MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 191 ( HOTEL ASRI )


__ADS_3

“Tadi waktu saya sempat keluar untuk menemui Suharto, di dalam tubuh Suharto tidak ada siapapun,  kosong!”


“Bahkan jiwanya pun sudah tidak ada, hanya ada beberapa makhluk ghaib kecil yang tidak berbahaya, itu yang sekarang mengontrol Suharto” kata Dimas


“Makanya tadi waktu kamu Tembol mengajak dia bicara, dia kan sudah mirip dengan orang gila, karena yang mengontrol dia sudah bukan dirinya sendiri, alias sudah dibantu oleh beberapa ghaib kecil saja”


“Kita seharusnya memberitahu kepada keluarga Suharto, karena takutnya istri dan anaknya masih berharap Suharto bisa sembuh total dan kembali seperti sedia kala” kata Dimas


“Nanti kita beritahu setelah kita yakinkan mereka terlebih dahulu tentang keadaan Suharto, tetapi kita coba untuk mendatangkan mbah Wo dulu saja” kata pak Han


“Karena Suharto menjadi begitu akibat dari informasi masalah harta karun yang ada di vila ini, apalagi sekarang ada Ginten yang sewaktu waktu bisa masuk ke dalam tubuh Suharto kan”


“Mbok Ju. Ginten sekarang ada di mana? apakah dia sekarang punya tempat kekuasaan sendiri bersama anak buahnya atau bagaimana?” tanya pak Tembol


“Saudara saya ada di desa pak, dia tetap tinggal di rumah Suharto di kamar depan  itu” jawab mbok Ju


“Ya sudah biarkan saja dia di sana, selama tidak mengganggu aktivitas kita, tetap biarkan saja dia ada disana” kata Dimas


“Nak Novi, ini kan masih siang, kalau nak Novi masih lemas silahkan istirahat dulu saja, biak kami yang ada disini “ kata pak Tembol yang melihat Novi tertidur di sofa ruang tengah


“Novi istirahat disini saja pak, disini lebih enak karena anginnya lebih semilir daripada di kamar yang agak pengap


Sarinah yang tadinya ada bersama ibunya untuk sarapan, kini sudah ada di ruang tengah lagi, dia bersandar pada Novi yang dia sebut sebagai tante cantik.


“Sarinah sudah sarapan?” tanya Novi sambil mengelus rambut Sarinah


“Udah tante, tadi disuapin ibu”


“Kalau udah sarapan, sana mandi, dan jangan lupa cuci rambut ya. lihat itu rambutnya sarinah udah kotor, apa bapak Sarinah ndak pernah nyuruh Sarinah untuk cuci rambut?” tanya Novi sambil terus mengelus elus anak kecil itu


“Nggak pernah tante, wong bapak itu sibuk sama hantu yang ada di kamarnya kok, paling dia keluar dari kamar kalau ingin memberi Sarinah makan”


“Setelah kasih Sarinah makan kemudian dia kembali lagi ke dalam kamarnya tante, dan bicara sendiri lagi sama hantu nenek-nenek yang ada taringnya  itu”


“Eh Sarinah, apa Sarinah bisa lihat hantu lainya selain nenek tua yang bersama Soeharto itu?” tanya Novi


“Ndak bisa tante, Sari cuma bisa lihat dia aja,  tapi selama ada disini Sarinah tidak lihat hantu itu lagi” jawab Sarinah


“Ya sudah  kalau begitu Sarinah. Kamu ada disini, dan kami akan melindungi kamu dari bapakmu yang membawa roh jahat itu”


“Pokoknya Sarinah disini tidak perlu takut dengan apapun yang akan mengganggumu ya nak” kata Novi sambil memeluk Sarinah lagi


Siang  hari tanpa ada gangguan dari apapun yang biasanya selalu datang. Pun juga Kaswadi sudah tidak ada lagi, tetapi apakah situasi ini akan berlangsung dengan tenang?


“Eh Dimas, apa kamu tidak berpikir untuk mengusir Suharto yang ada di depan vila itu?” tanya Pak Tembol


“Ada apa Tembol, kenapa kamu ada pikiran untuk mengusir manusia yang sudah tidak mempunyai jiwa lagi?”


“Begini Dimas, Kaswadi sudah kita hilangkan, otomatis Rochman akan mencari pengganti Kaswadi”


“Meskipun dia tau bahwa hilangnya Kaswadi Bukan karena kekerasan yang kita lakukan. tetapi karena Kaswadi mengikuti energi sehingga dia masuk ke dalam sungai”


“Kamu kan hafal bagaimana jalan pikiran Rochman kan Dimas, apakah dia tidak akan mencari pengganti Kaswadi. Kalau dia mencari pasti kandidat utama itu adalah Suharto yang kini ada di luar sana itu”


“Dan apabila dia mendapatkan Suharto, dia pasti akan bertemu dengan mbok Ginten juga kan, nah apa kamu tidak memikirkan apabila Ginten dan Rochman bergabung?” kata pak Tembol


Dimas terdiam beberapa saat, dia berpikir apabila Ginten dan Rochman menyatukan apa yang mereka miliki, tentu saja dampaknya akan luar biasa.


“Kalian jangan terjebak dengan Ginten dan Rochman apalagi nanti juga ada Trimo. Jelas kita tidak bisa melawan mereka. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana mengadu domba mereka” kata pak Han tiba-tiba


“Kita tidak mempunyai kekuatan sebaik mereka, tetapi kita bisa adu domba mereka, hanya saja caranya itu yang  harus kita pikirkan  dulu” lanjut pak Han


“Betul kamu Handoko, kita ini lemah tapi jelas-jelas bisa mengadu domba mereka. Yang pertama kita lakukan adalah mengalihkan salah satu dari mereka” kata Dimas


“Rumah Nabil jelas tidak mungkin, karena sekarang sudah berbeda, dan teman kita ada yang tertangkap di sana juga” kata pak Handoko

__ADS_1


“Pak Tembol… apakah hotel  Waji itu masih beroperasi? bagaimana kalau kita kesana dan melihat apakah hotel itu masih beroperasi atau tidak?” kata pak Han


“Maksudmu apa pak Han. hotel itu kan sudah kosong bertahun-tahun mana bisa beroperasi lagi?” jawab pak Tembol


“Begini, hotel itu jelas memang kosong kan, tetapi tentu saja masih beroperasi dalam hal ghaibnya”


“Karena disana itu terakhir masih ada aktivitas mengerikan, dan setelah saya bakar bagian belakangnya kemudian saya tinggal begitu saja, kita tidak tahu apakah disana masih ada kegiatan atau tidak”


“Lagi pula waktu mbak Novi tanya soal paket jantung segar , paket itu kemungkinan berasal dari daerah sana. Menurut saya, disana masih ada aktivitas pembunuhan!” kata pak Handoko


“Satu-satunya jalan untuk stop adalah kita putuskan rantai makanan Rochman, dengan cara membongkar dapur yang memasok jantung segar untuknya” kata pak Han


“Saya curiga disana masih ada kegiatan, karena kita terlalu fokus dengan yang ada disini sehingga kita lupakan hotel Waji yang masih dimiliki Totok atau Rochman atau Nabil”


“Bisa jadi seperti itu Handoko, bagaimana kalau sebagian dari kita kesana untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.  kita bakar dulu dapurnya sehingga bosnya tidak bisa mendapatkan makanan”  kata Dimas


“Ya sudah kita tunggu anak-anak bangun dulu, baru kita bahas team yang akan kesana, Nanti biar saya saja yang kesana, dan yang pasti saya bersama mas Blewah dan mbak Mirah yang pernah ada disana”


Waktunya makan siang, makanan yang sudah disiapkan oleh para perempuan-perempuan yang ada disana,kecuali Novi yang baru saja bangun dari tidurnya.


Anak-anak lainya pun juga baru saja bangun, lumayan lama juga mereka tidur.


“Anak-anak, ada baiknya kalian segera mandi dan setelah itu makan siang karena kita akan adakan pembicaraan secepatnya” kata pak Tembol


Satu persatu mereka mandi, dan akhirnya semua ada di ruang tengah. Semua termasuk Saritem, dan ibunya, minus Dani dan Ukik yang masih ada di ruang bawah tanah.


“Secara singkat akan saya jelaskan mengapa kita kumpulkan kalian setelah makan siang ini, dan untuk mbak-mbak dan ibu Sumarti tolong di dengarkan saja apa yang sedang kami bicarakan” kata pak tembol


Pak Tembol, Dimas, pak Han bergantian bercerita tentang apa yang sebelumnya mereka bicarakan termasuk segala kemungkinan yang ada dan termasuk keadaan Suharto yang sekarang ada di depan vila.


“Saya harap ibu Sumarti, mbak Saritem bisa memahami bahwa yang ada di depan itu bukan SUharto seutuhnya. Memang wujudnya adalah Suharto, tetapi jiwanya sudah tidak ada!”


“Jiwanya sudah digantikan oleh iblis, sehingga kecil kemungkinan untuk diselamatkan dan kembali menjadi Suharto seperti sebelumnya” kata pak Tembol


“Jadi mohon supaya di ikhlaskan saja” kata pak Tembol


Istri dan mertua Suharto terdiam, Saritem memangku anak semata wayangnya Sarinah. Mereka harus mengikhlaskan Suharto apabila terjadi dengan Suharto di kemudian hari.


“Nah untuk yang akan kita lakukan selanjutnya, bagaimana anak-anak, kita harus membagi team untuk  kesana. Nanti yang akan ke sana akan bersama pak Handoko dan nak Blewah” kata pak Tembol


“Permisi pak, boleh saya bicara pak” kata Saeful yang tiba-tiba menginterupsi


“Mohon maaf sebelumnya, eehm saya mengundurkan diri dari kegiatan kalian. saya akan kembali ke masjid dan fokus menjadi marbot” kata Saeful dengan menunduk


“Saya paham nak Saeful, memang apa yang kamu lakukan semalam itu bertentangan dengan agama, semua agama pun pasti menentang juga. Tetapi apabila tidak ada cara lain lalu bagaimana?” kata pak Tembol


“Tapi kita tidak bisa menahan nak Saeful ya kawan-kawan, nak Saeful sudah cukup berjuang juga untuk menyelamatkan  daerahnya dan mungkin kini saatnya nak Saeful untuk selesai”


Novi hanya diam tak bersuara sama sekali, dia cukup terpukul juga dengan Saeful yang tiba-tiba mengundurkan diri, tapi ini kan memang bukan perjuangan Saeful, ini adalah perjuangan anak-anak Sutopo kan.


“Saya mohon maaf untuk teman-teman semua,  khususnya mbak Novi yang baik, saya tidak bisa meneruskan misi ini. Saya akan kembali ke masjid untuk meneruskan pekerjaan saya”


Semua memahami keputusan Saeful, tapi mau bagaimana lagi karena Saeful sudah mengambil keputusan yang bulat untuk pergi dari team ini.


“Baiklah untuk mas Saeful kita ucapkan banyak terima kasih, dan tentu saja kita tidak akan melupakan jasa mas nanti apabila semua ini sudah berakhir.” kata pak Han


“Ok untuk selanjutnya yang akan bersama saya ke hotel waji selain bersama mas Blewah siapa lagi” tanya pak Han


“Sama saya juga pak” kata Dogel menawarkan diri


“Saya rasa cukup berdua dengan mas Blewah dan mas Dogel. tapi saya juga perlu mbok Ju juga yang akan menuntun kita disana” kata pak Han lagi


“Ya sudah berarti berempat ya kalian pergi ke sana, dan kalian akan pergi kapan?” tanya Dimas


“Besok pagi saja kami kesana, oh iya mas Saeful yuk besok pagi kita bareng-bareng ke masjid untuk ambil mobil sekalian antar mas Saeful pulang” kata pak Han lagi

__ADS_1


*****


Esok paginya setelah semua persiapan mereka lakukan, mereka turun ke Gebang untuk mengambil mobil yang akan mereka gunakan untuk perjalanan menuju ke hotel.


“Apa yang akan kita lakukan di sana pak” tanya Blewah


“Saya juga belum tau mas, karena kita kan sudah lama tidak kesana. Pokoknya kita lihat apa saja yang berubah disana, dan apabila ada sesuatu yang berbahaya maka kita harus hancurkan”


Saeful diam tidak berkata apa-apa selama perjalanan menuju ke Gebang untuk mengambil mobil yang mereka titipkan di masjid.


“Jalan kaki pagi hari  ini rasanya nyaman  sekali ya anak-anak” kata pak Han membuka pembicaraan


“Iya pak dan semoga nanti di Waji bisa dingin keadaanya, alias tidak ada sesuatu yang terjadi disana hehehe”kata Dogel


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di masjid tempat Saeful bekerja.


“Nah ful, terima kasih atas bantuanmu yang tidak terhingga itu ya, dan doakan kami selamat sampai misi ini berakhir” kata Dogel


“Iya mas, maaf saya tidak bisa meneruskan misi ini. Eh saya ada di masjid kalau kalian butuh apa-apa” jawab Saeful


Perjalanan pak Han, Dogel, mbok Ju dan Blewah berlangsung dengan aman, tidak ada gangguan sama sekali selama perjalan itu, dan tidak ada tiga jam mereka sudah sampai di kota Pct.


Pukul 10.15 mereka berempat sudah sampai di pct,


“Mas, lebih baik kita lewati dulu saja hotel itu mas, kita lihat sekeliling dulu saja sebelum kita putuskan untuk berhenti disana” kata pak Han


“Baik pak, memang untuk amannya kita harus lewati dulu dan lihat bagaimana situasi hotel itu”


Mobil yang dulunya milik Totok itu melaju pelan , kemudian melewati warkop yang dulunya milik mbah Joyo, dan kemudian sekarang dikelola oleh orang lain.


Mobil terus berjalan hingga mereka melihat hal yang aneh dan tidak semestinya.


“A… apakah itu hotelnya pak?” tanya Dogel yang memegang kemudi


“Harusnya itu hotelnya mas tapi kenapa sekarang jadi begitu?”


Hotel Waji yang sekarang bukanlah yang dulu. Hotel Waji sudah berubah total, bahkan pohon beringin yang ada di depan itu sudah tidak ada.


“Hotel Asri….” sebut Blewah setelah membaca papan nama yang besar. Papan nama yang ada di pintu gerbang hotel yang berwarna putih bersih itu


“Kelihatannya sudah berganti pemilik pak, halaman yang dulu berupa pohon beringin dan itu sekarang berubah menjadi lahan parkir dan taman bunga, dan  kolam ikan” kata Dogel


Bentuk Hotel itu tidak berubah, tetapi di bagian depan yang lebar yang dulunya ada pohon mangga dan beringin itu sekarang bersih, hanya ada taman bunga dan lahan parkir saja.


Beberapa mobil sedang terparkir di halaman hotel yang memang luas, sedangkan bangunan utama sepertinya tetap seperti dulu, hanya mungkin dicat saja agar tidak mengerikan.


“Ayo kita masuk ke dalam anak-anak, kita tanya soal harga dan lainya” ajak pak Han


Dogel mengarahkan mobil masuk ke dalam parkiran yang lumayan luas, setelah memarkir mobil, mereka turun dan dengan  rasa penasaran yang tinggi mereka berkeliling di sekitar halaman parkir dan taman bunga sebelum masuk ke ruang resepsionis.


“Yok kita lihat-lihat halaman depan ini dulu pak, saya penasaran dengan pohon beringin yang ada di depan sana pak” kata Dogel


Mereka berjalan menuju ke bagian paling depan setelah pintu masuk ke halaman hotel.


“Dulu disini kan ada pohon beringin tuanya, dan sekarang jadi kolam ikan dan beserta relief bebatuan pak”


“Berarti akar pohon itu ada di bawah kolam ikan ini pak” kata Dogel


“Pintar juga mereka, disini dibangun kolam ikan dan disemen hingga bekas akar pohon itu tidak terlihat lagi, dan di sebelahnya malah ditanam taman bunga yang indah pak” kata Dogel


Blewah jongkok di dekat kolam ikan yang perkiraan disana adalah bekas pohon beringin.


“Hmm kata Mirah, akar pohon itu masih ada dibawah sini dan karena akar itu sudah sangat dalam sehingga mereka tidak mencabutnya. Mereka menyemen akar itu di bawah tanah agar mati” kata Blewah


“Ada yang aneh dengan hotel ini, keindahan ini bukan yang sebenarnya.. kalian harus lebih berhati hati” kata mbok Ju

__ADS_1


__ADS_2