
“Hmm kalau dilihat lihat ini tidak ada tanda mencurigakan terhadap mobilmu Nov, tapi apa yang menyebabkan suara alarm tadi berbunyi?” tanya Ukik
“Tidak ada yang rusak dan penyok dengan mobilmu Nov, tapi coba kamu goyang-goyang mobil ini rek, mungkin sensitivitas alarm mobil ini terlalu sensitif?” kata Tifano
Mereka mencoba menggoyang goyangkan mobil Novi ke kiri dan ke kanan, tepi sama sekali tidak berbunyi alarmnya.
“Aneh tadi kita coba sampek boyok loro gak bunyi alarmnya rek. Lalu tadi itu pakek apa caranya rek?” kata Gilank
“Hmm barusan ada yang dari sini mas, saya bisa merasakan ada bau orang disini, juga saya mencium ada bau busuk yang khas, bau tanah kuburan mas” kata pak Han pelan
“Ada yang tidak suka kita ada disini mas, bau yang ada di mobil mbak Novi ini tidak jauh dari sini keliatanya mas” kata pak Han sambil melihat sekeliling tempat parkir itu
“Kita periksa secara mendetail mas, siapa tau orang itu menaruh sesuatu di mobil ini, bisa berupa benda yang terbungkus kain atau patung kecil atau apalah yang mencurigakan mas”
Setelah memeriksa sampai ke kolong mobil, ternyata tidak ditemukan apapun selain ada sedikit tanah merah yang ada di depan mobil.
“Ini pak, ada sedikit tanah merah yang baru diambil dari suatu tempat pak karena masih basah pak, apakah ini yang bapak cari?” tanya Tifano
“Hmm ini tanah yang bau itu, ini berasal dari kuburan orang, tapi bukan tempat pemakaman, tapi satu buah kuburan. Saya mungkin bisa cari berasal dari mana tanah ini mas” kata pak Han yang ternyata memang sakti hehehe
“Memangnya apa fungsi dari tanah itu pak, dan kenapa kok ada di depan mobil ini” tanya Novi
“Saya kurang tau apa tujuan orang itu mbak Novi, tapi yang pasti penggunaan tanah kuburan berfungsi untuk berbuat yang tidak baik” jawab pak Han
Pak Han mengambil tanah itu, kemudian merhemas rhemas tanah dan mencium tanah merah yang ada di tangannya.
“Tanah ini berasal dari tempat yang tidak jauh dari sini mas, bahkan tanah ini berasal dari sekitar sini, hanya saja di bawahnya ada makam seseorang mas” kata pak Han lagi
“Apa kalian tau dimana ada makan yang hanya terdapat satu orang saja di sekitar sini mas?” tanya pak Han
Tidak ada yang menjawab tentang adanya makam yang hanya ada satu orang yang dikubur di dalamnya, hingga kemudian Gilank menjawab.
“Makam pak Ponidi rek, gimana kalau itu makam itu rek” kata Gilank tiba-tiba
“Hmm iya pak, di rumah sana itu ada sebuah makam disebelah kereta kuda atau dokar yang terpajang disana. Pemilik rumah itu adalah Supardi anak dari Ponidi pak” kata Broni
“Tapi masak iya sih, Supardi mau mencelakakan kita mas, dia kan baik sama kita mas” kata Novi
“Yah, kan aku tadi asal tebak saja Nov, makam yang koyok pak Han bilang kan cuma ada di rumah dia saja Nov” kata Gilank
__ADS_1
“Ayo kita bertamu ke sana mas, siapa tau kita dapat sedikit info dari dia mas” ajak pak Han
Sebenarnya apabila mereka menuju ke rumah Supardi itu ada benarnya juga, karena kemungkinan tanah itu berasal dari kuburan pak Pon, tapi apakah memang Supardi anak pak Pon itu yang melakukanya, dan untuk apa, tujuanya apa?
Mereka saat ini sudah ada di depan rumah anak pak Ponidi, rumah itu tutupan, berbeda dengan waktu mereka kesini beberapa waktu lalu.
“Keliatanya pak Supardi sedang keluar pak, karena rumah ini dalam keadaan tertutup, dia biasanya ke Sby pak, ke rumah keluarganya. Dia disini hanya untuk membersihkan makam dan dokar bapaknya” jelas Ukik
Pak Handoko merhemas rhemas tanah yang ada di genggamanya, kemudian dia berjalan menyusuri pagar rumah Supardi, di depan dokar yang dipajang di dalam halaman rumah dia berhenti dan menoleh ke bawah dokar.
“Tanah ini berasal dari sana” kata pak handoko dengan suara pelan, mungkin takut apabila yang punya rumah ada di dalam
“Coba kalian ketuk rumah ini mas, siapa tau pemiliknya ada di alam rumah” suruh pak Handoko kemudian membuang tanah yang ada di dalam genggamannya
Beberapa kali mereka memanggil nama Supardi, tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari dalam rumah.
“Rumah ini kosong pak, keliatanya sudah beberapa hari ini kosong pak, itu banyak daun daun dan debu tanah di sekitar pintu masuk rumah” kata Tifano
“Iyo Tif, bahkan tidak ada jejak langkah sama sekali di teras rumah berdebu itu Tif. Berarti sudah beberapa hari rumah ini kosong, bisa jadi waktu kita ke mbah Woto dia pulang ke Sbya” kata Broni
Mereka menelusuri pagar rumah hingga sampai ke dokar yang di sampingnya ada makamnya.
“Tanah itu kering, sedangkan yang dibawa pak Han tadi kan basah rek” kata Wildan
“Betul dari sini mas, karakteristik dan energi yang ada di tanah ini sama dengan yang ada di depan mobil mbak Novi mas. Tapi anehnya yang ada disini kenapa kering, sedangkan yang ada di mobil mbak Novi itu basah mas” kata pak Han
“Pak Han apa tidak bisa menerka siapa yang tadi melempar tanah basah ini di depan mobil Novi? Tanya Wildan
“Ndak bisa mas, sama sekali tidak ada energi yang ada disana, hanya tanah ini saja yang tiba-tiba dilempar dari suatu tempat hingga jatuh di depan mobil mbak Novi” jawab pak Han
Semua semakin aneh disini, kenapa tanah makam pak Ponidi yang kering itu bisa ada di depan mobil Novi, dan apakah Supardi juga terlibat dengan apa yang ada di halaman belakang vila atau rumah putih itu?
“Eh gimana pak, apa kita harus cari tau siapa yang melakukan itu pak” tanya Ukik
“Ndak perlu mas, yang penting saya tau bahwa ada beberapa orang yang sedang mencari sesuatu yang ada disana, dan apabila sudah ada ghaib yang ikut campur mencari, berarti yang ada disana itu lebih dari pada harta nyata!”
“Ayo kita ke dalam vila lagi mas, kita cari jejak-jejak energi yang disana hingga kita mendapatkan jejak yang paling jelas sehingga kita bisa cari energi itu berasal dari mana saja mas” kata pak Han
Singkat cerita mereka sudah ada di dalam vila putih lagi, sekarang mereka ada di daerah dapur yang berantakan, tetapi masih ada meja kursinya meskipun di beberapa bagian sudah rusak.
__ADS_1
“Saya punya rencana malam ini kita nginap disini mas, saya penasaran siapa saja yang datang kesini pada siang ini sampai besok paginya” kata pak Handoko
“Tapi sebelumnya kita ke kota dulu saja untuk makan siang dan beli makan makan malam serta air mineral, jadi kita tidak akan keluar dari sini setelah maghrib, dan nanti mobil mbak Novi kita titipkan dikota terdekat saja kalau bisa”
“Karena saya merasa kurang aman kalau ditaruh di depan sana. Tenang saja mbak Novi, kalau ada apa-apa dengan mobilnya, biar saya yang tanggung jawab heheheh” kata pak Handoko
Semua setuju untuk nginap satu malam di vila putih, sekarang mereka dalam perjalanan menuju ke kota Gebang untuk mencari perbekalan sekaligus mencari penitipan mobil yang aman disini
Mereka melewati depot makan yang nampak lawas dan menarik perhatian mereka. Dan akhirnya mereka mampir juga disana.
Spesialis nasi rawon hitam, yang tertulis di spanduk yang terpasang di dinding bagian atas depot itu
“Ternyata disini spesialis rawon, kita makan rawon dulu disini pak” kata Novi yang sudah kelaparan
Setelah memarkir mobilnya, mereka masuk ke dalam depot makan itu, mereka bersembilan duduk di dua meja yang berukuran agak besar. Di meja kasir ternyata ada nenek tua yang tersenyum kepada mereka.
“Semua makan rawon atau gimana” teriak Novi persis seorang guru yang sedang mengabsen murid-muridnya
Semua setuju dengan menu rawon hitam yang segar, serta es teh manis andalan tiap manusia Indonesia.
Novi menghampiri nenek tua yang ada di balik meja kasir.
“Selamat siang nek, kami semua pesan nasi rawon ya nek, terus minumnya es teh manis nek” kata Novi dengan wajah yang ceria
“Iya nduk, aduh ayu men to koe nduk, namamu siapa nduk?” tanya nenek tua itu
“Nama saya novi nek, kalau nenek biasa dipanggil siapa nek?” kata Novi
“Panggil saya mbah Sari saja nduk, nama mbah ini Sarijemb. Eh sebentar ya nduk, mbah mau siapkan pesanan kalian” kata nenek tua yang minta dipanggil mbah Sari itu
Tidak sampai lima menit mbah Sari keluar dari balik ruangan yang ada dibalik meja kasir. Dia nampak kesulitan dalam membawa nampan yang berisi 4 piring nasi rawon. Dan secara reflek Novi segera menghampiri mbah Sri untuk membantunya.
“Sini mbah, biar Novi yang bawa nampannya, nanti biar Novi juga yang ambil nasi rawon yang lainya mbah” kata Novi dengan wajah yang tersenyum ramah
Novi menuju ke tempat ruangan belakang setelah menaruh 4 nasi rawon itu di meja mereka. Anehnya pak Handoko tersenyum melihat Novi membantu nenek tua itu.
“Tinggal es tehnya ya mbah” kata Novi yang sedang heran ketika dia masuk ke ruang belakang tenyata lima porsi nasi rawon sudah siap untuk dibawa Novi
Tidak ada lima menit waktu yang dibutuhkan Novi antara menghidangkan 4 porsi nasi rawon dan kemudian dia ke ruangan belakang, dan ternyata 5 porsi nasi rawon sudah siap untuk disajikan.
__ADS_1
Apakah sebegitu cepatnya mbah itu menyiapkan piring, nasi, mengambil rawon dari panci, sambal, sendok garpu dan taoge.
Apakah mbah yang sudah tua renta itu bisa secepat kilat itu menyiapkan semuanya hehehe.