
Pak Slamet dengan mudah menemui pemilik rumah, yang pertama keluar adalah seorng ibu yang berwajah tirus dan ada kesedihan di wajahnya, setelah berbincang sejenak kemudian pak Slamet mamanggil mereka yang ada di dalam mobil untuk turun.
“Monggo silahkan masuk, kita bicara dalam saja pak” kata perempuan agak tua yang ternyata dia adalah ibu dari Saritem
Perempuan yang memakai daster kuning itu masih terlihat guratan-guratan kecantikanya meskipun mungkin usianya sudah tidak muda lagi. Dengan rambut yang digelung tanpa uban dia mempersilahkan mereka masuk.
Sekarang mereka berlima ada di ruang tamu, sedangkan Saritem belum nampak juga batang hidungnya.
“Maaf ya, anak saya benar-benar malu dengan keadaan keluarganya, dia mengurung diri di dalam kamarnya sepanjang hari. Eh kalian dari mana dan apa maksud kalian ini?” tanya ibu Saritem
Pak Tembol seperti biasa bertindak sebagai juru bicara, dia menjelaskan apa sesungguhnya yang terjadi dan yang akan terjadi meskipun itu terdengar janggal.
“Memang tidak masuk akal sama sekali bu, tetapi semua itu benar, dan saya pernah diceritakan oleh Suharto sewaktu dia belum seperti ini.” tambah pak Slamet
“Nah sekarang tergantung ibu, karena kami sendiri sudah di beri amanah dari mbah Woto untuk menyelamatkan keluarga ini. Hanya saja kami tidak tau apabila Suharto keadaanya sudah berubah tidak seperti yang kami pernah temui dulu” kata Novi
“Sebentar saya panggil dulu anak saya ya, dia pasti akan senang apabila ada yang mau membantu keluarganya” kata ibu itu kemudian masuk ke dalam dan memanggil anaknya
Beberapa kali terdengar suara ketukan pintu dan panggilan kepada Saritem oleh ibunya, hingga akhirnya Saritem membuka pintu kamarnya.
Mereka berdua kini ada di ruang tamu yang sempit, Saritem wajahnya kuyu dengan kelopak mata yang agak bengkak, kemungkinan karena dia menangis.
“Ini anak saya Saritem ibu dari Sarinah, ayo nduk kenalan kepada mereka, biar nanti mereka yang akan jelaskan kepada kamu apa yang mereka akan lakukan
Saritem yang cantik, secantik Sarinah yang sekarang sedang bersama Suharto, Saritem yang di wajahnya tampak kuyu penuh kesedihan.
“Halo mbak…. kalau mbak yang ini Sari sudah kenal bu, mbak cantik ini kesukaan Sarinah” kata Saritem sambil tersenyum dipaksakan
“Mbak ini dan teman-temanya pernah datang waktu bapak Woto masih ada, dan sempat ngobrol seperti akrab sama pak Woto” kata Saritem yang sekarang sudah bisa tersenyum
“Iya mbak Sari, saya ingat waktu mbak Sari menyiapkan makanan untuk kami yang kelaparan” kata Novi
“Eh kalau tidak keberatan mungkin mbak Sari bisa ceritakan kepada kami bagaimana awalnya Suharto bisa berubah, agar kami bisa mencari jalan keluar bagaimana menyelamatkan dan membawa keluarga ini ke tempat yang aman” kata pak Tembol
“Pada intinya mbah To menyuruh kami untuk menyelamatkan anak, cucunya karena sebentar lagi akan ada masalah dengan musuh masa lalunya yang tidak terima dengan keadaan yang sekarang” lanjut pak Tembol
“Sari setuju saja pak, asalkan mas Harto bisa normal lagi, dan Sarinah bisa kembali lagi ke saya” katanya dengan menunduk
“Jadi awal semuanya itu ketika pak To meninggal, beberapa hari mas Harto itu termenung terus, hingga dia sudah tidak mau kerja lagi dia hanya melamun di depan rumah” Saritem mulai bercerita
“Tiap Sari tanya, kenapa kok melamun terus, apa mas Harto ndak Kerja? dia selalu bilang kalau sedang menunggu perintah dari bapaknya, tiap hari yang dia kerjakan hanya melamun, anak saya Sarinah sampai bingung liat bapaknya seperti itu”
“Ditambah lagi dia sudah tidak ingat dengan ibadah, tiap Sari ingatkan untuk sholat dia selalu marah dan membentak Sari”
“Hingga hampir seminggu dengan keadaan yang selalu melamun, hingga kemudian pada pagi hari dia terbangun tanpa solat subuh dia pergi dari rumah tanpa pamit”
“Dua puluh empat jam tidak ada kabar dari dia, kemudian Sari mendatangi pak Slamet, kemudian pak Slamet mengarahkan warga untuk mencari dimana mas Harto berada”
“Setelah seharian penuh warga mencari dan berakhir dengan tidak ditemukannya keberadaan mas Harto, eh keesokan harinya dia muncul, tetapi wajah dia bukan seperti mas Harto yang Sari kenal sebelumnya”
“Wajah dia lebih kejam dan beringas. Datang-datang bukanya kangen dengan anak istrinya, tapi dia marah-marah dan minta disediakan nasi putih dan kopi hitam pahit”
“Setelah makan nasi putih dan minum kopi pahit saja, kemudian dia pergi begitu saja, Sari ikuti kemana dia perginya. ternyata dia ke makam ibu dan bapak. disana dia hanya duduk tanpa bergerak sama sekali”
“Siang hari dia pulang dengan pakaian kotor dan keringat yang membasahi tubuhnya, dia tidak mandi, tetapi dia langsung tidur”
“Nah pada waktu itu ada tetangga, pak Minto kalau ndak salah namanya. Pak Minto melaporkan bahwa suami saya barusan merusak makam bapak dan ibu”
__ADS_1
“Kerikil makam dia orat arit, kemudian bat nisan juga dia cabuti, pokoknya kata pak Minto keadaan makam bapak dan ibu berantakan”
“Besok paginya tanpa saya ketahui dia sudah tidak ada di rumah, saya dan Sarinah tentu saja bingung, kami berdua kemudian melaporkan ke pak Slamet selaku kepala desa”
“Kemudian mendadak ada warga yang juga menuju ke rumah pak Slamet dan kasih kabar kalau Suharto ada di makam orang tuanya, dia sedang duduk di sebelah makam orang tuanya”
“Tentu saja setelah itu kami menuju ke makam bersama-sama, dan benar laporan orang barusan. Suami saya sedang jongkok koyok wong ngising di atas pusara kedua orang tuanya”
“Kemudian dia berteriak kepada kami… ‘JANGAN ADA YANG MENYENTUH ATAU MEMBERSIHKAN MAKAM INI, ATAU DIA AKAN MENYESAL”....dia berkata begitu sambil jongkok di atas makam”
“Tentu saja ancaman itu kami turuti dari pada ada apa-apa dengan penduduk disini. Kemudian pak Slamet mendatangi juru kunci makam dan memberitahu apa yang sedang terjadi di makam mbah woto dan mbah Suparmi”
“Sejak saat itu juru kunci malam melarang siapa saja yang akan membersihkan makam dan berziarah ke makam mbah Woto dan mbah Suparmi” kata Sari kemudian terdiam
“Untuk diketahui pak, makam mbah Woto dan mbah Suparmi itu tiap hari ada saja yang datang, entah itu sekedar mendoakan, atau membersihkan makam itu, pokoknya hampir tiap ada saja yang kesana” potong pak Slamet
“Kemudian tingkah suami Sari makin hari makin aneh, dan terakhir itu mengusir Sari dari rumah karena Sari tidak mau diajak ke alas angker itu”
Dia juga menahan Sarinah bersama dia. dia mengatakan bahwa Sari adalah setan yang menyebabkan kematian orang tuanya” kata Saritem lagi
Keadaan menjadi hening, masing-masing sedang berpikir keras bagaimana dan apa yang akan mereka lakukan dengan keadaan seperti ini.
“Tadi kami sempat ziarah atau nyekar ke makam Marwoto dan Suparmi yang merupakan teman saya di masa lalu” pak Tembol memulai membuka omongan
“Makam itu kotor sekali sehingga kami harus membersihkan dan menata ulang batu nisan, kerikil yang berantakan, serta mencabuti rumput yang ada disana”
“Makam sepasang manusia yang sudah berjasa atas penyatuan dua wilayah ghaib yang menyebabkan kedua desa ini menjadi makmur. Harusnya keadaanya terawat dan bersih” kata pak Tembol dengan nada geram
“Kami akan ada disini beberapa hari, kami akan melihat apa yang akan dan sedang dilakukan Suharto sekaligus kami harus melindungi kalian seperti dulu kami melindungi Suparmi dan Marwoto” kata pak Tembol
“Novi setuju pak, gimana dengan mas Saeful dan mas Petro?”
“Bagaimana pak Slamet dan ibu siapa namanya kok tadi belum tanya namanya “ kata pak Tembol
“Nama saya Sumarti pak” jawab ibu Saritem
Dari wajahnya kedua orang itu Saritem dan Sumarti nampak lega, mereka pasti akan bersemangat lagi setelah ada bala bantuan dari anak-anak ini.
“Sekarang gini pak Slamet, kami butuh tempat tinggal yang tidak jauh dari rumah Suharto dan makam kedua teman kami. Karena kami akan amati dulu apa saja kegiatan Suharto” kata pak Tembol
“Kalian bisa tinggal di rumah saya saja, sebelah rumah saya kan kosong, dulu ditempati oleh keluarga anak saya, tapi sekarang mereka sudah pindah ke kota”
“Wah boleh kalau begitu pak, jadi kami bisa bebas untuk mengawasi rumah Suharto, dan nak Novi mungkin bisa tinggal bersama Saritem dan bu Sumarti”
“Kami bertiga akan ada di rumah pak Slamet saja, oh iya, eh pak Slamet di rumah ada ponsel kan?” tanya pak Tembol
“Ada pak, istri saya yang bawa, dia juga punya nomor teleponnya mbak Sumarti kok” jawab pak Slamet
“Ya wis sip lah kalau begitu , jadi kalau ada apa-apa bisa kontak ya”
Hari menjelang sore, suara adzan ashar sudah terdengar dari rumah itu Sumarti. Mereka memutuskan untuk pamit balik ke rumah pak Slamet.
“Eh pak Tembol, kita kayaknya harus ambil pakaian deh pak, karena menurut Novi kita bisa ada disini untuk beberapa hari pak” kata Novi
“Iya nak Novi, hmm nanti kita pikir lagi nak Novi, kita pikirkan bagaimana cara ambil pakaian kita nanti” kata pak Tembol
“Eh , lebih baik mobil ini ditaruh disini saja pak, agar tidak mencolok, diparkir di seberang rumah ini saja” tunjuk pak Slamet pada sebuah lahan agak menjorok yang kosong
__ADS_1
“Disana biasanya digunakan anak-anak untuk bermain, kadang bermain bola juga, karena kalau ditaruh di tempat saya, pasti Suharto akan curiga pak” lanjut pak Slamet
“Iya benar juga, ya sudahlah. Tolong mas Petro, mobil nya dipindah ke sana saja, diparkir agak minggir ya agar tidak terlalu kelihatan dari jalan ini” kata Novi
Setelah mobil diparkir dengan aman kemudian mereka bertiga plus pak Slamet kemudian pamit undur diri dari rumah Sumarti dan Saritem.
Sebenarnya perjalanan dari rumah Saritem ke rumah pak Slamet tidak jauh, bahkan melewati warung mbok Nah, jadi enak kan bisa mampir makan dulu.
“Pak Slamet, saya mau terus terang, sebenarnya kami beberapa hari ini tinggal di vila putih, karena kami masih ada urusan dengan masa lalu yang belum selesai, kami bukan cuma berempat saja”
“Kami berenam belas disana, belum lagi beberapa makhluk halus teman kami juga. Kami ada disana juga karena melindungi vila itu dari setan-setan yang berusaha merebut vila”
“Nah kami bertemu dengan arwah mbah Woto itu kemarin, ketika kami harus mengidentifikasi siapa yang menyerang kami. Dari situ mbah Woto mengatakan kalau kami harus membawa keluarganya ke tempat yang aman”
“Karena menurut mbah Woto sebentar lagi keluarganya akan tidak aman, karena mbah Woto mulai ikut melawan iblis yang energinya luar biasa kuatnya”
“Saya sebenarnya tidak kaget pak Tembol, saya paham dengan cerita pak Tembol dan saya mempercayainya. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya kalau mbah To sudah pernah berkata kepada saya”
“Bahkan ketika dia tinggal di dalam vila putih bersama ibunya dan Suparmi juga bersama ibunya, dia juga cerita. Awalnya saya sama sekali tidak percaya, saya anggap cerita itu hanya imajinasi mbah Woto saje hehehe”
“Nah dia selalu cerita secara detail apa saja yang dilakukan dan teman-temannya yang melindunginya juga, hingga lambat laun saya percaya saja apa yang dia ceritakan”
“Suatu saat ketika dia meninggal, akan ada perebutan kekuasaan lagi, tetapi nanti ada teman-teman mbah Woto dari kota yang akan membantunya. Perkataan mbah Woto itu yang sampai sekarang masih saya ingat”
“Dan ternyata benar, setelah beliau meninggal ternyata kejadian juga apa yang beliau katakan” kata pak Slamet tanpa melihat ke pak Tembol”
“Apapun yang kalian butuhkan akan saya bantu sebisa saya, tapi saya tidak ingin melibatkan penduduk disini, saya tidak mau penduduk disini mengungsi karena sebab yang tidak jelas, seperti yang terjadi pada desa sebelah itu” kata pak Slamet lagi
“Kita bahas di rumah saja pak, setelah kita sholat ashar saja. sambil minum teh dan nggado godokan pohong buatan istri saya” lanjut pak Slamet
*****
Sore hari di teras kecil depan rumah pak Slamet yang asri dan berbau harum karena adanya tanaman melati yang tumbuh subur disana. Mereka sedang berbincang-bincang tentang apa yang akan mereka lakukan berikutnya.
“Eh pak Slamet, apakah ada jalan lain menuju ke vila putih tanpa melewati pertigaan Gebang? tanya Petro
“Disini hanya ada tiga jalan untuk ke vila putih. Pertama lewat jalan yang kalian tempuh, kedua lewat desa sebelah yang sekarang ada pembangunan itu. dan ketiga lewat alas belakang desa”
“Saya tau alas itu pak nanti tembus ke hutan kan, dan alas itu dulu angker sekali, disana dulu merupakan perkampungan ghaib, betul kan pak heheheh” kata pak Tembol
“Iya betul, alas itu berbahaya, karena merupakan perkampungan jin, dan sampai sekarang belum ada pembangunan disana, karena mereka takut akan terjadi apa-apa apabila ada yang membangun rumah di sana” kata pak Slamet
“Tapi dulu kita beberapa kali lewat sana, tetapi yah mungkin berbeda dengan saat ini, nanti kita pikirkan lagi saja pak” kata pak Tembol
“Yang sekarang saya khawatirkan adalah makam mbah To dan mbah Suparmi yang sudah rapi dan bersih, apa dan bagaimana reaksi Suharto apabila melihat makam itu sudah bersih” kata pak Tembol
“Biasanya Suharto ke makam pada jam berapa pak”
“Biasanya dia ke makam sebelum maghrib. orang itu agak aneh, Anaknya ditinggal sendirian di rumah, sementara itu dia ke makam hingga sebelum isya” kata pak Slamet
“Nanti setelah dari makam dia akan marah-marah, biasanya begitu tiap hari, dia selalu marah-marah pada sesuatu yang tidak jelas. Pernah suatu ketika kami sedang ada di mushola itu sebelum isya”
“Suharto datang marah-marah dengan membawa tanah kuburan dan tanah itu dia lempar ke mushola itu.”
“Kami pernah laporkan dia ke pihak yang berwajib di Gebang, tetapi karena tidak ada keluarga yang mau tanggung jawab, akhirnya pihak yang berwajib tidak meneruskan kasus dia”
“Eh pakTembol, bukanya malam ini kita harus jemput Ngot dan Indah pak” kata Petro tiba-tiba
__ADS_1
“Astagaaa, saya sampai lupa nak Petro…., waduh gimana ya ini, apa kita tunggu kabar dari mbok Ju yang sekarang sedang ke vila putih saja” kata pak tembol