
“Nduk, tolong mbah bawakan minumnya ke meja kalian nduk” tepat ketika Novi sedang membagikan sajian nasi rawon selanjutnya
“Inggih mbah” Novi semakin heran karena tidak ada dua menit ketika dia sedang membagikan piring yang berisi nasi rawon ternyata es tehnya sudah siap
Pak Handoko hanya tersenyum melihat novi yang bolak balik menuju ke arah dapur untuk membawakan pesanan makanan mereka.
Novi masuk ke dapur kembali untuk mengambil sembilan gelas es teh yang hanya dibuat dalam waktu tidak lebih dari dua menit.
“Tolong mbah sekali lagi membawakan minuman ini ke meja kalian ya cah ayu” kata mbah Sari kepada Novi yang sedang terbengong bengong melihat jajaran gelas berisi es teh yang sudah siap tersedia di ruang belakang
“I...inggih mbah, ndak papa kok mbah” jawab Novi
Mbah Sari hanya melihat mereka makan dengan lahap nasi rawon buatannya yang nikmat itu. Tetapi tidak dengan Novi yang merasa heran karena semua tersaji dengan cepat.
“Ayo di makan mbak Novi, nanti dingin lho kalau ndak segera dimakan” kata pak Handoko
Setelah selesai makan pak Handoko mengeluarkan uang lima lembar uang ratusan ribu, kemudian diberika nya uang itu kepada Novi.
“Mbak Novi tolong bayarkan makanan ini, dan jangan tanya berapa habisnya, hanya berikan saja kepada mbah itu dan jangan minta kembalian, sekalian tanyakan kalau bisa bikinkan nasi bungkus untuk kita” kata pak Handoko
Novi menuju ke meja dimana mbah Sari sedang duduk dibelakangnya sambil tersenyum kepada Novi.
“Mbah, ini uang untuk membayar makanan yang kami makan mbah” kata Novi sambil menyerahkan uang itu
Tetapi anehnya mbah Sarijemb tidak serta merta menerima uang itu, tetapi dia mengajak Novi ke kamar belakang.
“Ikut mbah dulu ke belakang nduk, mbah mau bicara sama kamu sebentar” ajak mbah Sarijemb ke kamar belakang
Novi mengikuti mbah Sari kebelakang tanpa menoleh ke arah teman temannya.
Di belakang atau tepatnya di dapur tempat tadi Novi mengambil pesanan nasi rawon dan minuman es teh, mbah Sari kemudian memegang pundak Novi.
Tiba-tiba Novi mengatjeng, eh mengetjang ketika pundak dia dipegang oleh mbah Sari. Tidak lama hanya sekitar dua menit saja dia memegang Bahu Novi. Setelah itu dia melepasnya.
Mbah Sari itu tetap tersenyum kepada Novi yang sekarang sudah biasa lagi.
“Mbah tau siapa kalian dan apa yang akan kalian lakukan nduk, tapi yang kalian lawan adalah sangat berbahaya, karena rumah putih itu sekarang sudah terhubung dengan hotel Waji yang ada di pct” kata mbah Sari dengan tersenyum.
“Kalian sebagai pemilik memang harus melindungi milik kalian nduk, tapi kalian juga harus ke hotel Waji untuk melihat hubungan antara vila putih dan hotel Waji” kata mbah Sari tiba-tiba
“Kok mbah Sari bisa tau mbah, maaf, mbah ini siapa ya?” tanya Novi
__ADS_1
“Hehehe mbah cuma pedagang rawon paling enak di Gebang nduk, mbah tau apa yang sedang dicari oleh bangsa lelembut dan orang-orang di vila putih kalian”
“Iya mbah, kami akan hati-hati dan kami akan ke hotel Waji yang ada di pct mbah, oh iya mbah, kami juga pesan nasi bungkus untuk sembilan orang mbah” kata Novi buru-buru karena dia mulai takut
“Hehehe mbah lebih percaya sama kamu Nduk, dari pada orang yang dulu pernah kesini untuk melakukan hal yang hampir sama dengan yang kalian lakukan Nduk”
“Eh siapa mereka Mbah?”
“Mereka tiga pemuda dengan satu perempuan ghaib yang sedang mempunyai masalah dengan yang ada di Waji sana” jelas mbah Sari jemb.t
“Jadi gini nduk, disini ada penjaga segitiga daerah berbahaya, saya di gebang, mbah Joyo di Pct, dan mbah Saripah di Mjkt. Nanti kalian pasti akan ketemu dan kalian akan tau siapa yang akan kalian lawan”
“Karena semua itu bermuara di rumah putih milik kalian itu, semua berusaha mengambil sesuatu yang ada di rumah milik kalian itu nduk” kata mbah Sari dengan tersenyum
“Tadi waktu mbah pegang kamu, mbah kasih kamu sesuatu untuk menjaga diri Nduk, mbah tau orang tua yang makan bersama kalian itu bukan orang sembarang, tetapi kalian tetap butuh perlindungan. Makanya mbah masukan sesuatu ke tubuhmu nduk” kata mbah Sari jemb.t itu dengan tersenyum
“Itu di tas kresek makanan dan kopi untuk bekal kalian nanti malam nduk, pesan mbah jangan tidur dan jangan terlena, seperti judul lagunya Ikke Nurjanah itu nduk heheheh” kata mbah Sari
“Lhoo kok mbah Sari tau kalau kami akan pesan nasi bungkus untuk nanti malam mbah?” tanya Novi penasaran.
“Sudah jangan banyak tanya nduk hehehe, sudah sana, kalau ada apa-apa, batin saja nama mbah dan bayangkan wajah mbah, nanti mbah akan datang ke ragamu nduk”
“I..Iya mbah, oh iya mbah, ini uang untuk membayar makan dan pesanan kami mbah”kata Novi sambil menyerahkan uang enam ratus ribu rupiah
Wuiiih Novi sekarang mulai jadi tokoh utama ya hehehehe, padahal di novel sebelumnya dia kan hanya pelengkap saja, tetapi di novel ini kayaknya dia yang akan menjadi tokoh di cerita ini heheheh.
“Kok lama sekali kamu di dalam sana Nov” tanya Tifano
“Lha ini mas, tadi lagi mbungkusin nasi buat nanti malam, sekalian ada kopinya juga mas heheheh” jawab Novi
Ketika mereka keluar dari depot dan menoleh ke meja kasir, ternyata tidak ada siapa-siapa disana, kosong!. Hanya pak Han yang sempat membungkukkan badan ke arah meja kasir kosong depot itu.
“Bagaimana mbak, tadi sudah ngobrol sama mbah Sari” tanya pak handoko
Novi kemudian menceritakan apa saja yang tadi mbah Sari omongkan. Tentu saja teman Novi pada kaget kalau yang tadi melayani mereka ternyata tau apa yang sedang terjadi di vila putih dan ada lagi tentang hotel waji yang ada di Pct.
“Sekarang kita cari tempat penitipan mobil mas, karena kita keatas nanti jalan kaki atau kalau ada angkutan umum yang bisa kita carter ya lebih baik hehehe”
“Kita coba titip ke masjid saja pak, kita temui dan ijin ke takmir masjidnya, siapa tau bisa titip di parkiran masjidnya pak” kata Ali
“Oh iya, ayo kita cari masjid yang lahan parkirnya lumayan luas” jawab pak Han
__ADS_1
Ternyata beberapa belas meter dari sana ada sebuah masjid yang lahan parkirnya lumayan besar, mungkin mereka bisa menitipkan mobil Novi di sana.
Mobil mereka masukan ke dalam halaman parkir sekalian mereka tunaikan sholat, setelah selesai, Ali dan pak Han mencari takmir masjid yang biasanya ada di bagian belakang masjid.
“Assalamualaikum pak, kami ingin bertemu dengan takmir masjid atau pengurus masjid pak” kata pak Handoko dengan sopan
“Waalaikumsalam, ada yang bisa kami bantu pak” tanya pemuda dengan sarung dan peci yang masih menempel di kepalanya
“Begini mas, kami ingin menitipkan mobil di parkiran masjid, karena kami akan ke atas sana mas, ke vila putih” kata pak handoko dengan terus terang.
“Terus terang kami takut kalau mobil kami terlalu mencolok kalau ada di vila putih yang keadaanya berantakan itu mas” lanjut pak Han
“Hehehe, silahkan duduk dulu pak, mas. Kita kita ngobrol sambil duduk saja dulu” kata pemuda sopan itu
“Nama saya Saiful, saya yang jaga masjid ini pak. Maaf saya lancang, apa yang akan kalian lakukan di rumah kosong itu?” tanya saiful
“Begini mas, kami tidak bisa bicara banyak, tapi yang akan kami lakukan adalah melihat atau menangkap orang yang berani masuk dan melakukan hal yang tidak baik di sana. Karena boleh percaya atau tidak, pemilik sah rumah itu sudah kembali” kata pak Han
Lho..lho...lho kok pak han jujur kacang ijo gitu sih sama takmir masjid itu? apakah ada alasanya sehingga pak Han bisa sejujur itu?
“Baik pak , terima kasih penjelasanya. Jadi begini, bukanya saya melarang, tetapi sudah banyak orang yang ke sana dan menitipkan kendaraanya disini. Mereka ke sana untuk mencari pesugihan di sana, dan rata-rata pulang dengan keadaan tidak selamat”
“Akhirnya kami yang harus mencari mereka di sana pak karena kendaraan mereka kan ada disini” jawab Saiful
“Oh masak mas, jadi banyak orang yang ritual pesugihan di sana? Memangnya di sana ada harta karunnya?” tanya pak Handoko pura-pura kebingungan
“Soal harta karun di sana sudah menjadi desas desus masyarakat di sekitar sini pak, tapi tidak ada yang berhasil mendapatkannya, karena memang di sana tidak ada apa-apanya. Apalagi mereka melakukan ritual ritual yang menyimpang dari agama. Yang ada malah mereka tidak selamat pak” jawab Saiful
“Atau begini mas saiful, kami ke sana kan bukan karena harta karun, tetapi kami ingin mengusir atau ingin tau siapa saja yang tega merusak properti milik teman-teman saya, karena mereka adalah pewarisnya. Saya tidak memaksa mas saiful untuk percaya”
“Tetapi setidaknya mas percaya kalau kami ke sana tidak untuk mencari harta yang ada di sana, dan kalau boleh...kalau boleh, mas Saiful bisa antar kami dan ikut mengusir orang-orang yang menyimpang dan mereka yang berusaha berbuat yang tidak-tidak di sana mas” kata pak Han
“Wah apa bener sudah ketemu pewaris rumah itu? kalau memang tujuannya itu saya mau bantu pak, kalau diperbolehkan saya mau ikut juga untuk usir yang tidak–tidak di sana” kata pemuda yang nampak baik itu
“Lho kalau masnya ndak sibuk silahkan mas, kita berangkat sekarang, dan kita ke sana bukan untuk berburu harta lho mas. Hanya saja, apakah ada kendaran yang bisa dicarter ke sana mas?” tanya pak Han
“Soal angkutan saya akan carikan pak, saya akan siap-siap dulu pak” kata pemuda tinggi tegap berwajah baik itu
Setelah Saiful berganti pakaian dan membawa bekalnya, akhirnya mereka berkenalan dengan mas Ipul yang tetap teguh menggunakan sarung dan kopiahnya.
“Mobil parkir kan di samping tembok pembatas masjid itu saja mas, saya tinggal pergi dulu untuk cari angkot” katanya dengan penuh semangat
__ADS_1
“Duuh ganteng amaaat, dah gitu wajahnya adem bangeet, beda sama wajah mas Gilank yang banyak nerakanya!” kata Novi