
“Kalian tunggu saja di sana, dekat dengan depot rawon itu” kata Novi
“Iya mbak, tapi mbak Novi ndak papa kan kalau ambil mobil sendiri?”
“Ndak papalah mas Petro, mumpung belum subuh ini, sudahlah ayo kalian tunggu saja disana”
Saeful dan Petro berpindah posisi mendekati rawon mbah Sarijemb, rawon yang paling terkenal di daerah sini. sementara itu Novi dengan santainya masuk ke area parkir dan halaman masjid.
Tentu saja dengan kehadiran Novi mengakibatkan beberapa pasang mata orang yang ada di teras dan sebagian berdiri melihat Novi yang bertubuh aduhai.
Sontak salah satu dari petugas yang berwajib menghampiri Novi yang sedang membuka mobilnya dan sedang memanasi mesin mobil.
“Selamat pagi mbak, eh mbak siapa ya, dan sedang apa ya dengan mobil ini?”
“Selamat pagi pak, ada apa ya pak, kok tiba-tiba saya ditanya seperti itu. Apa bapak tidak tau saya?” balas Novi lebih sengit
“Kami tidak pernah melihat mbaknya di sekitar sini, dan mobil ini sudah beberapa hari ini disini. Jadi kami sebagai pihak yang berwajib wajib untuk menanyakan mbak ini siapa dan apa yang sedang dilakukan disini” kata petugas itu dengan nada arogan
“Berati sampeyan tidak pernah makan di depot rawon mbah saya, sehingga sampeyan tidak pernah lihat saya. Makanya makan disana, jangan cuma bisanya njajan di warteg saja” jawab Novi ketus
“Saya saudara jauh dari mbah sarijemb, dan saya sedang mengunjungi mbak Welas dan mbak Asih yang merupakan cucu dari mbah Sarijemb. Kalau sampeyan tidak paham, sana makan di depot itu dan tanyakan ke mbak Welas dan mbak Asih!” kata Novi yang kemudian naik ke dalam mobilnya.
“Saya pagi-pagi mau desa bs untuk menjemput mas Suharto bersama anak dan istrinya, karena mau saya bawa ke Rs yang ada di kota S.” lanjut Novi
Petugas itu diam saja, dia tidak menyangka akan mendapat omongan yang tajam dari Novi.
“Heh pak, sampayan jangan di tengah jalan. Atau gini saja, apakah bapak mau kawal saya dari sini ke desa bs kemudian ke kota S agar perjalanan lancar karena saya belum juga berangkat akibat bapak ada di depan saya”.
“Ingat pak perjalanan dari sini ke kota S itu macet, makanya saya berangkat pagi-pagi, tapi kalau bapak halangi seperti ini maka saya akan terlambat, dan akan sampai di kota S siang hari!”
“Ayo minggir, selak saya terlambat ini, kalau sampai ada apa-apa dengan anak mas Suharto itu menjadi tanggung jawab sampeyan!” bentak Novi
Petugas itu akhirnya minggir dia tidak bicara apapun dia masih tertegun dengan mulut Novi yang nyerocos…. petugas itu kalah dengan powers of emak emak.. eh powers of waria.
*****
“Untung bukan kalian berdua yang ambil mobil Novi heheheh, tadi aja petugas itu tanya-tanya, untungnya Novi tau keluarga mbah Sarijemb yang ada di depot rawon itu”
“Apa tidak bahaya nak Novi, bisa-bisa nanti siang mereka akan ke depot rawon itu dan menanyakan tentang nak Novi”
“Tenang saja pak Tembol, sudah diurus oleh mbah Sarijemb kok pak. Beliau tadi bicara sama Novi seperti itu”
“Pak, Sebenarnya kekuatan kita ini kan sudah mumpuni, ada mbak Novi dengan mbah sarijemb, ada mas Petro dengan semprul, mas Dogel dengan mbak Bashi, Sinang nang, pak Han, ada Dimas, Blewah dengan Mirah, mas Ngot, Indah, mbok Ju dan lainnya”
“Apa dengan kekuatan itu kita tidak bisa serang Trimo atau Totok pak?” tanya Saeful
“Hehehe pemikiran itu yang juga ada di pikiran mereka Totok dan mungkin Djatmiko nak Ipul, mereka memang menyuruh agar kita menyerang mereka. itu tujuan mereka nak”
“Tapi… ada yang kamu lupakan. kita tidak tau siapa yang ada di belakang mereka, kita hanya tau sampulnya saja, itu yang bahaya. contohnya Trimo, sekarang dia bersama Djatmiko. Kita tidak tau siapa yang ada di belakang Djatmiko”
“Jadi kita cari hingga mereka dalam keadaan kepepet, dan apabila tidak ada lagi yang dibelakang mereka baru kita bertindak” kata pak Tembol
“Kemudian mereka pasti belum tau seberapa kekuatan kita, dan kita juga tidak tau seberapa kekuatan mereka, tentu saja hal ini berbahaya. Makanya kita harus tau sampai seberapa mereka bisa melakukan sesuatu kepada kita”
“Oh iya pak saya paham sekarang pak”
Mobil Novi melewati jalan yang jelek, karena jalan ini digunakan untuk alat-alat berat juga untuk membangun sebuah resort yang ada di sebelah desa Bs. Sinar matahari mulai sedikit nampak di ufuk timur setelah lima belas menit mereka laksanakan sholat subuh di sebuah surau.
“Di depan nanti ini kalau ndak salah ada pertigaan ya nak, pertigaan yang kalau ke arah ke kiri itu tujuanya ke desa yang sedang dibangun sebuah resort itu ya. Desa bersejarah tempat kita berjuang nak Novi heheheheh”
“Iya betul pak Tembol, kita lurus saja setelah ini pak dan tidak jauh dari situ sudah sampai ke desa Bs pak”
__ADS_1
Mobil terus jalan hingga mereka memasuki gapura desa, gapura desa yang warnanya sudah tidak cerah lagi, mungkin sudah lama tidak dicat.
“Nak Novi bapak agak lupa jalan nya, apa kamu masih ingat nak?”
“Novi ingat pak heheheh jangan kuatir pak. di depan sana nanti belok kiri kemudian ada mushola, nah Beberapa puluh meter dari mushola itu rumahnya Suharto”
Mobil mengarah ke arah mushola, dan berjalan pelan hingga ada sebuah rumah yang asri dengan pagar bambu yang Indah.
“Itu kan pak rumahnya. Lebih baik pak Tembol dan mas Petro yang turun dulu, Novi ndak enak kalok mertamu pagi-pagi gini hehehe”
“Sudah lah, kita bareng-bareng saja. Mobilmu taruh di depan sana saja nak” kata pak Tembol
Untungnya di samping rumah ada anak dari mbah Woto yang bernama Suharto yang sedang bermain bersama anaknya yang lucu yang bernama Sarinah.
“Assalamualaikum, dik Sarinaaaah” sapa Novi
“Assalamualaikum,.....” teriak pak Tembol
“Waalaikum salam” jawab laki-laki yang sedang bersama anaknya
Tiba-tiba Sarinah lari keluar dan menunjuk ke Novi
“Tante cantik temannya mbah kung… tante cantik temanya mbah kung” kata Sarinah yang kemudian dipeluk Suharto ayahnya
“Maafkan anak saya yang lancang ini, maaf kalian siapa dan ada perlu apa datang kesini” tanya Suharto yang lupa dengan mereka
“Kami teman pak Marwoto mas, kami juga teman ibu njenengan, Kami kemari karena disuruh mbah Woto untuk mengajak mas Harto, mbak Sarinah dan istri untuk ke tempat perlindungan” kata pak Tembol
Wajah Suharto mendadak berubah, dia curiga dengan kehadiran mereka yang ada di depan rumah dengan tiba-tiba.
“Ayah saya sudah meninggal pak, kalian bagaimana bisa bertemu dengan ayah saya?” tanyanya sengit
“Tadi malam kami bertemu dengan ayah nak Harto dan dia sedang melawan anak buah Soebroto yang sekarang berbuat ulah, kemudian mbah Woto menyuruh kami kesini untuk menyembunyikan kalian dari kejaran anak buah Soebroto itu”
“Maaf cerita kalian tidak masuk akal sama sekali, bagaimana bisa ayah saya yang meninggal sekarang berada bersama kalian dan menjadi saksi atas kejadian yang ada di sana” kata Suharto
“Tante cantik teman mbah kung…. tante cantik teman mbah kung” celoteh Sarinah
“Sarinah, itu siapa kok bisanya kamu bilang tante itu teman mbah?”
“Tante itu bersama temannya kan pernah kesini ayah. Mbah kung gembira sekali ketika bertemu dengan mereka ayah” celoteh sarinah
“Bukanya ayah juga ada waktu itu ayah?” tanya Sarinah
Suharto hanya diam saja dengan omongan putri satu satunya.
“Ya sudah nak Harto kalau tidak mempercayai kami, kami kesini bukan untuk main-main, tetapi ada bahaya yang akan mengancam keluarga ini nak”
“Maaf pak, saya tidak percaya dengan omongan bapak, jangan hanya karena anak saya kenal dengan mbak ini, kemudian kami mau saja naik ke mobil itu dan pergi bersama kalian” kata Soeharto
Suharto jelas tidak percaya begitu saja dengan omongan pak Tembol, apalagi diberi bumbu bahwa mereka bertemu dengan ayah dari Suharto, malah makin tidak percaya dia.
“Jadi lebih baik kalian pergi dari sini saja dari ini, “ usir Soeharto yang kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan pak Tembol, Novi, Petro, dan Saiful di luar
“Bagaimana ini pak, kita tidak bisa membiarkan anak mbah Woto dalam bahaya seperti ini, apalagi lihat Sarinah yang lucu itu pak” kata Novi
“Gini saja, gimana ya caranya memberi tahu teman kita yang ada di vila putih apabila keadaan disini sedang gawat? gumam pak Tembol
“Saya saja yang pulang ke vila putih pak Tembol, saya akan beri kabar kepada yang lainya tentang keadaan disini” kata mbok Ju
“Ya sudah kalau kamu juriah berani pulang sendirian ke sana, sementara itu kita harus ada di desa ini kita harus jaga-jaga apabila suruhan Djatmiko datang kesini”
__ADS_1
“Kita bisa parkir di sebelah mushola itu pak, tapi sebelumnya kita harus minta izin dulu kepada kepada desanya, agar kita tidak dicurigai yang macam-macam” kata Petro
“Ah atau kita kunjungi mbok Nah saja yuk, kita sarapan disana saja bagaimana, sekalian tanya tanya siapa kepala desanya disini”usul Novi
“Ayo kita kesana saja, saya setuju dengan usulmu nak Novi, Tapi nak Novi apa masih inat jalan ke sana?”
“Saya waktu bersama anak-anak Bluekuthuq sebelum ke rumah mbah Wo pernah kesana juga nak, hanya saja saya sekarang lupa karena yang ingat jalan itu tiga mahasiswi teman kita” kata pak Tembol
“Tenang pak Tembol, Insya Allah Novi masih ingat jalannya kok pak. Ayo kita berangkat kesana sekarang saja. Eh mas Petro, kita balik ke arah datang tadi, nanti ada belok ke kiri ya”
Tidak sampai lima menit mereka sudah sampai di sebuah warung yang baru saja buka, pemilik warung yang ternyta mbok Nah itu sedang menata warungnya.
“Mbok Naaaaaaaahh!” teriak Novi kegirangan
“Eh nak Novi, dia tidak ingat dengan nak Novi, jaman sudah berubah nak” bisik pak Tembol
“Ya mbaaaak, mbak cari siapa ya?” kata mbok Nah yang berhenti menata warungnya hanya karena melihat Novi yang berteriak kepadanya
“Hehehehe, maaf mbok, Novi kira mbok Nah masih ingat Novi, hehehe. Mbok, masak apa hari ini?”
“Ada lodeh, sambal, ikan pindang, telur dadar. Mau yang mana mbake?” kata mbok Nah yang masih terheran heran dengan Novi
“Semua mau mbok, pokoknya ada sambelnya mbok Nah yang bikin kangen hihihihi”
Mbok Nah tentu saja keheranan dengan tingkah laku Novi, kemudian dia melihat pak Tembol yang masih berdiri diam di depan warungnya.
“Eh ..bapak sinten nggih, kok rasanya saya pernah lihat njenengan pak?” kata mbok Nah kemudian
“Hehehehe saya pernah kesini mbok, mungkin beberapa waktu silam waktu cucu almarhum mbah Woto belum lahir hehehe, saya waktu itu bersama dengan tiga mahasiswi yang cantik itu lho mbok”
“Aduuuh saya kok lupa ya pak, wis lah. Bapake mau makan apa ini, dan mas-mas itu juga mau makan apa?” tanya mbok Nah dengan suara kerasnya
“Samakan dengan nak Novi saja mbok Ju, semua samakan saja dengan Novi, sekalian bikinin kopi juga ya mbok” kata pak Tembol
Setelah semua makan enak, mereka kini sedang membahas bagaimana caranya agar anak cucu mbah Woto mau diajak pindah ke vila putih.
“Eh mbok Nah tau Suharto anak mbah Marwoto?” tanya pak Tembol tiba-tiba
“Tau dan kenal pak, siapa disini yang tidak kenal dengan anak-anak tetua desa ini pak. memangnya ada apa sih kok tanya-tanya soal Suharto yang aneh itu?” kata mbok Nah dengan suara khasnya yang keras dan cempreng
“Lhooo aneh gimana mbok, beberapa waktu lalu saya kesana waktu mbah Woto belum meninggal keliatan ndak ada yang aneh kook mbok Ju?” potong Novi
“Iyaaaa nak Ayuuuuu, benar. Sebelum mbah Woto meninggal dia baik-baik saja. tapi semenjak mbah To meninggal kelakuan dia itu berubah”
“Dia sekarang suka menyendiri di hutan sana lho, hutan yang antara desa ini dengan desa sebelah yang sekarang sedang dibangun tempat rekreasi”
“Dia sekarang sudah tidak ramah dengan penduduk sini yang sangat menghormati bapaknya dan ibunya mbok Suparmi itu, kasihan anaknya yang bernama Sarinah, anak kecil yang selalu dikekang bapaknya”
“Lha istrinya Suharto ada dimana mbok?” tanya Novi
“Nah ini yang paling kasihan, istrinya pulang ke rumah orang tuanya, karena tidak kuat dengan kelakuan suaminya yang makin hari makin aneh. Sarinah itu dipaksa ikut Harto, karena kalau tidak, maka anak kecil itu akan dibunuhnya”
“Dipaksa ikut ke mana mbok?”
“Dipaksa ikut ke hutan disana itu, hutan angker”
“Waduh, kok jadi aneh ya anak mas Marwoto, apa sebaiknya kita panggil lagi saja mas Wotonya anak-anak?” kata pak Tembol
“Apaaaa! kalian bertemu dengan mbah Marwoto!? kalian ini siapa dan ada perlu apa dengan keluarga itu!” kata mbok Nah yang kaget
“Oh…nggak mbok…ndak hehehe, kami tentu saja mana bisa bertemu dengan orang yang sudah meninggal mbok” ralat pak Tembol
__ADS_1
“Kami kesini karena memang ingin menyelamatkan keluarga itu mbok. kami kesini karena kami pernah dekat dengan mas Marwoto, beliau banyak membantu kami, setelah beliau meninggal, kami ingin menyelamatkan keluarganya” cerita pak Tembol