MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 104 (HAMPIR SAJA)


__ADS_3

“Nov, kamu dengar ndak langkah kaki yang menuju ke arah sini?” tanya Broni sambil berusaha menajamkan pendengaranya


“Sssst diam dulu mas, Novi lagi mikir apa yang harus kita lakukan kalau Supardi ada disini mas. Pokoknya diam dulu dan lihat apa yang akan dilakukan Supardi selanjutnya mas” jawab Novi


Sebenarnya tidak ada langkah kaki yang menuju ke halaman belakang, mereka Broni, Novi, dan Saeful sebenarnya sama sekali tidak mendengar langkah kaki yang menuju ke halaman belakang.


Tapi sebenarnya kemana orang-orang itu berada sekarang, kenapa tidak terdengar suara pintu ditutup dan digembok sama sekali?


“Mbak, mas. Sebenarnya ndak ada orang yang kemari, karena disamping lorong itu tidak ada suara langkah kaki sama sekali, tadi kita hanya berhalusinasi saja mas”  bisik Saeful tiba-tiba


“Aneh ya kenapa kok  tidak ada suara pintu ditutup maupun suara mobil dinyalakan ya, harusnya kalau mereka ada di luar dan akan pergi kan ada suara pintu pagar dibuka, kemudian suara gembok yang dikancingkan juga, tapi hingga kini tidak ada suara sama sekali” jawab Broni sambil berbisik


“Sssst diam kalian, perasaan Novi makin ndak enak ini, kalian siap lari apabila Novi suruh lari ya, dan pukul tangan orang yang ada diluar untuk membuat heboh suasana disini” suruh Novi dengan berbisik


Ternyata apa yang dikatakan Novi ini memang benar, Supardi memamg tidak keluar dari rumah ini, dia juga tidak menuju ke halaman belakang, tapi dia mencurigai ada orang di bagian belakang rumahnya atau di bagian dia menggali terowongan.


Supardi tidak menutup pintu ruang tamu dia hanya memutar anak kunci agar seolah-olah Supardi sudah keluar dari dalam rumah, dengan harapan orang yang bersembunyi di belakang rumahnya mendengar dan keluar dari tempat persembunyiannya.


Supardi berjalan di ruang tamu dengan mengendap-endap. Dia merasa kalau di tempat dia menggali ada orang yang sedang bersembunyi. Dan sekarang dia ada di bagian dinding pemisah antara ruang tamu dan bagian belakang rumah yang tidak ada pintunya, dan hanya batasi oleh gorden tipis yang sudah kotor.


Tepat dibalik posisi Supardi yang hanya dipisahkan oleh dinding yang terbuat dari anyaman bambu ini adalah Novi yang sedang sembunyi. Sementara dua orang lainya ada di dalam lubang galian yang ada disana.


Supardi mengambil sebilah parang yang dia simpan di sekitar ruang depan rumah ini, parang sudah dia hunus dan siap ia gunakan untuk membabat orang yang sedang bersembunyi di balik dinding anyaman bambu.


Sementara itu, dibalik dinding anyaman bambu itu Novi sudah bersiap untuk menerima serangan dari yang ada di sisi sebaliknya.


Bagaimana dengan yang bernama Fathoni itu.Tternyata Fathoni yang ada di luar rumah sedang merintih kesakitan, dan itu adalah salah satu sasaran yang baik untuk mengacaukan suasana disini kata Novi.


Suasana hening di dalam rumah Supardi semakin membuat ketiga orang yang sedang sembunyi dan juga Supardi mengalami ketegangan yang luar biasa. Hingga beberapa saat kemudian secara tidak direncanakan, si dukun tolol Fathoni masuk kedalam rumah dengan mendorong pintu rumah yang mengakibatkan bunyi berderit.


“Supardi..ayoooo!, tanganku makin sakit ini, ” Kata Fathoni di ambang pintu rumah Supardi


“Heii apa yang sedang kamu lakukan disana Di, ngapain kamu bawa parang segala!” teriak Fathoni dengan polosnya


“Dasar Tolol!... Bukanya aku sudah suruh kamu nunggu diluar. Ngapain kamu masuk kesini dan teriak-teriak macam itu” kata Supardi yang menghampiri Fathoni yang sedang  berdiri di ambang pintu


“Sekarang kamu masuk ke ruang belakang sana, lihat ada apa disana, kalau aman kita langsung pergi dari sini, buang mayat dan ngobati tanganmu” kata Supardi kepada dukun  tolol yang bernama Fathoni itu


Padahal tadi penulis sudah berharap bakal ada pertumpahan darah, ternyata semua digagalkan oleh Fathoni yang masuk dengan tiba-tiba hehehe. Pancen asyu ogh fathoni iki.


Fathoni dengan santainya berjalan ke arah ruangan belakang, tapi sebelum dia masuk, dia berhenti d depan Gorden.


“Di, kamu gak ada senter ta. Disini kan gelap sekali, masih untung di ruang tamu iki masih ada cahaya bulan yang mauk lewat pinntu depan. Lha dibagian belakang rumahmu kan gelap sekali Di” kata Fathoni


“Arrrrgggh dasar dukun pembawa sial, cepat masuk ke sana, dan lihat ada apa disana… cepat!, gak perlu senter segala!” suruh Supardi lagi


Untuk saat ini sudah tidak ada lagi kesunyian dan sepi, ini karena ulah Fathoni yang membuyarkan tujuan Supardi untuk membekuk orang yang ada di ruangan belakang, itu pun kalau memang Supardi yakin di belakang ada orang heheheh.


“Ndak ada siapapun di belakang sini Di, kamu itu sukak berhalusinasi saja sih” kata Fathoni yang nginguk atau bahasa indonesianya melihat kedalam ruangan belakang dengan hanya memasukan kepalanya saja


Sementara itu Novi sudah siap dengan pukulan mautnya apabila Fathoni memergoki dirinya yang sedang ada di sebelah gorden, dan untungnya Fathoni matanya agak rabun jadi dia gak bisa lihat keberadaan Novi. Lalu kemana Broni dan Saeful?


Broni dan Saeful ada di mulut terowongan yang dibuat oleh Supardi, mereka berdua sembunyi di sana hingga keadaan aman kembali.

__ADS_1


“Amaaaan Di, ndak ada siapa-siapa di dalam sini. Lagi pula kamu mengharapkan ada siapa sih disini Di” tanya Fathoni


“Heheheh tadinya aku curiga dengan keadaan bagian belakang rumahku ini yang sepertinya ada suara-suara ketika aku ambil dompet dan tasku ini, aku curiga anak-anak setan itu yang ada di sini” kata Supardi


“Kamu kok masih saja percaya sih kalau anak pencari demit yang tadi itu ada hubunganya dengan mereka yang pernah kamu temui dan yang kukejar di jalan depan vila itu” tanya Fathoni


“Heheheh aku tertarik sama yang perempuan, dia cantik dan punya tubuh yang bikin bijiku bergetar keras hihihi. Nanti suatu saat akan kutemukan mereka dan akan kubuat enak enak anak perempuan itu “ jawab Supardi


“Lagi pula siapa yang bisa masuk ke dalam sini, wong pintu pagar kamu gembok dan pintu depan juga kamu kunci, dan pintu bekakang kamu gembok juga kan Di”


“Ini sekarang gimana, apa kamu masih mas periksa keadaan di belakang sini?” tanya  Fathoni


“Malas ah, benar katamu, semua kan sudah tak kunci dan tak gembok, bagaimana mereka bisa masuk kesini kalau semua terkunci. Tpi aku belum periksa bagian belakang rumah ini” kata Supardi


“Ndak usah, wong bagian belakang rumahmu juga kamu gembok dengan gembok yang besar gitu, mana bisa mereka masuk ke dalam rumahmu ini”


“Ya sudah,ayo kita buang mayat yang ada di dalam mobil saja, semakin lama semakin bahaya kalu kita biarkan terus menerus” kata Supardi


Akhirnya Supardi benar-benar keluar dari rumah itu setelah diyakinkan oleh Fathoni bahwa tidak ada siapa-siapa di belakang sana, tapi apa betul begitu?.


*****


“Kalau keadaan sudah benar-benar aman, ayo kita lanjutkan merobohkan sebagian terowongan ini agar dia  kesullitan untuk meneruskan menggalinya mas” kata Novi


Suara gembok dikancingkan terdengar dari arah luar, tidak lama kemudian suara pintu mobil dibuka dan ditutup, lalu dilanjutkan dengan suara mesin mobil yang dinyalakan dan kemudian berjalan, tapiiiiii….


“Suara mesin mobil itu mencurigakan mbak Novi, coba mbak Novi analisa suara tadi, suara itu harusnya semakin lama semakin jauh dan pelan kan, tetapi tadi saya hitung perkiraan detik hanya sekitar tiga puluh detik, kemudian suara itu hilang atau mati” kata Saeful


“Iya Benar kamu mas Saeful, mobil itu diparkir tidak jauh dari sini, kemungkinan besar salah satu dari mereka masih ada disini, dan yang pasti itu adalah  Fathoni!, tidak mungkin kalau Supardi yang ada disini” jawab Novi


“Kalau begitu kita punya waktu sekitar 60 detik untuk keluar dari sini. Ayoooo kita keluar sekarang!” ajak Novi


Mereka bertiga keluar dari ruangan belakang, dengan cepat, kemudian Novi mengunci kembali gembok yang ada di pintu kamar belakang. Dengan berjalan pelahan-lahan mereka bertiga menyusuri lorong rumah yang tidak telalu jauh dari halaman depan.


Ketika hampir sampai di halaman depan, ternyata disana benar, ada si Fathoni, dia sedang duduk santai di dekat pintu pagar, di dekat pintu pagar ada sebuah batu kali yang lumayan besar, dia duduk disana sambil meringis menahan sakit.


Dan kebetulan dia menghadap ke arah luar, sehingga ketiga orang yang sedang akan keluar itu tidak terlihat olehnya.


“Kalian tunggu dulu, saya mau lumpuhkan dia dulu” kata Novi yang kemudian berjingkat-jingkat dan dengan kecepatan tinggi tanpa suara dia memukul pundak bagian leher Fathoni. Seketika Fathoni terjungkal dan pingsan


“Ayo cepat kita keluar ke samping saja agar tidak terlihat oleh Supardi yang sedang berjalan ke arah sini” kata Novi.


Untuk diketahui tinggi pagar samping rumah ini sama dengan pagar depan, sehingga agak sulit juga untuk melompati atau menaikinya, tetapi dengan kenekatan, mereka saling junjung satu sama lain, dan tidak lebih dari dua menit mereka sudah ada di luar rumah Supardi.


Untungnya saat itu Supardi sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya, sehingga dia tidak memergoki ketiga orang itu lompat dari pagarnya.


*****


“WOOIII BANGUUUN TOLOOL. Ditinggal bentar kok wis ngorok di sini. Memang disini hawanya enak, tapi ya ojok gitu rek. Mana kamu tau orang yang katamu ada di belakang itu masih disana atau tidak” kata Supardi setelah lihat Fathoni sedang gletakan enak-enak di halaman rumahnya


Beberapa kali dibangunkan, tetapi Fathoni tidak ada reaksi. Sampai akhirnya Supardi jengkel sendiri, dia kemudian mengambil air dari sisi sebelah kiri rumahnya, disana ada sebuah sumur kecil yang airnya masih bagus untuk digunakan mandi.


…Byuurrrr…

__ADS_1


Satu ember penuh air dingin disiramkan ke tubuh Fathoni yang sebenarnya dalam keadaan tidak sadar diri. Tapi tetap saja Fathoni tidak bangun juga.


“Ada apa dengan orang sial ini, kenapa dia sampai pingsan seperti ini, bukanya tadi aku hanya tinggal dia tidak lebih dari lima menit saja, tapi kenapa dia pingsan seperti ini. jangan-jangan dia mati karena rasa sakit di telapak tanganya, duh gawat ini” gumam  Supardi


“Tapi aku kan harus ke belakang rumah, tadi kata Fathoni dia lihat ada orang yang sedang sembunyi di rumah belakang, di dekat lubang galian. Tapi apa mungkn sih, bukanya pintu disana kan aku gembok” gumam Supardi


“Atau lebih baik aku check saja keadaanya” batin Supardi kemudian jalan menuju ke samping rumah yang tembus dengan halaman belakang


Supardi berjalan sedikit berlari menuju ke bagian belakang rumahnya, saat ini dia membawa sebuah senter kecil yang dia ambil di dalam tas yang dia bawa.


“Hmm gembok ini tidak rusak dan tidak terbuka, lalu dari mana orang yang kata dukun itu masuk ke bagian belakang rumah ku kalau gembok ini tidak rusak sama sekali” gumam Supardi lagi


Supardi memeriksa dengan detail gembok yang nampaknya mahal itu, tetapi dia tidak menemukan kerusakan sama sekali di seluruh bagian gembok itu.


“Tidak ada yang rusak dengan gembok ini, jadi apa yang dikatakan dukun sial itu hanya berdasarkan halusinasinya saja” kata Supardi pelan sambil melihat gembok  itu sekali lagi


“Kalau orang yang dilihat Fathoni itu berasal dari lubang yang kugali ya jelas tidak mungkin, karena lubang itu belum tembus kemana-mana, aku kan baru menggali separuh jalur dari jalur yang rencananya tembus ke ruang bawah tanah  vila sebelah itu” gumam Supardi


Ini pasti Fathoni salah lihat, dia mungkin lihat demit yang ada di belakang rumah, dan dia pikir itu adalah orang yang menyelonong di rumah ini hhmmm” gumam Supardi yang jalan menuju ke arah halaman depan setelah dia memeriksa bagian belakang rumahnya yang tidak ada apa-apa.


Ketika Supardi sudah sampai di depan, ternyata Fathoni sudan siuman, dia sedang duduk di tanah dengan memegang pundaknya yang sakit.


“Kamu kenapa Thon, kamu pingsan atau tidur sih tadi itu” tanya Supardi yang sudah ada di samping Fathoni yang masih lenger-lenger


“Tadi kan aku lagi nunggu kamu Di, tiba-tiba tengkukku sakit sekali, kayaknya ada yang memukul tengkukku, kemudian semua jadi gelap” jawab Fathoni


“Sik tadi kamu bilang ada yang memukul tengkukmu. Apa kamu lihat siapa yang bisa memukul tengkukmu hanya dengan sekali pukulan langsung bisa pingsan, apa kamu yakin ada yang bisa memukul seperti itu?” tanya Supardi


Fathoni hanya diam saja dengan penjelasan Supardi yang masuk akal itu. Memang mereka belum pernah lihat orang yang hanya dengan sekali pukul bisa membuat orang pingsan.


“Tadi aku sempat ke belakang, ternyata dibelakang tidak ada apa-apa, bahkan gembok ruang belakang maih utuh dan dalam keadan terkunci rapat. Bearti yang tadi kamu lihat itu bukan orang-orang yang kamu maksud, bisa saja yang kamu lihat itu demit yang ada di belakang sana” jelas Supardi


“Aku ndak salah lihat Di, tadi yang aku lihat itu perempuan. Dan dia tidak lihat aku” kata Fathoni tidak mau kalah


“Lalu bagaimana perempuan itu bisa masuk ke sana kalau pintu belakang dalam keadaan terkunci dengan gemboku yang besar, dan gembok itu sama sekali tidak rusak!” kata Supardi


“Ah masak sih mas, masak pintu belakang terkunci Di. Tapi…tapi yang saya lihat itu siapa?” tanya Fathoni


“Sudahlah Thon, kamu salah lihat. Yang kamu lihat itu demit yang jaga disana. Pokoknya bagian belakang itu aman”


*****


Sementara itu Novi dan dua temanya menyusuri bagian belakang rumah Supardi untuk  menuju ke jalan besar yang ada di depan vila putih. Mereka memutuskan untuk bersembunyi di ruangan biru sambil menunggu kedatangan pak Handoko dan teman-teman.


Mereka memang harus memutari rumah Supardi melalui bagian  belakang rumah Supardi untuk menuju ke jalan di depan itu, karena tidak mungkin lewat di depan rumah supardi yang masih ada dua orang sesame jenis yang sedang duduk di depan halaman rumah itu.


Mereka kini sudah ada di jalan dan menuju ke arah vila putih yang tidak jauh dari sana. Mobil Fathoni yang terparkir di depan vila putih sudah nampak, mereka bertiga melewati mobil Fathoni tanpa meliaht ada apa di dalamnya.


Ketika mereka akan menuju ke arah jurang, tiba-tiba dari kejauhan nampak lampu kendaraan yang menuju ke arah vila putih.


“Sik rek, di depan sana ada lampu motor, dan di belakangnya juga ada lampu mobil yang malam-malam menuju ke sini. Siapa ya mereka, kalau pak Han jelas ndak mungkin lah, karena kalau rombongan mereka kan harusnya parkir di halaman masjid, bukan disini” kata Broni


“Lagi pula kenapa kok  ada motor yang menuju ke sini?” gumam Saeful

__ADS_1


__ADS_2