
“Dimas… Novi mau ke ruang bawah tanah, Novi akan koordinasi dengan pak Pho untuk memindahkan mbak-mbak ke kamar depan lagi”
“Sekalian Novi mau minta ruangan untuk digunakan menjebak Rochman”
“Jangan mengeluarkan tiga perempuan itu sekarang Novi, nanti saja setelah semua sesuai dengan informasi dari Tembol” jawab Dimas
“Iya.. Novi paham, Novi hanya ingin mereka yang ada di ruang bawah tanah untuk siap-siap saja” kata Novi
“Ya sudah.. sana sama Wildan atau Tifano saja, pokoknya di kamar atas harus ada orang yang siaga memperhatikan jalan yang ada di depan vila” kata Dimas
“Ya sudah, Novi mau ke atas dulu, mau panggil mas Tifano saja” kata Novi kemudian menuju ke arah atas dengan menaiki tangga yang ada di dekat dapur rumah
Ternyata baik Wildan mapun Tifano dalam keadaan tertidur pulas, sehingga mereka berdua tidak tau kehadiran Novi di kamar atas.
“Waduuhh.. mereka malah enak-enakan tidur hihihi”
“Lha Novi sendiri dari kemarin belum sempat tidur sama sekali hihhihi”
“Novi pingin kerjain mas Wildan aja ah…katanya dia kan paling susah untuk ngatjeng, dan malah katanya kuntilanya gembuk hehehe”
Novi mengambil posisi di atas Wildan yang sedang telentang…
Kemudian dengan perlahan lahan Novi menduduki bagian pinggang Wildan yang saat ini menggunakan celana lepis.
Dengan pelan-pelan dan penuh penghayatan Novi menggeser geserkan miliknya di bagian pinggang Wildan yang sedang terlelap itu…
WIldan tidak bangun sama sekali, dia mungkin malah keenakan…
Yang jadi masalah disini adalah Novi, yang tadinya hanya ingin mengerjai WIldan, sekarang malah Novi sendiri yang terangsyang.
Novi seakan akan sedang naik kuda, dia duduk di pelana kuda dengan menggeser geserkan maju mundur apa yang menjadi miliknya ke daerah sekitar pinggang Wildan.
Novi mulai mhelenguh keenakan, begitu dengan Wildan yang kemungkinan besar sedang bermimpi enak-enak….
Novi yang sudah mulai kerasukan setan fufufu skidipap swadikap mulai melepas celana panjangnya perlahan-lahan.., dia hanya melepas celana panjangnya saja, tetapi dia belum saatnya melepas ********** hehehe.
“Mhaasssshh… Maasshh boleh Novhi lepas cyelananya mas Whildaaaan eeeghhhhsshh?” bisik Novi perlahan lahan
“Boleh Nhovvv… eeghh cepat buka ajaaa” Novi menjawab sendiri pertanyaan yang tadi dia lontarkan kepada Wildan
Sudah mulai gendeng Novi ini, dia tanya..tapi dijawab sendiri.
Novi menggerak-gerakan lengan Wildan agar terbangun dari tidurnya, sementara itu Tifano yang ada di sebelah Wildan mulai gelisah, tidak tau apa yang sedang dia mimpikan, pokoknya Tifano mulai gelisah.
*****
__ADS_1
Pak Han masih setia di kursi teras kamarnya.
Dia tidak akan melewatkan barang sedetikpun untuk tidak melihat keadaan kamar 6+ yang merupakan penjara bagi makhluk-makhluk ghaib yang ada disana.
Sedangkan Blewah ada di dalam kamar seperti biasanya selalu bersantai seolah tidak ada masalah apa-apa disana.
Siang hari memang panas, tetapi bagi pak Tembol dan yang lainnya yang saat ini ada di kamar 2+ bisa digunakan untuk istirahat siang, karena malam harinya mereka akan melakukan sesuatu.
Begitu pula dengan kamar yang letaknya di bangunan utama, disana ada pak Bowo, sedangkan rekan beliau sedang mengamati keadaan taman belakang.
Rekan pak Bowo sedang duduk-duduk di sebuah kursi kayu yang letaknya di bawah pohon mangga yang rindang.
Dogel, Broni, pak Tembol dan Saeful ada di kamar 2+, mereka menghabiskan waktu dengan istirahat penuh. Pokoknya siang ini mereka tidak ada yang beraktifitas.
“Pak Han…apa mungkin kita hancurkan dapur Rochman yang ada di ruang bawah tanah hotel ini?” tanya Blewah yang keluar dari dalam menuju ke teras kamar
“Tentu saja bisa mas, saya kan pernah kesana, jadi saya tau dimana mereka bekerja untuk Rochman, apalagi sekarang kita dibantu pak Bowo”
“Iya sih pak, memang kita dibantu pak Bowo, hanya saja apakah nantinya kita mampu membakar ruang bawah tanah itu. walaupun kita mampu bagaimana dan apa yang akan kita lakukan?” tanya Blewah
“Coba mas Blewah konsultasi dengan Mirah, siapa tau Mirah ada ide untuk itu”
“Sudah tadi pak, kata Mirah kita butuh pertolongan Bawok”
“Hanya saja Bawok ada di mana saat ini… itu yang Mirah tidak tau pak” kata blewah
“Mereka rencananya akan mengobrak abrik rumah Rochman, dan kata mereka untuk saat ini rumah itu sudah berbeda, sudah semakin lemah kekuatannya” kata pak Han
“Iya pak, saya juga merasa seperti itu disini…. di Hotel ini yang saya rasakan sekarang itu kayak hampa, kering dan kayak ada yang kurang gitu pak”
“Benar mas Blewah, itu juga yang sedang saya rasakan… dan itu bisa sangat berbahaya bagi kita , karena kekuatan penjara kamar 6+ akan semakin lemah”
“Saya sih tidak masalah apabila banyak demit yang akan kabur dari sana, yang saya khawatirkan itu apabila Ginten yang akan kabur dan mencari Rochman”
“Karena jiwa Suharto sekarang sedang disembunyikan Ginten…. Tapi saya rasa abah Fuad saat ini sedang mengupayakan untuk mencari jiwa Suharto”
“Tapi apabila keadaan disini semakin mengkhawatirkan, saya masih punya ide untuk menjauhkan Ginten dari Rochman” kata pak Han
*****
Siang menjelang sore ini pak Bowo sudah terbangun dari tidurnya.
Dia hanya tertidur dan istirahat sebentar saja, karena mungkin dia sedang memikirkan apa yang akan dilakukan setelah ini.
Pak Bowo kemudian menghubungi temannya yang ada di taman belakang hotel Waji untuk datang ke kamarnya yang ada di bagian gedung utama.
__ADS_1
“Kamu Nyoto, nanti malam kawal pak Tembol di kota S, karena kamu dan mereka akan berusaha masuk ke sebuah rumah yang mengerikan, siapkan dirimu dan senjata kalau memang diperlukan.
“Sesampai di kota S, kamu mampir lah dulu ke polsek setempat untuk meminta ijin untuk melakukan sesuatu, dan jangan lupa untuk mengajak salah satu anggota disana untuk menemani kamu”
“Temui komandannya… dan segera kamu telepon saya, karena saya butuh bicara dengan komandan disana”
“Siap….” jawab orang yang bernama Nyoto itu
*****
“Abah Fuad… bagaimana dengan keadaan Suharto?” tanya Ali
“Jiwanya tidak ada mas, dan sekarang saya sedang berusaha mencari jiwa itu, saya takut apabila kita terlambat dan kemudian jiwa Suharto ini akan ditemukan oleh Totok”
“Tapi Insyaallah nanti malam akan saya kerjakan mas, Eko juga sudah bersedia untuk menggarap Suharto”
“Tapi harus ada yang jaga Tubuh ini, agar tidak ada yang mengganggu sementara saya sedang mencari jiwa tubuh ini mas” kata abah Fuad dengan wajah yang tidak bisa ditebak
“Eh begini saja mas, Eko nanti akan berjaga disini bersama mbok Ju, kamu dan saya nanti yang akan mencari jiwa Suharto yang disembunyikan oleh… eh siapa namanya itu….”
“Mbok Ginten pak.. namanya mbok Ginten” sahut Ali
“Ya… berarti kita harus cari dulu dimana Ginten itu mas…” kata abah Fuad
“Dia sementara ini ada di hotel kamar 6+ pak, dan disana dijaga oleh teman-teman saya juga” kata ALi lagi
“Nanti malam akan kita kerjakan mas, sekarang mas Ali bisa istirahat sambil menunggu Eko yang sedang mencari perlengkapan yang akan kita gunakan” kata Abah Fuad
“Tapi saya kan tidak punya kekuatan apa-apa bah, apabisa saya bantu abah Fuad untuk mencari Ginten?”
“Hehehe, nanti kamu akan pangling dengan dirimu mas, nanti malam kamu sudah berbeda kok heheheh”
“Pokoknya rencana saya adalah mendapatkan Jiwa Suharto, dan harus secepatnya, karena saya merasa ada yang akan terjadi apabila kita tidak bergerak cepat” kata abah Fuad
*****
“Ouughhh mas Wildaaaaannn…. goyang dong maaasss….” erang Novi di atas tubuh WIldan yang sudah setengah melorot celana lepisnya
Sayangnya mungkin karena terlalu lelap WIldan tidak menyadari bahwa ada mahluk berkuntila raksasa sedang nangkring di atasnya.
“Huuuffff opo ae iki berisik” kata Tifano dengan mata yang masih tertutup
“Mas Tiiiff. bantuin Novi dong.. Novi pengen di atas phantat mas Wildan sekarang…”
Tifano perlahan-lahan membuka matanya….
__ADS_1
Dia kaget tanpa sempat bersuara… dan kemudian dia pingsan serta sempat ketjang ketjang sebelumnya setelah melihat sesuatu di antara phaha Novi yang mengerikan.