
"Kalian sia-sia kalau malam ini tujuan kalian kesana hanya untuk melihat keadaan disana, karena ada sesuatu yang harus kalian temui di sana, dan akan saya bantu kalian" kata pak Han
"Baiklah pak, kita masuk ke vila itu sekalian pak" kata Ali
Dengan menggunakan mobil milik Novi, tepat pukul 19.15 mereka start dari rumah pak Han. Selama perjalanan tidak ada pembicaran sama sekali, karena yang ada dipikiran mereka adalah lagi-lagi harus masuk ke vila mengerikan itu lagi.
"Saya tau apa yang sedang kalian pikirkan mas, jangan takut, semua mungkin tidak separah ketika sempat terjadi kematian diantara kalian itu mas" kata pak Han menenangkan mereka
"Kita lihat saja apa yang ada disana, kemudian kita diskusikan di rumah saya lagi mas, pokoknya saya ada di antara kalian bukan karena masalah harta, tetapi saya ini tipe yang selalu kepingin tau tentang segala hal yang berkaitan dengan hak waris dari keturunan tionghoa yang unik-unik" kata pak Han
"Iya pak, saya takut kalau nanti saya mati lagi pak" jawab Gilank
"Jangan sampai terjadi mas, makanya semua harus kita pikirkan dahulu sebelum bertindak mas, karena berhadapan dengan mahluk ghaib itu memerlukan pemikiran yang benar-benar matang" jawab pak Han
Pak Han saat ini duduk di depan di sebelah Dani yang mengemudikan mobil dengan tegang. Sekitar hampir satu jam perjalanan kini mereka sudah ada di jalan menanjak yang menuju ke vila putih.
"Mas. Nanti di belokan itu hati-hati, karena tadi saya sempat lihat ada yang mau berbuat usil dengan kita mas, tapi tenang saja mas hehehe" kata pak Handoko kepada Dani yang ada di belakang kemudi
Belokan ke kiri yang menuju ke vila putih akhirnya sudah mereka lewati, sekarang perjalanan lebih santai karena tidak lebih dari 1 km akan sampai ke vila putih yang nampak mengerikan.
"Hmmm jadi ini tempatnya" gumam pak Han ketika mobil sudah berhenti di depan pintu gerbang vila putih
"Iya pak hehehe, ini tempat yang harusnya kami lupakan, karena kejadian disana itu membuat kami sempai depresi pak" kata Tifano
"Nggak papa mas, kan siapa itu namanya, Dimas ya. Kan Dimas sudah dimusnahkan mas, jadi disini sudah tidak ada apa-apa kecuali beberapa mahluk yang membutuhkan tempat tinggal dan tidak berbahaya.
"Tapi sesuai kata saya tadi, kalian nanti akan saya tunjukan ke sesuatu yang tidak berbahaya mas"
Mereka semua turun dari mobil Novi yang diparkir tepat di depan pagar vila putih, tetapi kemudian oleh pak Han mobil itu dia suruh pindahkan ke tempat yang tidak terlalu mencolok.
"Mas, tadi kalau tidak salah disana, sebelum vila ada semacam tanah kosong ya, coba parkirkan mobil itu disana saja mas, agar tidak terlalu mencolok mas" suruh pak Han
Setelah mobil mereka parkir di sebuah lahan kosong yang agak menjorok yang dulu biasanya lahan itu digunakan oleh pak Pon untuk mamarkirkan dokarnya. Mereka lanjutkan masuk ke dalam vila.
"Pak Han, Apa kita langsung masuk ke dalam atau gimana pak, karena kami takut kalau di dalam sana, karena struktur bangunannya sudah tidak kuat pak" kata Wildan
"Namanya juga bangunan tua mas, kemungkinan itu pasti ada, tinggal kita saja yang harus lebih hati-hati mas" kata pak Han
__ADS_1
Empat senter kecil degan kemampuan cahaya yang luar biasa terang kini ada di tangan Pak Han, ALi, Wildan, dan Ukik. Mereka sudah siap untu masuk ke halaman Vila yang sekarang keadaanya memprihatinkan.
"Senter kalian nyalakan nanti saja sewaktu ada di dalam vila mas, saat ini kita cukup dengan dibantu dengan cahaya bulan saja. Hanya saya yang ada di depan yang akan menyalakan senter ini sekali-kali untuk memastikan keadaan di sini aman"
"Dan Ingat ikuti langkah saya, jangan ada yang melangkah kiri dan kanan karena kita tidak tau apa yang ada di rumput dan ilalang yang ada di taman itu mas" lanjut pak Han
Broni menarik pintu gerbang hingga terbuka sedikit sehingga tubuh kami bisa masuk kedalamnya, tidak perlu dibuka lebar pokoknya tubuh kami bisa masuk ke dalamnya saja.
"Hati-hati mas, ikuti langkah saya saja, kita sekarang ada di tempat yang kita tidak tau keadaannya. Hal seperti ini persis ketika saya sedang membuka lahan untuk membangun rumah saya itu mas" kata pak Han
Pelan-palan yang penting kelonan kalau kata Novi hehehe, pelan pelan yang penting kelakon yang bener lah, heheh mereka melalui taman dengan selamat dan sekarang mereka sudah mendekati teras.
"Kita sudah hampir sampai mas hehehe, kalian lihat tidak ketika tadi kita melintasi taman itu, uugh banyak sekali demit piaraan yang sembunyi di semak semak itu, mereka bisa jadi adalah suruhan dukun-dukun yang diperintah oleh Trimo"
"Pak Han, kalau misalnya semua dukun itu tau kalu Trimo sudah mati, lalu gimana dengan mereka dan dengan kirimannya ini pak? Tanya WIldan
"Kiriman sudah terlanjur di kirim, kiriman ini bukan kiriman dengan biaya puluhan hingga ratusan ribu saja, saya yakin Trimo sudah mengeluarkan biaya besar untuk pasukan-pasukan ini mas" kata pak Han yang sekarang sudah ada di teras
"Sebentar lagi kita ada di dalam sana mas, jadi persiapkan mental kalian, dan jangan takut dengan orang gila yang kalian ceritakan itu, karena dia tidak benar-benar gila. Acuhkan saja dan lawan kalau dia mulai berbuat analkiss...eh anarkis hehehe" kata pak Han mulai guyonan
"Sekarang rasakan apa yang ada disini mas, coba kalian rasakan apa yang mulai menjalari tubuh kalian, karena itu adalah energi yang pernah kalian tinggal disini dulu, sekarang energi itu bertemu dengan tuannya, nanti energi itu akan menuntun kalian mas" kata pak Han
"Iya pak Han, saya bisa merasakan ada sesuatu yang hangat mulai menjalari tubuh saya pak, dan semakin lama tubuh saya semakin segar rasanya pak" kata Ukik
"Sekarang yang harus kalian lakukan adalah tunjukan kepada saya dimana tempat Dimas, karena saya ingin tau dulu energi yang dimiliki Dimas hingga sebelum dia mati, karena di sekitar rumah ini ada energi lain selain demit-demit suruhan yang ada diluar itu"
"Di kamar ini pak, disana adalah tempat Dimas melakukan semua percobaanya pak" kata Ali sambil menunjuk ke pintu kamar depan yang keadaanya tertutup
Pak Han menuju ke pintu itu dan menempelkan telapak tangannya di dinding pintu kamar depan. Tidak lama kemudian dia tersenyum kepada kami.
"Di dalam masih ada Dimas, dia kelihatannya masih kerasan ada di dalam kamar itu mas, tetapi keadaanya jauh berbeda dengan sebelumnya, saat ini dia hanya hantu biasa yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa" kata pak Han
"Bagaimana pak Han tau kalau yang di dalam itu Dimas pak, sedangkan pak Han kan belum pernah ketemu dengan dia kan pak?" tanya Ali
"Kalian pikir waktu kalian cerita kepada saya tentang apapun itu saya tidak check kebenaranya? Hehehe. Saya selalu check apapun yang kalian ceritakan. Saya bisa tau kondisi Kaswadi karena juga check keadaan di mas"
"Begitu pula dengan Dimas, sewaktu kalian cerita kepada saya, saya juga datangi dia, maka dari itu saya ajak kalian untuk masuk ke sini yaitu untuk bertemu dengan hantu DImas, tetapi berbeda dengan sebelumnya, dia sekarang sudah tidak berbahaya sama sekali mas" kata pak Han
__ADS_1
"Saya penasaran dengan cerita arwah dia yang selalu ada di kamar ini, ayo kita masuk ke dalam mas, siapa tau dia masih ingat sama kalian hehehe" kata pak Handoko yang akan membuka pintu kamar depan, kamar yang dulu selalu tertutup karena di kamar itu terdapat semua peralatan Dimas
"Sebentar kalian semua sudah dibuka mata batinnya kan, sesuai yang kalian ceritakan kepada saya ketika kalian bertemu dengan mbah Marwoto?" tanya pak Han ketika akan membuka pintu kamar depan
"Sudah pak, kami bisa lihat mereka jug kok pak" jawab Ali
"Ya sudah kalau begitu, tetapi tolong senter kalian matikan saja mas, dia akan takut kalau keadaan kamar itu terang benderang" kata pak Han lagi
Kemudian dengan santai pak Han membuka pintu kamar depan, senter yang dipegang pak Han dia arahkan ke lantai sehingga sinar senter itu tida serta merta menerangi kamar depan ini.
Mereka berjalan masuk ke dalam kamar yang baunya bukan main busuknya, bau busuk ini bukan bau busuk dari mayat, tetapi dari benda-benda yang ada didalam kamar ini yang sudah busuk karena kamar ini lembab.
Pak Han kemudian menghadap ke pojok kamar, pojok kamar yang di depannya harusnya ada pintu yang menuju ke ruang bawah tanah. Pak Han diam mematung di sisi itu, kemudian dia berkata pelan.
"Selamat malam Dimas, bagaimana keadaanmu sekarang" tanya Pak Han.
Awalnya mereka tidak melihat apa-apa di pojokan ruangan itu, tetapi setelah pak Han menyapa sesuatu yang mungkin ada di pojokan kamar, tiba-tiba ada cahaya berpedar, cahaya lemah berwarna putih kekuning kuningn muncul di pojokan kamar.
Makin lama cahaya itu berubah menjadi sosok manusia yang belum jelas bentuknya. Lama–lama bentuknya berubah dan menyamai orang yang pernah menjadi musuh kami. Dimas!
"Siapa kamu dan mau apa kamu menemuiku" kata gumpalan cahaya yang kadang berubah-ubah bentuknya, tapi paling sering berbentuk Dimas.
"Apa betul kamu Dimas?" tanya pak Han lagi
"Ya saya Dimas" jawabya
kemudian kepala dari gumpalan cahaya itu menoleh ke arah ketujuh laki-laki yang ada disamping pak Han, tetapi sama sekali tidak ada reaksi ketika melihat kepada ketujuh musuhnya itu.
"Dimas, apakah kamu ingat mereka?" tanya pak Han
"Ingat, buat apa kalian kesini?" tanyanya dengan suara datar
Aneh juga ya, bukannya Dimas itu sudah dimusnahkan Mak Nyat Mani dengan bantuan Broto, tetapi kenapa arwah dia ada disini? Harusnya dia kan hilang tak berbekas
"Kalian kaget ya ada arwah dia disini. Coba kalian tanya sendiri kenapa dia ada disini" kata pak Han
Jelas mereka kaget lah, jelas mereka takut dengan DImas lah, mereka takut kalau tiba-tiba Dimas akan menyerang mereka.
__ADS_1