MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 101 (SUPARDI BERKATA ANEH)


__ADS_3

Ide Saeful memang bagus untuk menghindari hal-hal yang tidak baik bagi Fathoni, tapi tidak bagi Supardi, tentu laporan ke pihak yang berwajib akan mengakibatkan di terlibat masalah disana, apalagi dengan adanya pembuatan terowongan di belakang rumahnya.


“Bagaimana pak Fathoni, apakah siap untuk lapor ke pihak yang berwajib dengan kematian tiga temanmu itu?” tanya Saeful


“Saya belum siap mas, saya bahkan tidak siap dengan berbagai pertanyaan yang akan diajukan oleh pihak yang berwajib itu mas, atau apakah ada cara lain untuk menyingkirkan mayat ketiga teman saya itu selain melaporkan ke pihak yang berwajib mas?”


“Hehehe ya ikuti saja apa tadi temanmu itu katakan pak, selesai sudah masalah dan bapak bisa pulang kerumah dengan hati yang bersalah dan siap menanti kedatangan pihak yang berwajib pak….. Ya sudah pak saya mau lanjutkan perjalanan pulang dulu” kata Saeful lagi


“Hahahahah… memang akan kuikuti apa yang teman saya tadi katakan mas hehehe dan kamu akan kubunuh karena sudah membuat ketiga teman saya itu mati wakakakakak” Fathoni tiba-tiba berubah pikiran lagi


Fathoni mengambil sebilah pedang atau pisau panjang yang dia simpan di atas kap mobil. Dia acungkan pedang yang berukuran sekitar 60 cm itu di depan Saeful. Tapi dengan santainya Saeful malah berkata…


“Apa kamu sudah siap dengan 4 mayat yang mati di dalam mobil yang kamu sewa ini pak, apa kamu yakin dengan KTP kamu yang ada pada perusahaan rental mobil tempat kamu sewa mobil ini hehehe” kata Saeful dengan santainya tai agak kasar juga ngomongnya


“Kalau mau jadi jahat jangan ada jejak pak, itu namanya Tolol. Boleh ghoblok tapi jangan tolol. Coba bayangkan, bagaimana istri dan anakmu ketika segerombolan polisi datang setelah pihak rental mobil melaporkan kalau mobil mereka yang disewa atas namamu belum kembali”


“Kemudian ternyata mobil itu ditemukan dengan 4 mayat yang ada di dalamnya. Dan kemudian keluarga mayat itu mendatangi keluargamu, apakah kamu ndak kasihan heheheh, jadi kalau memang niatnya jahat ya jangan meninggalkan jejak dong pak” kata Saeful dengan santainya


*****


Sementara itu Broni dan Novi tidak henti-hentinya mengagumi ke sangaran dan ketenangan Saeful, yang hingga kini masih bisa menguasai keadaan dengan cara bicaranya.


“Gendeng Saeful itu mas, kok bisa yaaaaaa ada orang seperti itu mas, bisa tenang dan berusaha mempengaruhi Fathoni dengan logika!” bisik Novi


“Iyo Nov, aku juga heran kok dia setenang itu menghadapi Fathoni yang jelas jelas nya sudah memegang senjata tajam, eh apa kamu belum waktunya untuk bertindak Nov?”


“Tunggu mas, keadaan belum berbahaya, belum waktunya menyakiti orang lain mas, kita tunggu saja yang sedang di usahakan oleh Saeful, dia bisa mengatasi masalah ini atau  tidak mas” Jawab Novi


Memang kalau dipikir pikir, keadaan Fathoni itu sudah diujung tanduk, dia kalau berpihak pada Supardi jelas akan dicari pollisi, tetapi kalau dia menyerahkan diri pun akan diinterogasi juga tapi pasti akan mendapat simpati karena kejujuranya, tapi semua itu tergantung dari Fathoni sendiri.


“Nov, kalau begini kapan ini selesainya, sedangkan Fathoni sendiri saja sudah nekat akan membunuh Saeful, tapi kalau menurutmu apakah Fathoni itu hanya menakuti Saeful atau dia benar-benar akan membunuh Saeful?” tanya Broni


“Keliatanya dia sudah gelap mata mas, dia sudah niat dengan menyiapkan sebuah pedang untuk membunuh Saeful, sebentar lagi kalau keadaan kurang baik akan Novi ambil tindakan saja mas, nanti kita pikir lagi apa yang akan kita lakukan setelah melempar Fathoni dengan batu mas” jawab Novi


*****


Sementara itu Keadaan Saeful yang tenang itu sebenarya tidak setenang cara bicara dia, tentu saja tiap manusia apabila sudah ditodong senjata tajam pasti akan ketakutan, begitu pula Saeful, dia pasti juga sedang ketakutan juga.


Tapi hebatnya Saeful itu bisa mengontrol emosi, sehingga dia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang tertekan sama sekali.  Tapi untuk saat ini harusnya keadaan sudah mulai berbahaya, dan Novi harus sudah waspada.


“Tujuan sampeyan menodongkan senjata tajam itu kepada saya apa pak?” tanya Saeful dengan tenang


“Agar kamu mati, tiga nyawa teman saya ditukar dengan satu nyawamu sebenarnya kurang tapi dari pada tidak ada sama sekali ya lebih baik satu juga tidak apa-apa” kata Fathoni


“Sudah yakin akan membunuh saya, sudah yakin dengan segala yang tadi saya omongkan kepada kamu pak, dan yang terakhir yang paling penting, apakah kamu sudah yakin kalau kamu akan selamat dari sini pak, karena yang mati bukan saya pak, melainkan kamu pak” kata Saeful dengan nada yang ramah dan bersahaja hihihi

__ADS_1


“Sebelum kamu bunuh saya, nanti akan ada yang membunuh dan menyakiti kamu pak, dan saya pastikan itu akan terjadi pada dirimu pak. Ini bukan pemberitahuan lho pak, tapi sudah merupakan ancaman dan peringatan untuk kamu lho pak” kata Saeful lagi


Ternyata anak yang tinggal di masjid ini pandai mengolah kata dan mempengaruhi orang dengan kata-katanya, penulis tidak tau dia ini belajar dari mana, tapi kalau mendengar apa yang dikatakan itu, pasti dia punya dasar ilmu dan literasinya.


“Dan untuk sampeyan pak, akan saya beri tiga kali peringatan sebelum ada yang akan membunuhmu pak. Ingat saya beri tiga kali peringatan yang cukup menyakitkan tubuh kamu pak, setelah itu ya kamu akan mati pak” kata Saeful dengan nada yang cukup keras hingga dapat didengar oleh Broni dan Novi


Di sisi jurang ternyata Novi dan Broni sudah paham dengan apa yang dikatakan oleh Saeful, mereka berdua paham apabila tiga kali serangan dari Fathoni hanya diberikan lemparan batu yang menyakitkan tapi tidak mematikan.


Saat ini Fathoni sedang dalam keadaan menghunus senjata tajam panjangnya yang lebih mirip dengan pedang. Tanpa diduga Fathoni mengangkat senjata itu tinggi-tinggi, dia hendak menebas Saeful yang berdiri dengan santainya.


Dan keika senjata itu hendak ditebaskanke tubuh Saeafu tiba tiba ada seongkah batu seukuran bola tenis yang mengenai telapak tangan Fathoni dengan keras.


…ATHOOOOH… “teriak Fathoni  dan kemudian pedang itu terlepas dari genggamanya, karena telapak tangan kananya terkena lemparan batu dari Novi yang dari tadi sudah siap dengan beberapa bongkah batu yang sudah disiapkan sebelumnya.


“SIAPA YANG MELEMPAR BATU KE ARAH SAYAAAAA!, JANGAN MAIN BELAKANG, KALAU BERANI DI DEPAN SAYA SAJAAAA!” teriak Fathoni sambil menoleh kesana kemari


“Hehehehe kan sudah saya bilang kamu disini tidak akan selamat, saya tadi kan kasih kamu tiga kali kesempatan sebelum kamu juga akan bernasib sama seperti tiga temanmu. Ingat sekarang tangan kananmu sudah tidak bisa kamu pakai untuk menyakiti saya” kata Saeful


“Tapi kamu masih punya tangah kiri dan dua kaki kan, dan kesempatanmu ada tiga kali lagi heheheh. Ayo lakukan lagi kepda saya, agar kamu tahu bagaimana rasanya ketiga-tiganya dalam keadaan yang sakit” kata Saeful dengan kalem


Ternyata si Fathoni masih saja belum puas, dia akan mencoba untuk yang kedua kalinya menyerang si Saeful. Tapi kali ini Novi tidak ingin mengambil resiko bagi orang yang sedang kalap, ketika Fathoni mengambil senjata tajamnya dengan tangan kiri, tiba-tiba ada sebuah batu yang lebih besar menimpa tangan kirinya.


Tangan kiri Fathoni berluman darah, karena batu yang dilempar Novi itu sejenis batu karang yang tajam hihihihi. Fathoni tersungkur sambil menahan sakit tanpa bersuara sama sekali. Kali ini dia kelitanya percaya dengan Saeful dan mengira Saeful adalah orang yang mempunyai ilmu tinggi. Hahahahah


“Sekarang apa yang mau kamu lakukan setelah ini pak?” tanya Saeful


“Tidak tau mas, saya harus apa, saya bingung…arrrghhh sakit sekali tangan kuuuu” erang Fathoni


“Begini saja pak, bapak ke rumah orang yang tinggal di sebelah vila itu saja pak, dan minta tolong dia untuk mengantarkan ke rumah sakit dan bicarakan sama dia apa yag akan dilakukan dengan tiga mayat yang ada di dalam mobil itu pak” kata Saeful memberikan saran


“Buat apa saya ke sana lagi mas, saya tadi sudah janji akan membuang mobil ini di hutan daerah pct kepada dia, tapi karena….” Jawab Fathoni tanpa meneruskan omongannya


“Lha tapi apa sempeyan bisa menyetir mobil ini dengan keadaan tangan yang seperti itu pak?” tanya Saeful


“Jelas tidak bisa kan pak, makanya saya kasih sampeyan jalan keluar yang terbaik untuk meminta bantuan dari orang itu untuk menyetir mobil ini menuju ke pihak berwajib atau ke hutan tempat kamu mau buang mayat itu kan pak hehehe” kata Saeful lagi


“Ya sudah pak, sekarang saya mau pulang dulu pak. Dan saya anggap kita tidak pernah bertemu sebelumnya pak. Jadi kalau ada apa-apa dengan sampeyan, saya tidak mau tau menahu pak. Ok dan selamat jalan pak” kata Saeful sambil berlalu dari orang yang sedang bingung harus apa karena kedua telapak tangan dia dalam keadan sakit


Saeful berjalan dengan santai ke arah Gebang, sedangkan, fathoni duduk diam dengan kedua telapak tangan yang membengkak, mungkin retak atau apalah karena terkena lemparan batu Novi.


“Nov, ayo kita susul Saeful sekarang” kata Broni


“Jangan dulu mas, Novi kok merasa ada yang aneh mas, kita tunggu hingga Saeful agak jauh saja mas, karena Novi merasa ada jebakan disini ini mas” kata Novi


“Maksudnya gimana Nov, jebakan apa yang kamu maksud itu Nov, aku kok gak mudeng aama sekali” jawab Broni

__ADS_1


“Di dalam mobil itu, Novi curiga di dalam mobil itu ada orang yang akan mencelakai kita mas, Novi rasa ada Supardi di dalam mobil itu mas, kita tunggu dulu mas, apakah perkiraan Novi ini benar atau tidak mas” kata Novi lagi


Ternyata apa yang dikatakan Novi ada benarnya dan juga ada salahnya, benarnya adalah ada yang sedang bersembunyi di semak belukar samping mobil, dan dia adalan Supardi. Salahnya adalah Supardi tidak ada di dalam mobil.


“Hahahaha bagaimana tanganmu tholol!” kata Supardi yang keluar dari semak belukar. Di sisi seberang mobil atau sejajar dengan vila putih


“Ternyata yang kamu hadapai itu bukan anak-anak yang aku kira sebelumnya, ternyata anak itu benar-benar sendirian, dan yang melempar batu ke arahmu kemungkinan besar adalah demit pengawalnya tholol hahahaha” kata Supardi tertawa lebar


“Ah lalu bagaimana dengan tanganku ini, ayo bawa aku ke rumah sakit, sakit sekali tanganku ini” kata Fathoni


“Sebenarnya salah kamu cari masalah dengan anak itu, anak itu tidak da hubunganya dengan anak-anak yang kapan hari itu kemari, ternyata dia benar kerja sendiri mencari demit!” kata Supardi dengan yakin


“Bagaimana kamu yakin kalau anak itu kerja sendiri?” taya Fathoni


“Tadi dia kamu todong senjata, dia sama sekali tidak gentar, bahkan dia tidak teriak minta pertolongan, dia yakin bahwa yang melindungi dirinya akan selalu ada disisinya untuk melindunginya. Dia tidak butuh teman, dia bisa atasi semua sendiri hahahah, orang yang hebat dan berani”


“Itu adalah ciri-ciri orang yang suka berburu mahluk halus, beda dengan kamu dukun palsu yang punya perewangan gak mutu, tapi nekat sudah berani masuk ke vila itu” ejek Supardi lagi


“Gimana, apa kita ikuti dia atau tidak” tanya Fathoni


“Gak usah, dia tidak akan ada di jalan itu, sebentar lagi dia akan hilang dari jalan itu, karena dia bukan manusia” kata Supardi


*****


“YANCHOOOK…. Supardi kemeruh chok hihiihi” bisik Broni kepada Novi


“Tapi ndak papa mas, biar dia merasa bahwa Saeful itu benar-benar sesuai dengan yang dikatakanya, akibatnya mereka berdua akan merasa bagaimana gitu apabila ketemu dengan Saeful mas” kata Novi


“Jadi mindset Supardi, Saeful itu memang tak kasat mata dan jagoan, berarti Supardi itu tidak bisa melihat mahluk halus dong mas, wong dia saja bilang Saeful adalah tak kasa mata hihihi” lanjut Novi


“Nah itu dia Nov aku juga heran kenapa bisa dia berkata seperti itu, coba kamu analisa lagi omongan Supardi itu Nov”


“Maksudnya gimana mas bron….?” Tanya Novi bingung


“Sudahlah nanti saja, Novi bingung mas. Lihat itu mereka sekarang akan naik ke mobilnya, dan mereka akan menuju ke gebang, ayo kita susul Saeful saja dulu mas, kita kawal dulu Saeful agar aman” kata Novi yang melihat mereka berdua sudah naik ke mobilnya”


“Nov, jangan dulu, aku kok mencium bau-bau penyergapan ya. Gini Nov,Supardi bukan orang yang bodoh. Dia tadi berkata- kata gitu itu pasti ada tujuanya. Jadi seolah olah dia itu mengakui bahwa Saeful itu di atas mereka. Dan dia berkata seperti itu dengan nada yang keras lho Nov” kata Broni


“Iya ya mas, jadi agar kita dengar dan tau bahwa saeful aman-aman saja dan bukan tandingan dia, gitu ya mas. Dan harapan dia agar kita lengah dan menghampiri Saeful yang ada di bawah itu” kata Novi


“Tadi kamu dengar tidak dia berkata bahwa ndak usah kejar Saeful, karena sebentar lagi dia akan hilang. Maksudnya itu Saeful akan menuju ke tempat kita sembunyi atau menuju ke sisi jurang dimana kita biasa sembunyi.


“Dan Supardi mengatkan itu semua dengan jelas dan keras, agar kita yang sedang sembunyi ini menemui Saeful di suatu tempat dan mungkin saja sekarang ada suruhan dia yang sedang mengikuti Saeful juga”


“Yang jelas tujuan Supardi bilang begitu itu agar kita keluar dari tempat persembuyian kita, dan menemui Saeful di suatu  tempat dan mereka akan menangkap kita” kata Broni dengan wajah seriusnya yang tidak nampak serius sama sekali

__ADS_1


__ADS_2