MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 160 (STRATEGI KOLONIAL DIMAS)


__ADS_3

Ternyata pak Tembol Dimas dan Saeful tidak kembali ke vila, mereka bersembunyi di sekitar vila putih menunggu sesuatu yang mungkin saja akan muncul, khususnya Dimas yang merasa curiga dengan adanya sesuatu yang berenergi besar disana.


Trimo naik ke dalam mobilnya, kemudian menyalakan mobilnya dan memutar balik menuju ke arah Gebang setelah di umbah oleh Petro dan Blewah.


“Sebentar lagi ada yang akan menemui Trimo, kita harus lihat dengan jelas siapa itu yang akan menemui Trimo” kata Dimas yang masih curiga apabila ada kekuatan yang lebih besar disini.


Mobil berjalan pelan, diikuti oleh Dimas dan kawan-kawan, jarak mereka dengan mobil sekitar lima meter dengan merunduk runduk,


Tidak lama kemudian tiba-tiba mobi mengerem dan berhenti mendadak, sepertinya ada yang menghentikan mobil Trimo.


“Ini yang kutakutkan Mbul, ini adalah kekuatan yang sama dengan masa kita bertikai, coba kamu rasakan energi dan bau wangi yang terpancar dari  tubuhnya” kata Dimas


“Saya tau…. ini Mak Nyat Mani” kata pak Tembol singkat


Trimo keluar dari mobil, dia kemudian menuju ke arah depan mobil, mungkin sedang memeriksa sesuatu yang ada di depan mobil dia.


“Siapa kamu!, apa yang kamu lakukan dengan mobilku” teriak Trimo yang masih ada di depan mobil dan sedang berbicara dengan seseorang yang dia temui di depan


“AAAARRRGHHHHHHH…..” teriak Trimo kemudian terdengar tubuh yang berdebam jatuh


“Ini yang mengerikan Mbul, entah Mak Nyat Mani atau suruhan Mak Nyat Mani yang merasuki tubuh Trimo, dan kemungkinan besar dia masuk ke tubuh Trimo karena dia mendengar pembicaraan Trimo dengan mas Petro tadi itu bahwa Trimo masih mempunyai salinan  denah bawah tanah”


“KIta harus bicarakan dengan yang lainya masalah ini, karena dengan ikut campurnya Mak Nyat Mani maka masalah ini semakin berat. Dan yang  saya takutkan lagi adalah apabila Rochman bergabung lagi dengan perempuan cantik iblis itu” kata Dimas


“Kita lihat dulu kondisi Trimo  yuk” ajak pak Tembol


“Jangan Mbul, mana kamu tau kalau Trimo sudah siuman dan yang ada di dalam Trimo itu sekarang adalah perempuan yang pernah memperalat kalian” kata Dimas


Benar juga yang dikatakan Dimas, untuk saat ini lebih baik jangan menampakan diri di depan Trimo, karena bisa saja yang ada di dalam Trimo itu adalah Mak Nyat Mani.


*****


“Jadi keadaan kita bisa makin bahaya dengan ikut campurnya Mak Nyat yang sekarang ada di dalam tubuh Trimo” kata pak Tembol


Semua berkumpul di ruang tengah vila yang sudah mereka bersihkan kecuali pak Pho dan Dani tentunya. Tidak ada yang memberikan pendapat tentang bergabungnya Mak Nyat Mani, karena mereka tau bahwa kekuatan luar biasa ada di dalam perempuan cantik itu.


“Kekuatan tidak bisa dilawan dengan kekuatan, kekuatan mereka bisa kita lawan dengan otak pak” Kata Novi


“Kita sekarang lebih baik jangan menampakan diri dan berbuat seperti biasanya, kita gunakan waktu kita dengan mengamati mereka, apa yang akan mereka lakukan dengan vila ini” tambah Novi


“Lebih baik fokus di keadaan vila saja dari pada di rumah Nabil, atau gini saja, biarkan  teman kita ada di rumah Nabil untuk mengamati perkembangan mereka sedangkan kita disini mengamati perkembangan di vila” kata Dimas


“Jadi kalau setelah kita tau dan jelas apa saja yang akan terjadi, maka selanjutnya kita lakukan Devide Et Impera ala wong londo” lanjut Dimas


“Jadi langkah awal kita hanya mengamati apa yang akan mereka lakukan saja Dimas?”


“Iya Mbul, seperti jaman kolonial dulu, Kami berteman dengan bangsa kalian, melakukan perdagangan dan mengamati tingkah laku kesukuan kalian yang masih primitif dan mudah untuk dipecah belah. Saya rasa itu disini ada Totok, ada Mak Nyat Mani yang ada di dalam  tubuh Trimo”

__ADS_1


“Seperti yang saya katakan sebelumnya, Totok atau Rochman kan jaman dulu merupakan anak buah bayangan Mak Nyat, karena Rochman belum mempunyai kesaktian sama sekali, berbeda dengan sekarang, bisa-bisa Rochman  setara dengan Mak Nyat Mani. Kita harus pikirkan itu juga Mbul” kata Dimas


“Dan saya yakin Rochman dengan yang sekarang setara dengan Mak Nyat Mani itu tentu saja tidak akan mau  disejajarkan bahkan tidak akan mau bila diajak kerjasama, meskipun mau pun pasti ada pemikiran untuk saling menguasai dan  saling menjatuhkan pada akhirnya. Dan disitulah  kita sebagai yang lemah melakukan hasutan agar mereka saling serang” lanjut Dimas


“Tapi untuk saat ini kita hanya bisa amati saja apa yang akan mereka lakukan, kita hanya serang mereka yang kecil-kecil saja, pokoknya yang sekiranya bisa kita lakukan ya kita lakukan, dan untuk yang besar biarkan mereka saling serang untuk menguasai apa yang mereka cari” Dimas selesai dengan pidatonya yang sangat kolonialisme


“Novi setuju dengan usul pak Dimas, kita jangan manantang atau menyerang mereka yang besar-besar, cukup lakukan pada yang kecil-kecil saja karena yang besar-besar belum tentu nikmat. Lebih baik yang sedang-sedang sajaaaaaaa” kata Novi


“Oh iya Dimas, saya heran dengan Rochman, bagaimana dia bisa mempunyai ilmu yang setara dengan milikmu pada masa lampau, dia makan organ tubuh manusia dia juga melakukan sesuatu dengan mayat seperti yang kamu lakukan dulu” kata pak Tembol


Dimas tidak langsung menjawab pertanyaan pak Tembol, dia hanya diam dan menundukan wajahnya beberapa saat.


“Itu semua salah saya, saya yang mentransfer semuanya kepada Rochman sebelum saya dibuat lemah, bukan dibunuh tetapi dibuat lemah oleh Mak Nyat Mani dan Soebroto”


“Tujuan saya mentransfer kepada Rochman adalah, agar apa yang saya berikan kepada Rochman akan saya ambil lagi pada suatu masa” kata Dimas pelan


“Tapi semua itu tidak tidak berarti ketika saya menemukan ketenangan di vila ini. Memang saya menunggu disini, menunggu Rochman datang selama puluhan tahun. Tetapi setelah saya ada disini, saya merasakan ketenangan. Saya merasa tidak  memerlukan kekuatan lagi, yang saya butuhkan hidup tenang dan menghantui vila  Putih” kata Dimas


“Saya tau Rochman atau Totok sudah mempersiapkan raga yang penuh dengan kesaktian yang ada di Waji yang kata Handoko sudah dibakar itu, dan saya tidak menyesal, saya malah bangga apa yang disiapkan Rochman itu sudah musnah”


“Bagaimana  kamu tahu kalau kami bakar apa yang ada di Waji itu?” tanya pak Handoko


“Saya kan punya indera pendengaran Han, saya juga disini punya kaki tangan yang bisa saya suruh untuk melakukan apapun. Disini saya punya anak buah berupa ghaib yang tidak doyan dengan yang namanya darah dan sejenisnya” kata Dimas


Semua terdiam setelah mendengarkan perkataan Dimas yang masuk akal dan bisa dipahami,  hanya saja untuk saat ini yang diperlukan bukan cerita masa lalu dan cerita tentang sepak terjang Rochman, saat ini yang diperlukan adalah strategi sebagai yang hebat  untuk melawan mereka.


“Betul, apa yang dulu saya biasa lakukan sekarang pasti Rochman juga sudah bisa lakukan juga dan bahkan bisa lebih dari yang saya pernah miliki, dan itu sangat berbahaya apabila Rochman cerdas dengan menggabungkan dengan ilmu-ilmu modern yang ada pada saat ini” jelas DImas


“Jadi untuk saat ini yang bisa kita lakukan adalah melakukan pengamatan perkembangan mereka, dan saya harap kita bisa menemukan dimana Trimo tinggal, agar kita bisa lakukan pengamatan juga dirumahnya. Untuk saat ini mas Ngot dan Indah kan ada di tempat Rochman, tinggal kita cari tempat tinggal Trimo saja”


Setelah rapat di ruangan tengah kemudian mereka semua istirahat hingga pagi, mereka pasti memerlukan tenaga yang tidak sedikit untuk melakukan perlawanan dengan suruhan-suruhan Trimo


*****


Pagi yang cukup dingin mereka lanjutkan dengan membersihkan ruangan dalam vila putih, termasuk kamar kiri belakang dan area dapur, agar dapur bisa mereka gunakan untuk memasak.


Semua orang yang ada di ruang bawah tanah sekarang ada di vila putih kecuali pak Pho dan Dani. Semua saling bantu membantu membersihkan ruangan demi ruangan vila.


“Pak Dimas, gimana dengan kamar atas, apa perlu kita bersihkan juga?” tanya Tifano


“Iya mas Tifano, ayo kita ke atas kita bersihkan juga sebelum kamar saya heheheh” kata Dimas yang berdaa di dalam  tubuh Gilank


Dimas terlihat bahagia dengan kegiatan bersih-bersih ini,  hantu belum tentu suka ruangan yang kotor dan gelap, hantu juga suka dengan kebersihan dan yang tidak gelap.


Tifano, Dimas, dan WIldan menuju kamar atas, dimana dulu kamar itu tempat menyimpan jasad Wildan yang dibalsem akibat mati ketika sedang menyelamatkan Ibor yang memang kurang begitu baik karakternya. Buktinya saja dia sekarang tidak mau ikut lagi. Padahal semua masalah ini bermula dari ibor itu.


“Wiiih kamar iki rek heheheh, itu dipan nya masih ada, tempat mayat Wildan kami taruh disana pak Dimas”  kata Tifano

__ADS_1


“Hmmm saya tau kalian adalah anak-anak baik, bahkan rela mati demi teman kalian yang sedang ada di dunia ghaib, tapi ya sudah itu masa lalu mas, ayo kita bersihkan saja kamar atas ini, lumayan kan bisa untuk mengamati apa saja kegiatan yang dilakukan di halaman vila” kata Dimas


Dari siang hingga sore hari mereka bersihkan juga kamar Dimas, tetapi tidak dengan tiga ruang bawah tanah yang ada di kamar Dimas, mereka masih ketakutan untuk masuk ke ruang bawah tanah yang  ada di kamar Dimas.


“Untuk hari ini cukup disini sajalah, dan ruang bawah tanah mu nanti-nanti saja kami bersihkan Dimas,  kami  agak gimana kalau ingat-ingat pada waktu itu Dimas” kata pak Tembol


Dapur masih bisa digunakan meskipun masih menggunakan kayu bakar, karena belum ada kompor disana, yah karna ada perubahan sejarah maka akibatnya vila ini kosong mulai jaman dahulu hingga sekarang.


Malam hari ini mereka tidak melakukan apa-apa kecuali bermalas malasan di ruang tengah dan di kamar yang sudah bersih. Wildan dan Tifano ada di kamar atas, kayu palang yang ada di jendela atas juga sudah mereka buka sehingga mereka bisa melihat halaman vila dari atas.


“Keliatanya di kamar atas lebih enak ya Dimas, buktinya WIldan dan Tifano kerasan ada diatas” kata pak Tembol


“Ayo kita ke atas Mbul, saya saja yang sudah berpuluh-puluh tahun ada disini saja belum pernah ke kamar atas heheheh” ajak Dimas.


“Ternyata dari atas sini kita bisa lihat jalan yang menuju ke Gebang,  jadi dari sini kita bisa tau ada mobil yang datang sekitar lima menit hingga mobil itu sampai di depan pintu gerbang vila” kata pak Tembol


“Iya betul pak, jadi bisa siap-siap sebelum mereka sampai di sini pak” kata Tifano


“Eh nak Wildan, coba lihat apakah pintu gerbang vila sudah saya tutup, soalnya tadi siang saya tutup, hanya saja saya lupa apakah sudah saya tutup atau belum” kata pak Tembol


“Dari sini kelihatan kok pak pintu gerbang vila hingga ada siapa yang ada di depan gerbang vila, dari jendela ini semua kelihatan pak, arsitek yang membangun vila ini sepertinya sudah memperhitungkan ruangan atas ini pak sehingga sejauh mata memandang semua masih kelihatan pak” kata  Tifano


Malam hari tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali tidur-tiduran dan bermalas malasan, pak Tembol dan Dimas sudah ada di ruangan tengah, mereka tidak melakukan apa-apa  kecuali menunggu sesuatu yang pasti akan datang entah sekarang atau besok.


Ketika yang ada di ruang tengah sedang ngobrol, tiba-tiba Ukik menyuruh mereka untuk diam


“Sssssst diam dulu, apa kalian tidak dengar ada yang sedang berusaha membuka pintu gerbang vila?” kata Ukik


Tidak lama kemudian Tifano turun ke bawah dengan tergesa gesa, kemudian dia menuju ke ruang tengah


“Awaaaas… ada yang datang, dia sendirian dan tidak menggunakan mobil. Kalau saya lihat kemungkinan besar dia adalah Kaswadi” kata Tifano


Beberapa orang mematikan lampu minyak yang mereka taruh dilantai agar tidak terlihat dari luar vila, sedangkan lainnya diminta untuk waspada.


“Mas Nang coba mas Nang ke sana, lihatlah siapa yang datang tengah malam gini, dan beraninya dia membuka pintu gerbang vila” kata pak Handoko


Vila ini sekarang sudah menjadi base camp selain yang ada di dalam tanah, karena memang mereka itu manusia yang harus ada di alam terbuka bukanya di dalam bunker seperti pak Pho, tapi ya kalau keadaan tidak memugkinkan  pasti mereka akan pindah ke bawah tanah juga.


Sinank nang pergi ke depan vila,  karena memang ada suara langkah kaki dari halaman vila  hanya saja yang ada di depan sana tidak bisa melihat keadaan vila putih, karena tertutup oleh semak dan ilalang yang sangat tinggi.


“Betul, yang didepan adalah Kaswadi, dia sendirian dan kelihatan tidak menggunakan mobil, kalau dilihat dari pakaian yang compang camping kelihatannya dia habis mendapat tindakkan kekerasan. atau mungkin dia mengalami tabrakan, karena ada sedikit darah di pelipis wajahnya” kata Sinank nang


“Kemungkinan besar mayat Supardi masih mengejarnya, dan mungkin waktu dia sedang menyetir, tiba-tiba ada mayat Supardi yang sudah ada di dalam mobilnya karena pakaian nak Broni kan saya taruh di bawah tempat duduk supir hihihi” jawab pak Tembol


“Lalu sedang apa dia ke vila ini, apa yang dia cari disini?” gumam pak Handoko


“Gini saja, saya akan kesana , saya akan keluar melalui lobang pagar yang ada di pojokan itu, akan saya tanya-tanya apa yang sedang dilakukan disini, karena kalian ingat kan kata-kata Trimo. Kaswadi adalah otak dari semua ini.”  lanjut pak Han

__ADS_1


__ADS_2