MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 238 (ROCHMAN GAGAL BERTEMU GINTEN)


__ADS_3

“Kenapa Marwoto… kamu kaget dengan keadaan Ginten yang sekarang sudah dalam genggaman Rochman?”


“Bukan..bukan itu Dimas…”


“Saya tidak ada hubunganya dengan Ginten dan apapun yang dia lakukan bersama Rochman, entah itu dia  menculik anak saya dan menyerahkannya kepada Rochman”


“Atau dia punya tujuan khusus untuk mencari air, itu juga saya tidak ada hubunganya” kata Marwoto


“Tetapi yang saya pikirkan adalah cucu saya, jangan sampai dia kehilangan ayahnya”


“Memang selama ini saya yang salah… saya selalu bercerita tentang harta karun yang sempat saya curi dengar dari pembicaraan Mak Nyat Mani” ketika setelah mereka katanya membinasakan kamu


“Tidak hanya harta karun saja yang saya curi dengar dari Mak Nyat Mani, juga ada tentang air yang ajaib itu juga”


“Dan akhirnya saya jadi tau maksud tujuan dari penyatuan Wilayah ini, yaitu untuk mencari air itu” kata Marwoto berusaha mencari simpati dari Dimas


“Saya mengaku salah dengan bercerita kepada anak saya tentang ini semua, dan saya merasa bersalah juga karena saya tidak bisa mendidik anak saya menjadi pribadi yang kuat”


“Saya tau setelah kematian saya, anak saya limbung, dia tidak bisa menerima kematian saya”


“Dan akhirnya dia punya obsesi untuk mencari air itu guna menghidupkan saya lagi”


“Yah.. Marwoto, sudahlah tidak usah berbelit belit, saya tidak tau apa tujuanmu sekarang”


“Bahkan dengan ceritamu yang menyedihkan itu juga… saya juga tidak mau tau” kata DImas dengan tegas


“Tiap bagi siapapun yang berusaha masuk ke dalam vila dengan tujuan mencari benda itu, kami tetap anggap dia sebagai musuh kami” kata Dimas dengan sedikit amarah


“Untuk masalah Suharto, kamu harus relakan anakmu seperti itu, itu juga karena akibat dari kamu yang tidak bisa membuat dia menjadi sosok heroik seperti kamu dan Suparmi pada jaman dulu itu” kata Dimas lagi


“Lalu apa yang harus saya lakukan Dimas?” tanya Marwoto dengan nada memelas


“Datangi Hotel tempat Rochman berada, lakukan sesuatu dengan Rochman, dan berdoa agar anakmu menjadi sehat kembali dengan pertolongan medis”


“Tetapi Jiwa Suharto sudah tidak ada di dalam tubuhnya” kata Marwoto


“Cari Ginten, tanyakan kepada dia, mudah-mudahan Ginten mengurung jiwa anakmu di suatu tempat!”


“Dan mudah-mudahan Ginten belum lenyap juga hahaha” kata Dimas

__ADS_1


*****


“Tolong kabari pak Tembol dan pak Han, bilang ke mereka bahwa saya dengar beberapa orang menuju ke arah cottage kamar 6+, dan saya rasa kita harus bergerak mengikuti mereka mas” kata pak Bowo yang sedang bicara dengan Broni melalui ponselnya


“Baik pak Bowo, sekarang juga akan saya sampaikan kepada pak Han dan pak Tembol” jawab Broni yang ada di kamar 2+


Broni segera berlari menuju kek kamar 5+....


Broni menceritakan apa yang barusan dia dengar dari pak Bowo.


“Tolong hubungi pak Bowo sekarang mas….”


“Saya akan bicara dengan pak Bowo agar jangan sampai pak Bowo bertindak gegabah, sangat berbahaya kalau mengikuti Rochman sampai kesini” kata pak Tembol


Setelah beberapa kali berkomunikasi melalui ponsel, akhirnya diputuskan pak Bowo tetap ada di kamarnya yang letaknya di bangunan utama, sedangkan pak Han tetap akan ada di teras kamar 5+.


“Pokoknya tugas kita jangan sampai Rochman masuk ke kamar 6+ dan membebaskan Ginten, bisa bahaya itu pak” kata pak Tembol


“Mas Broni, nanti tutup pintu kamar, dan jangan ada yang keluar dari kamar sama sekali sebelum Rochman berjalan melewati kamar 2+”


“Ok  pak Tembol…”


Keadaan disini memang untuk malam hari ini kelewat sepi karena kamar yang terisi hanya 2+, dan 5+. sedangkan yang lainya sudah kosong.


Tetapi tiba-tiba seluruh lampu taman dan halaman  dimatikan, termasuk lampu taman yang ada di halaman belakang.


Keadaan menjadi gelap gulita, hanya lampu kamar 2+ dan 5+ saja yang masih nyala.


“Pak Tembol… lampu kamar ini matikan juga pak, sekarang pak” kata pak Han yang masih ada di teras kamar


Pak Tembol akhirnya mematikan seluruh lampu kamar, hingga kamar 5+ menjadi gelap gulita, sama dengan keadaan yang ada di sekitar halaman belakang.


“Sekarang kita tunggu saja apa yang akan datang sebentar lagi” kata pak Han


Pak Tembol dan Dogel  berusaha mengintip melalui jendela ruang tamu apa yang akan datang setelah ini.


Sudah sepuluh menit berlalu, dan akhirnya ada juga suara beberapa langkah kaki manusia yang menuju kamar yang ada di samping bagunan utama itu.


“Mereka datang pak Tembol….” bisik pak Han

__ADS_1


Suara langkah kaki itu semakin dekat dengan kamar tempat pak Han yang sedang menunggu di teras hotel…


Suara beberapa pasang langkah kaki itu semakin dekat dengan kamar 5+, hingga kemudian….


“Selamat malam bapak-bapak” sapa pak Han pada dua orang yang sedang berjalan di depan kamar 5+


Kedua orang yang berjalan melalui depan kamar pak Handoko itu kaget, mereka berhenti sejenak kemudian menoleh ke arah suara yang menyapa.


“Oh selamat malam juga bapak, jam segini kok bapak belum istirahat?” kata suara Rochman


“Menikmati malam dan keadaan yang sunyi ini merupakan istirahat bagi saya pak… eh bapak ini pak Nabil ya?”


“Oh begitu ya bapak, betul…saya adalah Nabil pemilik hotel ini”


“Ngomong-ngomong bapak-bapak ini akan menuju kemana, halaman belakang kan gelap lho pak, sepertinya sedang ada pemadaman listrik ini pak” kata pak Han lagi dengan suara yang santai


“Saya sedang mencari penyebab konslet listrik ini pak, karena tidak biasanya aliran listrik di sini padam. ehh mungkin ada hubunganya dengan pos penjagaan yang terbakar tadi itu pak” jelas Nabil


“Oh bisa juga pak, eh bagaimana dengan pos yang terbakar tadi, apakah sudah ditemukan penyebab kebakaran yang tiba-tiba itu pak?” tanya pak Handoko


“Belum bapak, tetapi ada kemungkinan ada yang menyabotase… karena kata salah satu pegawai disini sempat mencium bau bensin di sekitar pos yang terbakar itu ketika sedang memadamkan apinya” jelas Rochman


“Ya sudah pak, saya hanya akan melihat keadaan halaman belakang saja, kenapa kok tiba-tiba listriknya bisa padam” kata Rochman yang kemudian meneruskan perjalananya menuju ke halaman belakang


Sesuai dengan skenario agar Rochman tidak masuk ke kamar 6+,  agar dia tidak bertemu dengan Ginten, dan agar tidak ada energi yang terserap ke tubuh Rochman.


Rochman  sama sekali tidak masuk ke kamar 6+, dia hanya berputar dan kemudian kembali ke bangunan utama lagi tanpa menyapa pak Han yang masih ada di teras kamar.


Ketika Rochman dan satu orang lagi yang kemungkinan besar adalah Dollah sudah agak jauh dari kamar 5+, tiba-tiba dari samping kamar muncul pak Bowo.


Pak Bowo kemudian menghampiri pak Han…


“Hei pak Bowo…apa yang sedang kamu lakukan disini?”


“Saya penasaran dengan orang itu pak, saya ikuti saja apa yang sedang dia lakukan” bisik pak Bowo


“Kalau sampeyan ada disini, lalu siapa yang akan mencuri dengar apa yang dikatakan Rochman di dalam kantor hotel?”


“Ada anak buah saya yang akan mengabari situasi di sana pak”

__ADS_1


Ternyata betul juga, tidak lama kemudian salah satu anak buahnya mengirim pesan singkat kepada pak Bowo.


“Kata salah satu anak buah saya, ternyata penyelamatan Suharto diikuti oleh salah satu demit peliharaan Rochman yang ada disini, dan sekarang Rochman menuju ke arah ambulan itu berjalan!” kata pak Bowo dengan panik


__ADS_2