
“Mas Ali… perasaan Novi kok tidak enak ya mas…”
“Iya Nov…. aku juga” jawab Ali singkat
Kemudian ponsel Novi berbunyi..
“Nov..hpmu bunyi, mungkin ada pesan pendek dari teman-teman kita” kata Ali
Novi kemudian menunjukan pesan singkat itu tanpa berbicara kepada Ali, mungkin Novi takut apabila driver ambulan yang bernama TOL ani itu akan mendengar pembicaraan mereka.
Ali hanya melihat sekejap dan kemudian mengangguk lemah..
Mungkin Sekarang Ali sedang berpikir apa yang akan dilakukan apabila benar ada yang sedang mengikuti mereka.
“Pak Tolani, kalau lebih cepat ke rumah sakitnya bisa tidak pak?”
“Wah kecepatan kita ada di antara 60-80 Kpj ini mas… masak kurang cepat lagi?”
“Karena kemungkinan besar ada yang sedang mengikuti kita pak, tapi masih aman kok pak…” kata Ali
Novi hanya diam dan berusaha berpikir apabila Rochman tiba-tiba menyusul mereka di tengah perjalanan.
Memang jelas tidak masuk akal apabila Rochman tiba-tiba bisa menyusul, bahkan dengan kecepatan tinggi pun kemungkinan besar tidak akan bisa menyusul ambulan ini.
Tetapi kita harus kesampingkan perkiraan itu, mengingat Rochman bukan manusia,dia demit asyu!... sehingga apapun pasti bisa terjadi.
Tidak lama kemudian ponsel Novi berbunyi lagi…
“Mas, ini ada sms dari mas Broni… pak Bowo dan pak Tembol berangkat juga mengikuti kita….”
“Iya Nov.. banyak berdoa saja, semoga kita bisa sampai rumah sakit, dan pak Bowo bisa mencegah Rochman yang sekarang mengejar kita”
Ternyata driver yang bernama TOlani itu mendengar apa yang dibicarakan Novi dan Ali.
“Ada apa mas, kok kelihatannya ada yang mencurigakan ya?” tanya Tolani
“Iya pak… ada yang mengikuti kita, dan itu bukan orang baik-baik, dia yang akan mencelakai orang yang sedang sakit itu pak” kata Ali
Tidak ada jawaban dari mulut Tolani, wajah dia saja yang nampak Tegang..
“Tenang mas, saya akan tambah kecepatan, dengan harapan polisi yang ada di depan juga akan menambah kecepatanya”
Driver ambulan itu menambah kecepatan mobilnya, dia merasa bertanggung jawab terhadap pasien yang sedang diangkut menggunakan mobilnya.
*****
“Pak Bowo…. apakah kita bisa mendahului mobil Rochman?” tanya pak TemboL
__ADS_1
“Ini saya usahakan semampu saya pak…. saya heran, kita tadi kan hanya terpaut sekitar sepuluh menit dari pemilik Hotel itu, tetapi kok sudah tidak kelihatan”
“Mungkin dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi pak” kata pak Tembol
“Untungnya lalu lintas disini sangat sepi pada jam-jam segini” sahut Dogel yang ada di kursi belakang mobil pak Bowo
“Pak Tembol, misalnya… ini misalnya saja ya, misalnya yang ada di ambulan itu bisa melihat siapa mata-mata yang ada disana dan kemudian diusahakan untuk mengusirnya bagaimana pak, apakah bisa?”
“Waduh, saya tidak bawa ponsel pak” kata pak Tembol
“Pakai milik saya saja pak… yang dihubungi ini kan ponsel mbak Novi ya?” tanya pak Bowo
“Iya pak, ponsel milik Novi saja”
Pak Bowo mencari nomor Novi sambil mengemudi. Sebenarnya cukup bahaya juga menggunakan ponsel sambil mengemudi itu, karena konsentrasi kita akan terpecah.
“Nah ini dia nomor mbak Novi” kata pak Bowo sambil menyerahkan ponsel itu kepada pak Tembol
Kemudian pak Tembol berbicara dengan Novi dan Ali, dia menyuruh Novi dan Ali untuk menyuruh mbok Ju mencari dan mengusir mata-mata ghaib suruhan Rochman.
Ndak tau bagaimana cara Novi menyuruh mbok Ju yang ada di bagian belakang bersama Suharto yang masih pingsan, pokoknya mbok Ju harus bisa mengusir mata-mata Rochman.
*****
“Mas Ali gimana caranya kita bicara dengan mbok Ju…pak TemboL menyuruh kita untuk bicara kepada mbok Ju agar mbok Ju bisa mengusir mata-matanya Rochman”
Mata Novi melotot sambil menyenggol lengan Ali…
“Iya..iya aku paham Nov…”
Novi tidak ingin menakuti pak Tolani akibat memanggil mbok Ju yang merupakan bangsa tak kasat mata, sehingga Novi agak marah kepada Broni yang semudah itu berkata ‘tinggal memanggil mbok ju kan gampang’
*****
“Bagaimana Marwoto, apa kamu masih menginginkan air yang sudah jelas hanya ada sebagai mitos disini atau kamu akan mencari ginten dan menanyakan tentang anakmu?” tanya Dimas
“Saya akan cari Ginten, tapi dimana dia sekarang berada Dimas?”
“Saya tadi kan sudah bilang, Ginten ada di hotel Waji milik Rochman, nanti sekalian bunuh Rochman juga, karena dia sangat menginginkan energi yang ada di tubuh anakmu”
Marwoto sama sekali tidak menjawab perkataan Dimas, dia hanya diam saja di depan vila putih.
“Cepat kamu kesana, daripada keduluan Rochman yang masih menginginkan anakmu!” usir Dimas kepada Marwoto
*****
DI kamar 5+ pak Han yang saat ini sedang bersama dengan Blewah.
__ADS_1
“Pak Handoko… saya rasa Ginten masih aman apabila dia ada di kamar 6+ pak, karena saat ini saya merasa Marwoto akan kesini” kata Blewah
“Bagaimana kamu tau mas Blewah?”
“Saya tau karena Mirah pak, dia bilang Ginten nanti akan dicari oleh Marwoto dan akan diminta pertanggungjawaban atas diri jiwa Suharto”
“Tapi kita kan belum jelas mas, bagaimana hubungan antara Suharto dan Ginten itu”
“Tidak perlu mempertegas soal itu pak, karena akan semakin memperumit pikiran kita. Yang utama itu sebentar lagi Marwoto akan datang kesini”
“Dan untungnya Rochman belum bertemu dengan Ginten pak, saya yakin apabila Rochman bertemu dengan GInten maka masalahnya akan bertambah panjang”
“Karena apabila Ginten musnah, maka kemungkinan besar jiwa Suharto tidak akan kembali lagi” lanjut Blewah
“Karena menurut Mirah, jiwa Suharto saat ini disembunyikan Ginten di suatu tempat”
“Lalu apakah bisa kita ambil Ginten dari sana dan memaksa dia untuk mengaku dimana disembunyikan jiwa Suharto mas?”
“Tidak bisa pak, Mirah kalah tua dengan Ginten, yang bisa melakukan ini hanya Marwoto, kita disini hanya bisa menjaga Ginten dari siapapun yang akan mengambilnya” kata Blewah
“Saya ini kan sebenarnya bisa juga mas, saya kan bukan makhluk nyata, saya kan juga sama dengan Rochman juga, hanya saja sewaktu melindungi kotak besi yang berisi peta itu energi saya banyak terkuras”
“Dan hingga sekarang saya masih merasa energi saya belum sepenuhnya kembali” kata pak Han lagi
“Iya pak, Mirah pernah berkata begitu kepada saya tentang keadaan pak Handoko”
“Eh pak, kata mirah sebentar lagi Marwoto akan datang kesini pak, kita harus siap apakah Marwoto ada di pihak kita atau tidak” kata Blewah lagi
*****
Sementara itu di dalam ambulan yang menuju ke kota S.
“Siapa tadi yang kalian bicarakan mas?” tanya Tolani
“Tidak ada pak….eh bapak fokus saja dengan mengemudi, karena sebentar lagi kita akan mendapat masalah…”
“Lagi pula kita masih jauh dari kota S pak” kata Ali
“Baik mas…”jawab pak Tolani
Sementara itu mbok Ju yang saat ini sedang mencari mata-mata Rochman akhirnya menemukan juga, sebuah demit kecil yang ikut di atas mobil ambulan.
Tapi bukan demit kecil itu yang ditakutkan oleh mbok Ju, tetapi mobil Rochman yang tidak lama lagi akan menyusul mobil ambulan itu.
Mbok ju pun kemudian masuk ke dalam mobil dan memberitahukan kepada Ali dan Novi.
“Kok saya menjadi merinding ya mas” kata pak Tolani
__ADS_1
“Ah itu hanya perasaan bapak saja, dan tolong dipercepat pak, karena orang yang mengikuti kita sudah tidak jauh lagi dengan mobil ambulan ini” kata Ali