
Tidak ada pembicaraan apa-apa diantara mereka berlima yang menuju ke halaman halaman belakang hotel.
Pak Han tetap menunggu sesuatu yang akan terjadi di halaman belakang, tetapi hingga lima belas menit berlalu tidak ada apapun, bahkan suara orang yang sedang bicara pun tidak ada.
Tidak lama, hanya beberapa saat kemudian rombongan yang tadinya ada di belakang itu berjalan kembali ke arah bangunan utama.
Mereka kembali melewati kamar 5+ dimana ada pak Han yang sedang duduk di teras kamar sambil bersiul siul menyanyikan lagu dondong opo salak menunggu mereka lewat.
“Mari pak” sapa Nabil pada pak Han
“Oh iya pak Nabil mari pak hehehe”
Pak Han menghitung jumlah rombongan yang lewat di depan kamar dia…
Ternyata jumlahnya hanya ada empat orang. si Dollah dan penjaga keamanan itu ada, meskipun wajah penjaga keamanan dan Dollah itu pucat dan nampak berkeringat
“Tepat pukul 03.00 mereka kembali ke bangunan utama, tapi hanya ada empat orang yang kembali….”
“Hmm ada yang tidak beres ini, tadi berangkat lima orang, kenapa pulangnya hanya empat orang, kemana yang satu orang” batin pak Han
Rombongan Nabil itu sudah berbelok ke arah bangunan utama.
Pak Han masih ada di kursi teras, dia belum berani berjalan menuju ke halaman belakang.
Ketika sudah sekitar lima menit berlalu, pak Han mengunci pintu kamar 5+ dan berjalan menuju ke kamar 2+ tempat anak-anak sedang menunggu.
*****
Pukul 03.30 pak Han sudah ada di kamar 2+
“Yang datang tadi ada lima orang, tetapi yang kembali hanya empat orang anak-anak. yang satu orang itu yang kita harus cari tau” kata pak Han
“Apa pak Han yakin mereka ada lima orang waktu berjalan ke arah taman? tanya Dogel
“Saya yakin sekali mas, bahkan saya sempat berbicara dengan Rochman, energi dia tinggi sekali” kata pak Han
“Saya yakin yang tadi itu adalah Rochman atau Nabil yang sebenarnya” kata pak Handoko lagi
“Sekarang, mereka kemana pak?” tanya Novi
“Saya tidak tau mbak, karena tadi mereka berjalan menuju ke ruangan utama, tetapi yang pasti untuk saat ini Nabil atau Rochman sudah ada di ruangan utama”
“Kalau begitu ayo kita ke sana pak, lihat apa yang sedang mereka bicarakan sekaligus Novi ingin tau Rochman datang kesini menggunakan kendaraan apa”
“Lebih baik kita ke bagian belakang taman dulu saja, saya ingin tau apa yang dia lakukan dengan orang yang satunya itu. kenapa waktu datang ada lima orang, dan waktu kembali hanya empat orang”
“Jangan bersama mbak Novi… resiko, lebih baik saya bersama nak nak Blewah saja kesananya, sedangkan kalian berdua tunggu saya disini”
“Iya jangan saya pak, karena Totok atau Nabil kan tau wajah saya heheheh, itu pun kalau dia masih ingat dengan saya pak” kata Dogel
Pak Han dan Blewah nekat menuju ke halaman belakang, mereka berdua harus tau apa yang terjadi dengan satu orang yang tidak ikut ke bangunan utama.
Tapi jelas caranya tidak dengan mengendap endap, mereka berdua jalan biasa ke halaman belakang yang merupakan taman untuk umum.
Mereka berjalan sambil berbicara karena memang niatnya hanya menikmati udara pagi pegunungan sebelum subuh.
“Pak Han, saya akan ke sana, pak Han jaga disini saja dulu pak, dan kasih kode saya kalau ada sesuatu yang mencurigakan” kata Blewah yang tanpak mulai nekat
Blewah menuju ke bukit kecil yang posisinya dekat dengan kamar 6+, dia terus jalan mengitari bukit itu, tetapi tidak menemukan siapapun.
“Tidak ada siapapun disana pak” kata Blewah setelah berkeliling bukit kecil
“Hmm ada yang aneh mas, yuk kita ke depan sana, pura-pura kita mau ke warkop yang ada di seberang jalan itu saja”kata pak Han
“Kita jalan agak cepat mas, takutnya sebentar lagi lampu taman akan dipadamkan, kita yang susah nantinya” kata pak Han
Mereka berdua jalan santai di jalan setapak untuk menuju ke arah luar hotel. setelah di kmr 1+ mereka berdua belok ke kanan menuju ke lobby hotel.
Sengaja pak Han memelankan langkah kaki ketika lewat di pintu kaca lobby hotel, ternyata di dalam lobby itu keadaanya sepi, tidak ada Rochman atau yang lainya.
“Sepi pak, ayo kita jalan terus saja, diantara mobil-mobil yang terparkir disini salah satunya pasti yang dinaiki Nabil pak”
__ADS_1
“Saya akan pegang kap mesin nya, kalau masih panas berarti mobil itu baru saja datang ke sini kan” kata Blewah
“Iya mas, coba pegang satu persatu kap mesin mobil yang terparkir disini”
“Eh mas Blewah, eh bukanya mobil yang kita tumpangi itu berasal dari Totok atau Nabil atau Rochman? apa dia tidak hafal dengan mobil itu?” tanya pak Han
“Hehehe gak hapal lah pak. Waktu dulu itu Rochman kan jadi sosok Totok yang banci. sosok penggila pakaian perempuan, tapi sekarang kan sudah berubah pak”
“Ya sudah kalau begitu mas, ayo kita periksa satu persatu kap mesin mobil itu mas”
Ada sekitar enam mobil yang terparkir di sana. Blewah memeriksa kap mesin tiap mobil yang sedang terparkir hingga akhirnya dia menemukan mobil yang kap mesinnya masih panas.
“Mobil ini kap mesin dan lampunya masih panas pak, ini yang keliatanya dinaiki oleh Totok” kata Blewah
“Iya mas, kita biarkan saja dulu mas, kita nongkrong di warkop depan untuk melihat apa benar itu adalah Nabil”
“Terus kalau betul Nabil kita bisa apa pak?”
“Iya ya mas, kita tidak bisa apa-apa sih mas, hanya bisa lihat Nabil yang pergi dengan mobilnya saja”
“Nah itu pak, makanya saya tanya sebenarnya kita ke warkop itu mau ngapain? kecuali disana nanti ada informasi lagi tentang hotel”
“Begini saja pak Han menurut saya kita tidak perlu kemana mana, kita juga tidak perlu sampai meneliti Nabil atau Rochman itu sedang ngapain”
“Yang utama kita harus mematangkan rencana awal kita saja pak” kata Blewah yang ternyata bisa memberikan masukan kepada pak Han yang mungkin sedang bingung
“Tapi karena kita sudah terlanjur ada disini, kita lebih baik ke warkop saja pak, kita beli kopi dan bawa pulang ke kamar”
“Nanti kalau ketemu dengan karyawan hotel kita bisa alasan kalau habis dari warkop untuk beli kopi” kata Blewah
Mereka bergegas berjalan menuju ke warkop yang letaknya ada di seberang hotel. Setelah membeli dua plastik kopi mereka akan balik ke hotel, tetapi dicegah oleh penjaga warung.
“Jangan balik dulu pak, tunggu hingga selesai waktu subuh saja pak” kata seorang pemuda yang tadi meracik kopi mereka berdua
“Kenapa mas” tanya pak Han penasaran
“Karena setelah ini lampu taman akan dimatikan. Bahaya di dalam sana waktu lampu taman dimatikan, apalagi waktu ada bos besarnya datang”
“Oh gitu ya mas, masak sih bahaya mas?”
“Bayangan dari mana mas?” tanya pak Han
“Dari mobil bos besarnya itu, sudahlah pokonya tunggu disini saja dulu pak”
“Wah berarti sampeyan ndak tau ya pak kalau disini itu lampu taman dimatikan waktu ada adzan subuh”
“Kalau waktu lampu taman dimatikan dan tidak ada bos pemilik hotel, maka tidak akan terjadi apa-apa disana, sepi-sepi saja hehehe” kata penjaga warkop itu
“Berbeda apabila ada pemilik hotelnya. Biasanya pemilik hotel datang apabila sudah waktunya dia datang dan apabila ada sesuatu yang sedang terjadi disana”
“Dan biasanya dia akan marah-marah pak, nah selain marah dia juga membawa beberapa bayangan yang ada di kursi penumpang mobil”
“Itu yang nanti akan masuk ke dalam sana heheheh” kata pemuda penjaga warkop itu sambil tertawaa
“Kalau tidak ada pemilik hotel ya gak ada apa apa mas, biasa saja disana”
“Ya sudah mas, saran sampeyan tak turuti , saya jadi penasaran apa yang akan terjadi disana itu hehehe” kata pak Han
“Lima menit lagi lampu taman akan dimatikan pak, coba nanti lihat apa saja yang akan keluar dari mobil pemilik hotel itu hehehe”
“Memangnya sampeyan tidak takut mas?” tanya pak Han
“Hahahah.. awalnya takut pak, tapi lama lama ya biasa”
“Menurut saya kayaknya pemilik Hotel itu punya sesuatu di dalam sana pak” kata pemuda itu lagi
“Apalagi kalau sedang marah hahahah atap hotel itu kayak tahun baru pak?”
“Maksudnya apa dengan kayak tahun baru mas?”
“Banyak cahaya seperti kembang api, ada merah putih ada juga kuning, pokoknya kayak mercon sreng dor heheheh”
__ADS_1
“Sampean tau dari mana kalau pemilik hotel itu sedang marah?”
“Ya siapa lagi kalau ndak dari penjaga malamnya pak, yang namanya Tono itu, dia penjaga malam abadi di sana pak” kata pemuda yang ternyata mulutnya ngobos itu
“Dia itu kesayangan pemilik hotel pak, manager hotelnya aja sampai kalah disayang hehehe”
“Manager hotel yang bernama Dollah atau John itu ya pak?” tanya pak Han
“Lhaa itu pak hehehehe yang namanya John itu penjilat, tapi dia tidak bisa kalahkan Tono penjaga malam itu”
Ketika mereka sedang ngobrol tiba-tiba lampu taman hotel mati, keadaan hotel menjadi gelap gulita, kecuali lampu jalan yang masih nyala.
“Nah tunggu saja sebentar lagi pak, nanti ada yang turun dari mobil bos pemilik hotel itu”
“Lihatnya dari sana pak, dari depan pagar hotel, kalau dari sini tidak kelihatan apa-apa pak”
Blewah dan pak Han menuju depan pagar hotel, mereka sembunyi di sisi pagar yang mirip dengan gapura.
Mereka berdua menunggu beberapa saat hingga kemudian yang dikatakan penjaga warkop itu benar.
Dari arah mobil Nabil keluar bayangan-bayangan melayang yang menuju ke kantor atau lobby hotel, bayangan yang mirip dengan tubuh manusia tetapi kadang bentuknya tidak beraturan itu melayang perlahan.
“Dari tadi sudah ada sepuluh bayangan yang keluar dari mobil itu pak” kara Blewah
“Apa ya yang sedang terjadi disana itu pak”
“Saya juga belum bisa menebak mas, tetapi yang jelas pasti bayangan itu akan masuk ke dalam ruangan besi yang di dalamnya banyak kamar-kamar mengerikan itu mas”
“Perkiraan saya juga begitu pak, tapi ini barusan Mirah tanya ke demit-demit yang ada di sekitar luar hotel, kata Mirah mereka itu adalah arwah-arwah yang dibawa Rochman”
“Hanya saja mereka tidak tau apa gunanya arwah -arwah itu dibawa kesini, bukanya disini nyaris tidak ada mahluk halusnya pak” kata Blewah
“Iya betul mas, memang di permukaan alias di hotel tidak ada yang mengerikan, beda dengan yang ada di bawah tanah itu mas” kata pak Han
“Saya yakin arwah yang dibawa Nabil kesini pasti akan ditempatkan di ruang bawah tanah itu” lanjut pak Han
“Coba lihat pak, masih ada bayangan putih yang jalan dari mobil menuju ke kantor hotel” kata Blewah
“Bagaimana pak, benar kan apa kata saya, banyak bayangan putih yang keluar dari mobil itu kan pak heheheh” kata penjaga warkop yang menghampiri pak Han dan Blewah
“Iya mas, tapi apakah keluarnya pada waktu lampu taman dimatikan?”
“Selalu pak selama saya ada disini hampir tiap hari selalu ada yang datang”
“Berarti pemilik hotel itu datang tidak hanya kalau ada masalah? dia datang secara berkala?” tanya pak Han
“Tidak juga pak, kadang sering juga hampir tiap hari, tetapi kadang ya seminggu sekali. Kadang kalau pas ada masalah ya langsung datang saja”
“Itu yang diceritakan oleh Tono lho pak, dan antara Dollah dan Tono itu selalu tidak pernah cocok satu sama lain”
“Hmm kelihatannya untuk malam ini tidak ada cahaya warna warninya pak, nah setelah semua arwah itu masuk ke hotel, kalian bisa masuk ke sana dengan tenang ” kata pemuda penjaga warkop
“Ya sudah mas, terimakasih banyak atas infonya hehehe, kita ini sebenarnya takut juga dengan hal hal begituan, tetapi kita bisa tahan mas heheheh” jawab pak Han
“Nanti setelah mulai ada matahari, bisanya pemilik hotel itu pulang pak”kata penjaga warkop
“Oh iya…. satu pertanyaan lagi mas, Apakah di hotel ini pernah ada kejadian aneh?” tanya pak Han
“Waduuh kalau kejadian aneh mungkin yang tau hanya Tono pak, tapi kalau tanya-tanya dengan Tono harus hati-hati, bisa-bisa dilaporkan kepada pemilik hotelnya kalau kalian tanya-tanya kepada dia”
“Berarti Tono itu semacam penjilat ya mas hihihihih”
“Bisa dikatakan begitu pak, karena hampir semua pegawai di sana itu penjilat, mereka memang ditugasi oleh pemilik hotel untuk mengumpulkan informasi yang aneh tentang tamu-tamu yang ada di hotel itu”
“Kalau bapak mau tunggu sebentar, biasanya Tono kesini sebentar lagi, hanya untuk minum kopi dan cerita kepada saya tentang kejadian di dalam sana”
“Tapi kalau ada kami disini, jelas dia tidak akan mau cerita apa-apa mas, karena kami ini kan juga tamu hotel itu” kata pak Han
“Atau gini saja mas heheheh, terus terang saya ini orang yang selaluuuu pengen tau sesuatu. Lebih baik kami balik ke kamar saja mas, nanti pagi saya akan kesini lagi hehehe” kata pak Han
“Waduh maaf pak, nanti jam 06.00 saya pulang pak, karena tugas saya jaga warkop sudah selesai pada jam 06.00”
__ADS_1
“Jadi besok malam baru saya bisa ngobrol dengan bapak lagi”
“Oh begitu….. hmm ya sudah saya disini saja dulu mas, siapa tau Tono mau cerita meskipun ada kita disini” kata pak Han