
Suharto sedang dalam perjalanan kemari, ternyata mbok Ju tertipu dengan ikutnya setan kecil itu bersama mbok Ju. Mbok Ju terbawa emosi sehingga tidak bisa berpikir bahwa demit itu sedang menjebaknya.
“Dia sudah mengirim kabar kepada Suharto dan sekarang Suharto sedang menuju kesini itu yang sekarang sedang saya pikirkan, kita dijebak” kata Saeful
“Iya..maafkan saya, tadi saya emosi karena melihat anak kecil tidak berdosa yang tergolek di kamar belakang yang gelap” kata mbok Ju
“Ya sudahlah, tadi memang kita semua emosi karena mendengar kabar dari mbok Ju, tetap tenang dan kita hadapi saja Suharto yang akan datang”
“Dan lebih baik kita tidak disini anak-anak kita lebih baik ada di depan rumah Suharto, jangan sampai rumah pak Slamet kita jadikan tempat untuk menghadapi Suharto”
Mbok Ju pergi terlebih dahulu untuk melihat bagaimana keadaan yang ada di rumah Suharto, dan bagaimana keadaan Sarinah yang tergolek di kamar belakang.
“Ayo kita ke sana dulu saja anak-anak, kita tunggu di depan rumahnya anak-anak. Eh pak Slamet ada baiknya pak Slamet memanggil tetua adat disini, agar membantu kami”
“Ada pak, namanya pak Rifai, Tetapi dia sekarang kayaknya sedang ada panggilan tugas ke luar daerah. Eh tapi ada anaknya yang biasa memanggil pak Rebot, dia seorang guru tari yang mengajar di sekolah dasar di Gebang”
“Anaknya itu yang biasanya sebagai wakil dari pak Riafi apabila ada sesuatu yang terjadi disini”
“Kalau saya tidak salah menebak, apakah dia itu anak atau cucu atau turunan dari Widodo?” tanya pak Tembol asal menebak
“Lho pak Tembol kok tau, memang dia ada darah dari Widodo yang sudah mati pada masa penjajahan akibat dibunuh Belanda”
“Dia ini adalah anak dari anak Widodo, saya ndak tau anak yang dari mana. sedangkan yang guru tari itu cucu Widodo, Orangnya masih muda pak”
Pak Slamet berkata sambil tersenyum, apa ada yang aneh dengan yang namanya pak Rebot itu hingga pak Slamet tersenyum waktu berkata namanya.
“Kok sampean malah ngguyu to pak, ayo wis ndang dipanggil pak, agar dia menyaksikan apa yang dilakukan oleh Suharto, dan mungkin dia juga akan membantu kita juga pak” kata pak Tembol
Pak Slamet menyanggupi untuk memanggil anak dari tetua adat yang bernama pak Ribut atau biasa dipanggil dengan nama pak Rebot yang kata dia rumahnya tidak jauh dari rumah dia.
Pak Widodo… kematian pak Widodo akibat dibunuh belanda heheh, yah biarlah sejarah yang mengaturnya heheheh.
Akhirnya pak Slamet menuju ke rumah pak Rebot, sementara itu pak Tembol dan dua orang kawan menuju ke rumah Suharto yang tidak jauh dari sana.
“Sarinah ada di kamar belakang, dan Suharto sedang dalam perjalanan kesini pak , dan dia dalam keadaan murka kita harus siap-siap dengan amarahnya pak” kata mbok Ju
“Kita duduk-duduk di luar pagar rumah dia sana anak-anak, jangan sampai masuk ke halaman rumahnya karena kita bukan manusia yang lancang” bisik pak Tembol
“Semprul saya suruh tunggu di rumah pak Slamet dulu saja pak, agar tidak terlihat oleh demit yang ada di dalam tubuh Suharto, nanti kalau keadaan mulai panas dia akan saya suruh datang” kata Petro
Sekitar lima belas menit kemudian dari arah kanan, Suharto datang dengan setengah berlari. wajah dia yang terkena lampu di depan rumah tampak marah.
Tetapi ada yang mengerikan, tangan kanan dia memegang sebilah sabit yang kelihatanya tajam.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI!” teriaknya dengan emosi sambil mengacungkan sabitnya ke arah tiga orang yang tengah jongkok santai di depan pagar rumahnya.
“Hanya duduk-duduk saja, memangnya ada masalah apa?” jawab pak Tembol
“KALIAN AKAN MENGAMBIL ANAKKU KAN HAHAHAH, TIDAK AKAN BISA!”jawabnya dengan keras, dan kemudian dia dengan kasar membuka pintu pagar rumah, kemungkinan akan masuk ke rumah untuk mengambil Sarinah
“Hey kalau masuk dan berhadapan dengan anak kecil jangan bawa celurit!” bentak Saeful
“ADA APA, ITU ANAKKU!!, TERSERAH AKU MAU BAWA APA HAHAHA!” teriaknya lagi dengan nada yang keras
Dia kembali akan masuk ke dalam halaman rumahnya, tetapi dengan sigap pak Tembol menendang kakinya hingga dia terjerembab.
“ARRGGHH APA MAUMU!, KAMU AKAN MATI SEKARANG JUGA!” teriaknya
Dia berdiri dan kemudian menghampiri pak Tembol yang tadi sempat menjegal kakinya.
Petro yang dari tadi sudah siap dengan Semprul yang tadi dia suruh tinggal di rumah pak Slamet agar tidak terlihat demit yang ada di tubuh Suharto kemudian menyuruh Semprul untuk menyerang yang ada di dalam tubuh Suharto.
“Saya sudah suruh semprul untuk menghalangi yang ada di dalam tubuh Suharto pak agar tidak bisa masuk kerumah itu, sebentar lagi dia akan merasa kesakitan” kata Petro
Apa yang dikatakan Petro ternyata benar, ketika Suharto akan membuka pintu rumahnya, tiba-tiba dia terpental dan terjengkang, celurit yang dia pegang pun terlempar sejauh beberapa meter.
__ADS_1
Dan secara kebetulan pak Slamet dan penjaga desa yang bernama pak Rebot sudah ada disana. Mereka berdua mengambil celurit itu dan mengamankan barang itu dari Suharto.
“ARRRGGGHHHH…. SIAPA YANG MENGHALANGI AKU MASUK KE DALAM RUMAAAH!” teriak Suharto
“Heh Iblis keluarlah dari tubuh Suharto sekarang juga atau akan kami binasakan” teriak Petro
Suharto menoleh ke arah Petro. tetapi sesaat kemudian dia lari keluar dari rumah dan sempat menabrak Pak Slamet dan pak Rebot yang ada di sekitar situ.
Suharto lari menuju ke arah alas, lari dia cepat sekali hingga dalam hitungan detik dia sudah hilang dari pandangan mereka yang ada disana.
“Sudah jangan dikejar anak-anak, biar mbok Ju yang ikuti dia. Lebih baik kita selamatkan Sarinah yang ada di dalam rumah itu” kata pak Tembol yang melangkah masuk ke halaman rumah Suharto
Pak Slamet dan pak Rebot yang diam saja di depan rumah, sementara itu Petro meminjam ponsel pak Slamet untuk menghubungi Novi yang saat ini bersama mertua Suharto dan Saritem.
“Mereka sudah saya hubungi untuk datang kesini pak, dan sekarang ayo kita selamatkan Sarinah yang kemungkinan besar sedang ditawan di kamar belakang oleh Suharto” kata Petro yang menyusul pak Tembol yang sudah ada di depan rumah”
Pak Tembol, dan Petro sudah ada di dakat rumah Suharto, sedangkan pak Slamet dan pak Rebot bersama Saeful ada di depan, mereka berjaga-jaga apabila Suharto tiba-tiba datang menghampiri mereka.
*****
“Bu Sumarti dan mbak Sarinah, kita sekarang harus ke rumah Suharto, karena teman-teman saya berhasil membebaskan Sarinah,sementara itu Suharto lari ke arah alas. Ayo kita berangkat sekarang” kata Novi
“Semua sudah siapkan bu?, kalau begitu sekarang kita berangkat menuju ke rumah Suharto” kata Novi kepada mereka yang sibuk dengan berbagai barang yang mereka bawa
“Sudah mbak Novi, sekarang kita bisa berangkat mbak” jawab Saritem setelah memasukan tas terakhir ke dalam mobil
Kedua ibu dan anak itu ternyata sudah siap dengan tas besar berisi pakaian mereka berdua dan sebagian juga ada pakaian Sarinah yang sempat dibawa Saritem waktu pergi meninggalkan rumah Suharto.
Mobil Novi meluncur menuju ke rumah Suharto yang tidak jauh dari sana tempatnya. hingga tidak lebih dari sepuluh menit mereka sudah ada di depan rumah Suharto, dan bertemu dengan pak Slamet, Rebot dan Saeful.
*****
“Kamar belakang nak Petro, di kamar belakang!” kata pak Tembol yang sedang mencari kamar belakang di dalam rumah yang keadaanya gelap gulita
“Uh bau sekali rumah ini pak, sepertinya banyak barang busuk di dalam rumah ini pak”
Akhirnya setelah jalan mengendap-endap mereka menemukan juga kamar belakang, sebuah kamar belakang yang memang letaknya ada di belakang sendiri dan biasanya digunakan sebagai gudang.
“Sarinah.. kamu ada disana atau tidak?” kata pak Tembol di depan pintu
“Kami akan menyelamatkan kamu dan membawa kamu ke ibumu Sarinah” kata pak Tembol lagi
Tidak ada suara atau gerakan dari dalam kamar, bisa jadi anak itu ketakutan sehingga dia tidak mau menjawab pertanyaan pak Tembol
“Nak Sarinah saya pak Tembol yang tadi bersama tante cantik teman mbah kung itu, saya kesini mau selamatkan nak sarinah dari ayahmu” kata pak Tembol lagi
Tiba-tiba terdengar suara gesekan tubuh, seperti suara gesekan orang yang sedang tidur kemudian berdiri.
“Bapak tua teman tante cantik ya itu ya?” kata suara lembut dari dalam kamar
“Iya nak Sarinah, saya yang tadi bersama tante cantik teman almarhum mbah kung Woto” jawab pak Tembol
“Iya pak, Sarinah ada disini” jawabnya singkat
Pak Tembol berusaha membuka pintu kamar belakang, ternyata pintu itu terkunci.
“Kita harus dobrak pintu ini nak Petro, kita harus tendang dengan kuat pintu ini!”
“Pak Tembol tolong kasih tau kepada Sarinah untuk menghindari pintu, takutnya dia ada di belakang pintu ini pak” kata Petro
“Nak Sarinah jangan bergerak ya, saya akan mendobrak pintu ini, tolong nak Sarinah mundur dulu dan jangan dekat dengan pintu” kata pak Tembol lagi
“Saya akan dobrak pintu ini nak, karena pintu ini dikunci oleh ayahmu nak” kata pak Tembol
*****
__ADS_1
Sementara itu diluar beberapa warga desa yang mendengar suara mobil Novi kemudian keluar dari rumahnya, ketika mereka melihat ada pak Slamet dan pak Rebot mereka pun berani mendekat ke arah rumah Suharto.
“Tolong ibu-ibu dan bapak-bapak jangan terlalu dekat dengan kami, kita sedang usahakan untuk menyelamatkan Sarinah yang disekap Suharto” kata pak Slamet
“Bagaimana anak saya pak Slamet?. dan dimana Suharto pak” tanya Saritem menghampiri pak Slamet
“Anakmu masih dicari sama teman-tema mbah Woto, kamu disini saja dulu, dan soal Suharto dia melarikan diri ke alas setelah perewangan dia kalah perang dengan perewangan teman-teman mbah Wo itu” jawab pak Slamet
“Sudah jangan panik, setelah ini kamu lebih baik ngungsi dulu, ikuti teman-teman mbah Woto ini hingga Suharto sadar dulu” lanjut pak Slamet
Penduduk desa yang keluar dari rumah dan bergerombol di depan rumah Suharto semakin banyak, mereka sedang menyaksikan pak Tembol yang sedang menyelamatkan Sarinah.
“Mas Saeful, bagaimana mereka berdua mas, ndak papa kan” tanya Novi kepada Saeful
“Sejauh ini aman mbak Nov, yang jaga di dalam sana sudah diusir keluar, bahkah Suharto sudah pergi melarikan diri ke alas, tetapi nanti dia pasti akan datang kesini lagi, jadi keliatannya harus ada yang berjaga disini dan ada yang antar ke vila puth”
“Nanti saja kita bicarakan lagi mas, terus terang Novi kurang berani kalau harus membawa keluarga Saritem ke vila, karena keadaan Suharto yang sedang dirasuki oleh iblis mas” jawab Novi
*****
“Nak Sarinah siap-siap ya, jauhi pintu ini nak, saya akan tendang pintu yang terkunci ini” kata pak Tembol
Petro dan pak Tembol mengambil ancang-ancang untuk menendang pintu itu dengan kencang
…BRAAK….
Dengan sekali tendangan pintu yang tidak seberapa kuat itu roboh ke dalam, dan untungnya Sarinah yang cerdas itu sudah mundur ke samping kamar.
“Uuugh bau sekali kamar ini” kata Petro
“Ayo sini nak Sarinah, kita keluar dan temui ibu dan tante cantik teman mbah kung sekarang” kata pak Tembol sambil menggendong Sarinah yang lucu itu
Mereka berdua keluar dari dalam kamar dan menuju ke depan rumah. Suasana di depan rumah sudah ramai sekali dengan belasan penduduk yang sedang melihat apa yang sedang terjadi.
Pak Tembol sempat kaget dengan antusias penduduk disini yang ingin menyaksikan penyelamatan gadis cilik Sarinah.
“IBUUUUUUU…. “ teriak Sarinah ketika pak Tembol menyerahkan ke Saritem ibunya
Anak dan ibu itu menangis disertai dengan tepuk tangan beberapa warga yang sedang menyaksikan adegan penyelamatan anak kecil itu.
“Sekarang bawa mereka ke vila putih cepat nak Novi ..cepaaat!” teriak pak tembol
“Novi ndak berani pak, Novi ndak bisa kalau sendirian ke arah vila putih, harus ada yang temani Novi”
“Sama nak Petro saja, cepat. Nak Petro kamu temani Novi bersama dengan mbok Ju, saya dan nak Saeful tetap ada disini hingga suasana aman dulu” kata pak Tembol
“Kalau di pertigaan itu ada yang jaga, arahkan mobil ke kantor pihak yang berwajib saja dulu, amankan ketiga orang disana dulu hingga pak Slamet dan saya ke sana untuk membebaskan mereka dan menjelaskan apa yang sedang terjadi disini” kata pak Tembol
“Mbok Ju, cepat temani Novi, mbok Ju sebagai radar …ayo cepat!”
Sumarti ibu Saritem, Saritem dan Sarinah masuk ke dalam mobil Novi, mereka duduk di belakang sementara itu Petro yang ada di belakang kemudi, Novi ada di sebelah Petro.
Mbok Ju ada di depan mengawal mobil itu hingga ke tempat yang aman, bahkan mungkin juga ke kantor penegak hukum, mobil berjalan dengan cepat ke arah vila putih.
“Sekarang tolong bubarkan penduduk yang lihat disini pak” kata pak Tembol kepada pak Slamet
Satu persatu penduduk membubarkan diri dari sana, keadaan kembali sepi, sekarang tinggal menunggu apa yang akan terjadi dengan desa ini setelah Sarinah dibawa pergi ke tempat yang aman.
*****
Mobil terguncang-guncang karena jalan yang jelek menuju ke vila putih, keadaan gelap gulita karena sepanjang jalan ini mereka melewati hutan.
Memang kadang ada juga rumah penduduk yang nampak satu dua dengan lampu yang tidak begitu terang, tetapi selama perjalanan sebagian besar adalah hutan.
“Mas Petro, hati-hati mas, baru kali ini Novi ketakutan sekali”
__ADS_1
“Tenang Nov, itu mbok Ju ada di atas kita, sabar ya Nov, jalannya memang hancur. Aku minta tolong juga Novi tetap fokus di depan karena aku takut kalau ada lobang yang mengakibatkan ban mobil pecah”