
“Maksudmu opo Wok, kamu bawa kami kemana ini” tanya Wildan yang mulai emosi
“Sabar mas Wildan, kita tanya Bawok baik-baik saja mas, kita tidak tau apa maksud Bawok mas, yang saya takutkan adalah apabila kita masuk ke ruang waktu seperti yang diomongkan Bawok barusan mas” kata Saeful
“Asal mas Saeful ketahui, kami sudah pernah masuk ke pusaran waktu mas, dan kami dikirim ke masa penjajahan Belanda, untung kami bisa kembali ke masa kami karena bantuan dari penguasa ghaib yang ada di sana waktu itu mas”
“Lha sekarang, kita tidak mempunyai sesuatu apapun, bahkan untuk melindungi diri sendiri saja tidak tau bagaimana caranya mas” kata Wildan emosi
“Kalian berdua diam dan konsentrasi, biasanya perputaran waktu ini hanya sementara, setelahnya semua akan kembali normal” kata Bawok
“Sebelumnya juga ada yang pernah kesini, mereka juga masuk ke pusaran waktu yang memang sering terjadi disini, tetapi tidak lama kemudian mereka kembali ke masa mereka lagi” kata Bawok
“Memang siapa yang pernah kesini sebelumnya?” tanya Wildan penasaran
“Nama yang saya ingat hanya Blewah, karena teman saya Sumirah sekarang ada di dalam tubuh Blewah, tanpa ada teman saya Sumirah, Blewah sudah mati” jawab Bawok dengan suara yang ada di dalam kepala mereka berdua
“NANIIII!, APAAAA!, WHAAAT!…… apa ada yang bernama Dogel, Petro, dan Glewo?” tanya Wildan
“Betul mas, itu nama-nama yang kamu sebutkan ada semua kecuali Petro. Petro mempunyai sifat yang jahat, bahkan saya berhasil membuat dia kesakitan karena berani menyerang ketiga temanya itu” jelas Bawok
“Mereka semua adalah teman kami Bawooook!, lalu kemana mereka sekarang?” tanya Wildan lagi
“Kejadian itu sudah lama, beberapa tahun lalu, saya tidak tau bagaimana kabar mereka, karena mereka tidak pernah datang ke sini lagi. termasuk teman saya yang bernama Sumirah itu”
“Oklah, mereka semua adalah teman baik kami Bawok, mereka ada disini pasti karena alasan tertentu. Karena mereka itu sebenarnya orang-orang yang cuwek, mereka tidak pernah urusin urusan yang bagi mereka tidak terlalu berdampak” kata Wildan
“Kalau sampai mereka ada disini berarti mereka sedang ada masalah yang serius itu” lanjut Wildan lagi
“Ok, sekarang bagimana keadaan kita disini Bawok, apa yang harus kita lakukan lagi, karena katamu kita ada di sebuah perputaran waktu” kata Wildan lagi
“Diam saja disini, karena diluar sana sedang terjadi pengulangan waktu, pengulangan waktu terjadinya pembantaian dan kematianku juga” kata Bawok dengan nada yang pelan
“Wis gini saja, karena kita sudah terlanjur ada disini, bagaimana kalau kami keluar ke sana dan melihat apa yang sebenarnya terjadi disini” kata Saeful
“Sebentar saya lihat dulu keadaan diluar” kata Bawok
Hahaha kalau seumpama kedua orang itu terdampar di masa lampau lalu apa yang harus mereka lakukan berdua, apakah mereka akan bertemu lagi dengan anak-anak Sutopo lainya?
__ADS_1
“Cepat kalian keluar dari sini pelan-pelan, dan duduk diam tidak bergerak sama sekali di samping meja resepsionis. Jangan berkata-kata atau melakukan tindakan apapun” kata Bawok
Mereka mengikuti apa yang Bawok katakan, dengan perlahan lahan mereka keluar dari kamar staff resepsionis dan kemudian duduk di samping meja dengan pelan dan tenang.
Di depan mereka nampak beberapa keluarga dengan anak-anak mereka yang sedang menunggu kepala keluarganya sedang mengurus check in kamar dan mungkin juga sedang menunggu ketersediaan kamar yang ada disana.
Empat anak kembar sedang bermain main dengan asisten rumah tangganya, ada juga seorang ibu-ibu yang sedang duduk manis dengan buku TTS di tangannya, pokoknya keadaaan ini adalah keadaan normal sebuah keluarga yang sedang menikmati weekend di sebuah penginapan.
Semua terjadi dengan cepat hingga kemudian terjadi sesuatu yang mengerikan, adanya pembunuhan yang sangat sadis (detailnya ada di novel Indah Laminatingrum). Tapi maaf penulis ndak mau menulis dua kali heheheh karena malas hehehe.
Kedua orang itu hanya bisa ketenggengen atau bahasa Indonesianya mungkin diam terpaku. Mereka jelas kaget ketika ada kepala tanpa tubuh menggelinding di depan mereka dengan mata yang terbuka penuh darah, pokoknya detailnya ada di novel satunya lah.
Jadi saat ini mereka sedang menyaksikan kejadian yang terus berulang di dalam hotel itu, dan sesuai dengan arahan dari bawok, mereka hanya bisa diam dan tidak bergerak sama sekali.
Yang bahaya ini si Saeful, selama hidupnya dia kan belum pernah melihat pembunuhan dan mayat yang hancur. Mungkin kalau melihat mayat yang normal dia masih bisa tahan, tetapi begitu melihat mayat yang hancur dengan kepala putus dia pasti belum pernah lihat.
Beda dengan Wildan yang pada kasus konser berdarah dia kan sudah bisa lihat hal yang aneh-aneh meskipun dia hanya berupa hantu. Jadi lebih tidak kaget WIldan dari pada Saeful.
“Waduh, ada apa ini dengan Saeful, jangan-jangan dia akan muntah setelah melihat apa yang ada disini” batin Wildan setelah melihat kondisi Saeful yang menggos menggos koyok habis muteri lapangan bola bolak balik, setelah melihat sebuah kepala yang menggelinding di depanya tadi
Setelah kejadian adanya kepala yang putus, tiba-tiba semua menjadi lengang, sepi tidak ada apapun selain ruangan yang gelap dan kosong.
“Kalian cepat keluar dari sini sebelum Totok berjalan disini, Totok akan keluar dari dapur setelah ini, cepat kalian bawa koper itu dan keluar dari sini” usir Bawok kepada mereka berdua
Dengan susah payah kedua orang itu berjalan setengah berlari menuju ke pintu gerbang hotel Waji, dimana teman-teman mereka sedang menunggu di luar sana.
“Ayo cepat kalian lari, sebentar lagi Totok akan menyapu daerah ini, dia akan mencari pembunuh bayi yang ada di kamar dia itu” teriak Bawok dalam kepala mereka.
Akhirnya mereka berhasil keluar dari area Hotel Waji yang mengerikan, dan untungnya ketika mereka keluar dari sana, Totok belum sempat melihat mereka.
“Untung kalian sampai disini duluan dari pada Totok, dia sekarang sedang mengerahkan suruhanya untuk mencari kalian. Kalian cepat berganti baju saja dulu yang penting, karena bau busuk kalian bisa mengundang suruhan Totok untuk datang kepada kalian” kata Bawok di dalam kepala mereka.
Koper itu dibuka, dan ternyata isinya adalah beberapa pakaian laki-laki termasuk celana panjang dan ada pula pakaian perempuanya.
Setelah mereka berganti pakaian, kemudian pak Handoko mempunyai ide untuk mencari pom bensin, mereka harus mandi sekarang juga agar sisa bau yang ada di tubuh mereka tidak terendus oleh suruhan Totok.
“Mas Wildan, tolong tanyakan kepada orang-orang yang ada di warung itu, tolong tanyakan dimana letak pom bensin yang dekat dengan sini” suruh pak Han kepada Wildan
__ADS_1
Wildan ditemani oleh Broni menuju ke arah warung mbak Joyo yang sekarang sudah mulai rame lagi setelah yang bau-bau itu minggat dari sana.
Ternyata tidak jauh dari sana dekat dengan pasar ada pom bensin yang harusnya buka 24 jam. Akhirnya merekapun pergi ke arah pom bensin untuk mandi bersih heheheh, meskipun tidak ada handuk sama sekali, pokoknya bau itu hilang dan mereka bersih kembali.
“Anak-anak, sekarang kita ini adalah buron lho ya, kita sudah membakar yang ada di dalam hotel itu, tetapi kita juga berhasil selamatkan sementara vila putih dari Totok, kita juga selamatkan Mak Nyat Mani dari Totok juga” kata pak Handoko
Akhirnya mereka bisa membersihkan diri dari bau yang luar biasa itu, dan untuk sementara mereka masih bisa terhindar dari kejaran anak buah Totok.
Tetapi benar kata pak Handoko, saat ini mereka adalah buron, jadi langkah mereka harus benar-benar berhati-hati.
“Kalian tunggu sini, saya sama mbak Novi mau tanya petugas pom itu, disana ada mobil yang mungkin bisa kita sewa” kata pak Handoko
“Pokoknya malam ini kita harus pergi dari sini, kita kembali ke vila putih untuk melihat bagaiamana dan apa yang terjadi disana
Pak Handoko mendatangi kantor pom bensin yang ternyata masih terang lampunya, yang berarti masih ada orang disana, di sebelah kantor pom bensin itu ada sebuah mobil yang bisa muat 8 orang.
Ternyata malam ini ada pengurus pom bensin yang sedang sidak ke sini, dan terjadilan negosiasi antara pak Handoko dan orang yang ada di dalam kantor pom bensin itu.
Penulis tidak tau apa yang dibicarakan pak Handoko dengan pengurus pom bensin itu karena tidak ada yang mau bercerita kepada penulis tentang apa yang sedang mereka bicarakan.
Pada Intinya mobil berjenis besar dan panjang itu sudah dinyalakan, dan pemiliknya dengan rela mengantar kami ke arah prgn.
“Pak Han, apakah kita nututi ke arah Prgn malam ini?” tanya Tifano
“Bisa mas Tif, pokoe bondo yakin dan Bismillah saja mas hehehe” jawab pak Handoko dengan yakin
Setelah penulis tanya, kok bisa semudah itu bisa dapat tumpangan ke prgn. Jawaban Novi sederhana, karena pemilik mobil itu adalah saudara dari pemilik depot rawon special yang ada di Gebang heheheh”
Dan Novi sempat bicara kepada pemilik mobil itu tentang mbah Sarijemb, ciri mbah Saijemb dan apapun mengenai mbah Sarijemb, seolah olah Novi kenal baik dengan mbah itu.
Gak nyambung ya, jelas ndak nyambung lah! Kok bisa tIba-tiba ketemu dengan saudara pemilik depot rawon spesial, tapi juga namanya berkah Illahi, apapun bisa terjadi dalam sekejap!
Perjalanan yang sepi karena hanya pak Handoko dan pemilik mobil yang berbincang- bincang, sedangkan lainya, mereka gunakan untuk tidur. Yang paling aneh, pemilik mobil itu tidak bertanya sedang apa mereka di pct dan ngapain mereka malam-malam mau ke Gbng hehehe.
“Anak-anak, ayo bangun, kita sudah sampai di Gebang” kata pak Handoko kepada kami setelah mobil berhenti di sebelum perempatan Gebang
Kami turun di perempatan jalan Gebang, sedangkan orang yang minta dipanggil dengan panggilan Dargombes itu meneruskan perjalanan menuju ke arah kanan, atau tepatnya di desa Bs.
__ADS_1
“Terima kasih banyak atas tumpanganya pak Dargombes, kapan-kapan kami akan mampir ke rumah bapak” kata pak Handoko dengan senyum yang dikembang-kembangkan
“Ayo anak-anak, kita jalan kaki ke vila putih saja. Secepatnya kita harus sampai di vila sebelum pagi tiba anak-anak” kata pak Handoko