
Setelah diskusi yang panjang akhirnya disepakati untuk menuju ke lorong biru, tujuanya jelas untuk mengamankan ketiga mbak-mbak itu yang hingga kini masih jadi incaran Totok.
Sedangkan grup pak Tembol menuju ke abah Fuad untuk menyelamatkan Blewah yang hingga kini masih belum sadar juga dari tidak sadarnya.
Mobil milik Novi ini sekarang berisi Winna, Chandra, Chinta, Wildan, Tifano, Novi, dan Ali. Sedangkan Saeful membonceng Gilank. Mereka menuju ke vila putih melewati jalur paling dekat yaitu lewat pct.
“Kenapa kita harus lewat jalur ini lagi mas. Apa kita ndak lewat jalur yng lebih jauh tapi aman mas?” tanya Novi agak ragu dengan jalur yang harus melewati hutan yang lumayan angker itu
“Ini jalur yang terdekat dan tercepat masalahnya Nov, kalau kita lewat jalur konvensional ya lebih jauh Karena memutar Nov” jawab Wildan
“Novi masih gak enak kalau harus lewat pct dan lewat hutan antara pct dan Prgn itu mas, meskipun saat ini pagi hari menjelang siang mas” kata Novi
“Ya kita harus lebih hati-hati saja Wil, kita kan ndak tau apa yang ada di depan kita, apalagi kita sekarang sedang bawa muatan penting yang harus dilindungi” kata Ali
“Jadi gimana ini, apa kita balik ke jalur yang umum atau kita teruskan hingga ke Gebang?” tanya Wildan
“Terus aja Wil, kita sudah tengah jalan ini wil, tanggung kalau harus balik lagi lewat jalur umum” jawab Tifano
Jalanan memang sudah mulai terlihat ramai dengan penduduk desa yang berjalan kaki maupun menggunakan sepeda, mereka mulai beraktifitas di pagi hari ini.
“Sebentar lagi kita akan masuk ke kawasan pct, apa ndak ada yang mau mampir ke hotal waji kah heheheh” kata Wildan
“Gak usah golek masalah Wil, focus ke jalan saja awakmu Wil, jangan bikin bahaya dan masalah disini” kata Tifano
Saeful dan Gilank yang mengendarai motor posisinya ada di belakan mobil, mereka berdua bagaikan sepasang kekasih hihihihi. Untungnya Gilank sudah mandi dan sudah berganti pakaian , jadi Saeful ndak gilo kalau harus membonceng Gilank.
Perjalanan mereka sejauh ini masih aman, mereka sudah masuk ke kawan wisata pct, setelah melewati pasar pct, mobil mereka akan berbelok ke arah kiri, tidak jauh dari belokan kiri itu mereka akan bertemu dengan hotel Waji.
“Sebentar lagi kita akan lewtat waji rek, jadi pasang mata kita rek, meskipun ini siang hari tetap saja kita harus waspada dengan sekeliling kita rek” kata Ali yang duduk di depan sebelah Wildan yang di belakang kemudi.
Mobil mereka terus meluncur hingga mereka sudah melewati hoel Waji. Hotel waji tetap dengan keangkerannya, sepi dan gelap, pohon beringin yang semakin rindang disana itu makin menambah kesan angker hotel itu.
“Terus saja WIl, gak usah injak rem untuk memelankan mobil” kata Ali keika tau bahwa Wildan melepas pedal gas dan akan menginjak rem ketika mereka melewati hotel yang mengerikan itu
“Perjalanan kita masih lumayan jauh, jadi lebih baik kita focus pada tujuan kita saja, gak usah mampir mampir, urusan sarapan kita bisa lakukan di ruangan biru saja” kata Ali lagi
Mobil melaju lagi dengan kecepatan yang ditambah oleh Wildan. Mereka saat ini semakin waspada, karena sebentar lagi mereka akan memasuki hutan, hutan antara kawasan prgn dan pct yang lumayan mengerikan ketika malam hari tiba.
“Banyak doa rek, karena kita sekarang mulai masuk hutan, dan jangan melamun sedetikpun rek, karena aku tiba-tiba merasa aneh” kata Ali sambil melihat ke belakang
“Mas Wildan, tolong focus dan pelankan mobil, karena Novi merasa ada yang tidak semestinya mas. Coba lihat sekeliling yang semakin sepi mas, harus nya jalan ini meskipun siang hari tidak sesepi ini mas” kata Novi yang ada di bangku paling belakang bersama Tifano
“Motor mas Saeful pun tidak ada, atau belum keliahatan mas” kata Novi dengan nada suara yang khawatir
“Mas wildan seumpama di depan ada tanah yang bisa dipakai untuk memutar, kita lebih baik memutar saja mas, karena sampai detik ini mas Saeful dan mas Gilank belum juga nampak mas” kata Novi lagi
Memang yang dikhawatirkan Novi itu cukup beralasan, karena hingga kini motor yang ditumpangi oleh Saeaful dan Gilank belum juga nampak di belakang, dan suasana di hutan ini makin sepi, tapi apakah kekawatiran Novi itu cukup beralasan?
Untungnya mereka belum masuk ke kawasan hutan yang lebih dalam, istilahnya mereka baru masuk di pintu gerbang hutan antara prgn dan pct itu, dan belum masuk lebih dalam lagi.
“Itu di depan ada tanah yang sedikit lebar Wil, kita bisa memutar disana saja” kata Ali yang bertindak sebagai co pilot Wildan
__ADS_1
Mobil alhirnya bisa putar balik dengan selamat. Akhirnya mereka bisa kembali ke pct lagi, jalan yang sepi tadi lambat laun menjadi ramai lagi, tetapi Saeful dan Gilank belum juga kelihatan batang hidungnya.
“Kita sudah masuk kawasn Pct lagi ini, tapi kedua orang itu kenapa sampai sekarang belum kelihatan juga, sebenarnya mereka ini kemana ya?” gumam Ali
“Kita susuri lagi jalan yang tadi mas, siapa tau motor Saeful mogok atau ban motor Saeful terkena paku mas”kata Novi
Mereka menyusuri lagi jalan yang tadi merela lewati, suasana pct sekarang ramai dengan orang yang hlir mudik, pokoknya yang mereka lewati ini normal keadaanya, tapi Saeful dan Gilang belum terlihat juga. Hingga mobil melewati pasar tetapi belum terlihat juga Saeful dan GIlank
“Aku yakin ban mereka bocor Li, coba kita berhenti di warung dan tanya dimana tambal ban yang dekat dengan sini” kta Tifano tiba-tiba
“Iya Tif, cangkemu ada benernya juga sih, mungkin saja ban motor yang mereka naiki bocor dan saat Ini mereka sedang mencari tukang tambal ban yang ada di dekat sini” kata Wildan
Mobil berhenti di depan sebuah warung yang menjual makanan ringan dan rokok. Kemudian Ali turun dari mobil untuk menanyakan dimana tambal ban yang terdekat. Setelah beberapa saat Alipun kembali ke dalam mobil.
“Muter Wil, kita kembali ke arah waji lagi, kata orang itu sebelum waji ada gang yang ke kiri, dan disana ada tambal ban” kata Ali
Mobil pun memutar kembali ke arah waji, dan sebelum Waji ada belokan ke kiri, mobil berbelok ke kiri, dan tidak sampai seratus meter mereka lihat motor yang ditumpangi Saeful dan Gilank.
“Nah itu mereka, kita stop disini saja mas, Novi mau ke sana dulu. Dan nanti Novi yang akan naik motor bersama mas Saeful , mobil ini ikuti motor mas Saefu saja nanti” kata Novi dengan nada serius
Sebenarnya cukup aneh juga kenapa siang ini mereka serius semua, tidak ada guyonan seperti biasanya. Apakah karena mereka belum sarapan atau gimana.
Novi turun dari mobil dan menghampiri Saeful dan Gilank yang sedang menunggu motor yang sedang ditambal banya sambil sarapan, ternyata di sebelah tambal ban itu ada warung makan yang tidak terlihat dari posisi mobil parkir.
“Wah ternyata ban motor kalian bocor, tadi kita sampai bingung cari kalian berdua” kata Novi
“Iya mbak, tadi waktu masuk pasar, saya merasa ban belakang sudah goyang dan tidak enak mbak, akhirnya kita cari tukang tambal ban mbak. Oh iya mbak, ayo sarapan dulu mbak” tawar Saeful
Sarapan memang penting, apalagi kalau kita sedang melakukan perjalanan, karena konsentrasi tinggi itu memerlukan asupan gisi. Akhirnya penumpang mobilpun sarapan di warung sebelah tambal ban.
Orang yang sedang menambal ban motor Saeful itu adalah orang sudah tua, sehingga cara kerjanyapun tidak secepat yang muda-muda. Gilank sempat nggerutu ketika proses tambal ban itu tidak selesai dengan cepat, tapi tidak dengan Ali.
Ali merasa melihat sebuah peluang menanyakan seputar hotel Waji, karena dia merasa orang yang sudah setua itu pasti tau sejarah yang terjadi di hotel Waji itu.
“Mbah, jangan kesusu mbah, santai mawon mbak” kata Ali membuka pembicaraan
“Heheh iya cu. Lha ini pada mau ke mana cu?” tanya orang tua penambal ban itu
“Kami mau ke Gebang mbah, ke vila putih” jawab Ali dengan sengaja menyebut nama Vila Putih
Seketika bapat tua penambal ban itu menghentikan pekerjaanya dan melihat ke arah Ali dengan tatapan heran.
“Apa yang kalian lakukan di vila terktuk itu cu, jangan kesana cu, bahaya” kata orang tua itu
“Kami sedang memburu orang yang bernama Totok pemilk hotel Waji itu mbah” kata Ali yang makin menambah keheranan ornag tua itu
“Nama saya Basuki, tapi panggil saja saya mbah Bas. Bagaimana kalian bisa tau nama yang tidak boleh disebutkan itu cu, sebenarnya siapa kalian ini?” tanya mbah Bas yang sekarang benar-benar menaruh alat penambal ban tubeles itu
“Kami bukan siapa-siapa mbah, tapi kami hanya sekelompok orang yang pernah membunuh Rochman alias Totok di masanya Mak Nyat Mani dan Soebroto yang ada di Gebang itu” jawab Ali semakin menjadi jadi dengan membeberkan nama-nama penting yang berperan dimasa lalu itu
Mbah Bas semakin melotot ketika ali menyebutkan kata kunci itu, hingga beberapa detik mbah Bas hanya terdiam saja, tetapi dia kemudian bersikap biasa lagi.
__ADS_1
“Heheheh saya hanya orang tua yang tidak tau apa yang kamu tadi sebutkan cu, saya hanya penambal ban saja.”jawab mbah Bas
“Sebentar mbah, saya akan panggilkan teman saya, pasti mbah Bas akan tau siapa dia mbah” kata Ali yang kemudian menuju ke warung dan mengajak Novi menuju ke mbah Basuki
“Mbah Bas coba lihat, siapa yang ada di dalan tubuh teman cantik saya ini” kata Ali lagi
Tiba-tiba mbah Bas berdiri dari duduknya dengan cepat, tidak ada yang mengira seorang tua renta itu bisa berdiri dengan begitu cepat.
“Sa…sari….Sarijemb. ka..kamu ada di dalam tubuh anak ini, sebenarnya ada apa Sari. Apakah sudah separah itu hingga kamu ada di dalam tubuh ini?” tanya mbah Basuki tiba-tiba
“Siap siap saja Bas, tinggal kita berdua saja, Joyo sudah mati dan arwahnya ndak tau kemana. Saripah ada bersama grup yang mirip dengan ini, dia menjelma menjadi kucing hitam” kata mbah Sari atau nama lengkapnya Sarijemb yang berbicara menggunakan raga Novi
“Kamu tetap disini saja Bas, awasi hotel itu dan awasi yang ada di hotel itu” kata mbah Sarijemb yang berbicara melalui raga Novi lagi, tapi setelah itu Novi kembali lagi normal yang menandakan mbah Sari sudah tidak menggunakan raga Novi lagi
“Bagaimana kamu tau saya cu. Padahal saya tidak menunjukan apapun kepada kamu kan cu” kata mbah Bas
“Mudah mbah, meskipun tubuh mbah Bas itu sudah renta, tapi mata mbah Bas ini tajam dan dalam, mata seperti itu bukan milik sembarang orang. Saya pernah lihat mata seperti itu ketika melihat mata Mak Nyat Mani” jawab Ali
“Kami akan ke vila putih mbah, karena kami harus melindungi tiga perempuan yang ada di dalam warung itu. Monggo mbah kalau mbah Bas mau lihat kenapa kami harus lindungi tiga perepuan itu” kata Ali sambil mengajak mbah Bas masuk ke dalam warung
Dia tidak lama di dalam warung, kemudian dia keluar lagi dan berkata kepada Ali dan Wildan yang sedang ada di sana.
“Jangan sampai tiga perempuan itu jatuh ke tangan Totok dan guru Totok yang sekarang sedang mengumpulkan kekuatan untuk menguasai daerah ini dan Gebang lagi” kata mbah Bas dengan mimik serius
“Guru Totok itu maksudnya Dimas kah mbah?” tanya Wildan
“Hmmm kalian sudah tau, berarti kalian juga sudah tau bagaimana sejarahnya kan, atau kalian adalah yang merubah sejarah itu?” tanya mbah Bas dengan mata yang berkilat kilat
“Iya mbah itu semua ulah kami mbah, kami yang diperintah Mak Nyat Mani untuk merubah sejarah dengan melindungi….
“Sudah, ndak usah kalian ceritakan, saya sudah tau semua ceritanya. Yang penting sekarang jangan sampai ketiga perempuan itu jatuh ke tangan Totok dan Dimas, karena apabila sudah jatuh ke tangan mereka, maka mereka akan gunakan kekuatan itu untuk mencari sesuatu yang ada di vila putih”
“Sekarang biarkan saya selesaikan ini, dan kemudian kalian cepat sembunyikan tiga perempuan itu dari incaran Totok” kata mbah Basuki yang kemudian dengan cekatan menambal ban motor yang tidak lebih dari sepuluh menit sudah selesai dengan baik
“Mbah, saya mau tanya, apakah bahaya apabila kami lewat hutan antara Prgn dn Pct untuk menuju ke gebang?” tanya Ali
“jangan lewat sana!, disana banyak sekali yang akan menyerang kalian apabila kalian lewat sana, disana banyak anak buah Totok yang memang dengan sengaja ditaruh disana untuk mencari tumbal, Tumbal yang diperlukan Totok apabila Totok memerlukan Tumbal bagi dirinya agar tetap hidup”
“Lebih baik kalian kembali lagi dan lewat jalur umum saja cu, karena disana lebih aman” kata mbah Basuki yang sudah menyelesaikan menambal ban motor Saeful
Setelah semua selesai sarapan, mereka pun pamit undur diri kepada mbah Bas, dan mereka akhirnya akan kembali ke arah sby dulu untuk kemudian menuju ke prgn melewati jalur umum yang tentu saja ramai dengan kendaraan berat.
“Mas Wil, kalau kalian lewat prng kan pastinya nanti lewat Tol kan, motor kan tidak bisa lewat sana, bagaimana kalau saya tetap lewat sini saja bersama mas Gilank?” tanya Saeful
“Gimana rek, benar juga motor kan gak bisa lewat sana” kata Wildan
“Jangan mas, jangan pisah, kita nanti ndak usah lewat jalan Tol, kita lewat jalan biasa saja. Novi nanti naik motor bersama mas Saeful. Posisi mobil harus dibelakang motor” kata Novi
“Lho Noooov apa gak eman sama kulitmuuuuu!” teriak Winna
“Novi lebih eman sama nyawa kalian kak, semua harus bisa dimakllumi kak” kata Novi lagi
__ADS_1