MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 109 (BENAR-BENAR SAE FULL)


__ADS_3

“Emangnya mas Saeful gak pernah bonceng cewek selama ini mas?” tanya Novi yang masih berusaha jaga jarak agar milik dia yang katanya asli itu tidak menempel di  punggung Saeful


“Gak pernah mbak, dulu di desa Bs biasanya bonceng emak saya atau adik saya mbak, tapi kalau selain emak dan adik saya ndak pernah mbak” jawab Saeful dengan lugunya


“Kalok gitu ini pertama kali mas Saeful bonceng cewek ya mas, terus gimana perasaan mas Saeful sekarang?” tanya Novi dengan nada manja


“Deg deg an mbak!.... mbak kalau bicara jangan dekat ke telinga saya dong mbak, saya kan jadinya mak sengkring gitu mbak, apalagi tadi bibir mbak Novi nyentuh daun telinga saya, jadinya kan mak sengkring sengkring mbak” kata Saefull yang ternyata benar-bener Sae\= bagus full\= penuh,  hihihi


“Kalau misalnya Novi kediginan mas, boleh gak Novi melingkarkan tangan Novi di pinggang mas Saeful” tanya Novi dengan nada yang pelan dengan intonasi yang jelas tapi sedikit ngalem


“K..ka..kalau memang m..mbak Novi ked..kedinginan ya ndak .pp..papa mbak” jawabnya dengan tergagap gagap.


“Tapi janji mas Saeful nyetir motornya jangan gugup gitu dong yaaaaaaa, kalau nyetirnya kayak gitu kan Novi takut mas” kata Novi yang langsung melingkarkan tanganya di pinggang Saeful hahahahah


Otomatis bagian depan Novi yang mungkin palsu itu menggencet punggung Saeful dengan empuknya hihihihi. Tapi otomatis tiba-tiba cara berkendara Saeful makin gak karuan.


“Lho…lho …lho mas, kenapa kok malah belak-belok gitu sih mas, bahaya tauk, di sebelah kanan kita kan jurang mas gimana kalau kita nyungsep ke jurang mas. Novi belum nikah mas, belum pernah ngerasakan malam pertama mas, jangan buat Novi mati dulu” kata Novi yang segera melepaskan rangkulanya


“Nganu m..mbak, saya nderedeg mbak. Rasanya jantung saya mau c..copot!” kata Saeful dengan nada yang cepat dan suara yang keras


“Hehehehe, tenang aja mas Saeful relax dulu, stop dulu aja motornya ya mas…. Sekarang Tarik nafas pelan-pelan dan hembuskan pelan-pelan mas” kata Novi sambil melingkarkan tanganya ke pinggang Saeful.


“jangan jalankan motornya dulu mas, Tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan secara perlahan-lahan , pasti enak dan tenang mas” kata Novi yang makin erat melingkarkan tanganya ke pinggang Saeful


Huh..huh…huh..huh…huh…. nafas Saefu makin memburu… dia keliatnya gak kuat akibat tangan Novi yang melingkar di pinggangnya hehehe


“Lhooo kok makin gitu sih mas Saeful ini, mas Saeful sakit bengerk ya hihihi.., udah mas tenang mas…tenang dulu aja  mas”


“Sekarang mas Saeful tenang dulu, sekarang bernafas dengan tenang dulu mas. Setelah tenang jalankan motor ini lagi mas hihihih” kata Novi yang kemudian melepas rangkulannya dari pinggang Saeful


Ternyata di jaman edan ini masih saja ada laki-laki yang seperti Saeful ini heheheh, dia mungkin tidak pernah mendekati perempuan, apalagi di belai perempuan, mungkin dia terbiasa dibelai laki-laki hihihihi.


Motor berjalan lagi dengan tenang, saat ini tangan Novi berpegangan pada hand bar moto , besi yang ada di samping kiri kanan motor, wajah Novi terlihat cemberut tapi dia merasa senang karena bisa bertemu dengan laki-laki yang masih joko ting ting


Perjalanan menuju area pct berjalan dengan mulus, meskpun banyak mahluk halus yang menghadang mereka berdua, tetapi setelah melihat Novi mahluk halus itu pergi dengan sendirinya.


*****


SEMENTARA ITU DI HALAMAN RUMAH PAK HANDOKO


Keempat remaja itu sedang dalam keadaan kebingungan, karena sejauh cahaya senter itu menerangi, yang ada hanya batu nisan dan pohon kamboja yang wangi. Mereka bertiga tidak tau apa yang harus diperbuat, mereka juga tidak tau akan ke arah mana mereka berjalan.


“Sejauh cahaya menerangi hanya ada nisan dan kamboja yang bunganya berjatuhan di tanah perkuburan ini rek, eh cahaya senter ini bisa merapa meter sih kira-kira” gumam Gilank


“Wil tali pocong itu kamu simpang di saku celanamu? Coba kamu suruh pocong yang sudah kamu taklukan itu untuk antar kita ke luar dari kuburaan ini, siapa tau bisa berhasil Wil” kata Gilank


“Lha pocongnya sudah pergi ngilang jeh, gimana cara manggilnya lagi rek” kata Wildan kebingungan


“Coba saja panggil sak karep mu Wil” suruh Gilank


“POCONG YEMBOOOT POCONG YEMBOOOOT YANG TALINYA ADA SAMA SAYAAA, AYO KESINI, SAYA BUTUH BANTUANMU POCONG YEMBOOOOOT” teriak WIldan seenaknya sendiri


Wildan hanya iseng coba-coba untuk memanggil pocong, tapi ternyata berhasil juga, pocong yang talinya ada sama WIldan sudah nampak di samping Wildan hihihih


“Heh pocong…siapa namamu, aku harus manggil namamu siapa chok” tanya Wildan dengan kasar


“Thuukiiimiiiiiin” suara ******* pelan dengan uap yang keluar dari area wajahnya, bau yang luar biasa busuk menyeruak ketika dia mendesahakan nama Thuuukiiimiiiiin itu


“Aaaah bau sekali kamu chok! Sudah berapa tahun kamu gak gosok gigi Chok…pocong asyu!” teriak Wildan


“Will jangan gitu tho, dia kan juga masih punya harga diri” potong Ali yang sudah mulai bisa mengendalikan rasa takutnya


“Antar kami keluar dari sini atau saya bakar tali pocongmu ini Thukiiimiiiin” teriak Wildan


“Thiidhaaak ada yang bisa keluar dari sini sebelum matahari terbiiiittt aaarrggghhhh” kata pocong benama Tukimin dengan bau yang luar biasa busuk yang keluar dari mulutnya

__ADS_1


“Aaaah asyuuuu busuk sekali baum,. apa dak bisa kamu berubah menjadi wangi sih” teriak Wildan kepada Thukimin


Pocong itu hanya diam saja sambil berdiri di depan Wildan, nampaknya dia sedang kebingungan juga dengan perintah Wildan yang menyuruhnya menjadi wangi


“Ya sudah lah, sana pergi dari dekatku, nanti saja kalau aku perlu kamu lagi, aku akan panggil kamu lagi Tukimin” kata Wildan lagi


Mereka hanya diam saja di kuburan gelap itu, mereka tidak tau harus kemana atau harus bagaimana di tengah kuburan gelap ini.


“Sekarang kita harus apa lagi, kita tidak tau ada dimana ini, dan sekeliling kita yang ada hanya mahluk itu itu saja, awalnya memang menakutkan, tapi lama lama membosankan juga” kata Tifano yang sedang duduk di atas sebuah batu nisan


“Lha tadi kata pocong itu kita bisa keluar dari sini apabila sudah ada sinar matahari rek” sambung Ali


“Wil, coba kamu tanyakan ke pocong itu lagi, pak Handoko itu siapa?’” kata Ali


“Halah males Li, Tukimin kalau ngomong baunya busuk luar biasa, apalagi dia kalau ngomong mendesah sisan, apane ambune makin gak  karu karuan” kata Wildan


“Sudahlah, panggil saja dia lagi, kita butuh informasi yang akurat mengenai siapa itu Handoko dan apa yang sebenarnya sedang dia lakukan” kata Ali  lagi


Wildan kemudian berteriak memanggil pocong yang bernama Tukimin itu, mereka berharap pocong itu bisa menjawab pertanyaan mengenai siapa itu Handoko dan apa yang sedang dikerjakan dia disini.


Poci itu sedang berdiri di sebelah mereka, meskipun malam hari, tetepi kami masih bisa melihat wujud pocong itu dengan jelas.


“Min …Tukimin.. kamu tau siapa itu Handoko yang tinggal di pojokan sana itu rumahnya?” tanya Wildan juragan baru dari Tukimin yang mengerikan


“Tidak ada yang namanya Handoko disini hhsssss” kata pocong itu kemudian hilang. Wildan berulang kali berusaha memanggil kembali Tukimin, tetapi tidak ada sahutan dari pocong itu, bahkan dia tidak menampikan wujudnya lagi di hadapan mereka.


“Kelihatanya dia takut dengan nama itu Wil, buktinya dia tidak muncul lagi ketika kamu tanya nama itu” kata Gilank yang masih saja ngatjeng


“Jam berapa ini Li?” tanya Wildan yang tidak sabar dengan keadaan seperti ini


“Baru pukul 23.15 Wil, masih lama untuk menuju ke pagi hari ini” jawab Ali.


“Ya wis lah kita tunggu saja disini hingga pagi hari tiba, nanti kita harus tanya-tanya dengan penduduk disini tentang handoko dan rumah yang ada di ujung jalan kuburan itu” kata Tifano


“Opo Lank, kamu ada ide apa untuk bisa keluar dari sini?” tanya Ali


“Bawa sini tali pocong itu Wil, jarene kalau kita kencingi tali pocong itu, maka dia akan nurut dengan kita, apapun yang kita suruh dia akan lakukan” kata Gilank mulai ngawur


“Lho gak masalah Lank, tapi awakmu yang ngencingi tali pocong iku lho ya, aku ndak mau lank, karena aku masih menghargaai Pocong Tukimin itu meskipun dia bukan manusia lagi” kata Wildan


“Ayo bawa sini tali kutang .. eh tali pocong itu Wil” paksa Gilank


“Nyoooh… ambilen ini taline” kata Wildan sambil melempar tali pocong kepada Gilank


“Heheheheh ayo sini, janchoook tak kencingi kamu chook, kamu harus turuti aku chook hahahah” kata Gilank


Gilank membuka celananya dan mengeluarkan senjatanya yang masih saja ngajteng. Ketika dia akan mengencingi tali itu tiba-tiba dia jatuh terjengkang dengan ujung kuntilanya membengkak sebesar bola pingppong.


Nah ketika dia jatuh terjengkang, tidak sengaja kepalanya terhantuk pada sebuah batu nisan kecil yang ada di belakang Gilank, dan tidak disangka sangka nisan itu tercabut dari tempatnya.


“Mungkin pada saat itu yang menanam nisan kurang dalam sehingga hanya karena terantuk kepala Gilank nisan itu langsung tercabut dari tempatnya.


“Janchoook ndasku chook  aduuuh kuntilaku chook” erang Gilank yang memenggang kuntila dan kepalanya


“Rasakno Lank, makane ta jangan aneh-aneh, untung hanya kuntilamu saja yang membesar bengkak, untung kepalamu ndak luka serius chok” kata Wildan.


“Athoooh chook , kuntilaku  aboh chook” keluh Gilank


Wildan mengambil tali pocong yang tadi hampir saja dikencingi Gilank dan menaruh di saku celananya lagi.


“Ealah kondisi ngene kamu kok ya malah aneh-aneh ae sih Lank, mbok ya bantu mikir gak usah yang aneh-aneh gitu” kata Ali


“Sudahlah, kita tunggu saja disini sampai matahari terbit, dan nikmati semua pemandangan mengerikan yang ada di depan kalian chok” kata Tifano yang dari tadi tidak mau menanggapi Gilank


“Sekarang sudah pukul berapa Li?”

__ADS_1


“baru pukul 02.07 Wil, masih empat jam lagi untuk menjelang pagi” jawab Ali


Ya sudah, mereka hanya bisa duduk di antara batu nisan kuburan, tanpa bisa ngapa-ngapain, mereka menunggu hingga matahari terbit untuk menanyakan apa yang sedang terjadi disini


*****


SEMENTARA ITU NOVI DAN SAEFUL


Perjalanan mereka sekarang sudah mencapai daerah pct, lebih tepatnya di hutan sebelum hotel Waji berada. Dan untuk saat ini ternyata Saeful sudah bisa mengendalikan diri untuk tidak bertingkah aneh-aneh ketika Novi ada di goncenganya.


“Udah mau masuk ke Pct ya bang Ipul” tanya Novi yang masih saja nyabuk ( melingkar di pinggang) dengan manja


“Iya mbak, bentar lagi sampai, kalok mbak Novi kedinginan bisa pegangan lebih erat lagi mbak, agar lebih hangat mbak” kata Saeful yang sekarang sudah mulai berani hihihihi


“Tadi katanya ketakutan dan grogi, kok sekarang Nyuruh Novi makin ngencangkan pegangan sih mas, tanya Novi yang kepalanya bertumpu di pundak Saeful dengan manjanya


“Tadi kan saya nganu mbak”


“Nganu apa mas, apa gak enak kalau Novi kayak gini mas” tanya Novi yang masih menumpukan wajahnya di bahu Saeful


“Kalau mbaknya suka dan enak, saya ya suka dan enak mbak” jawab Saeful dengn style yakin


“Nah gitu dong sayank hihihih, kalau sama Novi jangan bingung dan takut ya” kata Novi lagi


Perjalanan mereka tidak terasa sudah dekat dengan hotel Waji. Hotel yang malam ini terlihat gelap gulita dan mengerikan.


“Mas, nanti di depan hotel waji agak pelan ya mas, Novi pingin lihat ada akifitas apa di dalam sana mas, karena Novi merasa ada suatu kekuatan yang sedang ada di dalam hotel itu mas, dan kekuatan itu siap dikeluarkan dari dalam Hotel dengan kerasnya”


Ketika mereka akan melewati hotel Waji, tiba-tiba udara panas menyembur dari depan pagar hotel yang gelap gulita itu. udara panas yang berupa debu-debu dan angin yang berasal dari pintu gerbang hotel.


Untungnya motor yang di kendarai Saeful belum melewat gerbang hotel ketika udara panas itu berhembus dari dalam hotel. Saeful menghentikan motornya untuk mengamati apa yang baru saja terjadi disana.


“Untung tadi kita belum lewat di sana mas, coba kalau kita lewat, bisa jauh dari motor ini mas kita” kata Novi yang kemudian turun dari boncengan motor Saeful


“Kamu tunggu dulu saja disini mas, Novi mau periksa dulu apa yang terjadi disana mas” kata Novi yang kemudian jalan menuju ke pintu gerbang hotel Waji yang tadi mengeluarkan asap panas itu


“Ayo mas, aman disini, ayo cepat lewati hotel ini mas” suruh Novi kepada Saeful yang masih menunggu info aman dari Novi


Motor berhasil melewati area pintu gerbang hotel waji, dan sekarang mereka bisa melanjutkan perjalanan menuju ke tempat kediaman pak Handoko. Tapi ada yang membuat Novi menyuruh Saeful untuk menghentikan motornya


“Mas Warung yang ada disini kok sekarang ndak ada mas. Kemarin waktu kita kesini kan disini ada warung yang buka 24 jam mas, sekarang kok ndak ada, malah ada bekas terbakar di dinding itu mas” tunjuk Novi menunjuk pada dinding tempat warung itu ngemper


“Mungkin di obrak bang sat pol pipi mbak, dan akhirnya kayu-kayunya dibakar di sana sama bang sat pol pipi” jawab Saeful


“Hmm bisa juga ya mas, ya udah ayo kita teruskan perjalanan mas selak pagi ini mas” ajak Novi sambil menyuruh Saeful tancap gas menuju ke kediaman Handoko


Singkat cerita setelah perjalanan yang cukup menegangkan Novi dan Saeful, akhirnya mereka sampai di daerah kediaman pak Handoko, saat ini matahari sudah mulai memamerkan sinarnya, mungkin sekitar pukul 05.00 an sekarang


“Setelah jembatan itu lurus saja mas, nanti sebelah kiri ada rumah yang pagarnya tinggi dan luas sekali, nah itulah rumah dia mas.


Setelah berjalan sekitar 15 menit, mereka sampai pada sebuah area yang luas, area yang pagarnya terlihat tinggi, tapi bukan pagar yang terbuat dari kayu, melainkan terbuat dari batu bata dan semen dengan cat warna putih yang sudah pudar dan sebagian pagar itu sudah pecah-pecah semenya.


Dari luar area yang ada di dalam itu terlihat banyak sekali pohon kamboja yang sangat rindang dan hampir semuanya berbunga, dan pasti di dalam sana sangat rindang kalau siang hari.


“Lho… bukanya ini rumah pak Handoko?. sik mas, Novi harus tanya ke penduduk disini dulu mas, mungkin kita kesasar mas” kata Novi


Kebetulan pagi ini ada seorang ibu-ibu yang sedang membawa sayuran berjalan menuju ke arah jembatan tempat Novi dan Saeful tadi datang.


“Eh nuwun sewu bu, eh apakah ibu tau rumahnya pak Handoko yang besar itu bu” tanya Novi


“Handoko siapa ya nduk? Disini ndak ada yang namanya Handoko” jawab ibu itu


“Lha kalau yang itu, itu bangunan apa ya bu?” tunjuk Novi pada area yang dulunya rumah pak handoko itu


“Lho itu kan pesarean nduk hehehehe, memangnya genduk ayu ini pagi–pagi gini cari siapa to disana hehehe” kata ibu-ibu tua itu

__ADS_1


__ADS_2