
“Sudah menjelang jam tiga pagi ini, tetapi belum ada siapapun yang datang kesini” kata Tifano yang duduk di sofa ruangan tengah setelah dia turun dari ruangan atas
“Mungkin hari ini memang tidak ada yang kepingin mampir kesini untuk sekedar ngetes ilmu seperti malam-malam sebelumnya” jawab Wildan yang juga sedang tiduran di lantai ruang tengah yang sudah bersih.
“Ingat anak-anak, disaat kita lengah, disitulah kelemahan terparah kita, jadi ya tetap saja kita jangan sampai lengah sedikitpun. Dan pada jam-jam inilah kita berada di titik terlemah kita karena rasa capek dan ngantuk yang mulai mendatangi kita nak” kata pak Handoko yang masih saja memperhatikan keadaan di halaman vila
“Betul itu kata Handoko, kini kalian pada keadaan yang capek dan butuh istirahat, disini kita pasti merasa keadaan sudah aman, sehingga kita tidak lagi memperhatikan yang akan datang sebentar lagi” tambah Dimas
“Sudah hampir jam setengah empat iki rek hehehe, nek ngerti gini dari tadi kita tidur ae rek hihihihi” kata Tifano lagi
Tetapi tidak ada yang mengomentari omongan Tifano, karena Dimas dan pak Handoko sedang mendengar sesuatu di luar sana.
“Kalian berdua coba naik ke atas lagi dan perhatikan di keadaan di luar sana mas” suruh pak Handoko
Wildan dan Tifano berlari menuju ke kamar atas untuk mengamati ada apa di bagian luar vila. Hanya sekejap saja mereka ada di atas, karena mereka sudah tau apa yang sedang ada di depan vila putih.
“Di luar sana ada mobil yang sedang parkir di depan pagar vila pak, tetapi sama sekali tidak ada pergerakan manusia, hanya sebuah mobil yang terparkir di depan saja pak” kata Tifano, dia turun sendirian sedangkan Wildan masih ada di kamar atas untuk melanjutkan pengamatan
“Mobil milik Trimo atau orang lain mas?” tanya pak Handoko
“Milik Trimo pak, warnanya putih pak, dan sekarang terparkir di depan pagar vila, kelihatannya dia sedang menunggu seseorang, karena penumpang yang ada di dalam mobil belum juga keluar dari dalam mobil” tambah Tifano
“Kalau begitu biar saya saja yang keluar kesana, saya bersama mbok Ju saja” kata pak Handoko
“Lebih baik kamu ditemani dengan Tifano atau Wildan saja Handoko, jangan keluar sendirian, ingat saat ini Trimo bukanlah yang kamu kenal dulu, dia sekarang sudah jauh lebih mengerikan daripada Trimo yang dulu kamu kenal itu” kata pak Tembol
Akhirnya pak Handoko bersama dengan mbok Ju dan Wildan, mereka keluar melalui lobang yang ada di ujung pagar, lubang yang tidak akan terlihat dari manapun, karena tertutup oleh rerimbunan semak belukar.
Mereka bertiga menuju ke sisi jurang tempat biasanya mereka mengadakan pengamatan, hanya saja kadang mbok Ju keluar dari sisi jurang dan mengamati dari kejauhan, apa yang sedang dilakukan mobil Trimo di depan pagar vila.
“Mobil itu bergoyang-goyang lho ya, saya sampai bingung yang di dalam itu sedang ngapain kok sampai goyang-goyang mobilnya” kata mbok Ju setelah mengadakan pengamatan di sekitar mobil Trimo
“Ah mosok se… mosok Trimo lagi asik-asik fu fu fu skidipap swadikap sama wanita malam mbok hihihihi” jawab Wildan
“Lha iya itu nak, mbok juga bingung kenapa mobilnya itu kok bisa goyang-goyang gitu, apa yang ada di dalam sedang kerokan karena masyuk angin ya nak” kata mbok Ju lagi
“Lagi bikin martabak mbok, bikin adonan martabak kan butuh tenaga ekstra mbok hihihihi” tambah pak Handoko
“Ayo kita lebih dekat lagi dengan mobil itu, kita terlalu jauh dari posisi mobil dan tidak bisa dengar apa yang sedang mereka bicarakan” kata pak Handoko
Mereka yang awalnya berada di sisi jurang tetapi sekitar dua meter di belakang mobil kemudian perlahan-lahan pindah ke sisi jurang yang tepat di samping mobil.
“Wuiiih bener pak Handoko hihihi, yang di dalam kayaknya lagi bikin adonan martabak pak, coba dengar suara cepok…cepok… cepok itu pak. Kayaknya adonan kebanyakan air, jadinya basah hihihi” bisik Wildan
“Sssssttt hihihi bener mas itu adonannya becek karena kebanyakan air hihihi” bisik pak Han
Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena setelah itu suara pintu mobil yang terbuka, kemudian ada suara seperti orang yang sedang keluar dari dalam mbil dan tiba tiba….
“Yanc****k… ada yang buang tisyu ke sini\, kena kepalaku lagi asyuuu” bisik Wildan setelah ada sebongkah Tisyu yang mengenai kepalanya
“Sssttt diam mas” bisik pak Handoko
Mbok Ju pergi lagi ke atas untuk melakukan pengamatan dari jarak yang cukup jauh, dia penasaran siapa yang ada di dalam mobil selain Dimas. Apakah ada sosok lain yang menyebabkan mobil goyang dan lemparan gumpalan besar tisu yang mengenai kepala Wildan.
“Ternyata di dalam mobil ada perempuan, tetapi saya belum pasti siapa perempuan itu, karena tidak terlihat dari luar sana” kata mbok Ju setelah melakukan pengamatan di sekitar mobil Trimo.
__ADS_1
“Muryati..ayo keluar dari mobil, kita tunggu disini sajalah dan buka pintu mobilnya biar ndak bauk amis” kata suara yang merupakan suara Trimo kepada yang ada di dalam mobil yang ternyata adalah Muryati pacar Trimo
“Ih bauk amis apa sih mas Trimo ini, kan itu juga bauknya punya mas Trimo, kalau punya aku kan wangi mas” jawab Muryati yang keluar dari mobil Trimo
Suara pintu mobil terbuka dan kemudian ada suara high heels menapak di aspal depan vila yang jelek, suara sepatu Muryati benar-benar membuat mereka yang ada di sisi jurang merasa aneh, masak ke vila putih yang jalannya jelek ini Muryati harus pake high heels.
“Mas Trimo, sebenarnya kita ini sedang nunggu siapa sih mas?”
“Tenang saja Muryati, aku lagi nunggu perempuan cantik yang bernama Mak Nyat Mani, kamu jangan cemburu dulu Muryati, nanti kamu akan melihat dia sendiri bagaimana yang namanya Mak Nyat Mani itu”jawab Trimo
Tidak ada tanggapan dari yang bernama Muryati atas perkataan Trimo tadi itu, jelas mungkin saja muryati cemburulah, wong barusah digoyang di mobil kok sekarang Trimo nunggu perempuan lain yang kata dia cantik hihihi.
*****
“Benar perkiraanku mas, Mak Nyat Mani tidak seterusnya ada di dalam tubuh Trimo, dia ada di dalam tubuh Trimo mungkin pada waktu tertentu saja” bisik pak Handoko
“Jadi kita ada baiknya ikuti dimana Trimo tinggal pak, karena disana kita bisa bikin dia hilang atau gimana gitu, sehingga Mak Nyat Mani tidak mungkin bisa merasuki tubuh Trimo lagi pak” bisik Wildan
“Bisa mas, kita bisa ikuti dia hingga ke rumahnya, tapi nanti kita lihat dulu saja apa yang akan dia lakukan disini bersama Mak Nyat Mani”
*****
“Mas Trimo, sampai kapan kita ada disini mas, yang namanya Mak Nyat Mani itu kapan mau datang ke sini mas?” rengek Muryati
“Ini udah hampir subuh mas, aku kan harus bersihkan kue pukisku dari lelehan fla nya mas Trimo, lagian tubuhku lengket keringat lho mas” lanjutnya lagi
“Sik… bentar lagi dia akan datang kesini, dan dia itu bukan manusia seperti kita, dan bisa-bisa dia nanti datang dan merasuk aku , jadi kamu nanti ndak usah takut kalau aku kerasukan dia Muryati” kata Trimo dengan lemah lembut
“Tapi nanti aku harus gimana mas. aku harus apa kalau mas trimo kerasukan mak Nyat Mani?”
“Pokoknya kamu ndak usah takut. Sapa dia, dan cium tangan dia, ingat dia bukan manusia dia adalah makhluk tak kasat mata'' kata Trimo yang masih menunggu kedatangan Mak Nyat Mani
*****
“Awas Jurian, mas Wildan, sebentar lagi ada yang akan datang ke sini, saya sudah bisa merasakan energi besar yang menerpa tubuh saya mas. dia akan ada disini sebentar lagi, dan sebaiknya kita agak jauh dari area ini, dari pada kita ketahuan oleh mak Nyat Mani” ajak pak Handoko
Mereka bertiga segera pindah posisi lebih ke arah rumah Supardi dari pada ke bawah, tentu dengan alasan tertentu kenapa mereka malah pindah posisi mendekati rumah Supardi.
“Kita disini saja mas, karena area Vila putih sebentar lagi akan dipindai oleh Mak Nyat Mani” kata pak Handoko
“Lho pak kalau dipindai, apakah teman-teman kita yang ada di dalam vila bagaimana pak?” tanya Wildan
“Tenang saja mas, entah kenapa mulai masuk ke area vila, atau tepatnya di sekitar halaman vila itu banyak energi yang bertebaran, kalau menurut saya energi itu berasal dari masa lalu, mungkin jaman kalian sedang bermasalah dengan Dimas”
“Saya kan pernah bilang kepada kalian, kalau banyak jejak-jejak energi dan aura yang mengerikan di dalam vila dan juga ada yang di sekitar vila juga, dan jejak-jejak energi itu yang menyebabkan mereka baik dukun-dukun bahkan Mak Nyat Mani sendiri tidak bisa memasuki vila dengan seenaknya” jelas pak Handoko
“Maksud saya mereka Mak Nyat Mani dan Rochman bisa saja seenaknya masuk ke dalam vila atau melakukan pemindaian ke dalam vila, tapi mereka tidak akan tau siapa yang akan menyerang mereka waktu ada di halaman vila. makanya Dimas santai saja ada di dalam vila itu karena tidak ada yang bisa memindainya” kata pak Han
“Kita cari posisi yang pas saja Mas, pokoknya kita bisa lihat Trimo, Pacar Trimo dan Mak Nyat Mani”
Mereka bertiga akhirnya mendapat posisi tempat bersembunyi yang pas, posisi sembunyi di antara semak belukar yang tumbuh di sisi jurang.
*****
“Mas aku kok merinding ya mas, apakah memang seperti ini kalau ada disini mas?” tanya Muryati
__ADS_1
“Sebentar lagi mak Nyat Mani akan sampai disini Mur, dan kita siap-siap saja dengan kedatangannya. dan ingat tidak usah cemburu dengan kecantikanya dan apa yang akan dilakukan kepadaku. Makanya kamu aku ajak kesini itu agar tau siapa yang bekerja sama dengan ku”
“Iya maass iyaaa, tapi sampai jam segini kok belum datang sih mas?” tanya Muryati agak rewel
“Bentar lagi datang, aku sudah mulai merasakan kehadiran nya , energi dan wangi yang selalu bersamanya sebentar lagi ada di sini Mur” kata Trimo dengan wajah tersenyum
Baru juga selesai Trimo bicara, kemudian yang terjadi adalah angin dingin mulai berhembus pelan, angin dingin yang disertai dengan bau perpaduan beberapa bunga yang wangi sekali.
Angin yang membawa udara dingin dan bau bunga yang harum itu tidak hilang hingga Mak Nyat Mani ada di antar Muryati dan Trimo
“Selamat pagi kanjeng Ratu Mak Nyat Mani” sapa Trimo dengan ramah
Muryati hanya bisa diam sambil mengagumi kecantikan Mak Nyat Mani yang ada di depannya. dia sama sekali tidak berbicara atau menyapa Mak Nyat Mani sesuai dengan arahan Trimo.
Mak Nyat Mani diam sambil melirik ke arah Trimo dan kemudian melirik Muryati yang ada di sebelahnya, wajah dia tidak menampakan kegembiraan, malah yang ada adalah wajah yang menahan amarah.
“Saya mencium bau amis diantara kalian berdua” katanya singkat
“M..maksudnya bau apa Kanjeng Ratu Mak Nyat Mani?” tanya Trimo dengan gusar
“Kalian berdua tidak suci, kalian berdua kotor!, saya paling marah apabila berhadapan dengan manusia yang meremehkan saya!, saya paling marah apabila berbicara dengan orang yang dalam keadaan kotor!” kata Mak Nyat Mani sambil menatap kedua orang itu
“Ma..maaf kanjeng ratu. me..memang kami tadi waktu menunggu kanjeng ratu sempat berbuat di dalam mobil, saya minta maaf” rengek Trimo
“Kalian tidak bisa dimaafkan, saya datang kesini bukan untuk bertemu dengan orang yang dalam keadaan kotor oleh hasil dari nafsu bhirahi!”
“Ma…maafkan kami kanjeng ratu” kata Muryati yang baru tersadar dengan kemarahan Mak Nyat Mani
“Salah satu dari kalian harus berkorban untuk mensucikan salah satu dari kalian. Dan ini tidak bisa ditolak!” kata Mak Nyat Mani
“Jangan begitu kanjeng Ratu, tolong kami untuk sekali ini saja Kanjeng” rengek Trimo
“Tidak bisa!, sekarang pilih salah satu, siapa yang akan ikut bersama saya! atau kalian berdua yang akan saya ambil untuk menjadi pengikutku karena kesalahan kalian”
Bagaimana dengan Muryati, tentu saja dia tidak bisa menahan ketakutannya, dia hanya bisa diam dan menangis, tanpa ada kata-kata apapun!
“Katakan… kalian berdua atau salah satu dari kalian yang akan menjadi pengikutku!” bentak nya sekali lagi
“Saya persembahkan Muryati kepada Mak Nyat Mani saja” kata Trimo tiba-tiba
*****
“Gila iblis perempuan itu, hanya karena dia ingin memiliki arwah Muryati saja pakek alasan macam-macam. Apalagi Trimo itu, dia tidak membela Muryati sama sekali, bahkan dia mengorbankan Muryati kepada Mak Nyat Mani” gerutu pak Handoko
“Iya pak, saya tidak habis pikir dengan kelakuan Trimo” kata Wildan
“Yah itulah Iblis mas, dia selalu meminta tumbal dengan alasan yang dibuat buat, dia akan meminta tumbal kepada siapa saja yang akan bekerja sama dengan dia” tambah pak Han
“Tapi kok waktu sama kita dia tidak minta tumbal pak , malah dia bantu kami dengan memberikan kekuatan kepada kami agar kami bisa melawan siapa saja pak”
“Beda kasusnya mas, waktu itu dia kan punya kepentingan sendiri dengan penyatuan wilayah ghaib, nah waktu itu kan penyatuan wilayah ghaib itu terkendala dengan adanya Dimas. Tapi kalau sekarang nothing to lose lah istilahnya”
“Dapat air keabadian ya ok, gak dapat ya gak masalah, dalam hal ini kan yang berhasrat itu Trimo. Nah Mak Nyat Mani cuma mendompleng saja mas heheheh, untung-untung berhadiah masi” bisik mereka berdua
“Kasihan Muryati, dia dikorbankan Trimo demi mendapatkan harta yang ada di dalam vila itu” gumam mbok Ju yang merasa jengkel“Bagaimana kalau kita tolong Muryatinya Handoko?” tanya mbok Ju
__ADS_1
“Jangan, tidak usah kamu tolong, malah nanti kamu yang akan hilang Juriah” jawab pak Handoko