
“Ketika tinggal satu orang yang tersisa, Ali dan Broni keluar dari tempat persembunyianya. Mereka berusaha mencari peralatan yang akan digunakan untuk memotong pohon dan tentu saja untuk membongkar vila itu juga.
“Bron kita cari alat-alat mereka, kira-kira mereka menyimpan peralatannya di mana ya?”
“Yo iku Li pastinya ya di tempat yang amanlah, aman dari segalanya termasuk aman dari pencuri yang akan mencurinya macam kita ini heheheh”
Mereka menelusuri taman vila, tetapi mereka tidak menemukan alat pemotong sama sekali, mereka hanya mendengar teriakan salah satu dari tiga orang yang akan melakukan pembongkaran vila.
“Aku kok curiga peralatan mereka ada di rumah Supardi deh Bron, karena disekitar sini tidak ada apapun selain semak belukar dan teriakan satu orang itu” kata Ali
“Gimana, apa kita pindah ke rumah Supardi saja untuk mencari peralatan mereka?” tanya Broni
“Ayo…ayo kita pindah saja kesana. Tapi kamu yang hapal seluk beluk di sana kan Bron?” tanya Ali
“Iyaaaaa, ayo kita kesana sekarang” kata Broni
Mereka berdua pindah lokasi pencarian, mereka menuju ke rumah Supardi yang ada di samping vila putih. Lalu bagaimana dengan tiga orang yang akan melakukan penebangna pohon di vila ini.
*****
“Saya kan sudah bilang, kamu akan mati apabila tetap ada disini, sekarang tinggal kamu sendirian saja hahahahah” kata Gilank tanpa mau melihat ke satu orang yang belum pingsan itu
“Siapa kamuuuuu!” teriak orang yang belum pingsan itu
“Saya cuma orang yang sedang mencari ilmu di hutan sana, dan saya tau persis siapa ghaib yang ada disini hahaha, dia sekarang sedang ada di depanmu dan siap menghajarmu apabila kamu tidak segera pergi dari sini” kata Gilank dengan tetap duduk diam tanpa melihat orang itu
Tetapi apa yang dilakukan Gilangk itu ceroboh, dengan dia tidak melihat orang itu, Gilank tidak tau kalau satu orang yang belum pingsan itu mengeluarkan pisau panjang atau semacam pedang dari punggungnya, dan ketika pedang itu akan dihunuskan ke tubuh Gilank….
BHOUUUUGH!.... batu yang lebih besar dari pada yang dilemparkan kepada dua orang sebelumnya itu mengenai kepalanya, dan kemungkinan besar orang itu menderita gegar otak atau bisa saja lebih buruk yaitu pecah tengkorak.
Orang itu jatuh terjerembab di sebelah Gilank, pedangnya pun jatuh dan nyaris terkena kepala Gilank, orang itu mengerang dan kemudian kejang-kejang mengerikan.
“Ayo mas Gilank pergi dari sana dan ambil pakaianmu” bisik Novi dari tempat persembunyiannya
“Nanti saja, aku lagi seneng kayak gini lho Nov, kamu jadi bisa liat keseksian tubuhku kan” jawab Gilank sambil menari nari goyang pantat ke arah Novi
“Mas Gilank kira Novi akan tertarik sama tubuh mas Gilank gitu? Mending mas Gilank Novi jual ke om-om humu aja, biar ditepong phantatnya mas Gilank” kata Novi tanpa melihat Gilank sama sekali
Ternyata Gilank menolak untuk memakai pakaian, dia keliatanya sudah mulai mendalami perannya sebagai orang gila, dan hal ini lebih bagus lagi kalau dia tinggal di dalam vila ini dan bertugas mengusir tiap orang yang akan datang dan mencari sesuatu di vila itu.
“Kemana Ali dan Broni Nov?” tanya Gilank yang lebih mirip kudanil dengan perut jemblungnya
“Mereka lagi cari alat-alat yang akan digunakan untuk memotong pohon yang ada disini, tapi Novi ragu kalau orang-orang itu menyimpan gergaji mesin disini mas” Kata Novi
“Perkiraan saya, mereka sekarang ada di rumah Supardi mbak Nov, dan perkiraan saya disana ada Supardi dan dukun palsu itu” kata Saeful
“Kalau begitu mereka dalam bahaya dong. Mas Gilank tolong kesana mas, dan bikin keributan di depan rumah mereka mas, bikin mereka keluar dari rumahnya mas” kata Novi yang kemudian pergi dari area taman Vila
Gilank berlari menuju ke luar vila, telapak kaki dia benar-benar sudah tebal kayaknya, padahal disekitar sini banyak batu kerikil yang agak tajam, belum lagi dengan adanya dahan dan semak yng berduri.
Novi dan Saeful keluar melalui lobang yang ada di pagar vila, mereka tidak ikut Gilank yang keluar dari pitu gerbang vila, untuk menghindari apabila bertemu dengan komplotan Supardi yang lainnya.
Gilank, Saeful, dan Novi sudah ada di jalan menuju ke tempat Supardi, tapi tentu saja mereka tidak berjalan di tengah jalan, Novi dan Saeful lebih memilih jalan di pinggir semak belukar.
Meskipun keadaan disini tidak ada penerangan sama sekali, tetapi dengan adanya cahaya bulan di langit yang tanpa awan ini menyebabkan daerah sekitar sini terang meskpun hanya redup saja. Tentu saja hal ini berbahaya bagi mereka yang sedang menyelinap ke arah rumah sebelah.
__ADS_1
“Mas Saeful, coba kamu lihat mas, di depan rumah Supardi ada dua mobil yang kita tidak pernah lihat sebelumnya, dan kemungkinan besar disana ada beberapa orang mas” kata Novi yang sedang merangkul bahu Saeful
“Nganu mbak, kalau ngerangkul mbok ya itunya mbak Novi jangan dikenakkan bahu saya mbak” kata Saeful yang berusaha melepas rangkulan Novi
Novi itu ngawur, dia itu ngerangkul sambil geser-geser dadanya ke bahu Saeful, mungkin karena gatal digigit serangga…. mungkin lho ya.
“Upsss maap mas, Novi kelepasan, duuh bahagianya ya kalau punya calon imam macam mas Saeful gini mas” kata Novi yang memandang mata Saeful dalam-dalam
“Jangan lihat saya mbak Nov, saya cuman orang desa yang tentu saja tidak pantas bersanding dengan mbak Novi yang cantik ini” jawab Saeful
“Hihihihi gak boleh gitu mas, mas Saeful harus percaya diri mas, Novi aja dah gak kuat rasanya, pingin nikah dan punya imam yang seperti mas Saeful ini hihihihih”
Halaaah mereka berdua kok malah yank yank an di balik semak belukar sih. Padahal Gilank sudah siap membuat ulah di depan rumah Supardi.
Lalu bagaimana dengan Ali dan Broni, apakah mereka sampai sekarang masih aman saja?
“Kita sekarang ada di halaman rumah Supardi chok. Posisi kita iki bahaya Bron!” bisik Ali
“Tenang Li, di depan rumah itu ada dua mobil, sedangkan mobil dukun ada di parkiran sana, berarti di sekitar vila ini ada tiga mobil. Dengan tiga mobil berarti orang yang ada disini bukan hanya dua atu tiga saja, pasti lebih dari tiga” kata Broni
“Dan tadi kemungkinan besar yang di halaman vila sudah dibereskan oleh Saeful, Gilank, dan Novi. Jadi tinggal yang ada disini saja yang akan kita bereskan Li” kata Broni lagi dengan ngawurnya.
“Ngawur ae kamu ini Bron, tuga kita menyabotase alat alat mereka, bukan melumpuhkan orang yang ada disini” kata Ali
Ketika mereka berdua sedang asik mengendap endap, tiba-tiba mereka mendengar suara besi yang dihantam berulang kali dengan menggunakan batu besar.
Dong….dong…dong…dong…pyaarrr
“Lhooooo sopo iku sing mukui mobil Li, dan terakhir kaca mobil juga ikut diambyarkan hihihihi. Paling iku kerjaane Gilank hihihihi, nek Novi dan Saeful pasti lagi sembunyi” kata Broni
Berulang kali Gilank yang sinting itu memukul-mukul mobil yang terparkir disana. Dia juga memukuli kaca mobil juga, tapi dari dalam rumah belum ada orang yang keluar untuk melihat ada apa di luaran sana.
“Kalau gitu kita suruh Gilang rusakin semua mobil yang ada disini ae, lalu kita kubur mereka di dalam terowongan, kita panggil saja Saeful dn Novi saja gimana Bron?” tanya Ali
“Jangan, mereka pasti ada di sekitar sini, mereka pasti sedang awasi kita, jadi biarkan saja dan jangan berkerumun, biarkan kita berpisah agar aman” jawab Broni
“kita saja yang kerjakan Li, paling tidak buat mereka terganggu kemudian biarkan Novi dan Saeful yang membereskan mereka” kata Broni lagi
“Ya sudah, aku setuju, gimana cara agar bikin mereka terganggu Bron?”
“Ya tinggal tutup pintu terowongan dengan tanah yang ada disana lah, posisi lobang itu sendiri ada di bagian belakang rumah Li, dan kita harus masuk ke dalam rumah untuk bisa mencapai bagian belakang rumah”
“Ya ayo coba kita buka pintu rumah ini, siapa tau tidak terkunci Bron” kata Ali yang langsung menuju ke pintu depan yang tertutup
Ketika mereka berdua akan membuka pintu, tiba-tiba dari arah dalam ada suara orang yang bercakap cakap, serta suara langkah kaki yang yang menuju ke arah luar.
Ali dan Broni tanpa dikomando langsung merunduk dan berjalan menuju ke samping rumah, atau lorong samping rumah. sebenarnya keputusan yang bahaya kalau berani menuju samping rumah, mengingat itu jalan buntu!
Suara orang yang sedang bicara dan suara langkah kaki itu menuju ke arah luar, mungkin ada dua orang yang sedang berjalan ke luar, nah pada saat itu Gilang sedang giat giatnya membuat remek mobil yang terparkir di luar dengan memukulnya menggunakan batu.
“HOOOOOIIII SIAPA ITU YANG HANCURKAN MOBIL KITAAA!!!!!” teriak salah satu orang itu setelah mereka ada di luar, kedua orang itu lari menuju ke pagar rumah dan menuju ke mobil mereka yang terparkir di depan
“SIALAN!.... SIAPA KAMU” teriak salah satu dari mereka ketika melihat Gilank yang semi bugil sedang memukul dan menggambakan gambar kuntila raksasa dikap mobil menggunakan batu yang runcing
“HAAIII ORANG GILA…PERGI DARI SANA, ATAU KUBUNUH KAMU!” teriak yang satunya
__ADS_1
“Sssssttttt diam kalian berdua. Aku sedang menggambar di kanvas raksasa ini. Jangan ganggu aku! Jawab Gilang yang memang penampilanya mirip orang gila
Kemudian salah satu dari mereka maju ke depan dan berusaha mengambil batu yang ada di tangan Gilank, sedangkan Gilank berusaha mempertahankan batu itu, tetapi dengan sekali putar, kepala orang itu sudah ada di bagian dalam ketek Gilank.
Tidak perlu waktu lama orang itu langsung pingsan!
**********
Harus pembaca pahami konteks mandi bagi Gilank, mandi bagi Gilank memang hanya menghilangkan bau yang ada di bagian luar tubuhnya atau di permukaan tubuhnya!
Dengan mandi, kramas, dan berganti pakaian, maka bau itu juga berkurang hingga 90%, tetapi itu hanya berlaku pada bagian luar Gilank…. Tidak bagian dalam dan bagian yang tersembunyi dari tubuh Gilank.
Dalam hal ini penulis tidak mengada-ada, penulis menulis berdasarkan cerita dari teman-teman dia yang sedikit menjauhinya apabila Gilank mulai kumat dengan tidak mau mandinya hihihihi.
**********
Orang yang satunya keliatanya ketakutan dengan keadaan temanya yang pingsan tanpa adanya kekerasan fisik, dia mungkin berpikir kalau Gilank itu adalah dukun yang sedang ngelmu di hutan dan mempunyai kesaktian yang mumpuni.
Dia mundur beberapa langkah dan kemudian berlari masuk ke dalam sambil memanggil bala bantuan.
“TOLOOOOOONG….. TOLOOOONGGG” teriak orang itu sambil berlari masuk hingga ke belakang rumah.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Broni dan Ali sebaik-baiknya untuk lari dari bagian samping rumah, karena apabila mereka tetap ada disana kemungkinan besar mereka akan tertangkap!.
“Ayo Li kita pergi dari sini cepaaat” bisik Broni yang lari mendahului Ali yang masih ada di belakang, mereka berdua akhirnya ada di halaman rumah Supardi dekat dengan dokar Ponidi.
“Ayoooo Liiii cepaat” bisik Broni lagi yang sudah beberapa meter di depan Ali yang nampaknya sedang melihat sesuatu di sekitar dokar situ.
“Sik bron, ada sesuatu disini” kata Ali yang sedang memungut selembar kertas yang kemudian dia lipat dan dimasukan ke dalam kantongnya.
Mereka berdua berhasil lolos dari halaman rumah Supardi dan menuju ke sisi jurang depan rumah itu. mereka berdua bersembunyi disana sambil terus memperhatikan apa yang sedang terjadi di rumah sana.
“Ini ulah Gilank, makanya kita bisa lolos dari sana, sekarang kita harus selamatkan Gilank kalau dia dalam bahaya Bron”
“Gilank kok koyoke makin mendalami perannya sebagai wong edan ya, dia bisa sebegitunya chok hihihihi” kata Ali
Setelah beberapa lama kemudian beberapa orang mulai keluar dari rumah Supardi, ada lima orang termasuk Supardi dan dukun palsu.
“Li, itu ada supardi dan dukun palsu, tetapi yang tiga orang itu aku ndak tau siapa mereka” kata Broni sambil tetap mengintip mereka yang mendatangi Gilank yang sedang melukis di dua mobil yang ada disana”
“Kamu bisa lihat dengan jelas ndak ke arah tiga orang itu Li, kalau dari belakang kok yang satu itu aku koyoke pernah tau, tapi yang satunya aku ndak jelas sama sekali” kata Broni.
“Dari tempatku sini sama sekali ndak jelas Bron karena aku cuma keliatan punggungnya saja” jawab Ali
Gilank saat ini sedang dikeliingi oleh lima orang yang tadi keluar dari rumah Supardi, tapi Gilank tetap berlagak seperti orang yang tidak waras, dia tetap santai menggambar aneka bentuk kuntila di semua bagian mobil. Dia juga memecahkan kaca yang ada di mobil itu.
“KALIAN PEMILIK BABI TERKUTUK INI!” kata Gilank sambil terus menerus mencoreti bagian mobil itu dengan batu tajam yang dia pegang
“BABI KALIAN INI JELEK! TIDAK ADA TATOONYA, SEKARANG SEDANG AKU HIAS. JADI KALIAN HARUS SABAR!” teriak Gilank yang tetap menggambar aneka kuntila
“Aku pernah tau orang ini, tapi dia tidak seperti ini sebelumnya, kenapa dia jadi gila seperti ini…. Kalau tidak salah dia ini kelompoknya anak-anak yang pernah ada disini dulu” kata Supardi
“Orang ini bahaya, dia memang komplotanya anak-anak itu” kata orang satunya yang kemudian berjalan mondar-mandir untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Gilank
“BHANGSAAAAT ITU KASWADI LI” bisik Broni dengan nada menggeram karena marah
__ADS_1
“Lebih baik kita bunuh saja orang ini, kita tidak tau apa yang sedang dilakukan disini, bisa saja dia akan membocorkan rahasia kita meskipun dia dalam keadaan gila” kata orang satunya yang kemudian berjalan dan melihat ke arah jurang yang ada di depanya.
“APAAAA!…. DI…DIA..DIA ITU TRIMO….DIA KAN SUDAH MATI” kata Ali dengan suara yang gugup ketika melihat orang yang satunya lagi.