
Mobil berjalan dengan sangat hati-hati, meskipun Petro mengemudikan dengan sedikit cepat.
Saat ini mereka sudah ada di pertengahan perjalanan yaitu dekat dengan area telaga yang sekarang mungkin sudah tidak sebening waktu dulu itu.
“Mbok Ju mana mas Petro, kok Novi belum kelihatan dia?”
“Ada itu di sana Nov, dia kayaknya sedang ke arah kanan jalan”
“Oh itu ke arah telaga mas, dulu mas Broni sempat bikin masalah disana hihihihi”
“Ngapain ya mas, kok mbok Ju kesana ya, apa ada yang memanggil mbok Ju ya mas?”
“Aku juga ndak tau Nov, tapi Semprul ada di depan kita kan, dia juga jaga mobil kita kan Nov”
“Ehm mbak Novi kita ini mau ke mana ya mbak?” tanya Saritem tiba-tiba dari bangku tengah mobil
“Kita ke tempat yang aman mbak, nanti disana mungkin kalian bisa ketemu dengan mbah Woto, karena kami seperti ini itu atas suruhan mbah Woto” jawab Novi
Mbok Ju yang tadinya sempat pergi ke telaga tiba-tiba datang dan masuk ke dalam mobil. ndak tau ada berita apa yang sedang dibawa mbok Ju, karena dia datang dengan wajah yang sedikit tersenyum.
“Tadi dari mana mbok Ju, kok tiba-tiba pergi ke arah telaga disana itu?” tanya Novi
“Tadi mbok dipanggil oleh Sekar adik dari Mak Nyat Mani penunggu telaga itu nak, dia ingin tau kenapa mbok Ju ada di sekitar mobil ini, dan kenapa juga ada anjing siluman yang berjalan di depan mobil”
“Lho apa dia ndak tau yang sedang terjadi disini mbok?” tanya Novi
“Ya dia tau nak Novi, meskipun dia hanya ada di sini dan di telaga itu saja, jugaan Mak Nyat Mani kakak dia itu juga ngomong ke Sekar bahwa ada kejadian di vila putih dan di desa sana” jawab mbok Ju
“Tadi mbok Ju cerita saja apa yang sedang terjadi dengan kita dan dengan yang ada di vila putih. Awalnya dia kaget karena ada campur tangan dari anak buah Soebroto”
“Dan nanti dia akan tanya ke kakaknya lagi apa yang sebenarnya terjadi secara detail, karena kakaknya itu sering kali menyembunyikan apa yang terjadi di sekitar wilayahnya kepada adiknya” lanjut mbok Ju
“Satu lagi yang mbok Ju heran dan tidak menyangka, ternyata dia tanya keberaaan nak Dani!. Dia tanya apakah Dani ada di diantara kita”
“Kemudian Mbok Ju jawab saja kalau nak Dani ada di vila putih, karena raganya sedang dipergunakan oleh pak Pho penunggu vila putih. Mendadak wajah Sekar berubah menjadi bahagia nak”
“Sebenarnya apa yang terjadi antara nak Dani dan Sekar nak Novi?”
“Heheheh nanti saja kita tanya ke teman lainya mbok, Karena Novi juga tidak tau apa yang terjadi diantara mereka berdua”
“Setelah tau diantara kita ada nak Dani, kemudian dia menjamin keselamatan mobil ini hingga sampai ke pertigaan Gebang, karena daerah kekuasaan dia hanya sampai di sana heheheh” jawab mbok Ju
“Wah syukur kalau begitu, perjalanan kita aman hingga di pertigaan Gebang. Oh iya mas Petro apa ndak mau kenalan sama Sekar? katanya Sekar itu cantik sekali lho mas hihihi”
“Walaaah emoh Nov, secantik cantiknya perempuan, tetapi kalau dia itu wong samar atau demit aku yo males. nek sama kamu aku mau Nov hihihi” jawab Petro yang masih konsentrasi dengan mobil Novi
Ternyata pembicaraan mereka itu diperhatikan oleh penumpang yang ada di belakangnya, dan tentu saja mereka ketakutan karena Novi dan Petro bicara dengan sesuatu yang tidak nampak oleh mereka.
“Tante cantik lagi ngomong sama siapa sih, kok kayak ayahnya Sari, suka ngomong sendiri?” tanya Sarinah tiba-tiba dari arah bangku tengah
“Aduuuh ternyata adik cantik perhatiin tante ngomong ya hehehe, Tante tadi lagi ngobrol sama mbok Ju, mbok Ju itu adalah teman kami yang sangat baik dan suka membantu”
“Tapi mbok Ju tidak ada di sekitar kita, karena dia ada di luar sana, kami menggunakan alat canggih sejenis telepon yang ada di telinga kami dik” terpaksa Novi berbohong kepada Sarinah
Sarinah yang sudah terlanjur menganggap ayahnya tidak waras dan suka berbuat jahat dan suka bicara sendiri jangan sampai tercermin di diri Novi dan Petro.
Akhirnya dengan penjelasan Novi ini, Sarinah mengerti dan tidak bertanya tanya lagi.
*****
Pak Rebot, apa bapak ini sesepuh desa ini? kok kelihatannya masih muda gini?”
“Hihihih, yang sesepuh kui bapaku mas, saya yang mewakili bapak saya, tapi dia sekarang lagi di kota, namanya juga orang sibuk mas hehehe. Saya ini guru tari lho, pak Tembol mau saya ajarin nari?”
“Waduuhh blaen iki pak nek ada Suharto datang dengan sangarnya, mosok harus diajarin nari biar dia bisa takluk” tanya Saeful yang mulai cemas
__ADS_1
“Sudah tenang saja nak Saeful, kita bisa dan mampu atasi Suharto kok, nanti juga kita akan dapat bala bantuan dari teman kita yang ada di vila kan nak”
“Setelah semua selesai kita bisa belajar nari heheheh”
Suasana di depan rumah Suharto sudah sepi, masyarakat desa sudah pada kembali ke rumah masing-masing. Kini tinggal mereka berempat yang ada di sana.
“Ayo kita kembali ke rumah saya, kita pantau dari rumah saya saja apabila Suharto benar-benar kembali lagi ke sini” ajak pak Slamet
Malam semakin larut, mereka berempat ada di depan rumah halaman rumah pak Slamet menunggu kedatangan Suharto dan bantuan dari vila putih.
“Pak Tembol, apa yang harus kita lakukan apabila Suharto datang?” tanya pak Slamet dengan nada cemas
“Kita lihat dulu saja pak, kalau dia berbuat onar di rumahnya, kita biarkan saja, tetapi kalau dia berbuat onar hingga ke desa maka saya dan nak Saeful akan berusaha untuk mencegahnya”
“Saya yakin dia akan datang sebentar lagi pak, dan dia juga akan membawa bala bantuan yang berasal dari alas wingit yang ada disana itu”
*****
“Mas Petro kita sudah hampir sampai di pertigaan Gebang, ada baiknya mbok Ju lihat dulu bagaimana keadaan disana” kata Novi
“Lha dari tadi mbok Ju kan sudah kasih tau kita Nov, kalau di depan itu aman. Kita lebih baik lanjut saja dan segera kembali ke desa sana, karena menurutku Suharto akan memanggil bala bantuan”
“Ya sudah mas ayo kita lebih cepat lagi saja, lalu bagaimana dengan mobil ini mas, apa kita harus parkir di masjid dan berjalan kaki ke vila”
“Kita ndak bisa jalan kaki ke vila, terlalu bahaya, karena kita terlalu terbuka. Menurutku lebih cepat sampai lebih baik. Kita tunggu mbok Ju yang sedang mengamati lagi suasana sana dulu.
Kiri kanan mereka masih hutan, mobil dijalankan perlahan-lahan, mereka masih belum yakin dengan keadaan di sekitar pertigaan Gebang dan vila putih.
Mbok Ju saat ini sedang menyusuri sepanjang jalan menuju ke vila putih, jangan sampai ketika disana mereka bertemu dengan Trimo atau Rochman.
Memerlukan waktu yang cukup lama juga bagi mbok Ju untuk menyusuri jalan yang menuju ke vila, dan akhinrya setelah cukup lama, mbok Ju memberikan isyarat aman kepada mereka untuk meneruskan perjalanan.
“Ayo mas, cepat itu mbok Ju sudah kasih tanda aman”
Mobil dijalankan dengan lebih cepat lagi, kini mereka sudah melewati pertigaan dan mobil di belokan ke kanan dengan jalan yang menanjak.
“Aman mas, Tidak ada siapapun di depan kita” tunjuk Novi di depan pagar vila
Setelah itu mobil berhenti di lubang yang ada di balik rimbunya semak.
“Ayo cepat turun, kita masuk lewat jalan rahasia.. ayo cepat cepat mbak Saritem, dik Sarinah dan ibu. Waktu kita tidak banyak” kata Novi yang kemudian menuntun mereka masuk ke dalam lubang yang ada di tembok pagar.
“Novi, saya tunggu disini ya, nanti cepat kembali kita ke desa sana lagi” teriak petro yang kemudian memutar arah mobil menuju ke arah bawah lagi
Tidak lama kemudian Novi muncul, tapi dia tidak sendirian, dia bersama Blewah. Mereka bersama mbok Ju berangkat lagi menuju ke desa Bs.
*****
Sampai saat ini belum nampak Suharto di desa yang sudah sepi karena selain sudah malam, penduduk yang tadi sempat berkerumun juga sudah membubarkan diri.
Kini hanya ada empat orang yang sedang mengintai di depan rumah pak Slamet, termasuk guru tari yang bernama pak Rebot.
“Belum nampak datangnya Suharto, semoga teman-teman kita selamat sampai tujuan pak” kata Saeful
“Pasti mereka selamat nak, disana kan ada mbok Ju dan Nak Petro, mereka pasti bisa menghadapi sesuatu yang tidak terlalu bahaya lah” jawab pak Tembol
“Ini sudah hampir lewat tengah malam pak, dan belum juga nampak Suharto maupun teman-teman kalian” kata pak Slamet
“Yah… saya juga berpikir sama dengan yang pak Slamet pikirkan, hanya saja mbok Ju kan ada bersama mereka, jadi apabila ada sesuatu yang menimpa mereka, otomatis mbok Ju akan kemari untuk memberitahukan apa yang sedang terjadi”
“Oh iya benar juga ya pak Tembol, ya sudah kita tunggu saja hingga mereka datang” jawab pak Slamet
Beberapa menit setelah pak Slamet bicara, tiba-tiba dari arah kiri mereka atau arah yang menuju ke hutan dan ke arah makam muncul Suharto.
Dia jalan dengan pelan dan agak membungkuk, bagaikan sedang menggendong karung beras, tetapi bukan Suharto yang menarik perhatian, melainkan bayangan hitam yang menyertai Suharto berjalan.
__ADS_1
“Pak Tembol lihat itu Suharto menuju rumahnya lagi, tapi yang ngeri itu yang dibelakangnya pak, coba pak Tembol perhatikan pak?”
“Benar juga nak Saeful, itu yang ada di belakang Suharto ada bayangan besar dan mengerikan, saya yakin itu dia bawa dari alas yang ada di belakang desa”
“Ada apa pak, Suharto bawa apa pak?” tanya Pak Kades yang tidak bisa melihat makhluk Ghaib
“Suharto bawa teman pak, tapi bukan teman yang baik, melainkan teman yang mengerikan. Lebih baik biarkan saja dia masuk ke rumahnya. Kita lihat saja apa yang akan dia lakukan selanjutnya pak” jawab pak Tembol
Suharto masuk ke dalam rumahnya, dia membuka pintu rumah yang tadi sudah ditutup pak Tembol agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Ketika Suharto masuk…tiba-tiba ada teriakan erangan dari dalam rumah.
“Wuiiih teriakan itu mengerikan sekali, apa yang terjadi dengan dia sebenarnya?” kata pak Kades
“Kita belum tau pak, pokoknya kita lihat dulu saja apa yang dia lakukan dan apa yang akan terjadi selanjutnya”
…….AARRGHHH SARINAAAAAHH…. SARITEEEEEEMMM!. AKAN KUBUNUH KALIAN SEMUA PEMBAWA SIAL!.....
Teriakan Suharto benar-benar membuat bulu kuduk berdiri..
“Kita tunggu disini dan kita lihat apa yang akan dilakukannya”
Semua yang ada di halaman rumah pak Slamet kelihatan tegang, karena teriakan Suharto tidak hanya sekali dua kali saja, dia berteriak terus menerus, tetapi dia tidak keluar dari rumahnya.
Sedangkan untuk melihat apa yang sedang dia lakukan pun jelas tidak mungkin, karena tidak ada mbok Ju, sehingga saat ini pak Tembol dan Saeful hanya bisa mendengarkan apa saja yang dia teriakan.
“Kalau keadaan seperti ini , malah akan mengakibatkan penduduk disini ketakutan. Apa kita tidak melakukan sesuatu agar dia berhenti teriak pak” tanya pak Slamet
“Kita ini manusia pak, sedangkan yang bersemayam dan yang mengikuti Suharto itu bukan manusia, dia adalah demit yang ada di alas sana itu” jawab pak Tembol dengan agak emosi
“Saya lebih baik menunggu teman saya yang akan datang ini pak, karena teman saya yang tadi itu juga sama dengan Suharto, hanya saja yang ada di dalam tubuh teman kami itu jin baik” kata pak Tembol
“Jadi kalau sekarang kita kesana itu sama saja dengan bunuh diri pak” tambah Saeful
“Sebenarnya saya agak gimana gitu ikut campur urusan keluarganya mbah Woto, karena kami tidak sebanding dengan mbah To” lanjut pak Tembol
Suara amarah dan teriakan dari Suharto sekarang berganti dengan suara tangisan dan suara tertawa, kemudian ada suara bicara yang tidak jelas sama sekali.
“Sekarang dia berubah menjadi tertawa, apa yang akan kita lakukan pak” desak pak Slamet
“Mohon bersabar pak, yang bapak dengar itu bukan suara tertawa dan tangisan nya Suharto, tetapi yang sekarang ada di dalam Tubuh Suharto. jadi tunggu hingga teman kami datang pak”
Hingga beberapa belas menit yang ada hanya suara tangisan dan tertawa saja…
*****
Rombongan bermobil yang berisi Novi, Petro, dan Blewah saat ini hampir melewati telaga, kemudian tiba-tiba mbok Ju yang awalnya ada di depan mobil pergi ke arah telaga.
“Kita lurus saja mas, biarkan mbok Ju, mungkin dia sedang dipanggil oleh Sekar adik dari Mak Nyat Mani, kita tetap ke desa saya, perasaan Novi ndak enak mas” kata Novi sambil bergumam
“Ayo Tro rodok dipercepat maneh c*k mobile, iki Mirah kok ngomong kalau keadaan disana mulai bahaya” kata Blewah
“Ok. Nov, minta ijin agak aku percepat ya, hehehe” kata Petro
“Ya wis mas, semoga nanti ada gantinya kalau mobil Novi ini remek mas heheheh”
Mobil dipercepat lagi hingga penumpang yang ada di dalam mobil terpental-pental. Setelah beberapa menit mobil dipercepat, mbok Ju datang dan masuk ke dalam mobil.
“Eh tadi mbok Ju sempat dipanggil lagi sama putri Sekar adik Mak Nyat Mani. dia bilang dia tau apa yang terjadi dengan Suharto, dan dia tidak bisa diselamatkan”
“Kalau kita nekat memusnahkan mahluk yang ada di dalam tubuhnya, maka ia juga akan mati!”
“Karena makhluk itu sudah menyatu dengan tubuh Suharto, disini Suharto menumbalkan dirinya sendiri ketika dia tadi pergi ke alas angker itu”
“Dan satu-satunya jalan untuk mengatasi ini adala memanggil mbah Wo, karena hanya mbah Wo saja yang bisa menenangkan Suharto”
__ADS_1
“Lha sekarang gimana caranya cari mbah Wo, kita saja waktu pengen ketemu dengan mbah Wo kan pak Pho yang atur. Kalau kejadiannya begini bagaimana kita bisa cari mbah Wo”