
"Apa yang harus kita lakukan malam ini, kita juga tidak tau apakah Supardi dan Kaswad masih ada di sekitar sini atau tidak" kata Ali
“Karena kalau mereka bertemu dengan Kaswadi dan Supardi bisa gawat. Pertama mungkin mereka akan kerjasama dengan para dukun itu, kedua bisa saja mereka nanti akan membunuh Supardi atau Kaswadi karena mereka anggap saingan mereka” lanjut Ali
"Menurut saya yang bisa kita lakukan adalah membatalkan yang dilakukan keempat orang yang sekarang sedang mendirikan tenda di taman itu" kata pak Handoko
“Dan untuk Supardi dan Kaswadi, biarkan saja, kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya, karena biar bagaimanapun mereka semua adalah musuh kita, dan kalian wajib melindungi milik kalian ini” lanjut pak Handoko
"Pokoknya misi kita adalah membuat mereka tidak kerasan dengan berbagai cara, asal tidak dengan cara mistis dan sejenisnya, karena mereka tiap hari sudah berdampingan dengan hal Mistis" lanjut pak Han
"Lalu apa yang menurut bapak tidak mistis itu pak" tanya Ali
"Menurut saya, kita lakukan sabotase kegiatan mereka, hanya saja sabotase macam gimana yang akan kita lakukan saya juga tidak tau" kata pak Handoko
"Haaaa begini saja, ini kan masih siang, kalian dengalkan saja apa yang meleka bicalakan, dan lencanakan. Haaaa, nanti kita bisa lakukan sesuatu kalau kita sudah tau apa yang akan meleka lakukan" kata pak Pho
“Setuju pak, tapi bagaimana kita bisa kesana?” kata Tifano
“Gampang Tif ya lewat jalan yang tembus ke jurang depan vila aja, nanti dari sana kita masuk ke semak-semak yang dekat dengan tempat mereka sedang mendirikan tenda, nanti kan kita bisa dengar apa yang akan mereka akan lakukan rek” kata Ali
“Kasih tugas ini untuk Novi saja pak Han, biar Novi sama mas Broni saja yang kesana pak, itung-itung kami mengingat masa lalu pak hihihihi” kata Novi yang mula gatel endelnya
“Kalok sama aku gimana Nov heheheh” celetuk Gilank
“Memangnya mas Gikank sudah sehat kakinya, kalau sudah sehat dan kuntilanya sudah bisa panjang ya ndak papa mas hihihihi” jawab Novi
“Eh lebih baik tugas pengamatan ini kita berikan kepada yang sehat saja mas, agar kalau terjadi sesuatu kalian berdua bisa lari tanpa kesulitan. Jadi lebih baik tugas ini diemban oleh mereka yang sehat saja. Dan kalau mas Broni bersama Novi tidak keberatan ya tidak apa-apa sih” kata pak Handoko
“Mas Gilank lebih baik istirahat dulu saja mas, hingga kemhaluan mas Gilank bisa lemas dan normal kembali mas” kata pak Handoko
“Dan mungkin juga mas Saeful bisa menampakan diri diantara mereka mas, kan mas Saeful memperkenalkan diri sebagai penduduk sini dan tidak tergabung dengan kita, jadi untuk pengalih perhatian mas Saeful bisa ada diantara mereka” kata pak Han
“Kalau menurut saya pak, mas Saeful lebih baik keluar nanti saja pak, jadi setelah Novi dan Broni kembali kesini atau bisa saja beberapa lama setelah Novi dan Broni ada di luar, mas Saeful bisa keluar dan bertemu dengan mereka, gimana pak?” kata Wildan
“Ok mas , saya setuju dengan idemu, jadi kira-kira 30 menit setelah mbak Novi dan Mas Broni ada di luar, mas Saeful juga keluar pura-pura dari mana gitu ya” kata pak Han
“Iya pak, kalau seumpama ketemu, bilang saja habis dari desa Br, lewat hutan yang ada disana itu. Hutan itu tembus ke desa Br” lanjut Wildan
“Ya sudah ya, jadi mas Saeful bisa siap setelah mas Broni dan mbak Novi sudah jalan ya. Eh apakah mas Saefu butuh teman, mungkin bisa ditemani mas Ukik atau mas Dani yang belum terlihat oleh keempat orang itu?” tanya pak Handoko
__ADS_1
“Haiyaaa…Janganlah, Dani dan Ukik membantu ai disini, meleka beldua adalah tangan ai disini” jawab pak Pho yang ada di dalam tubuh Dani.
“Ya sudah berarti mas Saeful sendirian saja ya keluar dari sini setelah mas Broni dan mbak Novi keluar dahulu” kata pak Handoko
“Mbak Novi dan mas Broni bisa pergi sekarang saja mas, mumpung masih siang dan mereka pastinya siang ini akan mengexplore daerah taman dan rumah ini” kata pak Han
*****
Novi dan Broni berjalan menuju ke lorong yang tembus ke lereng jurang, mereka berdua memang sempat menikmati petualangan bersama ketika hari-hari terakhir di novel konser kutukan. Tapi apakah di Novel ini mereka apa bisa kompak seperti di Novel sebelunya itu.
Singkat cerita mereka berdua sudah ada di sisi lereng jurang setelah mereka berdua keluar dari lorong yang ada di sisi jurang itu.
“Mas Bron, apa yang akan kita lakukan pertama kali mas?”
“Hehehe aku mau periksa kuntilamu dulu, apakah masih ada atau sudah kamu potong hihihih” kata Broni
“HIiiiih udah Novi potong lah maassss, udah gak ada kuntila lagiiii hihihihi. Mas mau liat kalau ndak percaya?” tawar Novi kepada Broni
“Tapiiiiii, tapi jangan ah, dari pada nanti mas Broni gak kuat iman mau nikmatin Novi hihihihi” jawab Novi lagi
“Mosooook udah kamu potong Nov, dimana kamu operasinya?” tanya Broni
“Yo wis ah, yuk kita ke sana Nov, kita lihat apa yang sedang dilakukan oleh mereka disana Nov” ajak Broni
Kita sembunyi di semak belukar yang ada di sisi kiri dan kanan pagar vila dulu aja Nov, kalau dirasa aman kita bisa masuk ke dalam taman vila”
Akhirnya mereka berdua setuju dengan usul Broni, mereka berjalan merunduk dari sisi jurang menuju ke semak belukar yang ada diluar vila dekat pagar.
“Hmmm ternyata mereka mendirikan tendanya di dekat kolam ikan itu mas, sebenarnya kalau ada di dekat kolam ikan kita bisa lebih dekat lagi mas, kita sembunyi di semak yang dekat dengan pohon besar di sebelah kiri atau kanan itu mas”
“Iya Nov kita bisa ke sana, tapi sebentar, kita harus liat dulu dimana mereka berempat sekarang. Agar kita tidak salah bertindak”
Broni berjalan dengan membungkuk untuk melihat apa yang ada di sekitar sana. Untungnya keempat orang itu belum melakukan eksplorasi di sekitar vila putih, mereka masih duduk-duduk di sekitar tenda mereka sambil makan heheheheh.
“Hmm mereka masih makan, ini kesempatan kita untuk masuk ke taman di vila melalui pagar yang lobang di sebelah kiri kita Nov”
“Nanti kita sembunyi di semak belukar yang ada di sebelah pohon besar itu Nov, semoga mereka tidak akan memperhatikan kita ada disana”
Novi dan Broni berjalan pelan menuju ke pagar ujung sebelah kiri yang bagian bawahnya jebol sehingga bisa digunakan untuk masuk ke area vila dengan diam-diam.
__ADS_1
Setelah berjalan pelan dan hampir tidak mengeluarkan suara sama sekali, akhirnya mereka tiba di dalam area vila, tepatnya di sebelah pohon besar, di semak belukar yang rimbun. Apa mereka tidak takut dengan ular?
“Nov gimana kalau nanti disini ada ularnya” bisik Broni di telinga Novi
“…eeh Nov telinga dan rambutmu kok wangi sekali Nov uughh” bisik Broni lagi sambil mendekatkan hidung dan bibirnya ke sekitar telinga dan rambut Novi
Novi segera memalingkan kepalanya untuk menghindari agar Broni tidak semakin hurny hehehe, tapi ….. tapi ketika Novi memalingkan wajahnya, ternyata wajah Novi dan Broni sekarang saling berhadap hadapan tanpa ada batas sama sekali, alias mulut dengan mulut, hidung dengan hindung sudah saling bersentuhan.
“Adtuuuh mas, jangan sekarang mas, entar aja setelah kita selesai dengan pengamatan ini mas, kita bisa cari tempat yang lebih enak mas” kata Novi sambil menghindri ciuman bibir Broni yang semakin berani.
“I..iya Nov, maaf tadi aku khilaf Nov, huuufff hampir saja aku jadi santapanmu Nov hihihihi”
Mereka berdua berusaha mencari celah agar bisa melihat dan mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh empat orang yang sekarang sedang menikmati sarapanya di depan tenda yang mereka dirikan.
“Hmm apa dari sini kita bisa dengar apa yang mereka katakan mas Bron?” bisik Novi di telinga Broni
“Mereka kan belum bicara sama sekali, tapi suara sendok yang terkana piring bisa kita dengar dari sini kan Nov” Bisik Broni
“Iya mas, pasti nanti kalau mereka bicara kita bisa dengar lah mas. Eh mas harusnya si Saeful sudah keluar dari lorong itu” bisik Novi
“Iya Nov, kita tunggu saja Saeful ada disekitar sini dan kita lihat apa yang akan dilakukan Saeful dengan keempat orang itu”
Tidak lama kemudian salah satu dari empat orang itu berdiri setelah dia selesai makan.
“Thon…Fathoni, sebelum kita obrak abrik demit dan leluhur yang ada disini, ada baiknya kita jalan-jalan dulu di sekitar sini Thon” kata salah satu dari mereka
“Nanti aja Bro… kita lihat dulu suasanaa disini, siapa tau disini ada orang yang tinggal, karena kan kata demit suruhan kita di belakang sana sudah ada penggalian yang dilakukan oleh orang disini, jadi ada baiknya kita cari dulu orang yang melakukan penggalian itu” kata orang yang dipanggil Fathoni
“Aku kepingin tanya-tanya sama anak yang tadi pagi itu jalan ke arah atas sana, yang ngakunya sedang cari demit itu Bro” kata orang yang dipanggil Fathoni itu lagi
Sementara itu Novi dan Broni sedang merunduk sambil mendengar percakapan mereka dengan jelas.
“Kenapa kamu kepingin ketemu anak itu lagi Thon?” tanya salah satu dari mereka
“Aku curiga sama anak itu, jangan-jangan dia itu salah satu dari orang-orang yang tadi lempar kapalamu pakek batu itu Mblung” kata yang dipanggil Fathoni itu
“Bukan Thon, dia itu jalan ke arah atas lewat jalan yang kita lewati , kalau rombongan yang lempar kita batu itu mereka jalan di sana di jurang. Sebenarnya apa yang mereka lakukan di jurang itu ya?” Kata yang dipanggil Mblung itu
“Kita lihat saja kesana yok, mumpung masih pagi dan siang ini, kita bisa jelajahi apapun yang ada disini sambil menunggu malam datang. Bagaimana kalau kita mulai dari sisi jurang yang ada di depan vila ini Bro, karena disana membuatku curiga” kata yang dipanggil Thon itu
__ADS_1
“Waduh gawaaaaat Nov, mereka mau ke jurang yang ada di depan vila, sementara ini Saeful belum juga nampak disini, takutnya kalau mereka sudah ada di jurang depan vila, tau-tau Saeful muncul dari balik pintu batu, bisa ketahuan mereka kalau begini ini” bisik Broni