MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 89 (PERMAINAN DIMULAI)


__ADS_3

“Ok mas, eh nanti enaknya saya balik kesini jam berapa mas?” tanya Saeful lagi


“Mas Saeful lebih baik kesini setelah maghrib saja, jadi memang kan kalau cari kodok itu malam hari kan heheheh” kata Broni


“Cari kodok ndan disini mas hihihi di hutan mana ada kodok mas, adannya juga cuma pocong, kunti, gendruo mas hehehe. Tapi nanti saya kesini setelah maghrib saja mas. Eh kalian titip apa lagi, apa ndak titip makanan hehehe” tanya Saeful


“Iya mas Saeful, tolong nanti belikan makanan danair mineral ya, karena bisa saja kami berdua ada disini sampai pagi, pokoknya sampai kita bisa buat orang-orang yang ada disana itu pulang ke kotanya” kata Novi tiba-tiba.


Saeful berjalan kembali ke gebang, dia kembali ke masjid tempat dia selama ini tinggal, sekalian dia akan berganti pakaian dan mengambil beberapa peralatan yang dipesan oleh Broni antara lain celurit agau arit, senter, dan lampu minyak untuk mencari kodok.


Untungnya tadi Novi tidak lupa untuk titip dibelikan makanan oleh Saeful, karena mereka berdua pasti akan lama sekali berada di sana untuk memantau kegiatan orang-orang itu di dalamarea vila.


Sekarang Broni dan Novi sekarang kembali lagi ke tempat mereka sembunyi, yaitu di lubang pagar sebelah kiri vila. Lubang pagar yang tidak akan terlihat oleh siapapun dari jalan vila ataupun dari dalam halaman vila.


Setelah ini mereka rencananya akan kembali lagi ke tempat awal mereka sembunyi yang di semak belukar sana, karena disana mereka bisa mendengar segala pembicaraan orang-orang yang ada di dalam tenda.


"Sementara menunggu Saeful kita bisa duduk-duduk disini dulu Novi, nanti kita kembali ke tempat yang tadi, karena disana kita harus mendapat informasi apa saja yang mereka bicarakan dan mereka rencanakan di vila putih itu"


"Iya mas Bron, Novi bocahmu mas, Novi ndak akan nolak kemanapun mas Bron bawa Novi mas hihihih"


"Gimana kalau kita cari tempt sepi Nov, kita bisa santai berduaan hihihihi" kata Broni mulai gatal


"Nggak ah mas Bron, Novi takut sama ular, apalagi sama ularnya mas Broni heheheh"


"Ularku kan bisa kamu jinakan Nov, kan bisa kamu taruh di sangkar ular milikmu yang hangant dan menyenangkan hehehe" ujar Broni makin menantang Novi


"Emangnya mas Broni udah tau sangkar ular milik Novi mas, ntar mas Broni kalau udah tau gak akan bisa lepas dari Novi lho mas, karena sangkar ular milik Novi ini bukan sangkar ular biasa hihihih" jawab Novi lagi


"Kan gak papa Nov, apalagi kuntila Novi yang segede botol Beer itu udah gak ada hehehehe"


"Iya mas, tapi apa ndak nyesel kalok sama Novi mas, karena Novi gak bisa bikin anak, tapi Novi bisa bikin enak heheheheh" ujar Novi sambil menyelentik kantung menyan alias telor Broni


"Athooooh" teriak Broni tanpa sengaja


"Ssssssttttt mas kok teriak gitu sih mas , kalok didenger sama mereka gimana mas" kata Novi nyengir


"SIAPA ITUUUUU!"  teriak orang yang ada di tenda


"Sssttt diam mas, mereka dengar suara mas Broni tadi" bisik Novi sambil menjhilat telinga Broni hihihihi


Memang suara teriakan Broni terdengar oleh mereka yang ada di dalam tenda, tapi sampai sekarang belum ada langkah kaki yang mendekati mereka berdua, kemungkinan besar mereka yang ada di tenda tidak mengetahui posisi Broni dan Novi


“Diam mas, untung mereka tidak mencari kita mas, kayaknya ada apa-apa dengan keadaan mereka mas” kata Novi


“Ayo kita bergerak ke sana Nov, kita balik ke tmepat kita tadi sembunyi, kita dengarkan apa yang sedang terjadi dengan mereka sehingga mereka tidak mencari kita Nov”


Aneh juga sebenarnya, mereka kan harusnya mencari asal sumber suara Broni tadi, tetapi sampai saat ini tidak ada suara langkah kaki yang bergerak menuju ke tempat sembuyinya Broni dan Novi


Novi dan Broni sekarang ada di tempat mereka pertama kali sembunyi, di tempat itu mereka bisa mendengarkan suara atau pembicaraan orang yang ada di dalam tenda di sana itu.

__ADS_1


“Bro, kita harus segera bawa Gemblung ke rumah sakit secepatnya, dia dari tadi pingsan dan sesekali kejang kejang, menurutku dia gegar otak berat ini Bro” kata orang yang dipanggil denan Fathoni itu


“Kita tidak bisa pergi dari sini Thon, karena kesempatan kita hanya malam ini saja, bukankah begitu kata lelembut kiriman kita yang ada disini?” kata orang satunya yang dipanggil Tompel


“tapi bagimana dengan gemblung Bro, apa dia kita biarkan seperti ini?” kata Fathoni lagi


“IngatThon, sebelum kita kesini, kita sepakat bahwa apa yang kita kerjakan ini sangat berbahaya, dan kita sepakat apabila terjadi sesuatu dengan kita itu memang akibat dari kelalaian kita. Dan kita harus rela dengan apapun yang terjadi dengan kita” kata orang yang penulis belum tau namanya, karena dia paling diam


“Iya memang itu resiko pekerjaan kita, tapi apa kita tidak perlu membawa dia ke rumah sakit dulu, baru kita kembali ke sini lagi Pel” kata Fathoni


“Butuh berapa jam perjalannan dari sini ke Rs yang ada di Sby? Karena jelas tidak mungkin membawa dia ke RS di sekitaran sini, karena pasti akan disuruh rujuk ke rumah sakit yang lebih besar” kata Tompel


“Sekarang sudah siang menjelang sore, perjalanan kesini dari kota kita tadi hampir 3 jam. Kalau kita antar Gemblung berarti butuh waktu lebih dari  6 jam kan, belum untuk masalah admin di Rs nya kan” jelas Tompel lagi


*****


“Nov, yang tadi kamu lempar itu ternyata belum sadar hingga sekarang hehehe, dah biar aja, biar mereka tidak main-main dengan vila putih ini” kata Broni


“Tapi keliatanya mereka akan melakukan sesuatu dengan vila ini malam nanti,  begini saja, kita tunggu Saeful datang dulu, baru kita sama-sama balik ke ruangan biru, kita laporkan perkembangan orang-orang pemburu harta karun ini kepada teman kita.


“Sekalian kita makan Nov, lapar sekali aku Nov”


“Lha tadi kita kan udah Titip sama mas Saeful mas, semoga dia ndak lupa harus bawa apa mas heheheh”


“Kalau gitu kita ndak usah kembali ke ruangan biru Nov, kita tetap ada disekitar sini saja, biar mas Saeful saja yang kembali ke ruangan biru  Nov” ujar Broni


“Iya mas, Novi bosan kalau ada di ruangan biru, enakan disini kita berdua sambil menunggu malam tiba mas hihih” kata Novi


Waktu berjalan dengan cepat, tidak terasa sekarang sudah menjelang maghrib. Novi dan Broni masih betah saja duduk-duduk di dalam semak belukar yang ada di dekat pohon besar pojok kiri Vila.


Selama mereka disana memang banyak mereka dengar percakapan  mereka yang ada di dalam tenda, tetapi percakapan itu hanya sebatas teman mereka yang sampai sekarng belum sadar dan perdebatan mereka untuk membawa ke RS atau membiarkan teman mereka hingga sadar di tenda.


“Nov ini kayaknya sudah lewat waktu maghrib. Gimana kalau kita ke tembok bolong saja sambil menunggu Saeful lewat sini Nov”


“Ya wis mas, ayo  kita ke depan sana yuk, Novi sudah lapar sekali ini mas, semoga mas Saeful tidak lupa bawa makanan buat kita mas


Mereka  berdua menuju ke tempat pagar berlubang untuk menunggu Saeful datang dari Gebang. Setelah menunggu beberapa saat, kemudian di arah Gebang terlihat lampu minyak yang nyala apinya meliuk liuk terkena angin.


“Mas itu ada lampu minyak di  kejauhan mas. Apakah itu mas Saeful ya mas?


“Sebentar Nov, kita tunggu disini saja dulu, jangan keluar dari tempat persembunyian kita dulu, tunggu sampai api itu sudah dekat dengan kita Nov”


Novi dan Broni tetap menunggu di lubang pagar vila yang dulu pernah mereka temukan waktu kasus dengan Dimas kalau tidak salah.


Nyala api dari lampu minyak itu semakin dekat dengan mereka berdua. Nyala lampu minyak yang biasanya masih digunakan sebagian masyarakat desa meskipun sudah ada di era modern.


Semakin dekat dan kemudian terlihat lelaki yang saat ini memakai songkok dengan sarung yang diselempangkan di pundaknya. Dia Saeful yang memang ditunggu kedatangan nya oleh Novi dan Broni.


“Biarkan dia jalan dulu Nov, kalau kita sudah yakin tidak ada yang mengikutinya, baru kita panggil dia”

__ADS_1


“Kamu tunggu disini Nov, biar aku yang menghampiri Saeful” kata Broni.


“Hah bikin kaget aja mas Broni ini. Gimana, kalian sembunyi dimana tadi” jawab Saeful


“Kami ada di lereng jurang sana” kata Broni berbohong, ya ada baiknya memang berbohong, karena mereka belum mengenal Saeful lebih dalam, siapa tau dia tidak sebaik wajahnya


“Mas bawa makanan, senter dan celuritnya mas” Tanya Broni langsung


“Ini mas” jawab Saeful sambil menyerahkan tas kresek hitam yang terlihat berat


“Sekarang apa yang harus saya kerjakan mas?” Tanya Saeful


“Seperti yang tadi kamu lakukan disini, iseng saja sapa mereka dan tanyakan keadaanya sekalian takut takuti mereka agar sgera pergi dari sana. Dan usahakan yang menemui kamu adalah seluruh laki-laki di sana itu, karena kami akan buang semua barang-barang yang mrka bawa”


Saeful kembali berjalan menuju ke pintu gerbang vila, sementara itu Broni kembali ke tempat mereka sembunyi di lubang pagar vila.


“Ayo Nov, kita kembali ke tempat kita tadi, karena si Seful aka nada disana sebenar lagi dan akan bicara dengan mereka semua, nanti kalau dia sudah bicara dengan mereka maka kesempatan kita untuk buang apa yang ada disana Nov”


*****


“WOOOOIIII pak….. bagaimana, apa masih hidup kalian semua hehehe” sapa Saeful dengan kurang ajar


“Wah bajhingan juga anak ini, dia kembali lagi Pel. Ayo kita datangi dia Pel, saya penasaran apa yang dimaui anak itu” kata Fathoni kepada temanya yang bernama Tompel


“Wooooiii bapak-bapak. Kalau kalian tidak menjawab teriakan saya, berati kalian sudah mati, dan kini bagian saya untuk melaporkan kepolisi kalau ada korban meninggal lagi di vila ini” teriak Saeful lagi


“MAUMU APAAAA!” balas  Fathoni yang sedang berjalan dari taman menuju ke arah pagar vila


“Lho…. Saya kan cuma chek kondisi kalian pak, kalau bapak-bapak ini tidak menjawab panggilan saya, berarti kalian sedang dalam bahaya atau sudah mati pak” jawab Saeful


“Kami masih hidup” kata Fathoni singkat


“Kalau kalian masih hidup mana buktinya, kalian berapa orang disana, kalau bapak berbohong, saya akan panggil polisi untuk evakuasi kalian. Ini juga demi keselamatan kalian juga pak” kata Saeful lagi


“Kami berempat… eh kami bertiga” jawab Fathoni dengan revisi dari empat menjadi tiga


“Bohooong, banyak orang yang berbohong dengan jumlah mereka waktu ke vila ini, karena ada yang mati disini, dan mereka takut apabila dikasuskan oleh keluarga yang mati. Gimana pak, apakah lebih baik saya panggil polisi untuk kesini?” Tanya Saeful dengan tersenyum


“ANAK SIALLAAAN!, SIAPA KAMU SEBENARNYA!. AKAN SAYA PANGGILKAN TEMAN SAYA YANG ADA DI TENDA!” teriak Fathoni


“TOMPEL…. MATDRA’I…kesini kalian, ini ada anak sok tau yang ingin bikin masalah dengan kita” eriak Fathoni


*****


“Mas kok Cuma tiga mas yang kesana. Satunya yang bernama Gemblung itu bagaimana?” Tanya Novi


“Lebih baik kita periksa saja Nov. ayo kita tenda mereka sekarang” kata Broni kemudian menarik tangan Novi untuk menuju ke tenda milik mereka


“Mas, kita masuk ke tendanya yuk mas” ajak Novi setelah mereka sampai di tenda para dukun itu

__ADS_1


“Tapi kan di dalam ada Gemblung Nov, dia kemungkinan masih pingsan Nov hehehe, kita pelan pelan saja sambil mengambil tas mereka yang ada di sana”


Broni menyorotkan sinar senternya ke segala arah, hingga nyala cahaya senter itu mengenai wajah orang yang terbaring dengan mata yang terbuka lebar meskipun terkena sinar senter Broni.


__ADS_2