
“Biar Novi balas sini mas” kata Novi sambil mengambil hp Trimo yang ada di tangan Ali
“Sudah dibawa anak buah saya. Nanti anak buah saya yang akan kontak” tulis Novi di hp milik Trimo
Sengaja Novi tidak banyak bicara dan menyerahkan pengurusan kepada anak buah Trimo dalam hal ini Ali, hehehe ternyata pintar juga si Novi ini. Jadi agar semua bisa dihandle oleh Ali, Ali yang akan hubungi orang yang sampai sekarang mereka belum tau namanya.
Tidak lama kemudian ada suara notifikasi pesan masuk yang berasal dari ponsel Ali
“Dia menghubungiku rek, nderedeg aku rek hehehehe” kata Ali
“Ketemu di kota Mjkt , nanti saya beritahu tempatnya. Siang ini saya tunggu” kata-kata yang tertera di hp Trimo
“Soal uang gimana Nov, kita bayar pakek apa ke dia kalau aku nanti ketemu sama dia Nov” tanya Ali setelah membaca chat Wa itu
“Tenang mas Ali, uang Trimo yang Novi dan mas Dani ambil dari brangkas itu ada sekitar 80 jutaan mas, nanti mas Ali bawa aja uang itu” jawab Novi
“Sini biar Novi yang balas mas” kata Novi sambil mengambil Hp Ali
Terus terang untuk acara seperti ini, keliatanya hanya Novi saja yang mampu, untuk anak lainnya masih nderedeg dan kurang percaya diri.
“Uang sudah dititipkan ke saya. Alamat lengkap dimana, nama siapa? Karena saya sudah tidak bisa menghubungi hp pak Trimo lagi” tulis Novi di hp milik Ali
"Tolong matikan Hp Trimo mas sebelum Novi send wa ini kepada orang itu"
“Nanti saya share lok kalau kamu Ali sudah sampai di Mjkt. Saya tunggu siang ini” balas orang itu
“Ayo sekarang kita siap-siap. Semua harus terlihat aman, nanti sampai Mjkt mas Ali dan mas Gilank saja yang temui dia, kami tunggu kalian di depot kesayanan Novi, yaitu depot bakwan Erna” kata Novi lagi
“Jangan kesana Nov, menunya kan cuman bakso saja, ke depot Anda aja lho Nov, aku kepingin beli rawon iga heheheh” kata Dani
Mereka berdelapan sudah dalam perjalanan menuju ke Mjkt, perjalanan kesana ditempuh mungkin sekitar 2 jam an lah, kecuali lewat tol yang hanya 30 menit saja. Tetapi mereka lebih suka lewat jalur konvensional yang selalu macet parah di beberapa titik heheheh.
Pukul 11.30 mereka baru masuk ke kota Mjkt, yah karena jalan yang padat dan macet dimana-mana. Kemudian Novi mengambil ponsel Trimo lagi untuk memberi kabar kalau mereka sudah ada di kota Mjkt
“Saya sudah ada di Mjkt” tulis Novi singkat
Mereka menunggu balasan dari orang kita tidak tau namanya itu dengan harap harap cemas.
“Novi punya feeling kalau orang yang kalian temui ini ada hubunganya dengan dokumen kepemilikan rumah putih mas. Jadi lebih baik bukan mas Ali saja yang kesana, lebih baik mas Broni atau mas Wildan saja yang tidak ikut cap jempol darah” kata Novi
“Novi khawatir kalau memang betul nanti kita akan menemui orang yang membawa dokumen itu, takutnya ada apa apa dengan kita mas, karena kembali lagi keterkaitan kita dengan cap jempol darah itu mas” kata Novi lagi
“Hmm bener juga katamu Nov, lebih baik Wildan dan Gilank sebagai driver saja yang temui orang itu” kata Ali
__ADS_1
Tiba-tiba suara notifikasi di posel milik Ali berbunyi,
“Dia kirim shareloc rek, coba kita lihat dimana dia akan bertemu dengan kita rek” kata Gilank
Setelah di lihat posisi dia, ternyata dia ada di depot Anda, sebuah rumah makan yang cukup terkenal di kota Mjkt.
“Hehehe gimana ini rek, dia sekarang ada di depot Anda. Untung kita tadi ndak kesana dulu rek hehehe” kata Ali
“Ya sudah, turunkan kami di depot bakwan Erna saja, nanti Mas Wildan dan mas Gilank kesana berdua saja. Dan jangan lupa bawa juga hp Ali ini mas” kata Novi
“Ingat mas, kalian adalah suruhan dari Trimo, jadi tidak perlu tanya macam-macam, cukup terima barang dan kemudian pergi. Kalau dia tanya-tanya tentang Trimo, bilang saja Trimo itu pribadi yang tertutup dan kalian sebagai bawahanya pak Trimo dilarang keras membahas tentang pak Trimo”
Novi sedang memberikan sedikit Briefing kepada kedua orang itu, agar disana mereka tidak salah bicara dengan orang yang minta uang sebesar 25 juta itu.
Kelima orang sudah diturunkan di depot Erna, sekarang dengan menggunakan google Map Wildan dan Gilank sebagai driver menuju ke depot Anda untuk bertemu dengan orang yang mereka tidak kenal.
“Belok Kiri Lang, lurus saja nanti ada perempatan kanan, kemudian nanti ada perempatan lagi kita belok kanan lagi, lurus saja disebelah kiri adalah letak depot Andanya. Heheheh aku kok nderedeg ya lank heheheh” kata Wildan
“Bismillah sik Wil, pasti lak awakmu bakal gak nderedeg maneh, tapi semaput wakakakakk” kata Gilank
“Asyu opo kamu itu Lank! Janchok” balas Wildan
Setelah melalui beberapa belokan akhirnya mereka sampai di depot Anda, sebuah rumah makan yang terletak dipinggir jalan, dimana rumah makan ini menjadi jujukan orang yang tergila gila dengan masakan rawon nya hehehe ( bukan Promo lho ini) tapi memang kenyataan, meskipun harganya tidak bisa dibilang murah juga.
“Lank, ada baiknya kamu tetap di mobil saja, atau kamu duduk agak jauhan dari meja kami nanti, takutnya orang itu tidak mau berbicara kalau ada orang lain selain Ali” kata Wildan kepada Gilank
Setalah menyiapkan mental, kemudian kedua orang itu turun dari mobil, mereka masuk ke dalam depot tanpa tahu harus menuju ke meja siapa atau yang mana.
Di siang ini suasana rumah makan itu lumayan rame, rata-rata yang ada disana adalah pegawai kantoran yang sedang makan siang, tiap meja selalu diisi dengan tiga hingga lima orang yang sedang makan atau hanya sekedar ngorbrol saja.
Hanya ada satu meja yang hanya terdapat satu orang duduk di kursinya, padahal meja itu besar dan bisa muat sekitar 10 orang. Orang itu berwajah putih dengan mata sipit yang sedang memperhatikan pintu masuk rumah makan ini. Apakah orang china itu yang akan ditemui oleh Wildan?
Wildan hanya tolah toleh plonga plongo di depan pintu masuk rumah makan, dia menunggu seseorang yang akan memanggilnya.
"Ali..” panggil seseorang yang berwajah tionghoa itu kepada Wildan
“Itu Wil, dia yang berwajah china itu yang memanggil kamu, kamu kesana saja, aku tunggu di depan pintu ini saja Wil” kata Gilank
Wildan masuk dan menghampiri orang yang tadi memanggilnya. Orang itu duduk sendirian dengan tas laptop yang ada di atas meja.
“Selamat siang pak…eh bapak namanya siapa ya?” tanya Wildan menyalami orang berkulit putih dan bermata sipit yang mungkin umurnya sekitar 50 tahun lebih itu. Dia tersenyum sambil mempersilahkan Wildan duduk
“Hehehe panggil saja saya Handoko, ayo duduk..duduk. Saya dari jauh sudah tau kalau kamu Ali, Karena wajahmu ke arab arab an” kata orang china yang bernama Handoko itu
__ADS_1
“Ini pak Titipan dari pak Trimo” kata Wildan sambil menyerahkan tas kresek hitam yang berisi uang
“Eh itu temanmu suruh masuk juga, kasihan dia ada diluar sana. Dan uang itu kamu simpan dulu saja, ndak enak kalau dilihat orang disini” kata Handoko
Gilank duduk di sebelahku setelah aku memanggilnya. Kasihan juga Gilank, tadi dia hanya duduk di luar dengan keadaan kepanasan hehehe.
“Bagaimana Ali. Bosmu apa tidak ngomong apa-apa kepadamu?” tanya Handoko penuh selidik
“Tidak pak, dia orangnya tertutup, dia tidak pernah cerita apa-apa dengan kami pak” jawab Wildan sesuai skenario
“Hmmm Trimo yang culas” gumam pak Handoko
“Saya hanya disuruh serahkan uang ini kepada bapak” kata Wildan sambil sekali lagi memberikan kantong plastic hitam itu kepada pak Handoko
“Kalian tau ini uang untuk apa?”tanyanya
“Kami tidak tau pak, dia hanya titipkan uang ini beberapa hari lalu untuk diberikan kepada orang yang nanti dia suruh saya temuin pak” jawab Wildan lagi
“Huuff eh siapa namamu yang botak kepalanya” tunjuknya kepada Gilank
“Saya Gilank pak, saya drivernya pak Trimo” jawab Gilank dengan emosi hihihhi
“Hmm Gilank tau tidak Trimo dapat barang ini dari mana” kata Handoko yang kemudian mengeluarkan tiga kertas gulungan dari dalam tas laptopnya
“Saya tidak tau pak, saya hanya Driver untuk karyawan atau anak buah dia saja pak” jawab Gilank
“Begini, saya lihat kalian berdua orang baik-baik, beda dengan Trimo yang hatinya busuk. Saya bisa lihat watak orang dengan hanya melihat dari wajahnya saja hehehe”
“Dan saya tau Trimo sudah mati di tangan orang yang tidak suka dengan dia, betul tidak” tanyanya dengan tersenyum
“Sudahlah, kalian tidak perlu menjawanb pertanyaan saya. Pokoknya saya tau dibalik kalian ada orang-orang pemilik resmi dari rumah yang mengerikan itu” katanya lagi dengan wajah yang mulai serius.
“Jadi begini, beberapa hari lalu entah dia dapat info dari mana, Trimo mendatangi saya di rumah saya. Dia tau kalau saya adalah seorang ahli tentang dokumen dokumen kuno dan rahasia milik warga Tionghoa di jawa”
“Trimo datang kepada saya dengan minta tolong dan menghiba untuk diterjemahkan sekaligus dinetralkan surat kepemilikan rumah dan kedua dokumen lainya ini”
“Trimo tau kalau dokumen ini mengerikan dan penuh kutukan, Trimo tau bagi yang memilikinya maka akan bahagia dan sejahtera, karena didalam sana banyak harta yang disembunyikan”
“ketika saya terima dokumen ini, keadaanya sangat berantakan. Leluhur, pemilik asli, dan pokoknya semua yang bercap jempol darah sudah diusir dan porak poranda. Termasuk teman kalian!”
“Bagi pemilik yang masih hidup akan diserang oleh setan suruhan orang pintar yang diperintah oleh Trimo.Trimo tidak menggunakan jasa satu atau dua orang pintar, tetapi belasan orang pintar atau dukun yang dia sudah suruh”
“Sekarang jemput teman kalian dan kita ngobrol disini. Makanya saya sudah pesan meja besar dan kursi bersembilan. Ini semua untuk menyambut kalian” katanya sambil tersenyum
__ADS_1