
“Yah betul, yang namanya Muryati itu Nov, apakah dia juga ada ikut dalam permainan yang sempurna ini?. Lalu bagaimana dengan pak Han, bagaimana dengan dokumen kita yang ada di rumah pak Han, atau tepatnya di dalam kuburan umum itu” kata Ali
“Sis, ini lagi omong apa sih, akunya pucing deh sis. Palagi kita ada di dalam gua, emangnya ini jaman gua apa sis?” Gilank mulai nyerocos setelah diam dan melihat kesana kemari apa yang ada di ruangan biru ini
“Sis..diem dulu ya sis, ntar Novi ajarin rias nganten.. eh salah, rias gapura deh untuk acara tujuh belasan ya sis” jawab Novi
“Gini saja rek, kita harus ke tempat pak Han. Keadaan makin mendesak ini, aku pikir pak Han pasti tau soal rencana Trimo dan Kaswadi ini. Dan untuk sementara kita stop berspekulasi dulu, karena semua masih membingungkan” kata Wildan
“Kalian yang semalaman ada diluar istirahat dulu saja disini, biar aku dan yang lainnya ke tempat pak Han ****** eh untuk menanyakan dan menjemput dia kesini” kata Wildan
“Kalau bisa dokumen kita bawa sini juga Wil, kita rasanya lebih aman kalau dokumen itu ada disini.” Kata Ali
“Ai cuma mau kasih kalian inpolmasi aaaa, kalena yang kalian akan lawan ini bukan manusia biasa-biasa. Ada baiknya kalian juga dekat dan minta tolong sama Malwoto aaaaa. Kalau kalian mau, nanti ai panggil juga Malwoto kesini aaa” kata pak Pho dengan mimic serius
“Baik pak, ide yang bagus, tetapi kami harus ke pak Handoko dulu pak, saya takut kalau terjadi apa-apa dengan dokumen yang kita miliki itu pak” kata Ali
“Ya wis rek, aku sama Tifano saja yang berangkat. Kalian isirahat saja disini” Kata Wildan
“Mas Novi ikut mas, karena kalau ada masalah dengan Handoko nanti kita hubungi juru kunci makam yang bernama mbah War itu. nanti Novi bisa tidur dan istirahat di mobil kok mas” kata Novi
“Mas Ipul tolong jaga disini saja ya dan tolong bantu teman-teman Novi disini mas”
“Iya mbak, saya akan ada disini dulu mbak. Lalu ini gimana mbak Nov, eee mas yang agak ngerki ini mbak, apa ndak mbak Novi ajak juga” kata Ipul yang menunjuk ke arah Gilank yang dari tadi duduk sambil lirak lirik ke cowok yang ada disana.
“Oh iya kalau nanti sedang ambil mobil, cari aja yag namanya Ilham mbak, dia yang jaga malam ini mbak, bilang aja disuruh saya mbak” kata Ipul
“Sis… kamunya disini dulu ajach ama cowok-cowok itu yach sis, Novi mau tugas dulu..ok sis” kata Nov kepada Gilank yang makin mengerikan
“Eh sis Nov, ntar beliin daster ya sis, akunya suka risih kalok harus pakai baju cowok gini ini sis” kata Gilank yang menjadi aneh karena kepalanya terkena lemparan batu Novi
“Iyaaaah, ntar moga-moga Novi ingat ya sis…” kata Novi kemudian pergi ke lorong untuk keluar menuju ke sisi jurang
Hari masih akan menjelang pagi, tetapi di sekitar rumah Supardi sudah sepi, dua mobil yang tadinya sempat dibikin ancur GIlank pun sudah tidak terlihat disana, yang ada hanya pecahan kaca yang berceceran di jalan depan rumah Supardi.
Wildan, Tifano, dan Novi berjalan menuju ke arah masjid tempat mereka menitipkan mobil Novi disana, memang lebih aman apabila mobil itu dititipkan di masjid, dari pada diparkir di pinggir jalan yang di dekat vila itu.
Hanya saja apabila mereka memerlukan mobil seperti sekarang ini, mereka harus jalan dari vila putih ke Gebang sekitar tiga km an. Tapi untung udara disana dingin, jadi jarak segitu mereka tidak rasakan capek.
“Mas, nanti bisa mampir ke salon Novi dulu mas. Novi mau ambil baju Novi dulu mas, karena Novi sudah kehabisan baju di vila putih, sekalian novi mau ambil uang Novi untuk makan mas” kata Novi
“Itu si Gilank kenapa kok jadi gitu Nov heheheheh” tanya Tifano
“Ya salah dia sendiri, kenapa ndak lari waktu orang-orang itu keluar dari rumah Supardi, coba kalau dia lari duluan pasti di tidak akan kena batu yang Novi lempar itu kan mas” jawab Novi sambil tetap jalan di gelapnya malam menjelang pagi hari.
Ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju ke Gebang, tiba-tiba mereka mendengar suara mesin dari arah bawah menuju ke vila putih.
“Ayooo sembunyi duu rek.. ada yang datang lagi ini keliatnya” seru Wildan yang kemudian menuju ke sisi jurang untuk sembunyi
Satu buah mobil berjenis bahan bakar Diesel itu merayap naik ke arah vila putih. Wildan kemudian berusaha mengintip mobil siapa yang masuk ke area vila putih itu.
__ADS_1
“Nov, mobil yang dihancurkan Gilank itu jenisnya apa?” tanya Wildan
“Toyota avnz mas, ada dua mobil yang dirusak Gilank mas” jawab Novi
“Berarti yang tadi baru naik itu orang lain lagi Nov, karena mobil yang baru naik itu kan berbahan bakar diesel” kata Wildan
“Aduuuuh kok makin banyak saja sih yang beruaha naik ke vila mas, siapa lagi itu mas. Yang bikin bingung itu mereka itu tau dari siapa tentang vila putih ini, kenapa kok sampai mereka bisa datang berduyun duyun ke sini” ka Novi
“Ya itu Nov, itu yang masih berupa tanda tanya, dari mana mereka tau kalau di vila itu ada sesuatu yang berharga. Wis pokoknya kita ke tempat pak Han lagi saja, dan kalau bisa kita bawa juga benda yang menyebabkan semua ini” kata Wildan yang mempercepat langkah kakiknya
Beberapa belas menit berjalan kaki, mereka bertiga akhirnya sampai di masjid tempat Ipul tinggal dan berkegiatan disana sebagai takmir masjid. Dan untungnya ini masih satu jam sebelum masuk waku subuh, jadi belum ada kegiatan di masjid ini.
Mencari yang namanya Ilham tidaklah sulit disini, karena dia ada di dalam masjid untuk mempersiapkan sholat subuh. Dia menyapu karpet masjid dan menyiapkan mikropon masjid dan lainya.
Sebelum ke tempat pak Handoko, mereka bertiga akan menuju ke salon Novi dulu, untuk mengambil pakaian dan peralatan yang mungkin akan diperlukan disana.
“Aku juga akan bawa tas ranselku Nov, biar enak di ruangan biru nanti, eh iya, apakah tas anak-anak lainya juga kita bawa Nov?” kata Tifano
“Iya bener Tif, punya anak-anak juga sekalian sajalah, nanti mereka kita suruh ambil di mobil yang terparkir di masjid saja” kata WIldan yang semakin mempercepat laju mobil menuju ke salon Novi dulu sebelum ke tempat pak Handoko tinggal
“Mas, Novi mau istirahat dulu ya, Novi ngantuk sekali mas” Kata Novi yang duduk di baris kedua mobil milik Novi itu
“Tapi kalian berdua jangan pegang-pegang Novi selagi Novi tidur ya mas, soalnya Novi kalau tidur suka buka kancing celana dan kancing baju mas hihihihi” sambungnya
“Yancok Nov, masio kamu telanjang disini lho aku emoh…. Emoh merem maksudku hihihihi” kata Widan yang hanya bisa lihat Novi melalui kaca spion tengah mobil
Hidup mereka ini memang penuh petualangan dan penuh dengan bercanda, hingga sekarang mereka merasa sudah seperti saudara saja.
Novi yang memang lelah karena kegiatan dia di vila putih melanjutkan tidurnya di dalam mobil setelah tadi di rumah dia sempat mandi dan berganti pakaian. Yang bikin Novi nyaman dan ngantuk karena di dalam mobil yang bersuhu udara sejuk dingin hingga tidak terasa mereka sampai di daerah pak Handoko tinggal.
“Nov, kita sudah lewat jembatan ini, kita ke juru kunci atau ke pemakaman saja?” tanya Tifanno yang duduk di sebelah Wildan yang memegang kemudi
“Kita ke juru kunci dulu saja dulu mas, kita tanya ke mbah Warsidi yang tinggal disana itu. ayo jalan pelan- pelan saja mas, Novi akan kasih tau rumahnya mas” kata Novi
“Stop mas, itu rumah yang bercat putih dan dengan pagar kayu itu adalah rumah mbah War. Mobilnya parkirkan di depan makam saja mas” kata Novi yang kemudian turun dari mobil bersama Tifano
“Asalamualaikum mbah War…. Teriak Novi di depan rumah mbah Warsidi
“Waalaikum salam…..” kata orang yang ada di dalam rumah
“Mbah Waaar ini saya Novi mbah, yang beberapa hari lalu kesini untuk ke makam sana itu lho mbah” kata Novi kepada mbah War yang sudah ada di depan pintu rumah.
“Iya nak hehehe, ada yang bisa mbah bantu lagi, atau kalian mau ketemu sama Handoko?”
“Iya mbah War, kami ingin ketemu dengan pak Han, eh apakah kami bisa ketemu sekarang mbah, Karena keadaan sangat penting mbah” kata Novi dengan sopan
“Bisa nak, sebentar.. saya harus ganti pakaian dulu nak” kata mbah War yang kemudian masuk ke dalam rumah, tidak lama kemudian dia sudah keluar lagi dan menghampiri Novi, saat ini mbah War memakai sarung dan peci yang terlihat masih baru.
“maaf nak, eh tujuan kalian untuk bertemu dengan Handoko apa nak?” tanya mbah War sambil berjalan menuju ke area makam.
__ADS_1
“Begini mbah War, kami mendapat serangan yang bertubi-tubi di tempat tinggal kami. Dan pak Handoko mungkin bisa membantu kami, karena dia menyimpan sesuatu yang sekarang menjadi incaran mereka yang sedang berusaha menyakiti kami mbah” kata Novi yang agak bingung juga bagaimana menjelaskan duduk permasalahanya.
“Kamu ndak usah cerita kepada saya kalau kamu ragu nak, karena saya sepertinya tau apa yang sedang terjadi di tempat tinggal kalian yang ada di Gebang itu” kata mbah War dengan tersenyum
“Bagaimana mbah War tau apa yang sedang terjadi pada kami mbah?” tanya Novi heran
“Handoko bercerita pada saya, kemarin malam nak, ketika makam ini diserang oleh ratusan mahluk yang ingin mengambil barang yang sekarang disimpan oleh Handoko. Dan kemarin malam itu saya dan Handoko yang usir mereka semua nak”
“Saya sebenarnya tidak keberatan kalian menitipkan barang itu disini, tetapi akibatnya ketenangan ghaib disini terganggu, karena serangan dari mereka yang menginginkan benda milik kalian itu nak” kata mbah War sambil membuka pintu makam.
“Ayo kita ke ujung sana, biasanya Handoko ada disana sendirian sambil merenung hehehe” kata mbah Wa lagi
Mereka berjalan di jalan yang tidak terlalu bagus hingga mereka mendekati bangunan tua yang letaknya ada di ujung makam itu. Dan benar saja, disana ada pak Handoko yang sedang duduk di sebuah tong bekas yang sudah berkarat.
“Pak Haaaaan…..” teriak Novi kepada pak Handoko yang hanya bisa tersenyum melihat Novi datang
“Iya mbak Novi, saya tau apa yang sedang kalian alami, dan sebenarnya saya ingin kesana dan membantu kalian, hanya saja saya tidak bisa meninggalkan barang kalian disini, karena serangan mahluk ghaib semakin gencar di makam ini mbak” kata pak Handoko yang hanya berupa bayangan saja
“Saya tau kalau Trimo itu belum mati mbak, eeehhmm jadi begini cerita yang saya sembunyikan, dan kini saatnya kalian tau cerita yang sebenarnya, karena Trimo sudah mulai bertindak kasar kepada kalian” kata pak Handoko
“Handoko, jangan sembunyikan satu katapun kepada mereka, segera ceritakan saja apa yang terjadi agar masalah mereka bisa cepat selesai” kata mbah War
“Jadi begini anak-anak, saya tidak tau bagaimana Trimo bisa tau nomor telepon saya. Tiba-tiba dia menghubungi saya dan ingin tau dimana saya tinggal. Dia bilang kalau mempunyai sesuatu yang menarik untuk saya”
“Kemudian saya suruh dia ke makam ini, tapi sebelumnya makam ini sudah saya rubah seperti yang kalian lihat disini itu, beberapa jam kemudian dia datang kesini mas mbak. Kemudian dia menunjukan kepada saya dokumen vila putih”
“Saya gembira sekaligus sedih, saya sedih karena saya akan teringat dengan keluarga saya yang terbunuh disana, saya gembira karena saya akan tau siapa pemilik vila itu, dan bersama-sama membunuh yang telah membunuh keluarga saya”
“Sekilas akan saya ceritakan tentang diri saya sebelum semua ini terjadi dan sebelum saya bertemu dengan Trimo”
“Dahulu memang kerjaan saya adalah memecahkan rahasia dokumen kuno dari orang-orang tionghoa yang bermasalah dengan warisan dan harta yang ada di Indonesia, saya bekerja di bidang itu karena hobby saya yang suka dengan hal-hal yang penuh misteri” cerita pak Han
“Saya menggeluti bidang itu hingga keluarga saya tewas di vila terkutuk itu sewaktu kami menyewa vila itu untuk beberapa hari dalam rangka liburan keluarga. Saya bisa lolos dari pembunuhan karena waktu itu saya sedang keluar untuk membeli makan malam”
“Ketika tiba di vila, saya tidak menemukan keluarga saya sama sekali, vila itu kosong, tetapi karena saya punya kemampuan spiritual, saya tanya kepada demit yang ada disana, demit yang tinggal di ruang bawah tanah yang aneh. Demit itu bilang kalau keluarga saya dibunuh oleh orang yang berwajah timur tengah”
“Maaf saya potong pak Han, itu kejadianya berapa tahun silam?” tanya Wildan
“Sudah tidak ada di memori kepala saya kapan kejadian itu mas, yang pasti sudah lama sekali, dan sudah saya lupakan kapan kejadian itu terjadi” jawab pak Handoko
“Kemudian saya cari sejarah vila itu hingga semua yang berhubungan tentang vila itu mas, dari pencarian saya itu saya tau kalau vila itu dimiliki oleh beberapa orang yang waktu itu saya belum mengetahuinya, bahkan sampai saya mati, saya belum bisa memecahkan rahasia pemilik vila itu.
“Nah proses saya bertemu dengan mbah War itu gara-gara saya mendapat informasi kalau ada seorang paranormal yang tau tentang vila itu di sekitar daerah sini. saya yang waktu itu sudah dalam keadaan sakit lever parah kemudian jatuh tepat di depan makam ini”
“Kebetulan mbah War sedang ada di depan rumahnya, kemudian saya diberi minum olehnya, tetapi beberapa menit kemudian saya meninggal"
"Karena saya tidak membawa identitas sama sekali akibat dompet saya dicopet sewaktu di bus dalam perjalanan kesini, maka saya dianggap mayat mr X dan dikuburkan disini”
“Tetapi meskipun saya sudah mati, saya masih berusaha mencari informasi tentang vila itu, saya mati dalam keadaan penasaran. Tapi ndak tau berkat kemurahan Tuhan saya masih bisa menjelma menjadi wujud manusia nyata”
__ADS_1
“Karena saya bisa berubah wujud menjadi nyata, maka dari itu saya teruskan bakat saya memecahkan teka teki tentang harta dan waris orang-orang tionghoa, sembari terus mencari informasi tentang vila itu”