MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 135 (PERMINTAAN TOTOK)


__ADS_3

Apa yang dikhawatirkan pun terjadi, beberapa orang terdengar samar sedang bicara di atas terowongan, atau lebih tepatnya di pintu masuk terowongan yang ada di ruangan belakang rumah Supardi.


Mereka yang ada di dalam terowongan pun tidak bisa keluar melalui rumah Supardi itu, jadi mereka harus keluar melalui pintu atau lorong rahasia yang ada disana.


“Gimana mas, sampeyan kan pernah ada disini mas, pasti tau jalan keluar dari sini mas?” tanya Petro


“Jelas pernah mas, ruangan ini namanya adalah ruangan hijau, ruangan ini dulunya kekuasaan Totok atau Rochman, sampeyan lihat di sebelah situ, ada yang hancur kan. Itu kalau gak salah ulah dari Dimas yang meledakan bahan peledak disana untuk membunuh kami” kata Broni


“Semoga jalan keluar dari sini belum dirubah oleh pak Pho. Karena disini ini mirip dengan labirin, bahkan hantupun akan tersesat disini dan akan selamanya terkurung disini mas” lanjut Broni


“Bron, gak usah pidato disik, ayo keluar dari sini saiki Bron, soale aku dengar yang ada di atas itu lagi menuruni terowongan dan menuju ke sini c*k” kata Wildan


“Ayo kita pergi dari sini secepatnya. Mirah kamu gak usah tungguin Bawok dulu, kapan-kapan saja kita kesini lagi, aku soalnya agak lupa jalur dari sini untuk menuju ke ruangan biru, hhmmff” kata Broni


“Bron, bukanya itu di antara tempat tidur itu kan ada celah yang bisa dimasuki Bron, dan tembusnya nanti ke lorong yang mana itu aku lupa Bron” kata Wildan


“Biar saya saja yang cari jalannya mas” kata Sinank nang


“Jangan mas. Tadi kan aku sudah bilang, disini itu beda mas, bahkan mahluk ghaibpun tidak akan bisa menemukan jalan keluar kalau sudah tersesat disini, lebih baik kita bersama-sama saja keluar dari sini” kata Broni


“Ayo mas, kita harus pergi sekarang, suara-suara orang turun dari atas mulai jelas terdengar dari sini mas” kata mas nang


Broni memimpin di depan kemudian diikuti oleh Wildan, dan pada posisi belakang adalah mas Nang yang berusaha mendengarkan orang yang sedang berjalan menuju ke tempat mereka sedang mencari jalan keluar itu.


“Disana Bron, sebelah tempat tidur itu kan ada celah yang tidak terlihat, disana harusnya kita bisa menuju ke arah belakang vila kan seingetku.. tapi mbuh meneh nek aku salah Bron, tapi kalau untuk menuju ke ruangan biru aku agak lupa” kata Wildan


“Celah itu kan juga Totok atau Rochman yang nemukan Wil, Totok pasti harusnya juga taulah. Yang penting kita secepatnya keluar dari sini dan masuk ke ruangan biru melalui pintu rahasia yang ada di depan jurang.


“Eh Bron, bukane Totok juga tau pintu rahasia yang ada di depan jurang itu? bukanya dia juga pernah masuk ke sana lewat pintu itu?” tanya Wildan


“Mbuh Wil…aku yo lupa kok. Tapi pokoknya sesampai kita di ruangan biru, kita harus biang ke pak Pho untuk merubah semua struktur lorong dan ruangan lah. Sekarang ayo cepat kita masuk ke celah yang ada di sebelah tempat tidur itu” ajak Broni


“Agak cepat mas, mereka yang ada di atas sudah hampir masuk ke ruangan ini” bisik mas Nang yang ada di bagian belakang


“Oh iya, mata kalian kan sudah bisa terbiasa dengan kegelapan kan, kalau belum terbisa, maka paksakan mata kalian untuk bisa melihat apapun yang ada disini meskipun dalam jarak yang sangat dekat, pokoknya jangan sampai kalian tidak bisa melihat apapun” kata Wildan


Akhirnya mereka masuk ke celah sempit yang ada disana. Kemudian dari celah itu mereka lurus saja hingga menemukan pintu batu yang membatasi celah dengan sebuah ruangan. Harusnya setelah ruangan itu adalah lorong yang menuju ke ruangan biru, kalau ndak salah lho ya.


“Hmm kita ada di jalur antara ruangan yang ada di balik pintu batu ini, harusnya dengan mendorongnya saja pintu batu ini akan terbuka dengan sendirinya. Tapi ada yang aku lupakan hhhmm apa ya…? Ah sudahlah ayo kita dorong teman-teman” kata Broni


Beberapa kali mereka mendorong pintu batu itu, tapi pintu itu tidak bisa bergerak sama sekali, berkali-kali mereka mencoba tetapi pintu itu tetap diam!


“Kita terjebak disini!” bisik Petro tertahan


“Kita harus melawan mereka untuk bisa keluar dari sini mas” kata Mas Nang


“Sik sabar rek, aku sedang berpikir, kenapa pintu ini tidak bisa dibuka dari sini” kata Broni

__ADS_1


“Eh Bron, mungkin pintu itu pintu satu arah seperti yang biasanya, kalau kita buka pintu yang lainnya maka otomatis pintu itu juga akan terbuka kan Bron” kata Wildan


“Oh..iya Wil, aku ingat! Bener kamu, kalau gak salah waktu itu pak Tembol dan Ali terjebak di dalam pintu itu kan, tapi bagaimana kita bisa bukanya?”


“Yo waktu itu Dani moco dokumen sing ada di ruangan birulah, dokumen denah dan peta ruangan bawah tanah lah  Bron” jawab Wildan


“Ya sudahlah, kita sekarang terpaksa harus melawan Totok dan Supardi yang akan datang kesini. Untuk sementara ini kita tetap disini saja, ndak usah keluar ke ruangan hijau, nanti apabila Totok atau Supardi  menuju ke sini, baru kita hajar mereka berdua” bisik Petro sambil mengelus elus kepada anjeng Semprul


Langkah-langkah kaki dari arah tempat Supardi terdengar hingga di celah tempat sembunyinya mereka semua. Mereka menunggu hingga Supardi dan Totok sampai di dekat tempat tidur.


“Tidak ada siapa-siapa disini pak Tok” kata suara milik Supardi yang terdengar jelas di balik ruangan yang ada di celah sisi tempat tidur


“Cari sampai dapat, orang itu telah menantang kamu dengan menjebol rumah kamu seperti itu. Cari sampai dapat di sekitar sini. Mana senter yang tadi kamu bawa itu?” tanya Totok


“T..tadi jatuh dan waktu kita turun p..pak, kemudian ndak sengaja saya injak dan akhirnya mati pak” jawab Supardi


“Harusnya kamu tetap gali saja yang aku suruh itu, di halaman vila!. Karena kalau disana tidak ada yang berani masuk, karena sudah dijaga oleh puluhan bahkan ratusaan demit dari waji” kata Totok


“Hahahaah harus nya kamu tidak hianati aku dengan menggali sendiri disini, untungnya aku sudah kirim demit kesini juga untuk menjaga jalan masuk dari sini!” kata Totok dengan santainya


“Maafkan saya pak, saya memang sempat menerima tawaran Mak Nyat Mani pak, kalau begitu saya tutup saja lubang ini pak, saya akan fokus yang ada di halaman vila pak” kata Supardi lagi


“TIDAK USAH DITUTUP!” bentak Totok


“BIrkan terbuka, dan biarkan Mak Nyat Mani lihat hasil karyamu, dia pasti akan senang untuk datang kesini lagi, untuk kemudian melihat apa yang sudah kamu lakukan!” lanjut Totok


“Di ruangan ini aku jebak teman hantu mereka, aku serahkan kepada paduka Dimas hahaha, disini juga aku bisa merasakan nikmatnya berdua dengan anak laki-laki yang hhmmm namanya Broni kalau tidak salah, hingga dia tidak merasakan apa-apa ketika aku melakukan kenikmatan padanya” kata Totok lagi


“Hehehe aku bisa merasakan bau anak itu!.. anak itu ada disekitar sini, bau yang gurih dan membikin aku bergairah…HAHAHAHA CARI SAMPAI DAPAT, ATAU KAMU YANG AKAN AKU BUNUH!” teriak Totok


“Kemudian serahkan dia kepadaku, aku tunggu kamu di atas di ruang tamu rumahmu Supardi!, cepat cari anak itu atau kamu yang akan aku bunuh dan akan kunikmati mayatmu  hahahahah” kata Totok lagi


Hahahahah Totok tidak lebih dari binatang humu yang sukanya menyetubhuhi mayat dan memakan organ dalamnya, tapi apa bener Broni pernah dinikmati oleh Totok alias Rochman hihihi, dan kenapa dia sampai tidak terasa kalau sudah dinikmati oleh Rochman atau Totok?


Sementara itu Totok sudah pergi, dia kembali ke rumah Supardi untuk menunggu hingga Supardi memberikan persembahan Broni kepada Totok atau Rochman hihihi.


Yang jadi pertanyaan, apakah Totok tidak tau kalau di dalam situ ada sekelompok orang yang sedang sembunyi, dan apakah Totok tidak tau kalau anak buahnya sudah binasa karena anjeeeeng yang bernama Semprul itu. Sampai disini ada yang aneh dengan Totok ini. Jangan-jangan ini hanya jebakanya dia


Sementara itu Supardi bingung dengan perintah Totok. Di dalam ruangan gelap gulita ini Supardi disuruh mencari orang yang bernama Broni, yang katanya baunya sampai membuat Totok bergairah.


“Apa yang harus aku lakukan disini, dan kemana aku harus cari orang itu. Apalagi disini gelap sekali, lalu apa yang harus aku cari disini?” gumam Supardi sambil duduk di salah satu tempat duduk yang umurnya sudah puluhan tahun meskipun ada beberapa yang telah hancur


Sementara itu di ruangan yang berhubungan dengan celah yang ada di dekat tempat tidur, Wildan jelas tidak bisa berhenti cekikikan ketika mendengar pengakuan dari Totok alias Rochman, tapi untungnya yang lainya macam Petro dan Blewah tidak paham dengan ketertawaan Wildan itu.


“Ssssttt Wil, c*k, gak usah ngguyu c*k rumangsamu lutju ta yang tadi dibicarakan Totok?” bisik  Broni


“Sudahlah Wildan, kita harus mikir apa yang harus kita lakukan lagi, karena aku merasa kita ini dalam keadaan terjebak, dan aku yakin Totok tau keberadaan kita disini, buktinya dia suruh Supardi untuk mendapatkan kamu Bron” bisik Petro

__ADS_1


“Lalu apa yang  harus kita lakkan selain menunggu hingga kita dihabisi oleh Totok rek” kata Blewah


“Tenang mas kita harus berpikir jernih mas. Ada baiknya Broni kita serahkan kepada Supardi mas, kemudian kita habisi Supardi, setelah itu kita keluar dari sini dan kita habisi juga Totok yang ada di rumah Supardi” bisik Wildan


“Masuk akal juga pemikiranmu Wil. Aku setuju dengan idemu, yang penting Broni kita serahkan ke Supardi dulu, soal berikutnya kita akan serang Supardi ya harus kita sendiri yang serang, karena Supardi kan manusia biasa, jadi ya kita yang harus serang dan lumpuhkan dia” kata Petro


“Tapi gini mas. Biarkan saya masuk ke tubuh Supardi mas, biarkan saya merasuki dan menguasai Supardi mas, setelah itu terserah mau kalian apakan Supardi ini mas” kata mas Nang


“Sik..sik mas Nang, rencanamu bagaimana mas” bisik Wildan


“Saya akan merasuki dan menguasai tubuh Supardi mas, kemudian saya akan pura-pura mengantar persembahan mas Broni kepada Totok. Nah kalian semua siap di belakang saya mas, nanti saya akan bikin masalah ketika kami berdua ada di depan Totok” kata mas Nang yang sudah siap untuk merasuki Supardi


“Hmm masuk akal juga, ayo kita kerjakan sekarang” kata Wildan yang setuju saja apabila Broni dinikmati untuk kedua kalinya oleh Totok


Mereka semua setuju dengan rencana Sinank nang, dan mau tidak mau Broni juga harus setuju meskipun keperjakaan dia akan dinikmati untuk kedua kalinya oleh Totok atau Rochman.


“Bron, mosok kamu gak kerasa waktu kamu dinodai Rochman hihihihi, ngomong-ngomong gede mana Bron Rochman dan Novi hihihihi, aku yakin punya Totok iku sak Lombok rawit hihihi” bisik Wildan


“janc*k Wil, gak usah bahas iku lagi Wil, marai aku gak selera Wil” bisik Broni


“Ayo mas Bron, kita keluar dari sini sama-sama mas, Nanti kamu diam dulu saja di dekat tempat tidur itu mas, saya mau rasuki Supardi dulu mas” kata Sinank nang


“Setalah Supardi saya rasuki, mas Broni bisa keluar dan mendatangi Supardi mas, karena saya sudah ada di dalam tubuh Supardi mas” kata mas Nang lagi


Kemudian mas Nang diam sambil melihat ke arah punggung Supardi, dia tidak juga maju ke tubuh Supardi, Sinank nang hanya melihatnya dari posisi dia bersama broni.


“Hmmm saya kayaknya harus mengeluarkan yang ada di dalam tubuh Supardi dulu mas, dia ternyata punya perewangan yang sekarang sedang ada di ubun-ubun Supardi mas.


Sinank nang melayang menuju ke Supardi yang sedang melamun sendirian, sambil memikirkan dirinya yang akan di nikmati Rochman atau Totok apabila tidak bisa memberikan Broni.


Sinank nang melayang dan tiba-tiba dia masuk ketubuh Supardi melalui tengkuk Supardi, tubuh Supardi menegang hebat, mata dia melotot kesana kemari, kelihatanya ada sesuatu yang sedang dilakukan mas Nang.


Tubuh Supardi terbanting di lantai ruangan hijau, kemudian dia kejang-kejang dengan mata yang masih melotot. Supardi mengerang kesakitan hingga sesaat kemudian tubuh dia melemas. Supardi pingsan di lantai ruangan Hijau.


Tidak sampai lima menit kemudian dia terbangun dan duduk di lantai ruangan hijau. Supardi mengucek ucek kedua matanya yang tidak perih atau tidak gatal. Dia kemudian mencoba untuk berdiri hingga dia bisa berdiri dengan tegak.


“Hfffhhh.. apa tadi yang terjadi dengan ku?, kenapa aku sampai tertidur di lantai ini?” gumam Supardi yang sudah sadar, tetapi saat ini Sinank nang sudah ada di dalam tubuhnya dan siap untuk mengambil alih tubuh Supardi


“Hmmm aku kan disuruh Totok untuk mencari orang yang katanya sembunyi disini, orang yang bernama Broni kalau tidak salah” gumam Supardi sambil duduk di kursi yang ada disana


Broni mulai keluar dari tempat persembunyiaanya, dia bejalan ke arah Supardi yang masih duduk di salah satu kursi yang reyot itu. Broni dengan santai menghampiri Supardi yang masih belum menyadari kehadiranya, karena Supardi membelakangi Broni.


“Mas Supardi….” Panggil Broni


Supardi menoleh dan memincingkan matanya ke arah Broni, karena saat ini sangat gelap sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang datang menghampirinya.


“Siapa kamu, dan sedang apa kamu ada disini?” teriak Supardi

__ADS_1


__ADS_2