MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 216 (TRIMO DATANG KE VILA)


__ADS_3

Bagaimana kabar dengan pak Han dan dua orang yang sedang mencari penyusup yang kemungkinan besar adalah Suharto?


Dimana sekarang Dollah sedang ada di lobby hotel, dia terus menerus berusaha menelpon Tono, tetapi sayangnya tidak ada jawaban dari Tono. Entah memang Tono yang tidak mau menjawab atau sedang ada masalah dengan Tononya.


Kelihatannya pak Han harus tetap berjaga di sana, karena kemungkinan besar Suharto mempunyai niat untuk bertemu dengan Rochman.


Tetapi bagaimana bisa Suharto tiba-tiba datang ke hotel Asri itu yang menjadi tanda tanya besar.


Apakah ada sesuatu  yang menuntun Suharto hingga dia tiba-tiba ada disana?....


Ataukah karena mbok Ginten yang ada di dalam tubuh Suharto itu yang menyebabkan dia datang ke hotel Asri.


“Bagaimana mas, apa masih ada disana orang yang menyusup itu?” tanya pak Han kepada dua orang yang masih berjaga disana


“Masih pak, dia masih jongkok dan diam saja, kayaknya ini bukan orang waras” kata salah satu dari mereka


“Lalu bos kalian Dollah apa tidak lapor polisi atau gimana gitu untuk  mengatasi orang yang masuk itu!”


“Saya tidak tau pak, dia mungkin di dalam juga sedang menelepon polisi pak” kata orang yang tadi itu


“Ah kelamaan…!”


Pak Han berjalan menuju ke arah kantor Hotel dimana Dollah sedang terus menerus menghubungi  penjaga malam yang mendapat tugas khusus dari Nabil untuk mengambil barang yang ada di toko Gemezzz.


“Heeei pak Dollah… bagaimana ini, cepat telepon polisi saja!” kata pak Han sambil membuka pintu kaca hotel


“Maaf pak. saya harus lapor bos dulu!”


“Tidak usah lapor bos, kelamaan! kamu harus keluarkan orang itu sekarang atau saya yang sudah menginap disini tiga hari akan pergi dari sini karena hotel ini tidak aman!”


“Dan tentu saja akan saya ulas masalah keamanan hotel  ini di media sosial, karena hotel ini sudah dimasuki orang gila!”


“Kamu tau kan apa akibatnya apabila  saya ulas tentang keadaan keamanan hotel hingga ada orang gila masuk kesini!”


“I..Iya pak, saya paham. B…baik akan saya hubungi polisi saja”


“Cepat hubungi polisi mumpung masih jam segini, penghuni hotel ini masih pada tidur, coba bayangkan apabila anak mereka atau anggota keluarga mereka diganggu oleh orang gila itu!” bentak pak Han


Apa yang sedang dilakukan pak Han ini benar, dia menyuruh Dollah untuk lapor polisi setempat sehingga Suharto tidak  akan bertemu dengan Tono dan juga Nabil.


Sehingga hal yang ditakutkan apabila mbok Ginten bertemu dengan Rochman bisa dihindarkan.


*****


Bagaimana juga keadaan teman kita yang ada di vila putih, dimana yang ada disana adalah tim dari Dimas bersama Petro dan beberapa anak dari Sutopo.


Petro sedang tertidur di sofa ruang tengah, sementara itu Wildan bersama dengan Ukik ada di kamar atas untuk mengamati sekalian mereka bisa istirahat dan tidur heheheh.


Karena jelas-jelas dibawah mereka tidak enak apabila ketiduran karena ada Dimas. Beda dengan Petro yang gak ngurus  apapun yang terjadi.


“Kik…. nek kamu ngantuk ya tiduro aja sana lho, biar aku yang jaga disini” kata Wildan


“Iyo Wil… aku nguantuk rek, berapa hari ini kan kita sangat kurang tidur”


Baru saja Ukik bicara, kemudian yang terdengar adalah suara ngorok. Ukik tertidur….


“Gendeng Ukik iki,  baru aja tak suruh tidur, tiba-tiba dia langsung tidur ae… awikwok” kata Wildan


WILDAN POV


Sampek kapan masalah ini selesai, rasane aku wis kangen omah….


Aku ndak tau gimana keadaan pacarku heheheh, soale wis tak tinggal dan gak tak kabari sama sekali.


Opo deke masih setia sama aku atau aku sudah dianggap meninggal hihihih.


Gak papa lah kalau misal pacarku nganggep aku hilang dan mati,  yang penting setelah semua ini selesai kita semua dadi wong sugeh hihihihi.


Kadang aku tersenyum sendiri mikir nasibku yang lagi-lagi bermasalah dengan dunia ghaib, tapi memang wis takdirnya koyok gini, dak bisa dihindari lagi kan.


Tapi sik mending aku ada disini bukan jadi hantu koyok jaman waktu melawan Dimas dulu itu.

__ADS_1


Aku heran sama Ibor, dia itu sama sekali tidak peduli dengan kita, padahal semua masalah ini berasal dari Ibor.


Memang sih kita juga salah, kok maunya nyewa vila berhantu kayak gini….Tapi pemicunya ya ibor itu!.....


Satu lagi yang bikin heran itu Dimas, kok ya betah sih dia ada di dalam tubuh GIlank sing mambu itu hihihihi.


Tapi untungnya Dimas sudah berubah, malah sekarang yang bikin onar anak buah Dimas jaman dulu, si Rochman.


Kulihat Ukik yang sudah tertidur di karpet kamar atas,  tetapi aku masih bertahan disini sambil mengamati keadaan di sekitar vila.


Mbak-mbak mahasiswi ada di kamar depan, sedangkan keluarga Suharto ada di kamar belakang, sebenarnya tugas kita yang ada di vila putih ini lebih berat daripada tim pak Tembol dan tim pak Han hihihi.


“Eh…. kok ada cahaya lampu dari arah bawah ya…..”


Kulihat ada sorot lampu mobil yang berjalan pelan menuju ke arah vila


“Waduh, aku harus lapor Dimas ini…”


“KIK….. UKIK…. BANGUN C*K… ADA ORANG DATANG KESINI!” teriak ku di telinga Ukik


“Cepat lapor ke pak Dimas dan mas Petro di bawah…cepat!”


Ukik bangun dengan keadaan yang belum sadar sepenuhnya, dia hanya diam sambil mengucek matanya.


Hihihihi Kapok Koen KIik hahaha. Makane ojo turu ae c*k


“Gini ae, kamu tunggu sini, dan perhatikan cahaya lampu yang ada di bawah itu, biar aku yang lapor ke Dimas”


Aku turun ke bawah sesegera mungkin agar Dimas bisa siap-siap menghadapi orang akan datang itu, hanya saja aku tadi belum bisa lihat mobil warna apa yang datang, karena suasana yang sangat gelap.


Setelah aku ada di bawah, ternyata  Dimas masih bersama mas Petro yang sekarang sudah tertidur.


“Dimas… dari arah bawah ada cahaya, lampu mobil yang sedang menuju ke sini”


“Mas Nank, lebih baik mas Nang lihat siapa yang datang, soalnya aku belum bisa lihat mobil siapa yang kesini”


Dimas hanya diam dan sepertinya sedang berpikir keras tentang siapa yang datang itu.


“Pak Dimas biar saya dulu saja yang melihat, siapa yang datang itu” kata mas Nank


Mas Petro yang dari tadi masih tidur akhirnya bangun juga setelah mendengar kami bicara.


“Suharto sudah ada di Waji, Rochman juga pasti ada disana, karena keadaan Waji yang sekarang mulai bermasalah akibat Handoko melakukan sesuatu disana” kata Dimas


“Sedangkan itu pasti Trimo sekarang sedang menuju kesini, sebenarnya apa yang akan dia lakukan disini?” kata Dimas masih duduk di sofa ruang tengah


“Kita tunggu Mas Nang saja dulu,  dia pasti akan beritahu kita apa yang datang itu, dan kalau memang itu Trimo, ada baiknya sampeyan yang datangi Dimas”


“Iya Wildan, saya akan ke luar, apa mungkin dia marah karena Kaswadi kita larung ke sungai ya hehehehe” kata Dimas lagi


“Yang ada di atas siapa Wildan?”


“Ada Ukik Dim, dia saya suruh untuk melaporkan apabila ada perkembangan dengan yang ada diluar sana”


Aku, Dimas, Petro,  masih berpikir apa yang harus dilakukan dengan Trimo. Yah harusnya gak usah dipikir, wong semua ini gak pernah dipikir, berjalan dengan sendirinya saja kok  hehehe.


Tiba-tiba Ukik turun dari lantai atas, dia berjalan tergopoh gopoh…


“Mobil hitam sudah sampai di depan pagar  vila, tetapi penumpangnya belum turun juga” kata Ukik


“Ya sudah Kik, kamu balik ke atas saja dulu, biar saya yang hadapi orang yang ada luar” kata Dimas


Untuk diketahui, karena kami anak-anak Sutopo dulu bermasalah dengan Dimas hingga aku, Ibor dan Gilank mati, dan meskipun sekarang kami sudah satu  kelompok, tetapi aku tidak mau memanggil Dimas dengan sebutan pak.


Tidak hanya aku, kayaknya pak Tembol juga tidak mau memanggil Dimas dengan awalan kata pak atau mas.


Dimas pun memanggil kami tidak dengan awalan nak atau mas, tetapi langsung dengan nama kami, yah sebenarnya tidak masalah bagi aku sih. pokoknya ku anggap Dimas yang sekarang ada di dalam tubuh mas Gilank itu teman kami.


“Saya ikut Dimas, tapi saya dari kejauhan saja” kata mas Petro


Ukik berlari kecil menuju ke kamar atas lagi, ketika Ukik sudah ada di atas, Mas Nank datang.

__ADS_1


“Trimo ada di luar pak Dimas, dia kelihatannya sedang menunggu sesuatu, karena dia hanya berdiri saja di depan gerbang vila” kata mas Nank


“Dia pasti ingin ngobrol dengan saya, kalian tetap disini saja, biar saya bersama dengan Petro saja yang kesana”


Dimas  dan Petro menuju ke luar vila, aku dan mas Nang tetap jaga di ruang tengah vila. Sedangkan Ukik ada di  kamar atas, karena dia punya tugas untuk mengamati apa yang ada di sekeliling vila.


Sudah sekitar sepuluh menit mereka berdua belum juga kembali….


“Mas Nank,  ini sudah sepuluh menit mas, apa kita ndak usah lihat bagaimana keadaan mereka berdua mas?”


“Jangan mas WIldan,  atau gini saja mas, saya tetap jaga disini, mas Wildan yang melihat ke sana, karena saya takut ada apa-apa dengan vila ini apabila kita berdua pergi ke sana mas”


“Lagi pula maaf mas, apabila saya yang ada disini, kemudian apabila vila ini diserang oleh sesuatu maka saya bisa mempertahankan keadaan disini”


“Hehehe iya mas Nank, memang saya yang akan melihat apa yang  terjadi diluar mas, sampeyan disini saja bersama Ukik yang sekarang ada di lantai atas”


Aku berjalan perlahan lahan menuju ke semak belukar yang ada taman vila putih.


Disini meskipun keadaanya sangat rimbun dengan tanaman semak belukar, tetapi disini ada dua jalur untuk menuju ke luar.


Jalur pertama adalah lewat sisi pinggir yang tembusnya ke tembok pagar yang berlubang, kemudian jalur yang kedua adalah lewat jalan yang berliku liku.


Kenapa aku sebut berliku liku, karena jalur itu dibuat agar orang yang ada di luar kesulitan untuk masuk ke sini. karena harus menyibakkan beberapa gerombol semak berduri tajam.


Jalur yang kupilih saat ini adalah yang melalui lubang tembok di ujung taman.


Aku mengendap endap menuju ke depan pagar untuk mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh Dimas dan Trimo, karena mereka sekarang ada di depan vila putih.


Setelah berhasil keluar, aku kemudian menuju ke jurang di depan vila, dari jurang aku bergerak ke arah mereka berdua yang sedang berbicara.


Lamat-lamat aku bisa mendengar mereka sedang bicara satu sama lain.


“Dimas, kamu saya perintahkan untuk pergi segara dari vila ini, dan jangan berkata kata sok mempertahankan vila ini seperti tadi, karena percuma juga kamu pertahankan”


“Kamu tidak tau dengan siapa kamu akan berhadapan!”


“Sekarang juga saya bisa datangkan pasukan untuk menggempur vila dan membunuh semua yang ada di dalam sana”


“Oh silahkan datangkan, dan saya percaya kamu pasti bisa datangkan pasukan para pembelot dari Soebroto!”


“Ya benar!... kamu tidak salah lagi! Hahahahah”


“Dan kamu tahu Dimas, Soebroto sudah bukan siapa-siapa lagi, dia hanya sebagai boneka yang ditaruh di wilayah ini agar keadaanya tenang”


“Jadi keadaanmu sekarang sudah kalah dan tidak ada yang bisa kamu perbuat lagi”


“Kamu tau kan pasukan didikan Soebroto bagaimana, dan sekarang mereka semua ada  bersamaku hahaha”


“Sekarang juga serahkan vila ini kepada kami, dan kalian bebas pergi dari sini  hahahaha”


“Djatmiko… beri saya waktu hingga besok untuk memikirkan apa yang kamu minta, karena disini ada yang harus saya selamatkan dulu” kata Dimas dengan suara pelan


“Buat apa kasih kamu waktu lagi, sekarang pun saya bisa bunuh semua yang ada di dalam vila itu!”


“Kamu sudah tidak punya waktu untuk menawar dan bernegosiasi lagi!”


“Sekarang juga kamu pergi dari sini atau sekarang juga akan saya habisi semua yang ada di dalam sana”


Waduh.. kok jadinya gini rek!...


Kenapa makin runyam saja disini?....


Kita sudah terpecah menjadi tiga tempat, sehingga yang ada disini  tinggal kami saja.


Sudah jelas kami sangat kekurangan orang, aku tau DImas mengulur waktu untuk memanggil tim pak Han dan pak Tembol.


Tetapi apabila Trimo yang di dalam nya ada DJatmiko yang dulu merupakan  tangan kanan Soebroto memaksa kita untuk pergi sekarang atau akan mereka serang ya jelas kita akan kalah telak.


Atau aku harus masuk ke dalam dan memindah semua orang yang ada di sana ke ruang bawah tanah.


“Begini saja Djatmiko… beri saya waktu untuk PINDAHKAN! yang ada disana dulu, tapi tidak  bisa SEKARANG!”

__ADS_1


Hmm kenapa Dimas berkata dengan keras kata pindahkan dan kata sekarang, apakah itu adalah sebuah tanda  sesuatu?


Janc*****k…. itu sebuah kode dari Dimas untuk memindahkan mereka semua ke bawah tanah sekarang\, dan mungkin kata itu ditujukan kepada mas Petro.


__ADS_2