
Di dalam kamar 6+ dalam pandangan ghaib abah Fuad dan Ali ternyata berisi kamar-kamar dengan jeruji besi…
Abah Fuad dan Ali yang saat ini sedang ada di ruangan ber terali besi pertama yang hanya berisi tante-tante berdaster lusuh dengan rambut awut awutan dan yang melotot.
Mereka sedang melawan kekuatan energi yang dikeluarkan abah Fuad untuk membuat kunti yang ada di ruangan pertama itu tertawa keras..
Abah Fuad sepertinya hanya sepele bila menghadapi kunti yang jumlahnya puluhan itu, karena abah FUad hanya tersenyum saja.
“Siap siap mas Ali, sebentar lagi mereka akan tertawa keras dan menyakitkan telinga yang mendengarnya”
Benar apa yang dikatakan abah Fuad, tidak lama kemudian satu .. dua kunti mulai tertawa keras… dan tidak lama kemudian diikuti kunti yang lainya, hingga seluruh kunti yang ada disana tertawa semua.
Suara tertawa yang melengking, suara jeritan dan suara teriakan nada tinggi bergema di ruangan yang mirip dengan penjara ini.
“Abaaaah telinga saya rasanya tidak kuat” kata Ali sambil menutup telinganya”
“Konsentrasi mas… konsentrasi, nanti suara itu hanya terdengar samar saja..”
“Ayo kita lanjutkan ke ruangan yang berikutnya…” ajak abah Fuad
Ali mulai bisa mengendalikan suara yang sangat keras dari kunti itu…
Di ruangan yang kedua ini tidak ada bedanya dengan yang pertama, sebagian besar berisi kunti dan hantu permen yang suka meludah.
Hantu permen dengan kain putih lusuh dan berkuncir di atasnya itu saat ini dalam keadaan ukuran normal, mereka meringkuk di dalam penjara, berdesak desakan dan meminta tolong kepada abah Fuad untuk dibebaskan.
“Bah..popcorn eh popcong itu minta dibebaskan, apakah mereka nanti akan berguna bagi kita?” tanya Ali
“Sama sekali tidak ada gunanya mas, dan jangan membebaskan mereka atau membantu mereka bebas, karena sama saja dengan kita bersekutu dengan mereka”
“Mereka itu hanya manis ketika sedang meminta tolong, tetapi setelah bebas, mereka akan kembali lagi menjadi sangat tidak berguna” kata abah Fuad
“Kita tinggalkan mereka saja mas, kita periksa semua penghuni penjara ini dulu hingga di ruangan yang terakhir, nanti akan abah buat mereka semua berteriak dan tertawa, kita akan siksa Ginten hingga dia menyerah”
Mereka berdua berjalan lagi menuju ke bagian yang semakin masuk atau ke ujung dari ruangan yang mirip penjara ini,
Hingga akhirnya ruangan penjara nomor dua sebelum ujung ada penampakan Ginten yang sedang duduk dengan kepala meunduk, dia dikelilingi oleh kawanan om om bertubuh besar dan berbulu hitam.
__ADS_1
Mereka adalah kawanan genderuwo yang saat ini sedang berdiri berkeliling menatap Ginten yang sedang ketakutan.
“Abah…i.itu apa?”
“Itu Genderuwo yang sedang bhirahi mas heheheh” kata abah Fuad
“Biasanya jarang ada genderuwo betina, yang abah tau biasanya mereka menyerang atau menyetubhuhi perempuan nakal penjual syahwhat”
“Mereka akan menjelma menjadi laki-laki hidung belang dan akan bersetubhuh dengan mereka”
“Dan yang sekarang mas Ali sedang lihat itu… beberapa diantara mereka sedang bhirahi, itu yang sedang berdiri dan mengelilingi ginten”
“Hahaha…hhmm saya punya rencana lain mas…”
“Sebentar… saya akan aja bicara Ginten dulu mas, kalau Ginten tetap saja tidak bisa diajak bicara, maka saya bisa pengaruhi genderuwo-genderuwo untuk untuk menunjukan alat kelaminya ke wajah Ginten hehehe”
Abah Fuad berjalan pelan mendekati terali besi yang di dalamnya ada Ginten yang sedang ketakutan.
“Selamat pagi, siang dan malam Ginten… bagaimana kabarnya, kerasan ada disini?” tanya abah Fuad
Mbok Ginten menengadahkan kepalanya untuk melihat abah Fuad, tetapi dia hanya tertawa kecil seakan akan mengejek abah Fuad yang menyapanya.
“Baiklah Ginten… akan saya suruh om om yang bertubuh besar dan bau wangi itu untuk melakukan sesuatu kepadamu, khususnya om om yang sekarang sedang mengelilingi kamu”
Ginten dian sajam dia kembali menunduk, dia tidak peduli dengan ancaman dari abah Fuad, dan dia tidak tau apabila abah Fuad bisa melakukan sesuatu terhadap Ginten.
Abah Fuad konsentrasi, beliau juga sedang melafalkan suatu bacaan hingga pada hitungan menit kemudian abah Fuad membuka matanya dan tersenyum.
“Bersiaplah Ginten, dan rasakan apa yang akan kamu rasakan berikutnya” kata abah Fuad dengan tersenyum
“Mas Ali perhatikan baik baik apa yang akan terjadi heheheh, ini adalah permainan yang dulu abah sering lakukan ketika pamer kekuatan dengan teman-teman dalam satu perguruan abah hehehe”
Ada sekitar empat genderuwo yang sedang mengelilingi mbok GInten, mereka awalnya hanya mengelilingi dan berdiri saja, tetapi sekarang berbeda.
Perlahan lahan alat khelamin mereka yang tadinya tidak terlihat itu sekarang berdiri.
Semakin lama alat khelamin yang berduri-duri macam pohon kaktus itu semakin tegak dan semakin besar, dan makin membesar seperti tongkat pemukul bola kasti.
__ADS_1
Dan yang mengerikan itu duri-duri mirip pohon kaktusnya…
Mbok Ginten tidak tau perubahan yang terjadi dengan genderuwo yang sedang mengelilinginya itu.
Hingga salah satu dari genderuwo itu membelai kapala Ginten dengan lembut sambil menyodorkan tongkat pemukul bola kasti yang berduri itu ke wajah Ginten.
Ginten hanya diam ketika salah satu dari om om hitam dan berbulu itu menyentuh rambutnya… Ginten mungkin hanya mengira om om itu menyentuh kepalanya karena merasa kasihan heheheh.
Tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang tajam menyodok nyodok mulut Ginten…
Tetapi tidak hanya satu melainkan ada empat tongkat pemukul kasti yang mulai menyodok nyodok area wajah Ginten dengan penuh kelembutan.
Awalnya Ginten hanya menampik saja, dan dia sempat kesakitan karena terkena duri dari alat khelamin genderuwo itu
Tapi ketika Ginten mulai menengadahkan kepalanya dan membuka matanya…
Dia terperanjat..kaget dengan mata melotot melihat khontolodon yang berrebutan masuk ke mulut Ginten.
Otomatis Ginten teriak dan memukul Khontolodon yang berusaha masuk ke tiap lubang yang ada di dalam tubuh Ginten hihihih.
Ginten berteriak keras dan kemudian terjengkang karena kaget, dia terjatuh dengan kaki yang mengangkhang….
Tidak disangka sangka dengan terjengkangnya Ginten dalam keadaan mengangkhang itu mengakibatkan om om berkuntila sebesar alat pemukul kasti yang berduri itu semakin terangsyang!
Dua dari om om itu memegang tangan kiri dan kanan Ginten, yang lainya memegang kaki Ginten hehehe.
Om om hitam besar berbulu dan bau itu berusaha melakukan perbuatan enyak enyak terhadap Ginten yang ketakutan.
Ginten berteriak dengan berusaha melepaskan pegangan tangan om om yang sangat kuat.
Dia tidak bisa membayangkan apabila khontolodon berduri itu akan masuk ke gua sempit milik Ginten.
“TOLOOONG..TOLONG SAYA KAKEK TUAAAA!!!” teriak Ginten kepada abah Fuad
“Hahahaha buat apa tolong kamu, tadi kamu sombong dengan saya” jawab abah Fuad
“TOLOOOONGGGG, BLB..BBBLLBB RRH BUAAH.. TOLONG SAYAAAA!... BARANG MEREKA MAU DIMASUKAN KE MULUT SAYAAAA” teriak mbok Ginten ketakutan
__ADS_1
“Hahahaha akan saya tolong, tapi dengan syarat….” jawab abah Fuad