
“Sekarang kamu jelaskan kepada kami secara detail apa rencanmu, karena kami ada disini itu karena kamu!. Kamu ambil apa yang seharusnya tidak kamu ambil!” kata Tifano dengan ketus
“Tapi saya tidak tau apa yang harus saya lakukan, tadi mbah Wo bilang kalau di rumah putih ini saya akan bertemu dengan orang yang akan membantu saya” jawab Kaswadi makin bingung
“Ayo kita balik ke rumah saya saja, kita bahas dirumah saja masalah ini, dan kita bahas dengan kepala dingin ya teman-teman” kata Supardi
Memang benar juga kata TIfano, karena ulah dari Kaswadi yang mengambil kotak itu, maka akibatnya kedelapan orang itu terkena imbasnya, tapi apakah memang semua ini akibat dari Kaswadi? Mungkin bisa iya dan bisa juga tidak.
Kembali lagi ke rumah Supardi yang nyaman bersama seorang Kaswadi yang sedang dalam keadaan bingung.
“Sekarang pak Kaswadi, apa yang akan pak Kaswadi lakukan dalam waktu dekat ini?” tanya Supardi
“Saya tidak tau mas, karena yang ada di kepala saya hanya menemukan kotak berisi harta itu dan mengembalikan sesuai dengan yang diminta oleh nenek tua yang selalu menghantui saya”
“Nenek tua yang selalu meludah dan meludahi mulut saya kemarin malam” kata Kaswadi
“Nenek itu namanya Juriah, dia dulu jahat karena menginginkan kotak itu untuk melihat denah ruangan bawah tanah, tetapi sekarang kan semua sudah selesai, lantas buat apa lagi dia menginginkan kotak itu?” kata Ali
"Saya juga kemarin sempat bermimpi melihat kalian di rumah itu, mimpi saya waktu itu saya sedang berada di halaman dalam rumah putih, sedangkan kalian ada di luar pagar"
"Waktu itu saya memanggil-manggil kalian, tetapi kalian diam saja. Hanya mas ini dan mas ini yang melihat saya. Tapi akhirnya kalian pergi keluar" kata Kaswadi menunjuk Wildan dan Ali
"Kemudian kalian saya ikuti hingga ke sebelah rumah itu, kalian masuk ke semak-semak sebelah rumah, tapi sayangnya setelah itu saya diguyur istri saya satu ember penuh air dingin mas"
“Ya sudah cukup dengan cerita mimpimu. Lanjutkan, apa lagi apa yang kamu ketahui lagi tentang kotak besi dan uang itu” tanya Broni
Kaswadi hanya diam saja, dia tidak menjawab sama sekali apa yang ditanyakan Broni. Ya jelas lah, Kaswadi kan hanya berpikiran tentang uang saja, bagaimana cara menjual uang itu saja yang ada dipikirannya.
"Tapi bener lho rek, waktu itu aku lihat ada bayangan orang di dalam halaman rumah putih, dan Ali juga lihat, kemudian kita kan ke luar rumah untuk masuk kelorong Rochman, setelah itu bayangan itu hilang" kata Wildan
Memang apa yang ada dipikiran Kaswadi hanya bagaimana cara menemukan benda itu, meskipun dia tidak tau bagaimana mengembalikanya, dan tida tidak tau pada siapa dia harus menyerahkan kotak itu.
"Terus terang mas, yang ada di pikiran saya saat ini hanya bagaimana menemukan kotak itu dan mengembalikanya saja mas" sahut Kaswadi
"Hahaha kalau sudah kamu temukan, akan kamu kembalikan ke mana kotak itu, atau akan kamu serahkan kepada siapa kotak itu?" kata Dani
“Begini saja teman-teman, ada baiknya kalian semua ke tempat pak Marwoto dulu saja, sekalian kalian berkunjung ke beliau meskipun mungkin beliau tidak mengenal kalian” kata Supardi
“Setidaknya kalian tau keadaan pak Marwoto yang telah kalian selamatkan mati-matian kan. Selama ini kalian mempertaruhkan nyawa hanya untuk keselamatan pak Marwoto dan Suparmi kan” lanjut Supardi
Ada benarnya kata-kata Supardi ini, karena mereka harus tau dulu keadaan pak Marwoto, nanti setelah itu pasti akan ada sedikit petunjuk dari dia untuk mereka-mereka ini.
__ADS_1
“Aku setuju rek, memang kita harus ke tepat pak Marwoto dulu, karena percuma juga ke vila putih karena apa yang kita cari tidak ada disana. Kita juga percuma ke desa seberang, karena apa yang kita inginkan tidak ada disana juga kan” kata Gilank
“Dengaren omonganmu bijaksana Lank, gak biasane rek, ojok-ojok kamu kesurupan arwah Lank hihihihi” kata Tifano
“Ndeh Tifano iki ngeremehno aku c*k, ngene-ngene aku iki pengurus kampung c*k hihihihi” sahut Gilank
“Lebih baik sekarang saja kalian kesana teman-teman, mumpung masih belum masuk waktu ashar ini, nanti kalian kan bisa ashar disana sekalian ketemu dengan mbah Marwoto” kata Supardi
“Ayo kita kesana, mas Supardi ikut juga kan?” tanya Novi
“Ndak mbak Novi, saya disini saja, kalian saja yang berkepentingan kesana. Lagi pula mobilnya kan gak cukup kalau saya ikut juga heheheh”
Akhirnya mereka bersembilan pergi juga ke desa tempat pak Marwoto tinggal, memang tidak ada lagi petunjuk yang terdekat selain mendatangi pak Marwoto.
Tapi yang namanya kehendak Tuhan bisa saja terjadi tanpa ada tanda-tanda, bisa saja mereka tiba-tiba dihadang oleh seseorang di tangah jalan, atau bisa saja kotak itu tiba-tiba jatuh dari langit, tapi itu tidak akan terjadi lah, karena saat ini belum ada sesuatu yang akan mereka hadapai.
Perjalanan menuju ke desa pak Marwoto berjalan dengan lancar, meskipun jalan yang menuju ke sana cukup rusak, yang penting tepat sebelum adzan ashar mereka bisa sampai ke mushola yang dekat dengan rumah Marwoto.
“Kita langsung saja ke masjid untuk sholat ashar berjamaah rek,” kebetulan saat itu memang sudah adzan ashar sehingga mereka bisa langsung menuju ke mushola setempat.
Ashar ini mereka lakukan di mushola desa, mushola yang biasanya tiap dhuhur dan ashar hanya dihadiri oleh beberapa gelintir manusia, ndadak hari ini bisa sampai tiga baris.
"Sebentar mas, itu yang paling depan, nanti diluar akan saya sapadia dulu mas, setelah itu kalian bisa ikut ngobrol, agar tidak mencolok karena kita ramai-ramai mas
"Kami tunggu di mobil saja pak Kas, nanti sampeyan datang ke mobil saja ya" kata Dani
Untuk saat ini mereka ikuti cara Kaswadi, karena dia yang pertama mendapat petunjuk, meskipun petunjuk itu dari Mbok Ju yang mereka belum tau apa tujuanya dia dengan meminta kotak berisi uang dan Beberapa surat berharga itu.
Kaswadi akhirnya menghampiri mbah Marwoto yang sore ini jalan sendirian menuju rumahnya.
"Assalamualaikum mbah" saya Kaswadi dari arah belakang
"Waalaikum salam...." tengok Mbah Wo dengan wajah tersenyum
"Bagaimana mas, sudah ke rumah putih?" tanya mbah Wo dengan ramah dan tetap tersenyum
"Inggih mbah, s..saya sudah dari sana mbah"
"Lantas mana...., mana anak-anak itu hehehe, saya bisa merasakan kehadiran mereka disini lho mas" kata Mbah Marwoto celingak-celinguk dengan wajah yang bahagia
"Eh..., kok bapak bisa tau ada mereka disini, eh mereka ada di mobil pak. Biar saya panggilkan mereka pak" kata Kaswadi heran
__ADS_1
"Gini aja, suruh mereka ke rumah saja, saya tunggu mereka di rumah ya" kata pak Wo sambil melanjutkan jalan ke rumahnya
"Kok aneh, dia bisa tahu kalau aku bawa orang-orang yang kutemui di vila putih itu. Sebenarnya mereka itu siapa, dan bagaimana bisa mbah Wo kenal dengan mereka?" batin Kaswadi .
Kedelapan orang laki-laki itu memang ada di dalam mobil , mereka menunggu kabar dari Kaswadi, apakah Mbah Marwoto bersedia bertemu dengan mereka atau tidak, tetapi ternyata mbah Wo sudah tau kalau Kaswadi membawa kedelapan orang yang merupakan tim sukses Marwoto dan Suparmi.
"Mbak Marwoto ternyata sudah menunggu kalian mas" kata Kaswadi ketika sudah sampai di samping mobil yang terparkir dekat masjid yang jendelanya dalam keadaan terbuka
Mobil berjalan pelan menuju ke depan ruman mbah Wo atau mbah Marwoto, ketika sudah sampai di depan pagar rumah ternyata Marwoto, atau sekarang sudah dipanggil mbah itu sudah menunggu di depan rumah.
Tepat di depan pagar rumah mbah Wo, Dani menghetikan mobilnya. Mereka berdelapan dengan wajah yang bahagia turun dari mobil dan masuk ke dalam halaman rumah.
Ini adalah momen dimana setelah kembalinya mereka ke masa depan bisa bertemu kembali dengan salah satu tokoh yang mereka lindungi dengan taruhan nyawa.
"Assalamualaikuuumm..." teriak Ali kepada mbah Marwoto yang sedang menunggu di depan pintu rumahnya
"Waalaikumsalaaaam" teriak Mbah Wo yang gembira bisa bertermu dengan para penyelamat hidupnya.
Mereka satu persatu berangkulan sangat akrab kecuali Novi heheheh, Mbah Wo ndak mau ngerangkul Novi meskipn Novi sudah pernah mengaku kalau dia adalah waria
"Waaah kalau Novi saya ndak mau ngerangkul hahahaha" jawab mbah Wo ketika Novi sudah melebarkan tangannya minta pelukan dari mbah Wo.
"Sudah puluhan tahun kalian saya tunggu rek. Kek kek kek kek!" kata mbah Wo dengan suara tertawa yang sudah bersuara kakek kakek hehehehe.
Ternyata di dalam ruman mbah Wo sudah tersedia berbagai macam jajanan desa yang nampaknya sudah disediakan dari tadi, jadi seolah-olah mbah Wo sudah tau kalau dia akan kedatangan tamu.
Kedelapan remaja itu bercerita apa pun tentang bagaimana mereka ditemukan Tim Sar, dan kemudian mereka opname sampai hilang ingatan, hingga mereka bisa datang kesini dengan suatu hal yang diakibatkan oleh Kaswadi.
Disebelah mbah Wo ada gadis kecil yang selalu menempel kepada Marwoto, gadis kecil itu lucu dan cantik, gadis kecil yang bernama Sarinah itu tidak pernah lepas dari mbah kakungnya
"Ayo Inah, kenalan sama teman-teman mbah, ayo sana" suruh mbah Wo kepada cucunya
Satu persatu Sarinah salim dan mencium tangan kepada tujuh orang pemuda yang ada di depanya, hingga tiba giliran Novi. Novi sudah ndak betah untuk tidak menggendong dan menciumi gadis kecil yang lucu itu.
"Ayooo sini sama tante Novi yuk Sarinaaah cantiiiik" kata Novi ketika gadis kecil itu mencium tangan Novi
Ternyata Sarinah dan Novi tidak perlu waktu lama untuk saling dekat satu sama lain.
"Tante Novi ini masak temanya mbah akung Inah sih, kok tante Novi cantik dan masih muda, sedangkan mbah akung kok udah tuak gitu sih tante" tanya Sarinah dengan lugunya
Mereka semua tertawa mendengar keluguan dan kelucuan Sarinah bersama Novi, mereka sampai lupa tujuan awal mereka di rumah Marwoto itu untuk apa.
__ADS_1