Suharto ke depan, nanti mas Blewah jaga kamar ini saja ya” kata pak Han


Ali, Saeful dan Broni …dengan tenaga mudanya. Saeful dan Broni merangkul di kiri kanan Suharto layaknya menuntun orang yang sedang mabuk berat.


Sedangkan Ali berjalan di depan mereka  berdua untuk mengawasi keadaan di sekitarnya.

__ADS_1


Sementara itu pak Han dan pak Tembol sudah duluan berjalan ke arah taman, mereka berdua sekarang sedang melihat aksi pemadaman api yang sudah berhasil dipadamkan.


Pak Bowo sudah ada di warkop, dia menunggu ambulan dan satu pengawalan untuk menuju ke rumah sakit.


__ADS_2